Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Pembelaan ibu


__ADS_3

Aku keluar rumah mencari bang Supri ingin bertanya kenapa dia tidak memberitahu aku bahwa ada bang Supra dan keluarganya datang.


Aku masuk ke dalam pabrik nampak Raihan sedang berbicara dengan para ibu-ibu yang bekerja namun aku tidak menemukan keberadaan Bang Supri dan Sumi. Raihan menyadari kedatangan ku lalu mendekat.


"Kenapa wajah nya di tekuk seperti itu?" Raihan meledek ku. Tapi apa yang di katakan olehnya benar kalau aku memang sedang merasa kesal. Bagaimana tidak kesal, baru saja datang sudah mendapat penyambutan yang membuat aku benar-benar kesal.


"Mana bang Supri?"


"Lho, di tanya kok balik nanyain bang Supri. Ada apa sih kayak terlihat kesal banget."


"Gimana tidak kesal itu kamar ku acak acakan."


"Kok bisa. Siapa yang ngacak acak?"


"Bini nya bang Supra."


"Bang Supra!"


Aku mengangguk.


"Bang Supra datang dengan keluarganya?"


Aku mengangguk lagi.


"Bagus lah."


"Bagus katamu? setelah menjual aku sama mas Surya terus kabur membawa duitnya, tahunan tanpa kabar terus balik lagi dan menempati kamar ku tanpa permisi kamu bilang bagus?"


Raihan tersenyum nyengir dan menggaruk belakang kepalanya.


"Maksud ku, bagus dong kalau dia datang. Nanti kalau kita nikah kan dia yang akan jadi wali mu, sayang."


Aku melirik Raihan dengan wajah yang ku tekuk." Ogah banget dia yang jadi wali nikah aku. Biar bang Supri saja yang menjadi wali nikah ku."


Dulu saat aku belum tau bahwa kakak kedua laki laki boleh menjadi wali nikah, aku begitu takut mendengar ancaman bang Supra kalau dia tidak akan mau menjadi wali nikah aku seumur hidup kalau aku tidak menikah dengan mas Surya. Tapi sekarang, aku tidak butuh dia lagi karena bang Supri yang pemikirannya sudah waras bersedia menikah kan aku kalau aku akan menikah dengan Raihan.


Di tengah kekesalanku bang Supri dan Sumi datang menggotong sekarung tepung dan membawanya masuk ke dalam pabrik. Sementara aku dan Raihan memperhatikan mereka tanpa membantu.


"Simpan di sana saja, Sum!" titah bang Supri pada sumi menunjuk tempat kosong yang berada di pojokan.


"Iya bang."


Setelah mereka selesai meletak kan karung itu bang Supri menghampiri kami dan Sumi mendekati para ibu-ibu yang sedang bekerja.


"Kenapa cemberut gitu, Nuri?" Tanya bang Supri ketika sudah berada di hadapan kami dan melihat raut wajahku.


Raihan tersenyum menatapku." Ini bang katanya kamar nya ada yang nempatin."


Bang Supri menepuk jidatnya." Ya ampun Nuri, aku lupa ngasih tau kamu kalau bang Supra sama keluarganya datang sejak dua hari yang lalu. Terus ibu kekeh nyuruh mereka nempatin kamar mu padahal aku sudah menawari kamar ku."


"Tidak tau malu sekali setelah apa yang sudah dia lakukan sama aku dulu masih punya muka balik ke rumah ini."


"Bang Supra memang tidak punya muka sama kayak bini nya."

__ADS_1


"Terus dimana dia sekarang?"


"Tidak tau, tadi sih bilangnya mau ke rumah temannya."


"Kira-kira apa mereka mau tinggal lama disini bang?"


"Kayaknya sih, katanya bang Supra kena PHK di tempat kerjanya."


Aku kesal sekali mendengar nya jika mereka akan tinggal lama di rumah ku. Perasaan kesal ku pada bang Supra hingga sekarang belum saja hilang di tambah lagi sikap istrinya yang songong dan tidak tau diri. Tapi aku bisa apa jika ibu ku sudah menghendaki mereka untuk tinggal di rumah ini.


