Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Rumah suram pak Bagas


__ADS_3

Pak Bagas memuji orang tua ku dan Raihan yang di anggap berhasil telah mendidik anak anaknya sehingga anak anak nya taat pada tuhannya.


Aku hanya memberikan senyuman saja ketika dia memuji orang tuaku, orang tua yang sebenarnya tidak pernah menyayangiku. Jangankan mendidik ku tentang agama mengajariku baca tulis pun tidak pernah. Yang ada ibuku hanya mengajariku bagaimana mencari uang. Tapi aku bersyukur di balik didikan keras ibu yang menuntut ku untuk mencari uang sejak kecil membuat aku tumbuh menjadi pribadi yang tak mengenal kata manja.


Jika pak Bagas memuji orang tua Raihan itu baru pas sebab Bu haji memang benar benar telah berhasil mendidik Raihan sehingga dia memiliki kepribadian yang patut di puji dan di kagumi. Sementara pada ibuku sama sekali tidak pantas.


Di tengah obrolan kami seputar puji memuji Raihan datang lengkap dengan Koko, sarung serta peci. Dia menyunggingkan senyum simpul.


"Maaf ya nunggu lama." Ucap nya, lalu maju ke depan untuk memimpin sholat. Kami melaksanakan sholat dengan khusuk hingga selesai.


Setelah selesai melaksanakan ibadah dua rakaat subuh ini aku tidak lagi tidur melainkan membantu Raihan mengerjakan pekerjaan rumah sementara pak Bagas kembali ke kamar nya.


"Sayang, kamu mau apa?" Ketika aku mengangkat pakaian kotor Raihan dan di campur dengan pakaian kotor aku serta Zain.


"Mau cuci baju."


"Jangan, biar aku saja yang cuci. Aku tidak mau kamu kelelahan." Raihan menahan ranjang yang akan aku angkat.


"Rai, yang mau cuci pakaian ini kan mesin cuci bukan aku. Aku hanya mau masukin ke mesin cuci saja. Sudah deh, jangan berlebihan lagi pula biar cepat kelar bukan nya kita kan akan pulang kampung pagi ini?"


"Iya tapi...."


"Tidak ada tapi tapi. Kita bagi tugas saja. Kamu masak dan cuci piring sementara aku cuci baju sertrika nyapu dan ngepel."


"Tapi.."


"Sudah, sana masak." Aku mengalihkan tangan Raihan dari ranjang lalu melangkah kearah mesin cuci yang terletak di dapur di bawah kitchen set. Sebuah mesin cuci sekaligus pengering yang berbeda dengan mesin cuci milik ku memiliki dua tabung dan masih di lakukan secara manual jika mau di keringkan.


Setelah berada di depan mesin cuci itu aku kebingungan bagaimana cara memakainya.


"Kenapa diam saja? Bingung ya?" Raihan yang sedang berdiri di depan kompor meledek ku sembari tersenyum mesem.


Aku menunduk malu.


Dia mendekatiku lalu mengajariku bagaimana caranya menggunakan mesin cuci itu. Setelah di ajari aku baru mengerti bagaimana caranya.


"Terima kasih, Rai."


"Sama sama sayang. Ya sudah aku mau masak dulu ya."


Aku mengangguk.


Setelah selesai mengerjakan proses pencucian pakaian di mesin cuci dan sambil menunggu aku berinisiatif untuk menyapu dan mengepel namun aku kebingungan mencari dua benda itu.


"Mencari apa sayang?" Tanya ku ketika dia melihat aku yang mondar mandir mencari dua alat itu.


"Sapu dan alat pel di simpan dimana ya?"


"Di gudang sana." Tunjuk Raihan pada sebuah pintu. Kemudian aku melangkah ke arah yang di tunjuk olehnya dan setelah pintu itu di buka benar saja alat alat yang aku cari ada ruangan khusus tempat penyimpanan benda-benda atau alat-alat kotor.


