
Aku menghela nafas panjang. Setelah itu, menyandarkan punggungku pada sandaran lalu menutup mata dan berharap kejadian-kejadian aneh di rumah Oma secepatnya menghilang dari pikiranku.
"Kamu terlihat banyak pikiran sekali Nuri, apa ada masalah yang sedang terjadi? maaf kalau aku terkesan selalu ingin tau masalah pribadi mu." Ujar dokter Bayu di sela sela mengemudi.
Aku menggeleng pelan namun mata tetap terpejam. Ingin rasanya berbagi cerita padanya tentang apa yang aku alami ketika berada di rumah nya namun aku yakin responnya pasti sama seperti bibi Sukma yaitu"halusinasi."
"Tidak ada dok, aku hanya lelah." Ucap ku berbohong.
Nampak dokter Bayu manggut manggut.
"Emm, Dok..."Ucap ku di tengah kebisuan kami.
"Kenapa Nuri?"
"Apa, apa aku boleh bertanya tentang almarhum mama dokter Bayu?" tanya ku dengan ragu dan hati hati.
"Bertanya saja Nuri, aku akan menjawab jika aku mampu menjawab dan kalau tidak mampu ya aku tidak akan menjawab."
"Dokter bilang mama dokter meninggal saat dokter masih seusia Zain, apa, seusia itu dokter masih mengingat wajah mama dokter seperti apa?"
"Tidak, seusia segitu tentu saja belum bisa mengingat apa apa termasuk wajah orang terdekat. Hanya saja Oma sering cerita bagaimana bentuk wajah mama dan selain itu Oma juga menyimpan beberapa foto mama. Dan kamu tau Nuri, Oma bilang mama ku cantik sekali dan dia bilang mama mirip sekali denganmu."
Aku tercengang mendengarnya ternyata selama ini dokter Bayu tau jika mamanya mirip denganku." Apa selama ini dia mendekatiku karena aku ini mirip dengan mamanya?" Aku bermonolog.
"Benarkah?" Aku pura pura tidak tahu." Tapi menurut dokter kenapa aku dan mama dokter bisa mirip ya?"Tanya ku dengan rasa penasaran karena aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan keluarga Oma tapi kenapa kami bisa mirip.
Nampak dokter Bayu terdiam seperti sedang berpikir namun tak lama kemudian dia angkat bicara.
"Aku pun sebenarnya kurang mengerti sih Nuri hanya saja aku pernah membaca sebuah artikel tentang penelitian yang di lakukan oleh Dr. Manel Esteller, dia mengatakan bahwa manusia bisa memiliki DNA, gaya hidup, bahkan sifat yang sama meskipun mereka tidak terlahir sebagai saudara. Kalau tidak salah hal itu di sebut doppelgangeras."
"Doppelgangeras." Ucap ku mengulang dan nama yang sulit di ucapkan.
"Iya."
"Apa, apa maksudnya?"
"Dua orang yang lahir dalam keluarga atau lingkungan yang berbeda bisa memiliki gen yang sama sehingga fisiknya terlihat mirip satu sama lain. Hal itu bisa terjadi karena ada tumpang tindih genetik yang muncul di antara jutaan populasi manusia dan kondisi itu pun kemungkinan terjadi pengulangan DNA di antara orang yang berbeda beda."
"Ooo," aku manggut manggut pelan.
Aku menyimak apa yang sedang di jelaskan oleh dokter Bayu. Dia adalah orang pintar yang berpendidikan tinggi tentu saja mengerti penyebab kemiripan pada dua orang yang tidak memiliki hubungan apa pun seperti aku dan mamanya.
Tidak ada lagi pembicaraan setelah aku merasa cukup mengerti alasan kenapa aku bisa mirip dengan wajah mama dokter Bayu. Meskipun sebenarnya aku masih penasaran tentang mimpi itu dan tentang apa yang aku lihat selama di rumah Oma. Aku pun tidak lagi bertanya apa apa sehingga aku merasa mengantuk lalu tertidur.
Sebuah tepukan halus terasa di pundak ku, ternyata dokter Bayu membangunkan tidur lelap ku di dalam mobil. Aku sendiri tidak tau sudah berapa lama aku tertidur hingga bangun sudah tiba di depan rumah.
"Sudah sampai nyonya Nuri."Ucap dokter Bayu.
Aku menguap kecil lalu melirik ke arah luar mobil ternyata benar jika kami sudah sampai di depan rumahku. Rumah ku nampak sepi tidak ada yang menyambut kepulangan kami atau mungkin bang Supri belum tau jika aku pulang.
__ADS_1
"Biar aku saja yang membawa Zain." Dokter Bayu menawarkan diri untuk membawa Zain yang sedang tertidur di pangkuanku.
"Terima kasih dok." Lalu memberikan Zain padanya.
Setelah keluar dari mobil nampak pintu rumah terbuka dan muncul bang Supri dengan penampilan rambut acak acakan, memakai kaos tanpa lengan dan sarung yang terbelit di pinggangnya. Sepertinya dia baru bangun tidur.
"Akhirnya kalian pulang dalam keadaan selamat Nuri. Apa Zain baik baik saja Nuri?" tanya nya sembari melihat pada Zain yang sedang tidur di gendongan dokter Bayu.