Menjelang sore. Ketika aku sedang bersenda gurau di teras rumah bersama Zain, Raihan, bang Supri dan Sumi tiba tiba seorang pria datang mengendarai motor Vario yang di beli Raihan untuk ku. Aku tau siapa pria yang baru datang itu, siapa lagi jika bukan bang Supra. Padahal motor itu aku simpan dengan baik dan kuncinya aku simpan di lemari kamar ku. Tapi ternyata tanpa seijin ku dia lancang mengambil kuncinya dan memakai motor nya.


Ketika dia membuka helm nya benar saja dugaanku bahwa orang itu adalah kakak pertamaku. Kakak yang aku benci dengan penampilan yang nyaris tidak ku kenali. Muka nya brewokan, rambutnya gondrong dan kulit nya hitam. Mungkin di Kalimantan sana dia melakukan pekerjaan kasar hingga kulitnya hitam legam.


"Rame amat ada siapa ini, Supri?" Tanya nya pada bang Supri. Sepertinya dia belum menyadari keberadaan ku karena aku duduk di samping Raihan yang tubuhnya lebih tinggi hingga menutupi hampir seluruh wajah ku.


Bang Supri masih diam dan memperhatikan nya saja.


Kemudian dia menoleh ke arah mobil Raihan yang terparkir cantik di halaman samping rumah.


"Itu...itu mobil mewah siapa, Pri?"


"Mobil bos besar, tuh!" tunjuk bang Supri ke arah Raihan menggunakan daku nya.


Bang Supra mengalihkan arah pandanganya pada Raihan lalu kening hitamnya mengkerut sementara Raihan memberikan senyuman tipis padanya.


"Siapa dia?"


"Calon suami Nuri dan Minggu depan mereka akan menikah."Jawab bang Supri.


"Nu...Nuri !" Bang Supra nampak terkejut dan melongo melihat ku. Aku diam dan datar saja karena rasanya malas sekali menyapanya.


"Kenapa bang? kaget ya lihat Nuri makin cantik dan berkilau kayak emas tertimpa sinar matahari. Tidak kayak jaman nya masih sama si Surya laki laki yang kamu jodohkan sama si Nuri pakai uang tiga ratus juta terus duitnya kamu bawa kabur ke Kalimantan." Sindir bang Supri. Nampak bang Supra tercengang melihat bang Supri dan jakun nya naik turun.


Aku pikir aku tidak perlu repot bicara tentang uang yang dia minta dari mas Surya sebagai syarat menikah denganku karena sudah terwakilkan oleh bang Supri.


"Beli apa kamu di Kalimantan dengan uang tiga ratus juta, bang?" Tapi aneh, pergi bawa duit ratusan juta tapi pulangnya kok kayak gembel."


Ingin rasanya aku tertawa menertawakan ledekan bang Supri.


"Ya gitu, akibat ngorbanin sodara demi perut sendiri. Untung perut mu tidak buncit cuma hitam legam doang kayak arang."


Aku segera menutup mulutku yang ingin tertawa terbahak dan berusaha menahannya agar tidak menimbulkan suara. Begitu pula dengan Raihan dan Sumi mereka nampak menahan tawa.


Bang Supra menatap kesal ke arah bang Supri." Sembarangan banget kamu ngomong. Siapa yang jual si Nuri? jangan asal fitnah kamu Pri." Ucap nya dengan suara tinggi.


"Fitnah gimana, orang si Surya sendiri yang ngomong. Lagian ada buktinya struk transferan duit."


Masalah struk transferan uang itu aku rasa bang Supri hanya mengada ngada karena mas Surya hanya cerita tanpa menyertai bukti struk. Tapi meskipun begitu aku percaya kalau mas Surya tidak bohong.


Lagi lagi bang Supra nampak tercengang melihat bang Supri.


"Apa mau ku datangkan si Surya biar kamu ngaku? tapi sayangnya si Surya lagi di penjara. Kalau si Nuri mau dia bisa saja menjebloskan kamu ka penjara kayak si Surya."

__ADS_1


Jakun bang Supra naik turun menahan kesal lalu dia beranjak hendak masuk melewati kami tanpa permisi.


