
Setelah mendapati jerigen berisi bahan bakar serta sebuah korek gas, kami menarik kesimpulan bahwa ada seseorang yang ingin membakar pabrik kerupuk kami. Namun beruntungnya orang itu belum sempat membakar nya jika tidak, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib usahaku dan para pekerjanya. Tapi siapa kira kira yang tega sekali akan berbuat demikian? aku dan bang Supri menerka nerka siapa kira kira orang itu.
"Apa si Surya, Nur! ucap bang Supri.
"Huss, jangan menuduh orang sembarangan tanpa bukti, bang."
"Habis siapa lagi kalau bukan dia. Siapa tau dia dendam sama kamu karena sudah memasuk kan dia ke penjara."
Aku terdiam dan berpikir apa mungkin mas Surya yang ingin membakarnya. Seminggu yang lalu mestinya dia sudah ke luar dari penjara. Tapi, aku segera menepis pemikiran itu. Tidak boleh menuduh sebelum ada bukti.
"Tapi kita tidak punya bukti bang. Jadi kalau tidak punya bukti jangan berprasangka buruk dulu."
"Ya untuk berjaga jaga saja Nur, siapa tau dugaan ku benar."
Di saat kami tengah memikirkan siapa orang yang akan berbuat jahat tiba tiba suara teriakan minta tolong terdengar lirih.
"Nur, kamu dengar itu suara orang minta tolong lagi."
Aku memperjelas pendengaran dan setelah terdengar dengan jelas, benar saja teriakan itu muncul kembali namun tidak sekeras yang pertama di dengar.
"Benar bang, tapi dimana arah sumber suaranya."
"Aku rasa di belah sana Nur!" tunjuk bang Supri pada pekarangan orang yang di tumbuhi bermacam pohon rambutan, dukuh, duren, jambu dan memiliki ukuran luas tanah seribu meter persegi.
"Coba kamu perhatikan suaranya."
"Aku juga mendengarnya bang. Ya sudah bang ayok kita ke sana."
Kami mendekati arah sumber suara itu melewati pekarangan milik ku dan menembus pekarangan orang lain. Bang Supri mengedarkan sorot senter nya ke segala arah setelah berada di pekarangan yang di tumbuhi buah buahan kampung.
"Tolong, tolong!" suara minta tolong itu terdengar pelan seperti tidak memiliki tenaga.
"Nur, kamu dengar lagi?"
"Iya bang, aku dengar. Tapi dimana ya?"
"Iya Nur, aneh banget ada suara tapi tidak ada orangnya. Apa jangan jangan itu bukan suara orang melainkan suara..." Aku mencubit lengan bang Supri.
"Aduh, sakit Nur." Dia mengaduh.
"Makan nya jangan sembarangan ngomong."
"Iya deh, iya."
Pluuk
Sesuatu terjatuh dari atas pohon. Entah apa yang jatuh itu.
"Bang, seperti ada yang jatuh di pohon mangga itu. Ayok kita dekati bang."
"Iya Nur, siapa tau ada mangga yang jatuh."
__ADS_1
"Ish, kamu ini bang dalam keadaan seperti ini saja sempat sempatnya ngomongin masalah makanan di kebun orang. Tidak boleh mengambil milik orang tanpa seijin yang punya bang."
"Kalau buahnya jatuh sendiri namanya nemu Nur, dan kalau nemu namanya bukan ngambil milik orang kecuali memetik di pohonnya."
"Kamu bang, paling bisa beralasan."
"He he, Supri gitu lho."
"Sudah yuk samperin, becanda mulu."
"Hayuk."
Kemudian kami berjalan ke arah pohon mangga yang cukup tinggi dan besar. Namun sebelum sampai pada pohon mangga itu sorot senter bang Supri mengarah pada sebuah sebelah sandal kulit tergeletak di bawah pohon mangga tersebut.
"Oh, jadi yang jatuh itu sandal bukan mangga. Ternyata aku belum beruntung Nur."Ucap bang Supri.
"Lagi pula sekarang belum musim mangga bang mana ada buahnya."
"Tapi, sandal siapa yang tiba tiba jatuh dari atas pohon mangga ini, Nur?"
"Mana aku tau. Coba sorot ke atas pohon mangga bang."
Bang Supri menurut. Dia mengarahkan sorot senternya ke atas pohon mangga itu dan seketika itu pula kami terkejut sekali melihat sosok tubuh sedang menggantung di dahan pohon.
"Aaakkkkk," teriak kami lalu berlari.
"Tolong, tolong!" Aku mengerem pakem kakiku agar berhenti berlari. Bang Supri yang sudah lebih dulu pun ikut berhenti.
"Nur, kenapa berhenti. Ayok cepat lari."
"Itu dedemit, Nuri. Masa iya tengah malam gini ada manusia naik pohon. Mau ngapain? mau nyuri mangga? kan kamu bilang tadi sekarang lagi tidak musim mangga."