Raihan itu merupakan pria bersih dan rajin. Dia tidak suka membiarkan benda-benda kotor berserakan di sekitar ruangan baik kamar mandi maupun ruangan lainya. Oleh karena itu rumahnya nampak selalu bersih dan rapih tidak ada satu pun benda-benda yang tidak enak di pandang mata terselip di sekitar atau di pojok ruangan.


Aku mulai menyapu seluruh lantai kecuali kamar Raihan karena di sana ada pak Bagas yang sedang tidur. Aku tidak ingin menggangunya dan kesannya pun tidak sopan. Untuk kali ini Raihan membiarkan aku mengerjakan pekerjaan rumah. Mungkin dia pikir percuma di larang karena aku selalu membantah nya. Setelah selesai menyapu aku melanjutkan mengepel seluruh lantai.


Aku kembali ke dapur Raihan masih sibuk di depan kompor. Setelah berada di depan mesin cuci ku perhatikan mesin cuci itu terdiam.


"Lho, kok diam." Gumam ku, lalu aku melirik Raihan yang sedang mengorek orek wajan dia pun nampak tersenyum." Sudah selesai itu dan sudah kering juga. Tinggal di ambil pakaian nya." Ucap nya. Aku bengong melihat nya.


Raihan melirik ku."Kenapa? apa bingung lagi?"


"Kok sudah kering?"


"Aku tadi yang mengeringkan nya."


"Oh." Kemudian aku mengambil ranjang lalu mengeluarkan semua pakaian yang sudah kering di dalam mesin cuci lalu membawanya ke kamar.


Setelah menyimpan ranjang itu di kamar aku kembali lagi pada Raihan." Rai, setrikaan dimana ya ?"


Dia menoleh." Untuk apa sayang?"


"Mau nyetrika."


"Pakainya di letak kan dimana?"


"Di kamar. Mau sertrika di kamar."


Raihan menyunggingkan senyum." Coba tolong bawa keluar pakaian nya."

__ADS_1


Aku menyipitkan kedua mataku. Kenapa dia menyuruhku untuk membawa keluar lagi pakaian yang akan aku setrika di kamar? Namun aku mengabaikan pikiranku dan memilih untuk menuruti perintahnya.


Aku membawa keranjang itu pada Raihan lalu dia mengambil alih dari tanganku dan membawanya ke sebuah tempat yang dan aku mengekor di belakangnya.


Raihan meletak kan keranjang itu di depan sebuah benda berbentuk panjang dan cukup besar.


"Rai, apa itu?"


"Ini alat pelipat sekaligus pelicin pakaian otomatis sayang. Jadi kamu tidak perlu capek mengerahkan tenaga menggosok pakaian dan melipat. Lagi pula mengunakan alat ini lebih praktis dan hemat waktu.


Aku yang baru tau jika ada alat pelipat sekaligus pelicin otomatis bengong saja melihat alat itu.


Raihan mulai mengajariku bagaimana cara menggunakan alat itu hingga aku mengerti bagaimana cara menggunakan nya. Aku ini orang kampung yang awam tidak terlalu ngeh pada perkembangan jaman. Teknologi modern dan kian canggih dari masa ke masa sampai orang pintar menciptakan alat ini pun aku baru tahu.


Raihan meninggalkan aku ketika aku sudah mulai lancar menggunakan alat itu. Dan aku melakukan nya hingga pakaian yang ada di keranjang habis dan tertata rapih. Benar kata Raihan menggunakan alat itu menghemat waktu dan dalam waktu lima belas menit sudah selesai. Jika menggunakan setrikaan mungkin butuh waktu satu jam baru selesai.


"Sudah selesai?"Tanya Raihan yang tiba tiba saja sudah berada di belakangku.


Aku menoleh ke samping."Hei, sudah."


"Apa capek?"


"Tidak sama sekali. Apa kamu sudah selesai masak, Rai?"


"Sudah beres tinggal sarapan. Zain juga kayaknya sudah bangun."


"Sepertinya."


"Ya sudah sini biar aku yang membawa keranjangnya." Raihan mengangkat keranjang berisi pakaian yang sudah rapih lalu membawanya.