"Alhamdulilah baik bang."
"Syukurlah, kamu tau kalau tiap malam aku begadang terus tidak bisa tidur mikirin kalian."
Aku tersenyum mendengar nya.
"Apa Sumi dan keluarganya sudah pulang ke rumahnya bang?"
"Sudah nur, emak nya maksa terus ingin cepat pulang. Katanya tidak enak terus menerus ngeropotin kamu."
"Ya sudah lah bang, biarkan saja yang penting ibunya sudah sehat."
Asik mengobrol dengan bang Supri membuat aku hampir saja melupakan kehadiran dokter Bayu yang sedang menggendong Zain.
"Oya, maaf dok. Ayok silahkan masuk."
Dokter Bayu mengangguk.
"Silahkan dok, maaf hanya teh."
"Ini sudah lebih dari cukup Nuri." Setelah berucap, dia menyeruput teh itu." Ah, nikmat sekali." Ucapnya. Aku hanya tersenyum saja.
Aku menemani dokter Bayu mengobrol hingga tidak terasa dua jam sudah berlalu dan dokter Bayu pamit pulang. Namun dia tidak pamit pulang ke Jakarta melainkan pulang ke kabupaten karena besok ada jadwal praktek di rumah sakit kabupaten. Aku pun mengijinkan nya.
"Aku pulang dulu ya nuri. Jaga Zain baik baik."Ucap dokter Bayu ketika aku mengantar nya hingga teras rumah.
"Iya dok, terima kasih banyak sudah mengantar kami sampai rumah. Terima kasih juga sudah membantu mencari Zain."
"Aku harap ini bukan pertemuan terakhir kita lho Nuri."
Aku tertawa kecil.
"Dokter ada ada saja, ya tidak lah."
Dokter Bayu tersenyum nyengir lalu menggaruk tengkuknya.
"Ya sudah kalau gitu aku pulang dulu ya!"
Aku mengangguk.
Kemudian dokter Bayu memasuki mobilnya lalu melajukan nya meninggalkan rumah ku.
__ADS_1
Keesokan hari dan di pagi hari.
"Nuri, Nuri!" teriakan Sumi di depan rumah terdengar nyaring di kedua telingaku. Kemudian aku membuka kan pintu untuknya. Nampak Sumi tersenyum lebar lalu memeluk ku.
"Alhamdulilah kamu dan Zain pulang dalam keadaan selamat Nuri."
"Kamu tau aku sudah pulang dari mana Sum?"Tanyaku di tengah dia memeluk ku.
"Dari bang Supri Nur tadi malam dia ngasih tau aku."Jawabnya sembari melepas pelukannya.
"Kalian bertemu tadi malam?"
"Tidak, dia chat aku ngasih tau kalau kamu sudah pulang."
"Chat!"
"Aku sudah beli ponsel Nur, ya meskipun tidak sebagus dan semahal punya kamu." Tiba tiba bang supri datang dan menjelaskan kalau dia sudah membeli ponsel.
Aku meliriknya."Kamu punya duit bang? kan tabunganmu aku yang pegang."
"Duit yang selalu kamu kasih ke aku lah Nur, aku simpan jadi banyak terus ke belikan ponsel deh."Ucapnya sembari tersenyum lebar.
"Oh. Bagus lah."
"Oya, Nur, aku ke sini juga sekalian mau antar motor mu. Ini kuncinya."Ucap Sumi sembari menyodorkan kunci motorku.
"Terus adik adik mu sekolah naik apa nanti Sum?"
"Biar mereka jalan kaki saja Nur seperti biasanya."
Tidak tega sekali aku mendengar adik adiknya sekolah berjalan kaki. Apa lagi sekolah Ria cukup jauh. Aku pikir mungkin sebaiknya aku belikan Sumi motor second saja supaya dia bisa mengantar adik adiknya ke sekolah.
"Aku juga kayak nya mau balik ke kota Nur, mau cari kerja soalnya tidak mungkin aku menjadi pengangguran gimana hidup keluarga ku nanti."Ujar Sumi.
"Terus apa kamu tega mau meninggalkan ibumu yang baru sembuh dan harus mengasuh anak serta adik adik mu lagi Sum?"
"Habis gimana Nuri, aku harus cari uang juga untuk mereka."
Aku terdiam sembari memikirkan bagaimana baiknya. Rasanya aku tidak tega sekali jika Sumi meninggalkan keluarganya lagi.
"Emm, gini saja Sum, kamu mau tidak bantu aku buat kerupuk?"
"Kamu serius Nuri nawari aku?"Pertanyaan dengan mata berbinar binar.
"Ia lah, itu juga kalau kamu mau."
"Ya maulah Nur, jadi aku tidak perlu lagi kerja jauh. Kalau aku bantuin kamu, aku bisa bekerja sekaligus bisa jagain keluarga ku."
Aku tersenyum senang Sumi bersedia membantuku. Semakin banyak tangan yang mau membantu semakin bagus. Dan aku harap selain Sumi juga akan ada orang lain yang mau membantu usahaku membuat kerupuk karena aku ingin meningkatkan produksi kerupuk ku.
__ADS_1