"Heh, Bang." Panggil bang Supri.


Langkah bang Supra terhenti di ambang pintu.


"Suruh istri dan anak anak mu keluar dari kamar si Nuri. Bilang sama istrimu itu si empunya kamar sudah balik. Ingat kalian hanya menumpang."


Kemudian bang Supra melanjutkan langkahnya memasuki rumah dengan dada naik turun.


Setelah bang Supra masuk ke dalam rumah, tak lama Raihan mengajak aku pulang ke rumah orang tuanya. Namun, aku menolak dengan alasan akan membicarakan soal pendapatan dengan bang Supri. Tapi sebenarnya aku tidak ingin meninggalkan kamar ku karena ada barang-barang berharga milik ku dan aku takut mereka mengambilnya karena setau ku istri bang Supra itu panjang tangan. Dia sering kali mengambil barang milik orang lain yang tergeletak atau pun yang di simpan karena dulu aku pernah mengalaminya sebelum mereka merantau ke Kalimantan.


Setelah Raihan pulang begitu pula dengan Sumi aku masuk ke dalam rumah untuk memandikan Zain. Begitu aku mau masuk ke dalam kamar tiba tiba tubuh semok dan pendek menghalangi jalan ku.


"Heh, heh. Mau apa kamu masuk ke dalam kamar ku?" Ucap nya sembari merentangkan tangannya.


Aku mengernyitkan dahiku menatapnya." Kamar mu mba? apa aku tidak salah dengar?"


"Ya, kata ibu mulai sekarang ini kamar kami dan akan kami tempati selamanya."


Aku terdiam. Kenapa ibu selalu membela anak laki lakinya dan menantunya dari pada aku yang notabene nya anak kandung nya juga.


"Ibu!"


"Ya, kalau kamu tidak percaya tanya saja sama ibu."


" Tapi Ini kamar ku dan rumah ini aku yang membuatnya."


"Tapi tanah ini milik ibu bukan milikmu." Tiba tiba bang Supra menimpali. Aku menoleh ke arahnya yang sedang berdiri dan bersedekap dada menatap sinis padaku. Tak lama ibu pun datang lalu berdiri di samping bang Surya.


"Aku tau rumah yang aku bangun ini milik ibu. Tapi aku juga anak ibu dan punya hak untuk menempati tanah ini."


"Ha ha ha. Hak kamu bilang? atas dasar apa kamu membicarakan hak atas tanah ini, hah?" Sentak bang Supra pada ku.


"Apa kamu tau kalau kamu itu....."


"Sudah, sudah, sudah. Kalian itu ribut terus." Ibu memotong ucapan bang Supra.


"Tapi Bu, si Nuri harus..."


"Sudah Supra." Bentak ibu pada bang Supra dengan mata membelalak. Terlihat sekali jika ibu sedang marah padanya. Aku tersenyum tipis karena ini untuk pertama kalinya dia membentak anak kesayangannya di depan ku.


"Kamu pindah kan barang barang mu dari kamar si Nuri ke kamar si Supri sekarang."


Bola mata mba parmi nampak membesar mendengar perintah ibu. Begitu pula dengan bang Supra. Muka nya melongo saja menatap ibu.


"Tapi Bu, bukannya ibu bilang..."


"Sudah Parmi, turuti saja kataku. Aku tidak ingin ada keributan di rumah ini."


Seketika itu pula muka mba parmi berubah cemberut lalu menghentak kan kakinya masuk ke dalam kamar begitu pula dengan bang Supra mengekor di belakangnya. Aku tersenyum, ini merupakan pembelaan ibu untuk pertama kalinya.


"Makasih ya Bu!" Ucap ku sembari tersenyum padanya namun dia melengos pergi begitu saja.

__ADS_1


Malam hari ketika Zain sudah tidur. Aku pergi ke dapur untuk memasak mie instan karena malam ini aku belum makan apapun. Ketika aku baru menginjak kan kaki di dapur aku mendengar suara dua orang yang sedang berbicara yang nampaknya serius dan rahasia di teras samping rumah. Aku pun mengintip di balik gorden jendela kaca nampak ibu serta bang Supra di luar sana.


__ADS_2