Aku menatap punggungnya sembari tersenyum. Aku pikir mungkin begini rasanya kalau aku sudah menikah dengannya kita akan bergotong royong mengerjakan pekerjaan rumah. Indah sekali ku bayangkan.


Aku memandikan Zain yang sudah terbangun entah sejak jam berapa karena aku sibuk di luar. Setelah Zain rapih aku membawa nya ke luar untuk memberinya sarapan. Pak Bagas pun sudah nampak terbangun dan duduk di atas meja makan. Dan Raihan baru keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sudah rapih.


"Hai, sayang..kita sarapan yuk!" Ucap Raihan lalu menciumi pipi Zain.


Setelah duduk di atas meja yang terhidang dengan nasi goreng seafood, Raihan mengambilkan bubur yang masih di dalam panci lalu meletak kan nya di depanku.


"Maaf ya sayang, papa lupa. Ini bubur khusus buat Zain terbuat dari beras merah dan salmon serta bermacam macam sayuran."


Begitulah Raihan, dia selalu mementingkan dan mengutamakan gizi untuk Zain bahkan aku sebagai ibunya saja kalah protektif darinya jika dalam hal mengurus Zain.


"Sama sama sayang."


Kemudian aku mulai menyuapi Zain terlebih dahulu sebelum aku sarapan. Zain sarapan lahap sekali mungkin buburnya terasa enak di lidahnya.


"Ayok pak, silahkan dimakan! maaf ya saya hanya membuatkan sarapan bapak ini saja." Kata Raihan.


Pak Bagas tersenyum lebar." Ini sudah lebih dari cukup Rai, makasih lho nasi goreng ini nampaknya lezat banget."


Raihan tersenyum." Di coba dulu saja pak, setelah itu baru boleh menilai."


Pak Bagas tertawa.


"Apa bapak hari ini akan pergi ke kantor?" Tanya Raihan di sela sela makan.


"Iya Rai, apa saya boleh minta tolong pesan kan taksi?"


"Tidak usah pesan taksi pak. Saya yang akan mengantar bapak sekalian kami juga mau pulang kampung. Jadi nanti sebelum pulang kampung saya akan mengantar bapak ke kantor terlebih dahulu."


Pak Bagas menghentikan gerakan tangannya dan menatap serius ke arah Raihan." Kalian akan pulang kampung? apa kah akan lama?"


"Sepertinya sih tidak, mungkin nanti kalau urusan nya sudah selesai kami akan segera balik ke Jakarta. Lagi pula pernikahan kami kan tinggal menghitung hari saja."


"Oh, ya, ya. Kalian hati hati di jalan ya!"


"Iya pak."


Setelah selesai sarapan aku berkemas kemas." Sudah selesai sayang?" Raihan menyembul di pintu kamar. Aku menoleh ke arahnya.


"Sudah." Kemudian membawa apa yang harus aku bawa dan melangkah ke arahnya.


Kami keluar apartemen menuju lif yang terletak tepat di depan pintu apartemen Raihan.


"Apa bapak tidak pulang dulu ke rumah?"Tanya Raihan ketika kami sudah berada di dalam lif.


Pak Bagas nampak terdiam namun kemudian dia balik bertanya." Apa tidak kejauhan kalau kalian mengantar saya pulang?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak pak."


"Kalau begitu boleh, Rai."


Raihan melajukan mobilnya menuju rumah pak Bagas di daerah pondok indah. Sepanjang jalan aku hanya diam dan menyimak obrolan antara raihan dan pak Bagas hingga tidak terasa mobil Raihan memasuki komplek perumahan mewah.


Tiba di depan sebuah gerbang yang menjulang tinggi nampak seorang sekuriti tergopoh gopoh membukakan pintu gerbang itu. Kemudian mobil Raihan pun memasuki nya.


"Rai, tunggu sebentar." Ucap pak Bagas di tengah gerbang. Raihan pun memberhentikan mobilnya.


