Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Budak nafsu Surya


__ADS_3

Baru saja aku mengucapkan salam dalam sholat ku mas Surya memanggilku di luar kamar. Aku segera membenahi mukena serta sajadah ku terlebih dahulu dan setelah itu aku membuka pintu yang sengaja aku kunci.


Ketika aku membuka pintu mas Surya sedang tersenyum lebar ke arahku di depan pintu.


"Kamu sudah sholatnya sayang?"


"Sudah," jawabku singkat.


"Ikut mas ke kamar kita yuk?"


"Mau apa mas?"


"Ada yang ingin mas kasih ke kamu!"


Karena aku penasaran aku pun ikut dengan mas Surya ke kamarku yang di tempati olehnya. Setelah di dalam kamar mas Surya mendudukkan aku di atas tempat tidur lalu dia mengambil uang lima ratus ribu di dompetnya dan di sodorkannya ke arahku.


"Uang apa ini mas?"tanyaku penasaran karena tumben sekali dia memberikan aku uang secara langsung karena biasanya di transfer ke rekeningku. Uang nafkah lima ratus ribu yang biasa ku dapatkan dari mas Surya tiap tanggal muda.


"Ini untuk kamu beli baju baru sayang, ayok ambil," jawab mas Surya masih menyodorkan uang itu ke arahku.


Meskipun ragu aku ambil saja uang yang di sodorkan mas Surya toh aku berhak menerimanya karena aku istri sah nya mas Surya.


"Terima kasih mas," ucapku sambil mengambil uang di tangannya.


"Simpan saja dulu uangnya sayang,"titah mas Surya dan aku pun menuruti perintahnya. Aku berdiri dan menyimpan uang pemberiannya di sebuah tas yang tergantung dan tiba tiba mas Surya memeluk ku dari belakang lalu me re mas kedua gunung kembar ku. Aku tercengang di buatnya.


"Mas kamu mau ngapain?" tanyaku masih dalam pelukan mas Surya.


"Aku ingin sayang, layani aku ya?" ucap mas Surya sambil terus saja me re mas gunung kembar ku.


"Tapi ini siang hari mas!"


"Kenapa kalau siang hari sayang? aku sudah tidak tahan banget ini," ucap mas Surya lalu membuka hijab ku.


"Tapi mas...!"


"Jangan menolak dan membuatku berlaku kasar padamu Nuri. Aku ini suami sah mu sudah sepantasnya kamu melayaniku agar kamu dapat pahala dariku."


Ini yang tidak aku suka dari mas Surya. Ketika menginginkannya dia tidak tau waktu dan situasi dan jika menolak dia akan berlaku kasar tapi kadang meskipun aku tidak menolak kerap kali berlaku kasar. Aku tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan mas Surya. Juga, aku takut berdosa jika menolak keinginan suamiku. Aku teringat saat Raihan memeluk serta mencium ku dan dengan suka rela aku membiarkannya bahkan membalasnya. Aku merasa berdosa sekali pada mas Surya karena merasa seperti sudah mengkhianatinya saja.


Aku menuruti keinginan mas Surya melayaninya di atas ranjang siang hari. Namun ketika mas Surya menggauliku lagi lagi wajah Raihan yang terbayang dan aku merasa Raihan lah yang menggauliku. Aku menikmati permainan mas Surya di tubuhku seolah olah aku menikmati permainan Raihan hingga mas Surya merasa puas lalu mengerang dan menjatuhkan tubuhnya di sampingku. Peluh bercucuran di tubuhku dan mas Surya. Setelah itu, aku menitik kan air mata. Aku bingung kenapa aku selalu membayangkan sosok Raihan di saat suamiku menyetubuhiku.


"Terima kasih sayang, sudah dua kali ini aku merasa permainanmu sangat memuaskan ku," ucap mas Surya lalu tersenyum lebar. Sementara aku hanya tersenyum tipis dengan senyum yang ku paksakan.


Kemudian aku segera bangun dan meraih bajuku yang teronggok di lantai dan aku segera memakainya lalu keluar kamar menuju kamar mandi untuk mandi besar.


Tepat pukul dua siang Zain bangun dan minta makan. Cukup lama anak ku tertidur hingga bangun dia merasa kelaparan. Aku segera membeli telur di warung untuk makan Zain. Ketika aku sedang menyuapi Zain bang Supri masuk ke dalam rumahku tanpa mengucapkan salam dan tanpa membuka sepatunya yang dekil. Kesal sekali aku melihatnya. Sebuah kebiasaan jika memasuki rumahku bang Supri tidak pernah membuka sepatunya seperti sepatunya bersih saja.


"Nur, mana suami mu?" tanya nya dengan suara tinggi padahal jarak aku dengannya berdekatan.


Sambil menyuapi Zain aku melirik malas ke arahnya.


