
Melihat wanita itu sudah menyebrangi jembatan gantung, aku buru-buru mengekor di belakangnya. Jalanan yang aku lalui berupa jalanan setapak di lapisi batu kerikil dan di sebelah kiri serta kanan berupa tumbuhan liar sebatas dada ku. Beruntung malam ini sedang terang bulan jadi jalanan yang aku lewati tidak terlalu gelap. Aku yang sudah terbiasa tinggal di kampung, sedikit pun tidak ada rasa takut melewati jalanan itu. Padahal suasana lengang dan hanya suara burung hantu saja yang terdengar.
Semakin menjauhi sungai semakin jalanan menanjak namun tidak terlalu tinggi dan bisa ku lewati dengan normal. Mungkin ini yang di sebut bukit oleh ibu yang memberitahu tadi.
Tiba di atas bukit yang tidak terlalu tinggi itu, aku dapat melihat sebuah gubuk memakai pencahayaan lampu tempel di bawah sana. Mungkin itu yang di maksud rumah dukun tersebut.
Aku melangkah pelan mengendap endap mendekati rumah gubuk yang terbuat dari anyaman bambu itu.
Setelah mendekati gubuk itu aku mencari celah siapa tau aku beruntung ada celah yang dapat memperlihatkan apa yang sedang terjadi di dalam. Sembari mencari celah telinga pun ku pasang untuk mendengar percakapan mereka. Selain itu aku juga mempersiapkan ponsel untuk merekam.
Senyum pun mengembang ketika aku mendapati sebuah lobang yang hanya cukup untuk setengah mataku. Namun tidak masalah yang penting aku dapat melihat mereka meskipun hanya secuil.
Ku pasang sebelah mataku di lubang itu, nampak di dalam sana wanita yang ku buntuti sedang duduk di depan meja penuh sesajen dan benda-benda aneh. Tak lama kemudian, seorang pria besar, tua, hitam legam serta wajahnya menyeramkan datang lalu bersila di seberang meja itu.
"Ada apa?" Tanya pria itu.
"Ajian pengasih Mbah sudah tidak mempan lagi di tubuh suamiku. Dia sudah berubah, tidak nurut, sering marah bahkan uang belanja ku sudah di batasi. Dia tidak lagi memberikan apa yang aku mau, Mbah."
Alis tebal yang menyatu milik dukun itu nampak saling bertautan." Kok bisa? bukanya kamu baru datang kesini tiga bulan yang lalu?"
"Iya, Mbah. Tapi itulah yang terjadi. Aku juga sudah tidak melihat makhluk-makhluk yang Mbah kirim ke rumah ku."
Dukun itu terdiam namun tidak lama dia geleng-geleng kepala." Tidak, tidak mungkin. Tidak mungkin mereka pergi dari rumah mu. Kecuali kalau ada salah satu anggota keluargamu yang taat beribadah.
"Aku tidak bohong, Mbah. Tapi ya sudah lah biarkan saja makhluk-makhluk itu pergi dari rumah ku. Kedatangan ku kali ini bukan meminta ajian pengasih lagi tapi....teluh."
"Teluh!"
"Ya, aku ingin Mbah mengirim kan teluh untuk Bagaskara. Aku ingin dia mati."
"Kenapa kau ingin membunuhnya? bukan nya kamu mencintai nya?"
"Aku tidak pernah mencintai nya. Aku mau menikah dengannya hanya ada dua alasan saja waktu itu. Yang pertama aku ingin hidup enak dan yang ke dua aku tidak ingin melihat si Hanum hidup."
" Siapa Hanum?"
"Istri pertama Bagaskara. Tapi dia sudah mati."
"Mati!"
"Ya, aku sudah membunuhnya. Mbah Urip yang tau. Saat itu dia masih hidup."
"Apa bapak ku yang mengerjakan nya?"
"Tidak, aku menyuruh dua perawat yang membunuhnya. Sementara aku hanya menyuruh mbah Urip untuk mencuci otak Bagaskara agar dia segera menikahi ku."
Seketika dadaku terasa sesak mendengar pengakuan wanita itu. Dugaan ku benar dia lah yang telah membunuh ibuku dan memisahkan aku dari keluargaku.
"Kau benar-benar ingin membuat suami mu mati?"
__ADS_1
"Ya ."
"Tapi kamu tau kan syarat utama jika ingin minta sesuatu dari ku?"
