
Semua orang yang telah menyakitiku menangisi rumah yang sedang di robohkan. Rumah yang aku bangun di atas tanah bapak yang menjadi sengketa kami.
Jika ada yang bertanya sedih tidak? tentu saja sedih. Rumah yang aku bangun dengan penuh pengorbanan waktu, tenaga, pikiran serta uang itu di robohkan begitu saja. Jika ada yang menyesali perbuatan ku dan bertanya kenapa tidak mengikhlaskan saja rumah itu untuk mereka? maaf, bukan nya aku pelit dan tidak mau berbagi. Apa kurangnya aku sama mereka selama ini? aku sudah melakukan apapun untuk mereka terutama untuk ibu dengan ikhlas termasuk menikahkan aku dengan pria yang sama sekali tidak aku cintai dan mendzolimi aku. Dan satu hal yang paling aku benci dari mereka adalah sepanjang usia ku mereka membohongi ku tentang siapa aku dan mereka tidak merasa berdosa ketika bang Supra menjadi wali nikah ku. Padahal mereka tau aku tidak memiliki hubungan nasab dengan nya dan hukumnya tidak akan sah jika di wali kan oleh nya. Tapi demi uang tiga ratus juta mereka tega melakukannya. Bukan kah perbuatan mereka sama saja dengan hal nya menipuku?
Dua jam kemudian rumah ku sudah rata dengan tanah begitu pula dengan pabrik kerupuk nya. Tanpa ku sadari ternyata aksi membongkar rumah ini menjadi pusat perhatian warga yang mengetahui lalu berbondong bondong datang untuk menyaksikan pertunjukan pilu bagi keluarga Bu Retno.
"Sekarang silahkan kalian bangun kembali rumah yang kalian ingin kan di atas tanah milik kalian tanpa ada yang mengganggu gugat," kata ku pada mereka yang masih meratapi rumah yang telah rata dengan tanah. Dan ternyata apa yang sudah aku lakukan pada mereka pun tidak membuat mereka menyesal dan meminta maaf padaku namun aku tidak peduli.
Kemudian aku menyuruh bang Supri untuk membawa barang-barang ke rumah kontrakan yang telah Raihan sewa sebagai pabrik baru sekaligus tempat tinggal bang Supri untuk sementara waktu sebelum aku memiliki lahan dan membuat pabrik yang baru.
Sebelum aku meninggalkan lokasi, aku mengucap kan terima kasih pada pihak-pihak yang sudah membantu ku merobohkan rumah ku. Ku tatap lagi keluarga Bu Retno yang masih menangisi nasib nya dan aku pun tidak peduli mereka mau tinggal dimana, mau di tidur emperan, di kolong jembatan sekali pun aku tidak peduli.
Setelah semua nya selesai dan bang Supri sudah membawa mobil-mobil itu ke rumah kontrakan, aku dan Raihan kembali pulang ke rumah Bu haji sebelum menyusul bang Supri untuk menata rumah yang akan aku jadikan pabrik untuk sementara waktu.
Tiba di rumah kami langsung di sambut oleh Bu haji lalu menanyakan tentang masalah rumah. Kami pun menceritakan dari awal hingga akhir proses membongkar rumah.
"Terus sekarang, apa rencana kalian selanjutnya?"
"Menikah, Bu," jawab Raihan.
"Ya ibu tau, Rai. Maksud ibu apa Nuri tidak ingin mencari keberadaan orang tuanya."
"Buat apa di cari, toh mereka saja tidak membutuhkan Nuri. Mulai sekarang Nuri dan Zain tanggung jawab ku sepenuhnya Bu, apa pun itu aku yang bertanggung jawab."
Aku melirik Raihan. Sejujurnya aku ingin sekali mencari keberadaan mereka, syukur-syukur mereka masih hidup. Aku ingin sekali di nikah kan oleh bapak kandungku. Tapi nampak nya Raihan kurang setuju karena untuk melakukan pencarian itu pasti membutuhkan waktu yang panjang sementara aku dan Raihan akan menikah tinggal menghitung hari lagi.