"Mau apa?"


"Ada perlu, dimana dia?"


"Di kamar," jawabku singkat.

__ADS_1


"Cepat panggilin," titah bang Supri. Seperti ada yang sangat penting saja ingin bertemu suamiku dengan maksa.


"Panggilin saja sendiri aku sedang sibuk nyuapin Zain."


"Halah kamu tuh nolak terus kalau aku suruh..!" umpat mas Supri sambil berjalan ke arah pintu kamarku.


"Mas...mas Surya!" Bang Supri menggedor gedor pintu kamar serta memanggil nama suamiku. Cukup lama bang Supri membangunkan mas Surya hingga pintu terbuka dan mas Surya menampakan diri dengan hanya memakai bo xer serta rambut acak acakan. Setelah berhubungan suami istri tadi mas Surya langsung tertidur dan baru bangun setelah bang Supri membangunkannya saat ini.


"Kamu pri, ada apa sih ganggu aku tidur saja?" kesal mas Surya.


Bang Supri tersenyum nyengir." Aku minjem duit dong Sur, tiga ratus ribu!"


"Aku tidak ada duit lagi Supri, baru saja aku berikan ke Nuri. Kamu minta saja sama dia."


Aku yang sedang menyuapi Zain sambil menyimak obrolan mereka tercengang namaku di sebut sebut oleh mereka.


"Nur, ini Abang mu mau minjem duit kasih kan saja duit yang ku kasih tadi."


"Tidak bisa gitu dong mas, itu kan uang buat aku kenapa harus di kasih ke bang Supri?"


"Heh, Nur, aku ini mau pinjam bukan minta pelit banget kamu jadi orang."


"Sudah Nur, kasih saja biar dia cepat pergi berisik sekali ganggu orang tidur saja."


Aku kesal sekali pada akal licik bang Supri. Alih alih meminjam padahal tidak pernah di kembalikan sama halnya dengan meminta. Dengan terpaksa aku menuruti perintah mas Surya. Aku bangun lalu masuk ke dalam kamar. Ku rogoh uang lima ratus ribu yang ku simpan di dalam tas yang baru saja ku terima dua jam lalu dari mas Surya dan sekarang harus ku berikan pada bang Supri tiga ratus ribu. Ku sodorkan uang itu pada bang Supri dengan wajah ku tekuk karena aku benar benar kesal sekali padanya.


"Nah, gitu dong Nuri, jangan pelit pelit jadi orang nanti rizki mu sempit." Kemudian bang Supri beranjak pergi setelah mendapatkan uangnya dengan muka berseri seri. Aku kesal sekali pada ucapannya mengatai ku pelit padahal sendirinya jauh lebih pelit dan licik.


Mas Surya kembali masuk ke kamar setelah bang Supri pergi dan aku ke dapur untuk berbenah dapur yang terlihat acak acakan setelah ku tinggal dua hari satu malam. Ibuku membiarkannya acak acakan karena memang ibuku tidak pernah berbenah bisanya hanya mengacak acak saja.


Mas Surya menghampiriku di dapur ketika aku sedang mencuci piring.


"Aku belum sempat masak mas."


"Terus aku makan apa kalau kamu tidak masak?"


"Mau aku dadar kan telor saja mas?"


"Bikin kan aku nasi goreng saja pakai telor dua Nur!"


Aku mengangguk. Untung saja tadi aku membeli telor lebih jadi tidak perlu ke warung lagi. Padahal cucian piringku belum selesai tapi aku harus segera membuatkan nasi goreng untuk mas Surya terlebih dahulu karena aku tidak ingin sikap kasarnya kumat lagi padaku. Aku mulai membuatkan nasi goreng untuk mas Surya setelah selesai ku letak kan di atas meja makan dan aku berjalan ke arah kamar untuk memanggil mas Surya. Aku dan mas Surya berjalan ke dapur setelah berada di ambang pintu dapur ku dapati ibuku sedang berdiri di meja makan sambil menatap pada nasi goreng untuk mas Surya.


"Ibu...itu untuk mas Surya Bu!" ucapku di ambang pintu.


Ibu menoleh ke arahku." Terus untuk ku mana Nur?masa kamu hanya membuatnya untuk si Surya saja ibumu tidak."


"Bukan nya ibu tadi sudah makan nasi Padang ya?" jawabku mengingatkan nya bahwa ibu sudah makan siang.


"Tapi kan itu jam dua belas Nur!"


"Tapi sekarang masih jam dua Bu!"


"Jangan banyak makan Bu, nanti tambah gendut saja terus terserang diabetes," ucap mas Surya tiba tiba.


Ibu terlihat cemberut lalu menghentak kan kakinya dan pergi dari dapur.


"Aneh ibumu itu, makan terus yang pikirin nya, badan sudah besar gitu."