"Tolong, tolong aku!"
"Tuh bang, denger kan. Itu suara manusia minta tolong bang."
Bang Supri nampak memperjelas pendengarannya." Oh iya Nur. Itu kayak suara manusia."
"Ya sudah ayok kita balik lagi ke pohon mangga itu bang."
Akhirnya kami pun balik lagi ke pohon mangga besar tersebut.
"Coba senter lagi ke atas bang."
Bang Supri menyorot ke atas tepat mengenai muka sosok yang menggantung itu. Nampak muka sosok itu mirip sekali dengan pak Yanto.
"Kok, dedemit nya mirip pak Yanto." Gumam bang Supri.
"Pak Yanto, apa kamu pak Yanto?" tanya ku dan berharap sosok itu menjawab nya.
"I...iya, a..ku ya..nto." Ternyata sosok yang menggantung itu menjawabnya dengan terbata bata.
__ADS_1
"Jangan bohong, kamu pasti dedemit yang menyerupai si Yanto kurus kayak papan triplek itu kan?"Kata bang Supri meledek.
"A....ku bukan dedemit, a...ku Yanto. To..long turunkan aku dari pohon ini."
"Yanto!" Aku dan bang supri saling pandang.
"Jadi kamu beneran si Yanto?"Tanya bang supri lagi untuk meyakinkan.
"Iya..benar..aku Yanto. Tolong...cepat turunkan aku dari sini."
"Terus ngapain kamu malam malam naik pohon? apa mau nyuri mangga?"Bang Supri masih saja mengintrogasi pak Yanto.
"Ti....dak. Kun...tilanak yang nyangkutin aku di pohon ini."
"Kuntilanak!" ucap kami bersamaan.
"Iya!"
"Tolong cepat turunkan aku."
"Kami akan menurunkan kamu asal kamu jawab yang jujur. Apa kamu berencana mau bakar pabrik kami?"
"Tidak, aku tidak tau."
"Jangan bohong. Kami menemukan jerigen isi bensin dan gas di sekitar pabrik, itu pasti ulah kamu kan sebelum nyangkut di pohon?"
"I...tu bukan milik aku."
"Kamu masih tidak mau ngaku. Apa mau kami panggil lagi kuntilanaknya biar sekalian kamu di makan sama kuntilanak itu."
"Jangan, tolong jangan. Ampun! iya aku ngaku....aku..aku mau bakar pabrik kalian."
Aku cukup terkejut mendengar pengakuan pak Yanto. Tidak menyangka sampai segitunya dia membenci kami hanya karena perkara ayam. Padahal jika di pikir oleh orang waras bukan kami yang salah melainkan dia. Dasar dia nya saja yang kurang waras makannya bersikap demikian. Coba kalau dia beneran waras tidak akan bersikap seperti itu.
"Dasar brengsek kamu Yanto. Pantas lah itu kuntilanak nyangkutin kamu di pohon. Tapi kenapa itu kuntilanak tidak menyangkutkan kamu di tiang listrik saja biar kesetrum sekalian."
"Ma..af, aku minta maaf. Tolong turunkan aku dari pohon ini."
"Cih, enak banget kamu minta tolong. Kamu tau Yanto pabrik kami itu sudah ada pelindungnya, ada kuntilanak, genderuwo, pocong, dedemit. Jadi jangan macam macam kamu kalau tidak mau nyawa mu melayang. Masih untung kamu di sangkutin di pohon mangga sama salah satu peliharaan kami."
"Tolong aku, aku sudah tidak kuat."
"Kamu mau kami nurunin kamu dari pohon ini? tunggu saja sampai pagi. Lagi pula malas banget bawa tangga malam gini ke mari."
"Ayok Nuri, kita balik saja ke rumah biarkan saja dia begitu toh ulahnya sendiri."
"Tolong, aku minta maaf. Aku janji tidak akan mengulang lagi."
"Iya, aku akan menolong mu tapi besok pagi jadi kamu tidur saja di situ."
"Bang, apa tidak kita turunkan sekarang saja bang!" Rasanya aku tidak tega melihat nya menggantung seperti itu. Kepala di bawah, kaki di atas dan menyangkut di dahan pohon. Meskipun sebenarnya kesal sekali pada ulahnya yang hendak membakar pabrik ku. Aku tau siapa kuntilanak yang dia maksud itu dan aku yakin pasti sosok wanita yang sering aku lihat. Lagi lagi dia menolongku.
__ADS_1
"Biarkan saja Nur, kasih efek jera ke dia. Biar dia mikir lagi kalau mau berbuat sesuatu yang akan merugikan orang lain." Kemudian bang Supri menarik paksa tanganku meninggalkan pohon mangga beserta pak Yanto.
"Tolong, Nuri tolong aku!" pak Yanto masih saja berteriak. Namun bang Supri tidak menghiraukan nya melainkan terus menarik ku hingga sampai di rumah.