
Seperti biasa pak Yanto selalu tidak menerima setiap protes atau masukan dari ku. Dia selalu merasa paling benar sendiri, benar benar egois sekali. Seperti saat ini tiba tiba dia datang terus protes karena pekarangan tempat ayam ayamnya berkeliaran serta mencari makan sedang ku bangun untuk produksi kerupuk. Dia protes seolah olah pekarangan itu miliknya, sama sekali tidak punya rasa malu.
"Kalian itu tetap saja salah seharusnya kalian itu ijin dulu sama saya." Pak Yanto masih saja ngotot dan menyalahkan kami.
"Ijin sama kamu, memang nya kamu itu siapa? ketua RT, lurah, camat, walikota, gubernur, presiden, hah?" Bentak bang Supri, nampak urat uratnya timbul saking kesalnya sama pria berbadan kurus itu. Pak Yanto nampak terperanjat tapi tidak menunjukan ketakutannya pada bang Supri justru sebaliknya dia menatap nyalang melawannya.
"Berani sekali kau bentak orang tua."Ucap pak Yanto lantang. Kedua tangannya masih tetap bertengger di pinggang kurusnya.
"Kenapa tidak berani? apa lagi sama orang tua tidak waras kayak kamu." Ledek bang Supri sembari tersenyum miring.
"Kau.."Ucap pak Yanto sembari menunjuk bang Supri dengan telunjuknya. Dan di saat itu pula tiba tiba seekor ayam menghampiri bang Supri lalu dengan sigap dia menangkap ayam itu.
"Ini ayam kamu bukan? kamu pergi dari sini atau ku potong ayam mu ini?"Ucap bang Supri sembari sebelah tangannya menenteng ayam seperti sedang menenteng kantong plastik. Kedua mata pak Yanto seketika membelalak serta mulutnya menganga melihat ayamnya di tangkap oleh bang Supri. Setelah itu, dia menurunkan telunjuk nya lalu geleng-geleng kepala.
"Kamu belum mau pergi juga?" Pak Yanto masih dengan ekspresi yang sama dan belum mau beranjak pergi.
"Tolong cepat ambilkan pisau Nur, kita potong ayam ini lumayan untuk tambahan lauk makan."
Aku tahu bang Supri hanya sekedar menakuti nya saja."Okey bang, jadi aku tidak usah beli ikan lagi ya bang, kan sudah ada ayam tinggal di potong lalu di masak kari."
"Iya Nur, kebetulan aku lagi pengen makan kari ayam kampung."
Setelah itu, aku beranjak namun baru dua langkah pak Yanto berteriak keras.
"Tidaaak."
Teriakannya mengalihkan pandangan para tukang sehingga mereka menonton kami.
"Enak saja kalian mau potong ayam ku." Kemudian dia maju mendekati bang Supri." Sini ayam ku." Ucap nya sembari mengambil paksa ayam itu lalu beranjak pergi.
"Awas saja kalau ayamnya nampak berkeliaran lagi di pekarangan kami, aku tidak akan segan segan memotong semua ayam-ayam mu dan ku jadikan kari."Teriak bang Supri. Pak Yanto yang sudah berjalan beberapa meter berbalik dan menatap kesal sembari menunjuk dengan jari telunjuknya.
"Awas saja kalau kamu berani memotong ayam ayam ku, aku lapor polisi kamu."
__ADS_1
"Lapor saja kalau berani. Paling juga kamu yang masuk penjara karena sudah meresahkan tetangga."
"Aku tidak meresahkan kalian, aku juga tidak menyuruh ayam ayam ku untuk masuk ke pekarangan kalian."
"Apa kamu pikir ayam mu itu manusia bisa kau suruh suruh? Kalau punya otak ya setidaknya pekarangan mu itu di pagar biar tidak keluyuran ke tempat orang.
"Kamu itu ya benar benar ya..."
