Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Aku bukan anak kecil


__ADS_3

Jam sudah menunjukan waktu memasuki Maghrib namun hujan masih saja belum reda bahkan semakin besar dan disertai angin kencang. Raihan berulang kali melihat pada jam yang melingkar di tangannya.


"Mba, apa aku boleh numpang sholat maghrib di sini?" tanya Raihan dengan mimik wajah terlihat serius.


Aku tercengang sekaligus kagum pada Raihan. Dia seorang pemuda jaman sekarang tapi masih ingat serta patuh pada kewajibannya sebagai umat muslim.


"Bo..boleh Rai. Kebetulan aku juga mau sholat..!"


"Apa mau sekalian sholat berjamaah dengan ku mba?"


"Bo..boleh Rai, ya sudah ambil air wudhu dulu gih!"


"Siap mba..!" Raihan berjalan ke arah kamar mandi tanpa di antar olehku karena aku yakin Raihan pasti tau dimana letak kamar mandinya. Sambil menunggu Raihan, aku menggelar dua sajadah di ruang TV.


Setelah Raihan selesai mengambil air wudhu aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Butuh beberapa menit untuk mengambil air wudhu setelah itu aku segera memakai mukena dan berdiri di belakang Raihan.


"Apa sudah bisa di mulai sekarang mba?" Raihan bertanya padaku yang masih sibuk membenarkan letak mukena yang aku gunakan.


"Owh, ya Rai...aku sudah siap kok!" jawabku padahal sebenarnya aku masih ragu dengan letak mukena yang sedang ku gunakan karena terasa kendor.


Raihan menjadi imam sholat ku untuk kali ini. Sholat berjamaah yang tak pernah aku lakukan sepanjang hidupku bersama kakak kakakku serta suamiku sendiri. Jujur saja aku kagum sekali pada Raihan selain masih sangat muda dan tampan, Raihan juga merupakan sosok pemuda yang sholeh. Aku merasa sosok seperti Raihan lah yang aku butuhkan dalam hidup aku.


"Astaghfiruallah hal adzim...!" aku beristighfar dalam hati. Kenapa harus menginginkan sosok pria lain sementara aku sendiri wanita yang sudah memiliki suami meskipun suamiku bukan sosok pria yang patuh pada agamanya.


Raihan menoleh ke belakang dimana aku masih duduk di atas sajadahku sambil termenung.


"Mba Nuri...!"


Sapaan Raihan membuatku sedikit terperangah lalu menatap ke arah Raihan yang juga sedang menatapku.


"I..iya Rai..!"


"Mba kenapa ?kenapa bengong? apa ada hal yang mba pikirkan?"


"Tidak apa apa Rai, aku hanya membayangkan jika suamiku pria Sholeh sepertimu Rai..!"


"Maksud mba Nuri suami mba sepertiku?"


Aku segera membekap mulutku. Kenapa lidahku ini tidak bisa di ajak kompromi? aku jadi malu pada Raihan. Raihan tersenyum manis sekali ke arahku dan aku tercengang memandang senyumnya.


"Apa mba Nuri mau aku menjadi imam mba selamanya?"goda Raihan.


"Hah? kamu bicara apa sih Rai..!" aku jadi salah tingkah dan me re mas mukena yang masih ku gunakan.


"He..he..kalau mba Nuri mau aku sangat bersedia kok jadi imam mba untuk selamanya..!" Raihan masih saja menggodaku dan rasanya aku ingin sekali menenggelamkan mukaku saat ini. Bukan karena aku menyukai candaan rayuan Raihan, aku hanya merasa malu saja telah di goda oleh anak kecil yang sudah ku anggap seperti adik ku sendiri.

__ADS_1


"Rai....!"


"Iya sayang..!"


Aku membesarkan pupil mataku.


"Eh, maaf mba. Aku hanya becanda saja kok!"