"Memuaskan Mbah kan?"
"Pintar, tapi karena kamu meminta hal yang cukup berat aku mau melakukan nya dua kali."
Wanita itu nampak berpikir namun tak lama kemudian dia menyetujui keinginan pria hitam itu. Sementara aku yang mendengar dan melihat berusaha mencerna kalimat yang mereka obrolkan. Namun ketika aku tengah berpikir nampak mereka memasuki sebuah kamar. Dari situ aku baru mengerti bahwa selain membayar pakai uang, dukun itu meminta bayaran dengan tubuh setiap wanita yang meminta pertolongannya. Pantas saja, kata ibu yang memberitahu bahwa dukun itu menolak pasien pria dan mungkin ini alasannya.
Di tengah aku sedang termenung dengan pikiranku sendiri, tiba tiba suara de sa han dan racauan terdengar saling bersahutan sahutan di kamar itu. Hal itu membuat bulu roman ku merinding di sertai bergidik jijik membayangkan tubuh wanita itu di setubuhi oleh pria besar, hitam legam dan buruk rupa seperti genderuwo. Kasihan papa ku sepanjang hidupnya meniduri wanita yang sering kali tidur dengan iblis berwujud manusia.
Di saat mereka sedang bertempur menciptakan kenikmatan surga dunia versi mereka, terlintas di pikiranku untuk membuang semua peralatan kerja dukun itu agar menghambat kerja nya untuk berbuat jahat pada papaku.
Sebelum aku melakukan itu, aku mengirim video serta foto foto pada Raihan terlebih dahulu. Aku baru kepikiran bahwa Raihan harus tau dimana keberadaan ku saat ini. Tapi sayangnya di tempat ini cukup sulit signal.
Kemudian aku masuk lewat pintu utama dan beruntungnya pintu itu tidak terkunci. Aku masuk mengendap endap sembari menutup kupingku karena di dalam suara kenikmatan itu terdengar sangat nyaring sekali membuat aku semakin jijik saja mendengarnya.
Ekor mataku mengedar mencari wadah untuk mengangkuti benda benda mistis itu. Setelah mendapatkan apa yang aku cari aku langsung mengangkuti semuanya tanpa sisa. Setelah itu, aku buru buru keluar lalu melempar benda-benda itu ke balik semak belukar dengan jarak beberapa meter dari rumah itu.
Setelah membuang benda mistis itu alangkah terkejutnya aku, sosok tubuh besar hitam legam itu sudah berdiri di belakangku di sertai peluh yang membanjiri tubuhnya. Bagaimana dia bisa tau tentang keberadaan ku?
Jantung ku berdebar kencang, tubuh ku mulai gemetar. Sorot mata merah nya menatap lapar di sertai senyuman menyeringai. Menakutkan dan menjijikan sekali. Aku melangkah mundur ketika dukun itu melangkah maju.
"Kemari sayang. Ayok kita bermain main di kamarku,"ucap pria itu sembari mengulurkan tangannya padaku.
Aku geleng-geleng kepala. Kali ini aku benar-benar ketakutan melihat dukun itu. Disaat langkah ku buntu, aku kebingungan. Dukun itu menyeringai menatap ku yang tengah kebingungan mencari jalan karena di belakangku adalah aliran sungai deras.
"Lepas kan aku iblis, lepaskan."
"Ha ha jangan bermimpi. Aku tidak akan melepaskan mu sebelum ku cicipi tubuh mu terlebih dahulu."
"Tidak, aku tidak sudi di sentuh oleh iblis menjijikan seperti mu."
"Ha ha ha."
Di saat aku berusaha melepaskan tangan ku dari cengkraman nya tiba tiba sebuah kayu melayang ke arah kami.
Bughhh
"Aaaaa."
Kayu itu mengenai punggung si dukun hingga dia memekik dan tangan nya terlepas dari tanganku. Aku segera menjauh dari si dukun itu.
"Brengsek. Siapa yang sudah berani memukul ku?" Teriak nya sembari pandanganya mengedar ke sembarang arah.
Bughhh
"Aaaaa."
__ADS_1
Lagi, aku menyaksikan dengan mata ku sendiri sebuah balok memukul pundak si dukun hingga dukun itu terhuyung.
"Brengsek, siapa kamu sebenarnya? tunjuk kan wujud mu."
