Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Akal picik ibu dan Supra


__ADS_3

Aku melihat ibu serta bang Supra sedang berbicara serius di teras samping rumah. Lalu tiba tiba terdorong keinginan untuk mengetahui pembicaraan mereka karena aku mendengar mereka menyebut nyebut namaku. Setelah itu, aku menempelkan sebelah telingaku pada daun pintu agar pembicaraan mereka dapat terdengar dengan jelas.


"Ibu kenapa sih malah membela si Nuri? malah menyuruh kami tidur di kamar si Supri yang sempit?"


"Ibu hanya tidak mau dia pergi dari rumah ini, Sup."


"Lho, kenapa? justru bagus dong kalau dia pergi dari rumah. Kita bisa bebas menguasai rumah ini."


"Kalau dia pergi siapa yang akan memberi kita uang, Sup?selama ini ibu tidak mengusirnya karena dia bisa di andal kan untuk cari duit buat kita."


"Tapi kita bisa mengambil pabrik nya Bu, kita tidak perlu lagi mengandalkan dia kalau pabriknya sudah menjadi milik kita."


"Tidak segampang itu Supra. Si Nuri itu pintar apalagi sekarang banyak duit. Dia bisa saja membawa kita ke jalur hukum kalau kita terang terangan mengusir serta mengambil alih pabrik nya."


"Terus apa yang harus kita lakukan agar dia menyingkir dari rumah ini. Si parmi sudah merengek terus ingin mengisi kamar si Nuri.


Hening


"Sabar saja Sup, Sebentar lagi kan dia akan menikah. Suaminya pasti akan membawa dia keluar dari rumah ini."


"Tapi Bu.."


"Kamu tau kan kalau dia mau menikah dengan orang kaya? bukan nya itu akan menguntungkan kita? oleh karena itu mulai sekarang kamu harus baik baikin dia biar dia dan suaminya royal ke kamu."


"Ha ha, Ibu benar. Kita bisa memanfaatkan mereka berdua sebagai ladang usaha kita."


Dadaku cukup sesak mendengar percakapan ibu dan bang Supra. Ternyata ibu membela ku tadi karena memiliki tujuan yang cukup picik yaitu ingin menjadikan aku dan Raihan sebagai mesin ATM nya. Meskipun sebenarnya ibu sudah memperlakukan aku seperti itu dari dulu tapi kenapa rasanya sakit sekali ketika hal itu di ungkapkan langsung oleh mulut ibu sendiri.


Mereka mau membodohi aku lagi. Apa mereka tidak tahu bahwa Nuri yang sekarang bukan lagi Nuri yang dulu. Nuri yang lemah, Nuri yang cengeng, Nuri yang mudah di bodohi. Baik, mulai detik ini akan aku ikuti permainan mereka.


Keesokan nya dan di pagi hari. Ketika aku sedang sarapan bubur ayam bersama Zain di meja makan, mba Parmi sambil menggendong anak nya yang berusia satu tahun menghampiriku.


"Kok, beli bubur nya cuma dua doang, Nur." Dengan tidak tau malu nya dia bertanya demikian.


Aku melirik malas." Untuk apa banyak-banyak," kataku lalu menyuapkan bubur ke dalam mulutku dengan santai.

__ADS_1


"Kan disini banyak orang. Anak ku juga belum sarapan."


"Kalau di sini banyak orang dan anak mba belum sarapan terus kenapa?"


"Ya setidak nya kamu belikan juga kami bubur."


Aku tersenyum miring."Mba punya kaki dan mata kan? kenapa bukan menyuruh dua anggota tubuh mba itu saja untuk membeli bubur?"


"Kamu kok ngomong nya gitu sih. Kamu kan tau aku punya bayi."


"Apa mba tidak lihat aku juga punya balita?"


Seketika muka mba Parmi berubah cemberut lalu menghentak kan kakinya dan beranjak dari hadapan ku. Aku tersenyum miring melihatnya. Seenak saja menyuruh aku membelikan bubur untuk mereka dan menggunakan uang ku pula.