Pak Bagas membuka kaca mobil." Pak Ali." panggil nya pada sekuriti yang sedang memegang pintu gerbang siap untuk menutup nya setelah mobil Raihan masuk.


"Iya pak." Sahut pria itu lalu mendekat.


"Apa anak saya sudah pulang?"


"Non Nura belum terlihat pulang pak."


"Istri saya?"


"Kalau nyonya sudah tadi malam pak."


"Oh, ya sudah terima kasih."


"Ayok, lanjut Rai."


Raihan melanjutkan perjalannya hingga mobilnya terparkir di depan teras rumah yang begitu besar dan bergaya klasik.


"Ayok, kalian mampir dulu ke rumah saya." Ucap pak Bagas sembari melepaskan sabuk pengamannya.


Raihan menoleh padaku."Apa kita mau mampir dulu sayang?"


Aku mengangguk.


Kami berjalan beriringan memasuki rumah besar itu dan tiba di dalam kami di sambut oleh seorang ART.


"Bi, apa ibu ada?"


"Nyonya ada di kamar nya pak. Apa perlu saya panggilkan?"


"Tidak usah bi, biarkan saja. Tolong buatkan minuman saja untuk tamu saya."


"Baik pak." Kemudian art itu pergi dari hadapan kami.


"Ayok kita duduk di sana!" ajak pak bagas menunjuk pada sebuah sofa. Aku dan raihan pun menurut.


Setelah duduk ekor mataku mengedar ke segala arah. Di mataku rumah ini memang besar dan mewah tapi entah mengapa aku merasa rumah pak Bagas ini terasa suram dan seperti di huni oleh makhluk makhluk yang tak kasat mata. Aku tidak tau apa ini hanya perasaan ku saja atau...pokoknya aku tidak tau.


"Yah begini lah, rumah saya ini besar tapi sepi."


"Kalau pemilik rumah ini rajin beribadah saya yakin rumah ini akan terasa terang ramai dan enak di tinggali." Tiba tiba Raihan berucap demikian. Aku cukup terkejut dan aku sempat berpikir kalau Raihan merasakan apa yang aku rasakan di rumah ini.


Tiba tiba aku merasa ingin buang air kecil tapi aku malu untuk bertanya di mana letak kamar mandinya pada pak Bagas. Dan di saat aku sedang merasakan demikian. Art yang menyambut kedatangan kami tadi menghampiri kami kemudian meletak kan beberapa cangkir teh.


"Ibu maaf, apa saya boleh numpang ke toilet sebentar?"


"Oh, anu mba, anu.."


"Kenapa bi?"Tanya pak Bagas.


"Itu pak, saluran air yang dibawah sedang di perbaiki karena air nya tidak keluar."


"Sejak kapan?"


"Tadi malam pak."


"Yang di atas?"


"Yang di atas lancar pak."


"Kalau begitu bawa saja tamu saya ke kamar Nura."


"Baik pak. Mari Non, saya antar ke kamar non Nura."


"Terima kasih Bi." Aku pun langsung berdiri dan mengikuti bibi itu menaiki tangga hingga kesebuah pintu kamar.


"Non, ini kamar non Nura dan tidak di kunci. Non bisa pakai toilet di kamarnya saja. Maaf kayaknya kamarnya acak acakan saya belum sempat membereskannya."

__ADS_1


Aku pun masuk kedalam kamar Nura setelah mengucapkan terima kasih pada Art itu dan dia pergi. Setelah berada di dalam kamar nya yang berukuran cukup besar aku tercengang melihat kamarnya yang begitu berantakan. Aku menatap heran pada keadaan yang kulihat dan aku sempat berpikir kenapa Nura begitu jorok sekali. Apa karena mentang mentang dia anak orang kaya jadi untuk membereskan kamarnya saja harus memakai jasa Art.


Aku tidak mempedulikan keadaan kamarnya yang berantakan melainkan yang ingin segera ku lakukan saat ini adalah segera menemukan toilet dan membuang air kecil yang sudah tidak bisa di tahan lagi.


__ADS_2