Bughhh
Dan lagi aku melihat sebuah kayu menghantam punggungnya hingga dia tersungkur.
Belum habis rasa keterkejutan ku, tiba tiba sosok perempuan yang mirip dengan ku tiba tiba duduk di atas kepala dukun itu. Sontak saja mataku membulat sempurna karena apa yang aku lihat bukan lah sebuah mimpi bukan pula halusinasi melainkan kenyataan. Sosok itu terus saja duduk di kepala dukun itu hingga dukun itu lemas lalu terkapar. Aku tidak tau apakah dukun itu mati atau hanya pingsan.
"Ibu....apakah kamu kamu ibu Hanum, ibuku?" Aku menyapa sosok itu, melangkah pelan mendekatinya. Aku ingin sekali memeluknya.
"Ibu....ibu...." Namun sosok itu diam saja.
"Mbah...Mbah..." disaat aku sedang melangkah mendekati sosok itu, tiba tiba wanita itu memanggil dukun yang sudah tergeletak tak berdaya. Dan seketika itu pula sosok ibu Hanum menghilang.
"Mbah...Mbah..astaga Mbah, kamu kenapa Mbah ?"Dia nampak terkejut sekali melihat dukun nya dalam keadaan tidak berdaya.
Kemudian dia melihat ke arah ku yang masih berdiri menatap kepergian sosok ibu Hanum.
"Heh, kamu apakan dukun ku?" Dia membentak ku lalu aku menoleh padanya. Seketika itu pula muka sangarnya berubah menjadi muka terkejut bercampur muka ketakutan.
"Ha...Hanum!" ucap nya lalu melangkah mundur menjauhiku. Mungkin dia pikir aku adalah hantu ibu Hanum. Wajar saja jika dia mengira aku seorang hantu. Rambut ku tergerai panjang dan acak acakan. Baju lengan panjang berwarna putih.
Ku tatap nyalang dia. Rasa kebencian mendalam timbul begitu saja setelah melihat wanita itu ada di hadapan ku. Rasanya ingin ku habisi nyawa nya saat ini juga agar dia merasakan bagaimana rasanya di hilangkan nyawanya secara paksa.
"Bunuh dia Nuri, bunuh, bunuh, bunuh.." Setan pun mulai menguasai pikiran dan perasanku. Aku melangkah maju dia terus melangkah mundur menghindari ku.
Dan dalam hitungan detik wanita itu berlari ke arah rumah itu kemudian masuk dan menutup pintunya. Ku cepat kan langkah ku lalu ku dobrak pintu itu dengan mudahnya tanpa merasakan sakit di kakiku. Pintu itu pun terlepas dari engselnya. Wanita itu tersungkur hingga menabrak bilik.
Kemudian aku masuk dengan tatapan tak berubah. Lalu melangkah mendekatinya. Wanita itu panik dan ketakutan dengan tubuh yang berjongkok serta menempel di bilik. Aku menoleh ke samping nampak sebuah pisau tersalib di bilik bambu lalu ku ambil pisau itu.
"Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu iblis," ucap ku dengan lantang dan pisau yang ku angkat siap menusuk kepala wanita itu.
"Ampun Hanum, ampun. Maafkan aku. Aku menyesal Hanum. maafkan aku," ucap wanita itu dengan tubuh yang gemetar hebat.
Aku tidak menghiraukan mohon maafnya melainkan tersenyum menyeringai dan mengangkat lebih tinggi pisau itu siap menghunus nya.
"Jangan kamu kotori tangan mu untuk membunuh wanita iblis dan laknat itu sayang."
Tiba tiba suara itu terdengar di belakang ku. Aku menoleh ke belakang, papa sedang menatap nanar ke arah ku.
"Pa...papa!" ucap ku.
"Sayang, istighfar sayang. Jangan lakukan itu." Raihan mencegahku.
"Jangan samakan perangai mu dengan wanita buruk luar dalam itu, dik." Kak Bayu ikut mencegah ku.
Dua orang polisi melangkah lebar ke arah ku lalu meringkuk wanita itu.
__ADS_1
Aku melepaskan pisau di tanganku dan pisau itu terjatuh ke atas lantai semen.
Papa melangkah lebar lalu memeluk ku erat. Aku menangis di pelukan nya begitu pula dengan papa, ia ikut menangis sembari mengecupi kepalaku.