"Benar benar apa? makan nya kalau tidak mau ayam mu ku potong, kurung semua ayam mu jangan di biarkan berkeliaran dimana dimana apa lagi berkeliaran di rumah kami." Nampak pak Yanto terlihat kesal lalu beranjak pergi membawa ayamnya.
Setelah kepergian pak Yanto bang Supri kembali mengontrol tukang sementara aku masuk ke dalam rumah melihat orang orang yang sedang berkerja.
"Sudah habis berapa kilo tepung nya Sum?"Tanyaku pada Sumi.
"Baru dua belas kilo Nur."
"Alhamdulilah lima jam bisa memproduksi kerupuk dua belas kilo Sum." Senyum mengembang di bibirku. Biasanya jika hanya aku dan bang Supri yang memproduksi, dua belas kilo tepung itu membutuhkan waktu dua hari baru selesai.
"Iya Nur."
"Siap boss di laksanakan."Ucap Sumi lalu mulai berjalan ke arah tumpukan penampi yang siap di jemur. Dia tidak sendiri melainkan di bantu oleh salah satu pekerja yang lain membawa penampi-penampi berisi kerupuk itu ke luar untuk di jemur. Sementara aku siap siap akan masak untuk memberi makan sebelas orang yang sedang bekerja termasuk empat orang tukang.
Satu Minggu kemudian.
Bangunan sederhana untuk proses pembuatan kerupuk sudah terselesaikan sesuai dengan keinginan. Senyum pun mengembang di bibirku melihatnya. Berawal dari kecil tapi jika terus berusaha dan konsisten aku yakin lama lama akan menjadi besar.
"Nur, apa kita akan pindahan sekarang?"Tanya Sumi di saat aku sedang menatap bangga pada bangunan yang ku anggap sebagai pabrik kecil. Ya, meskipun sangat sederhana tapi aku sangat bangga karena bisa membangun tempat usaha atas hasil jerih payahku sendiri bukan hasil meminta atau di beri modal oleh orang lain. Selain itu aku juga bangga bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi ibu ibu untuk membantu suaminya mencari nafkah.
Aku menoleh." Iya Sum, sekarang kita pindahin alat alat nya dulu."
"Siap Nur." Sumi nampak semangat sekali. Aku salut padanya, dia selalu semangat kerja dan tidak pilih pilih pekerjaan. Kerja apa saja akan dia lakukan yang penting halal dan menghasilkan uang. Dulu sebelum dia kerja di salon yang letaknya di kota Jakarta dia pernah jadi buruh cuci, mengasuh anak tetangga. Bahkan saat aku kerja di pabrik besar aku pernah meminta nya melamar pekerjaan di tempat ku bekerja. Awal nya Sumi kesulitan masuk ke pabrik itu karena ijazahnya yang hanya tamat SD namun karena kegigihannya yang berulang kali melamar akhirnya pihak HRD menerimanya meskipun hanya sebagai cleaning servis. Tapi hal itu tidak berlangsung lama ketika seorang pria menikahinya dia di minta untuk berhenti bekerja. Namun pada akhirnya dia di tinggal kan oleh suaminya begitu saja ketika sedang hamil.
Aku serta yang lainnya bahu membahu memindahkan peralatan-peralatan pembuatan kerupuk ke tempat bangunan yang baru selesai. Bangunan yang memiliki ukuran luas dua ratus meter itu terbuat dari triplek namun nampak seperti tembok bercat putih. Cukup terlihat luas karena di dalamnya hanya berupa ruangan polos tanpa sekat. Beratap genteng dan berlantai keramik, cukup terlihat nyaman apalagi ku pajang beberapa kipas gantung jadi orang-orang yang bekerja di dalamnya tidak akan kepanasan. Beberapa tungku pun nampak berjajar rapih dan bagus karena aku membeli tungku tungku yang baru.
