
Raihan memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Setelah itu, kami keluar dan berjalan beriringan menuju gedung yang besar itu. Di tengah melangkah aku teringat pada pria di rumah makan Padang tadi, bagaimana bisa Raihan mengenalnya.
"Rai, kamu kenal sama pria yang kerja di rumah makan Padang tadi?"tanyaku di sela sela kami melangkah.
Raihan melirik."Kenal lah mba,"ucap nya.
"Kenal dimana?"
"Di showroom."
"Maksud mu?"
"Dulu dia itu cleaning servis di salah satu showroom ku dan karena ada kasus saat itu aku memecatnya."Raihan menjelaskan.
"Oooo...begitu."
Raihan melirik lagi."Ngomong O nya jangan panjang panjang kenapa mba, aku jadi ingin menarik bibir mba dengan dengan gigiku."
"Awww." Raihan menghentikan langkahnya ketika merasa sakit di area perutnya setelah aku menonjok nya melalui siku kananku sehingga membuatnya memekik.
Wajahnya meringis serta tangannya memegang perut di area yang ku tonjok. Aku cemas karena aku takut perbuatan ku benar benar menyakitinya padahal tadi aku reflek saja sebab terlalu gemas pada ucapannya.
"Duhh...maaf Rai maaf."Kemudian mengelus perutnya di area yang sudah ku tonjok.
"Kalau perutku terluka pokoknya mba harus tanggung jawab."Raihan berucap dengan manja membuat aku mengernyitkan dahi apakah luka nya parah? tanpa permisi padanya aku membuka kaos bawah warna abu abu itu dengan paksa untuk memastikan apa benar benar terluka. Dan apa yang sedang aku lakukan ternyata di perhatikan oleh beberapa pasang mata termasuk seorang suster yang sedang lewat.
"Maaf mas, mba, kalau mau berbuat mesum jangan disini. Ini rumah sakit," protes seorang suster yang lewat itu.
Aku menoleh kearah suster itu lalu saling pandang dengan Raihan, dalam hati aku bertanya kenapa suster itu bisa menyimpulkan demikian padahal aku hanya mau mengecek perut Raihan saja.
Setelah saling pandang, kami mengalihkan padangan ke arah suster itu.
"Kami tidak sedang mesum mba, lagi pula kami ini pasangan suami istri bagaimana bisa dikatakan mesum." Raihan berbohong dan hal itu membuat aku hendak melebarkan pupil mataku namun Raihan lebih dulu menggenggam tanganku dan menariknya hingga aku ikut terseret melangkah pergi bersamanya.
Aku menoleh ke belakang suster itu masih berdiri dengan bengong sembari melihat ke arah kami.
Setelah menjauh dari suster itu, aku melepaskan tanganku dari genggaman tangannya kemudian bertanya dengan kesal." Kenapa harus bohong sama suster itu sih Rai?"
"Terpaksa mba, he he. Lagi pula siapa yang sedang mesum apa dia pikir kita tidak punya etika." Raihan menggerutu, raut wajahnya terlihat kesal.
__ADS_1
"Tapi tidak harus berbohong tentang status kita kan Rai?"
"Memang kenapa sih mba, toh sebentar lagi kita juga akan menikah kan?"
Perkataanya membuat aku bungkam. Aku memang mencintai Raihan dan tidak menampik juga bahwa aku ingin memiliki suami sepertinya. Tapi entah kenapa aku merasa ragu, bukan ragu padanya tapi pada keadaan situasinya.
Aku tidak menanggapi ucapannya melainkan melangkah cepat meninggalkannya dengan beberapa jarak di belakang ku. Namun karena langkah Raihan lebih lebar maka langkah cepat ku terkejar juga olehnya.
"Jangan ngambek dong mba, maaf ya!"ucap Raihan, sembari menyamakan langkahnya dengan ku.
Di tengah berjalan aku sempat meliriknya dengan ekor mataku namun aku segera mengalihkan pandangan ku lurus ke depan hingga tiba di depan ruangan paru paru dimana orang tua Sumi sedang di rawat.
Aku tidak langsung membuka pintu melainkan diam dalam beberapa detik. Setelah itu aku bertanya pada Raihan,"Kamu mau tunggu aku di sini atau ikut masuk ke dalam?"
Raihan terlihat sedang berfikir namun tidak lama kemudian dia berucap,"aku ikut masuk saja mba, sekalian ingin melihat kondisi orang tua teman mba."