Satu jam kemudian aku melihat ibu masuk ke dapur lalu membuka tudung saji." Lho, kok tidak ada makanan apa-apa, Nur."


Aku yang sedang mencuci mangkok bekas sarapan aku dan Zain tersenyum mendengar keluhan nya.


"Tidak ada bahan makanan yang bisa di masak," jawab ku tanpa menoleh padanya.


Aku mengedik kan kedua bahuku."Terserah." Kemudian beranjak pergi tanpa menoleh ke arahnya dan aku tidak tau bagaimana ekspresi muka nya karena aku malas sekali melihat muka ibu yang munafik.


Ketika aku sedang berbicara dengan Sumi dan bang Supri di luar rumah. Bang Supra mengeluarkan motor Vario milik ku dari dalam rumah. Penampilan nya pun nampak sudah sedikit rapih dari segi pakaian tapi tidak dengan dari segi fisik.


"Mau kemana kamu bang?" Tanya bang Supri padanya.


"Mau keluar." Lalu menyalakan motor tapi sayangnya motor itu tidak mau menyala." Ish sialan. Kenapa motornya tidak mau menyala?" Dia menggerutu kesal. Aku dan bang Supri tersenyum melihatnya. Gimana mau nyala tadi malam aku menyuruh bang Supri untuk menguras habis bensin nya.


Kemudian dia turun lalu memeriksa motor itu." Ya ampun kok bensin nya sampai bersih gini," ucap nya setelah memeriksa. Raut mukanya nampak semakin kesal.


Setelah itu, dia menoleh ke arah kami." Supri, aku pinjam motor mu yang itu," tunjuk nya pada motor yang terparkir di depan pabrik.


"Oh, tidak bisa Fernando. Itu motor bukan untuk jalan-jalan tapi untuk nyari duit. Lagian mau ku pakai ke pasar sekarang."


"Pelit banget kamu, Pri."

__ADS_1


"Ngatain orang pelit. Ya modal dikit kek. Jangan cuma ingin makainya doang tapi ngisi bensin nya kagak mau." Sindir bang Supri.


"Aku sedang tidak punya duit, Pri." Kemudian bang Supra menoleh ke arah ku namun aku segera mengalihkan pandanganku ke arah lain.


"Ya kerja lah. Kalau tidak kerja mana punya duit. Nunggu duit jatuh dari langit sampai mati juga tidak bakal dapat."


"Ini juga aku mau nyari duit."


"Ya sudah sana."


"Gimana aku bisa pergi kalau tidak ada motor."


"Jalan kaki. Nanti kan di ujung nemu angkutan umum."


"Aku pinjam duit mu kalau gitu buat ongkos."


"Aku cuma punya duit segini." Bang Supri memamerkan duit sepuluh ribu pada bang Supra.


"Bohong. Pasti duit mu banyak."


"Duit ku memang banyak tapi ku investasi kan. Memang nya kamu dapat duit banyak hasil jual sodara tapi ujung ujungnya jadi gembel. Itu namanya rezeki yang tidak berkah."


"Sok tau kamu."


Bang Supri memajukan bibirnya.


Kemudian bang Supra menoleh ke arah ku namun aku segera memalingkan muka ku karena aku yakin dia pasti ingin meminta uang padaku.


"Nuri, aku pinjam uang kamu dong." Benar dugaanku dengan tidak ada rasa malu dan bersalah nya dia berani meminta uang dengan alasan meminjam.


"Eh, Sum. Kayak nya pengiriman untuk ke toko pak Ahmad belum di packing deh. Aku bantuin yuk biar cepat."


"Ayok Nur, ayok." Sepertinya Sumi tau kalau aku sedang ingin menghindar dari bang Supra. Kemudian aku dan Sumi buru buru beranjak.


"Nur, Nuri, Nuri!" Bang Supra memanggilku namun aku tidak mempedulikan nya.

__ADS_1


Aku mengintip bang Supra dari celah kecil di dalam pabrik. Dia sedang berdebat dengan bang Supri namun tidak lama kemudian dia beranjak pergi berjalan kaki dengan muka kesal.


__ADS_2