__ADS_1
"Sudah beres semua Nur, apa kita mulai produksi sekarang?"Tanya bang Supri yang baru saja meletak kan dua tempat pengukus ukuran besar.
"Iya bang, mulai saja sekarang. Abang atur saja."
"Sip."
"Nur, stok tepung terigu sisa sepuluh kilo lagi. Mungkin hanya cukup untuk setengah hari ini saja." Lapor Sumi sembari menenteng karung berisi tepung terigu.
"Waduh Sum, ya sudah kamu gunakan saja dulu yang ada aku akan belanja dulu sekarang."
"Iya Nur."
"Eh, tunggu sebentar Sum." Aku mencegah Sumi yang akan mendekati para ibu ibu yang sedang menunggu nya mengambil tepung.
"Kenapa Nur?"
"Untuk saat ini serahkan dulu sama bang Supri. Aku mau minta tolong sama kamu Sum."
"Minta tolong apa Nur?"
"Tolong jagain Zain dulu ya selama aku ke pasar dan jangan di tinggal kemana mana."Ucap ku, aku tidak ingin kejadian penculikan Zain terulang lagi dan sekarang aku lebih protektif padanya.
"Oh, iya Nur, siap."
Setelah memberikan Zain pada Sumi, aku segera melajukan motorku menuju pasar karena aku akan belanja bahan pembuatan kerupuk dengan jumlah yang sangat banyak maka aku belanja nya ke pasar tidak lagi di warung langganan.
Ku lajukan motor dengan kecepatan sedang menuju pasar yang jaraknya setengah jam. Setelah tiba di pasar aku segera memasuki toko sembako yang paling besar di pasar itu lalu memesan apa saja yang aku butuhkan. Aku sendiri sengaja memilih toko besar itu karena selain harganya lebih murah daripada toko yang lain toko itu juga menyediakan mobil pengantar barang belanjaan hingga sampai rumah. Apa lagi jika belanjanya dalam jumlah yang besar si sopir tidak akan memungut biaya bensin.
Setelah selesai berbelanja dan barang belanjaan ku sudah terangkut di atas sebuah mobil pick up, aku pun tak lupa memberikan alamat ku pada mamang sopir untuk jaga jaga saja karena aku takut dia salah jalan.
Aku melajukan motorku kembali menuju rumahku dengan kecepatan sedang karena jalanan cukup macet di sebabkan oleh angkot-angkot yang sedang menunggu calon penumpang atau menaik turunkan penumpang. Ini yang kadang membuat aku malas belanja ke pasar kalau tidak sangat penting sekali. Setelah jalanan lancar dan melenggang mulus, tiba tiba di tengah jalan sedang terjadi tabrakan antara truk dengan mobil kecil sehingga menutupi jalan dan menyebabkan macet total.
Aku menyeka keringat yang mengucur di dahi ku menunggu kendaraan bergerak maju namun tidak maju maju. Aku pikir jika menunggu jalanan lancar akan memakan waktu yang lama maka aku memutuskan untuk melewati jalan alternatif saja. Jalanan sepi yang pernah beberapa kali ku lewati bahkan di jalan alternatif itu pun pertama kali aku bertemu dengan Raihan ketika dia terjatuh dari motor sport nya saat masih SMA.
__ADS_1
Ku belok kan motorku dan mencari celah agar bisa keluar dari himpitan pengendara lainnya. Setelah bersusah payah akhirnya aku bisa keluar juga dan melanjutkan perjalananku menuju jalan alternatif yang akan tembus ke kampung ku.
Aku melajukan motorku dengan lancar tanpa hambatan. Namun karena jalanan itu bukan jalan aspal melainkan kerikil kecil maka aku melewatinya dengan pelan dan hati hati. Ketika aku sudah berada di tengah jalan tiba tiba dua pria membawa celurit menghadang ku. Aku terkejut dan takut sekali melihat mereka yang sudah berdiri di depanku dan mau tak mau aku memberhentikan motorku.