Aku mengangguk kemudian membuka pintu itu dengan pelan. Terlihat sepi dan ranjang pasien yang tadi pagi sempat terisi sekarang dalam keadaan kosong. Kakiku melangkah masuk dan di ekori oleh Raihan. Aku masuk ke balik tirai sebagai penyekat ranjang pasien namun Raihan tidak ikut melainkan berdiam diri di luar dan aku membiarkan nya saja.
"Nuri..."Sumi yang sedang memainkan ponsel nya terlihat terkejut melihat ke datangan ku yang tiba tiba.
Aku tersenyum padanya kemudian melihat pada ibu nya yang sedang tertidur.
"Alhamdulilah, tadi sudah sedot cairan dan sekarang ibu sudah bisa bernafas normal."
"Syukurlah."
"Oya gimana anak serta adik adik ku Nur, apa mereka nakal?"
"Tidak usah khawatir, mereka anak anak yang manis. Oya, ini makanan untuk mu. Maaf sedikit telat."Kemudian aku menyodorkan dua kantong plastik berisi martabak dan nasi Padang pada Sumi dan dia menerimanya dengan mata berkaca kaca. Aku tau Sumi merasa terharu di telah di perhatian olehku.
"Terima kasih ya Nur!"
Aku mengangguk.
"Maaf ya Sum, bukan nya aku tidak mau ada disini lebih lama, tapi aku mikirin anak anak di rumah takut menungguku. Selain itu, aku juga tidak enak sama....temanku yang sedang menunggu di luar."
Terlihat Sumi mengerutkan dahinya.
"Teman menunggu, jadi kamu kesini tidak sendirian Nur?"
__ADS_1
"Tidak, aku bersama teman ku."
"Dimana teman mu itu?"
"Di luar."
"Ya ampun Nur, kamu membiarkan temanmu menunggumu di luar."
"Biarkan saja Sum."
Ku sibak tirai yang menjulur panjang dan lebar itu hingga terbuka.
"Kalau begitu aku pulang sekarang ya?"
Aku melangkah ke luar dari balik tirai itu di ikuti Sumi dari belakang. Nampak Raihan sedang menyenderkan punggungnya di dinding dan bersedekap dada, dia menatap datar kearah kami. Aku melirik Sumi dengan ekor mataku. Wajahnya terlihat bengong dan mulutnya sedikit terbuka serta pandangan nya mengarah pada Raihan. Aku tau apa yang membuat Sumi seperti itu apa lagi kalau bukan melihat pria tampan yang nyaris sempurna.
"Sudah selesai?"Tanya Raihan dengan wajah datar.
Aku mengangguk.
"Kami pulang dulu Sum!" Ku lirik Sumi masih terbengong melihat Raihan. Aku menggoyangkan lengannya agar dia tersadar dari rasa kagumnya pada Raihan.
"Apa....apa dia yang kamu maksud teman mu yang sedang menunggu mu Nur?"tanya Sumi tiba tiba.
Aku mengangguk.
"Oya, Rai, ini Sumi temanku yang aku ceritakan."Aku memperkenalkan Sumi pada Raihan namun Raihan hanya mengangguk pelan saja tanpa berekspresi. Kemudian tanpa pamit dia pergi begitu saja dari hadapan kami.
"Dih, ganteng ganteng kok sombong sih Nur, teman mu itu," kata sumi dengan kesal. Aku tidak enak hati padanya karena sikap Raihan yang cuek dan dingin. Namun aku bingung kenapa sikapnya tiba tiba berubah.
Aku mengekor di belakang Raihan yang sudah berjalan lebih dulu. Dari kejauhan ku tatap punggungnya dengan pikiranku. Aku heran ada apa dengannya kenapa tiba tiba sikap nya berubah dingin.
Raihan terus saja berjalan dengan langkah lebar sehingga aku kesulitan untuk mengejarnya. Ku percepat langkahku tanpa memperhatikan jalanan yang ku lalui hingga aku menabrak tubuh seorang pria berjas putih.
Brughh..
Aku terjatuh di lantai namun tidak dengan pria itu. Saat aku mengaduh kesakitan pria berjas putih itu mengulurkan tangannya ke arahku yang sedang duduk di atas lantai.
"Mari saya bantu," kata pria itu.
__ADS_1
Aku mendongak dan ternyata orang yang aku tabrak adalah seorang dokter muda berwajah tampan. Dokter itu melihat ku tanpa mengedipkan matanya. Aku menyadari bahwa dokter itu tengah memperhatikanku aku pun segera bangkit sendiri tanpa meraih tangan yang sedang terulur ke arahku.