"I..iya aku tau Rai..kamu memang orangnya suka becanda dan tak pernah bicara serius." Entah kenapa aku merasa kesal dan tidak suka dengan ucapan Raihan yang mengatakan bahwa ucapannya hanya sebuah candaan saja.


"Kenapa wajahnya di tekuk begitu mba? aku..aku benar benar minta maaf aku hanya becanda saja lho mba."


"Masa sih, memang garis wajahku seperti ini Rai..!"


"Mba Nuri kalau tersenyum terlihat manis banget lho mba. Coba deh tersenyum aku ingin lihat senyum manis mba..!"


"Masih manisan Risa Rai...aku ini sudah tua mana ada manis manisnya."


"Lho, kok bawa bawa Risa sih mba?"


"Ya memang nyatanya demikian Rai, Risa itu cantik dan terpelajar lagi..cocok banget sama kamu yang sama sama orang berada serta anak kuliahan. Apalagi kamu sudah mendapat lampu hijau dari mamahnya." Entah kenapa aku jadi teringat saat Raihan menatap Risa dan rasanya ada yang mengganjal di hati ini entah apa aku pun tak tau.


Raihan tersenyum tipis lalu menatapku dengan lekat sehingga aku menjadi salah tingkah di buatnya.


"Apa mba Nuri sedang cemburu?"


"Yakin tidak cemburu..?"


"Rai ...! aku sudah bilang aku tidak cemburu karena aku tidak punya hak untuk itu. Aku...aku hanya senang saja andai kamu jadian sama Risa."


"Jadian apa mba? bagaimana bisa jadian kalau tidak ada rasa disini..!" ucap Raihan lalu memegang dadanya.


"Risa memang cantik dan di kampus banyak mahasiswa yang menyukainya tapi sayangnya aku bukan salah satu dari mereka yang menyukai Risa mba. Aku sama sekali tidak memiliki ketertarikan padanya dan jika di suruh memilih tentu saja aku lebih memilih mba Nuri daripada Risa." Sambung Raihan.


Aku tercengang mendengar kalimat yang di lontarkan oleh Raihan bahwa dia lebih memilih aku yang kucel daripada Risa yang cantik. Rasanya sulit di percaya seorang Raihan yang sempurna lebih memilih wanita yang sudah memiliki anak dengan penampilannya yang jauh dari kata modis.


"Ha..ha..sudah lah Rai..jangan becanda yang dapat membuat aku melambung tinggi karena aku takut terjatuh pada akhirnya."


"Untuk kali ini aku tidak becanda mba, aku memang tidak suka pada Risa dan andai mba Nuri bukan istri orang sudah tentu aku akan lebih memilih mba daripada Risa." Raihan terlihat berbicara serius sekali.


"I..iya Rai..aku ini istri orang. kamu itu masih sangat muda Rai..masa depan mu masih panjang dan masih banyak waktu untuk mencari dan memilih perempuan seperti apa yang kamu inginkan."


"Andai Allah berkenan aku hanya menginginkan wanita seperti mba Nuri di sepanjang hidupku mba, bukan perempuan yang lain."


"Ha..ha..kamu itu jago ngegombal ya Rai, sudah Rai...lihat itu anak ku sampai ketiduran di kursi nunggu yang sholat tidak kelar kelar dari tadi." Raihan mengikuti arah telunjuk ku lalu dia tersenyum melihat Zain yang tertidur di atas sofa. Kemudian Raihan bangkit lalu menghampiri Zain. Sementara aku masih membenahi mukena serta sajadah yang terbentang.

__ADS_1


"Apa Zain mau di pindahkan ke kamar mba?"


"Biar aku saja yang angkat Rai...!"


"Tidak apa apa mba, biar aku saja." Raihan mengangkat Zain hendak di pindah tempatkan ke dalam kamar namun sebelum Raihan memasuki kamarku aku mencegahnya.


"Kenapa mba?"