__ADS_1


Aku tidak menimpali ucapan mas Surya melainkan mengambil air minum lalu meletak kan nya di hadapan mas Surya.


"Mas, aku ke kamar dulu ya mas, mau beres beres?"


Mas Surya mengangguk.


Aku meninggalkan mas Surya yang sedang makan lalu ku hampiri Zain yang sedang main puzzle sendirian. Mainan yang di belikan oleh Raihan. Selain puzzle ada beberapa mobilan yang Raihan belikan untuk Zain. Aku bersyukur dan berterima kasih sekali pada Raihan karena dia, Zain jadi memiliki banyak mainan bukan lagi mainan rongsokan melainkan mainan bagus dan mahal.


Ku biarkan Zain bermain sendiri lalu aku masuk ke dalam kamarku untuk membereskan pakaian yang belum terlipat. Ketika aku sedang membereskan pakaian mas Surya memasuki kamar dan mengunci pintu. Aku menoleh ke arah nya.


"Sudah makanya mas?"


"Sudah."


Kemudian mas Surya duduk di sampingku lalu memeluk ku dan me re mas gunung kembar ku.


"Mas aku sedang melipat pakaian."


"Aku tau sayang, tapi aku ingin lagi."


"Tapi mas...!"


Mas Surya memaksa mencopoti pakaianku kemudian merubuhkan tubuhku di atas kasur hingga aku terlentang lalu menindih ku dan memasuk kan pedang tumpul miliknya secara paksa. Kali ini mas Surya melakukan nya dengan kasar tidak seperti tadi karena aku menolaknya. Mas Surya terus saja menghujam ku dengan kasar. Aku hanya bisa pasrah di bawah Kungkungan nya hingga dia sampai pada pelepasannya lalu merubuhkan tubuhnya di atas tubuhku. Aku memiringkan wajahku tidak ingin di cium olehnya. Dia kesal padaku karena aku tidak ingin di cium olehnya lalu dia menggigiti gunung kembar ku dan membuatku memekik kesakitan.


Mas Surya mengangkat tubuhnya dari tubuhku. Aku meneteskan air mata merasakan sakit di sekujur tubuhku.


"Makannya kalau suami pengen itu di layani jangan di tolak. Aku tidak akan berbuat kasar kalau kamu tidak menolaknya."


Mas Surya bangun lalu memakai handuk dan keluar kamar untuk mandi. Sementara aku masih menangis di kasur. Ku hapus air mataku dengan kasar lalu mengambil baju yang teronggok di lantai. Kemudian aku segera keluar dari kamar sebelum mas Surya kembali ke kamar.


Pukul sembilan malam aku baru saja menidurkan Zain dan ku lihat mas Surya baru pulang entah darimana. Aku mengabaikan kedatangannya lalu hendak masuk ke kamar dimana aku menidurkan Zain. Namun mas Surya memanggilku. Dengan terpaksa aku menoleh ke arah nya.


"Ada apa?"


"Kamu malam ini tidur denganku. Ada suami kok tidur nya misah."


"Aku harus temani Zain mas."


"Biarkan saja dia tidur sendiri."


"Tapi mas..!"


"jangan membantah kata suami, apa kamu tidak takut yang namanya dosa?


Aku terdiam dan lebih baik diam karena aku tidak ingin ribut malam hari.


Mas Surya masuk ke dalam kamar dan aku mengekor. Setelah itu, mas Surya mengunci pintu. Mas Surya membuka seluruh pakaiannya dan hanya menanggalkan bo xer nya.


"Kamu tidak ingin aku berbuat kasar kan sama kamu? makannya kamu harus nurut apa yang ku suruh. Buka semua bajumu."


Aku tidak membuka suara ku dan ku turuti saja apa maunya mas Surya. Aku tidak ingin dia berbuat kasar lagi padaku. ku buka semua bajuku dan hanya meninggalkan pakaian dalam saja.


"Buka semuanya Nur!" titah mas Surya dengan suara tinggi.


Aku tersentak namun ku turuti perintah nya. ku buka semua yang menempel di tubuhku. setelah itu, mas Surya menarik ku ke atas kasur. Aku pasrah saja apa yang mau mas Surya lakukan padaku. Mas Surya menggauliku kembali dengan berbagai gaya. Aku benar benar lelah sekali melayani hasratnya yang tidak ada capeknya.


Hingga mas Surya merasa lelah sendiri lalu menyudahinya.

__ADS_1


Sambil tersenyum lebar dia berucap," tidak sia sia aku mengeluarkan duit lima ratus ribu untukmu layanan mu hari ini cukup memuaskan ku.


Aku menangis mendengar pengakuan mas Surya. Ternyata dia memberikan uang lima ratus ribu untuk ku sebagai bayaran aku telah menjadi budak nafsu mas Surya.


__ADS_2