"Ja..jangan di kamar ini Rai..di kamar sana saja." Aku menunjuk pada sebuah kamar yang baru dua malam aku tempati bersama Zain. Aku memang sedang tidak ingin satu kamar dengan mas Surya mengingat hinaannya padaku serta tamparannya waktu itu. Aku heran pada mas Surya kenapa dia libur kerjanya lama sekali padahal aku sudah tidak betah ada dia di rumahku. Bukan karena dia yang tidak pernah mengeluarkan uang untuk belanja sehari hari tapi lebih ke sikapnya yang seenaknya saja terhadapku. Seperti saat ini dia pergi tanpa memberi tahu aku akan pergi kemana dan pulang kapan.


"Owh..!"Raihan membawa Zain memasuki kamar yang ku tunjuk dan setelah masuk Raihan terdiam dengan pandangannya mengitari kamar. Aku tau Raihan pasti merasa heran karena di kamar ini hanya ada kasur lantai serta dua buah bantal.


"Kenapa tidurnya di sini mba? memakai kasur lantai pula. Apa tidak kasihan sama Zain harus tidur di kasur lantai?"


"Habis gimana Rai..adanya kasur ini. Tidak apa apa tidurkan saja di sini."


"Kenapa tidak tidur di kamar yang biasa mba?"


"Kamar itu di tempati sama mas Surya."


"Lah, memang kenapa? bukan kah kalian sepasang suami istri yang memang harus tidur di kamar yang sama?"


Aku menghela nafas berat. Bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Raihan.


"Rai..kamu masih kecil tidak akan mengerti masalah rumah tangga. Kelak kalau kamu sudah menikah kamu akan merasakannya sendiri. Sudah, letak kan saja Zain di sini." Aku menyuruh Raihan segera meletak kan Zain di kasur lantai dan Raihan pun menurut meskipun terlihat berat.


"Sudah Rai..tinggalkan saja."Aku berjalan keluar kamar namun Raihan mencekal lenganku dengan erat dan tanpa bicara lagi Raihan me lu mat bibirku dengan rakus. Aku membelalak kan mataku mendapat serangan secara mendadak dari Raihan. Selang beberapa detik Raihan melepaskan bibirnya dari bibirku.


Aku terpaku, lidahku terasa kelu untuk berucap dan degup jantungku berpacu dengan cepat. Aku tidak menyangka Raihan yang ku anggap anak kecil dan sudah ku anggap sebagai adik telah mencium ku.


Dalam kediamanku Raihan menatapku lekat.


"Sampai kapan mba anggap aku sebagai anak kecil? dari dulu hingga sekarang mba selalu menganggap aku anak kecil. Aku bisa saja melakukan lebih dari sekedar mencium mba biar sekalian membuktikan kalau aku pria dewasa bukan anak kecil. Maaf mba, bukan maksud aku melecehkan mba tapi...aku tidak tau bagaimana caranya mengungkapkan perasaan ini...!" Raihan keluar kamar sementara aku masih diam membisu. Aku merasa lutut ku terasa lemas sekali.


Aku menghirup udara sebanyak banyaknya lalu menghembuskan nya. Ku coba menghilangkan rasa gugup dan berusaha bersikap seperti biasa saja.


Aku keluar kamar dan ku lirik Raihan sedang menatap keluar jendela sambil menyibak kan sedikit tirai nya. Hujan masih saja belum reda bahkan masih deras di tambah petir saling bersahutan.


"Rai...!"


Raihan menoleh ke arah ku lalu tersenyum manis sekali.


"Kenapa mba? apa keberadaan aku di sini membuat mba Nuri merasa tidak nyaman?"


"Bu...bukan, aku hanya ingin bertanya apa kamu lapar?"

__ADS_1


"Lapar banget mba he he..!"


"Sebentar ya aku buatkan sesuatu dulu." Aku bergegas ke dapur untuk membuatkan sesuatu karena aku tidak memiliki lauk pauk untuk di masak jadi aku berinisiatif membuatkan nasi goreng saja dan kebetulan aku memiliki stok telor.


__ADS_2