"Anak lanang ibu memang hebat, sudah menjadi pemimpin perusahaan, sebentar lagi akan menjadi pemimpin rumah tangga pula," ledek Bu haji. Raihan tersenyum lebar aku pun ikut tersenyum.
Aku memasuki kamar Raihan setelah ijin pada Bu haji terlebih dahulu. Nampak Zain sedang tidur siang di atas kasur. Aku melangkah mendekatinya lalu duduk di tepi ranjang.
"Anak mama pulas sekali tidur nya," ucap ku. Lalu memegang lengang yang terdapat gelang. Tiba tiba terdorong keinginan untuk mengetahui tentang gelang pemberian bapak yang sudah berusia dua puluh dua tahun. Ketika aku sedang memperhatikan gelang itu, pintu kamar terbuka. Aku menoleh ternyata Raihan yang hendak masuk sembari menyunggingkan senyum ke arahku dan aku pun membalas senyumannya.
__ADS_1
"Sedang apa sayang? apa Zain masih tidur?" Tanya nya sembari berjalan ke arahku lalu berdiri di sampingku.
"Iya, masih tidur."
Pandangan Raihan mengarah pada tangan ku yang sedang memegang lengan Zain yang terdapat gelang.
"Sayang, bukan nya kamu ingin menanyakan tentang gelang itu ke toko perhiasan?"
"Iya, kita kira di kabupaten ada tidak toko perhiasan yang..."
"Di jakarta saja. Besok kita pulang ke Jakarta. Kebetulan aku memiliki teman yang mengerti tentang perhiasaan."
"Begitu?"
"He'em."
Aku tersenyum dan mengangguk.
Keesokan harinya. Kami pamit pada Bu haji untuk pulang ke Jakarta. Awalnya Bu haji meminta aku untuk tinggal bersama nya selama kami belum menikah. Tapi Raihan tidak mengijinkan dengan alasan keselamatan aku dan Zain. Raihan takut keluarga Bu Retno menaruh dendam padaku dan mencelakai kami. Akhirnya Bu haji pun membolehkan aku ikut dengan Raihan karena dia sendiri tidak ingin ambil resiko.
Setelah Raihan memarkirkan mobilnya di basemen dan sambil menggendong Zain, Raihan menuntun ku memasuki sebuah lif dan ternyata aku baru tau bahwa tempat itu merupakan mall elit. Setelah itu, Raihan membawaku mendatangi sebuah toko perhiasan yang cukup berkelas.
"Rai...."
"Iya sayang. Kamu kan ingin menanyakan masalah gelang ini," ucap Raihan sembari menunjukan gelang di tangan Zain.
Aku tersenyum dan mengangguk. Aku tidak menyangka dia secepat ini bertindak.
"Hei, bro.." tiba tiba seorang pria tampan dan rapih menyapa Raihan lalu mendekat.
Raihan tersenyum lebar ke arah nya. Kemudian Raihan memperkenalkan aku pada pria itu lalu aku pun memperkenal kan diri. Setelah itu, pria pemilik toko perhiasaan itu membawa kami ke sebuah ruangan pribadinya.
__ADS_1
Setelah berada di ruangannya Raihan menjelaskan maksud kedatangan kami dan menunjukan gelang yang di pakai oleh Zain. Kemudian pria itu meminta gelang itu untuk di copot terlebih dahulu karena dia akan memeriksanya.
Pria itu membawa gelang nya ke suatu tempat dan menyuruh kami untuk menunggu. Cukup lama kami menunggu hingga dia kembali sembari mengembangkan senyum pada kami.
"Sorry bro lama ya? maklum aku harus menelitinya secara detail agar tidak salah."
"Terus hasilnya gimana bro, gelang apa itu?"
"Ini seriusan gelang dari dua puluh dua tahun yang lalu."
Aku mengangguk cepat.
"Iya bro, itu gelang yang di berikan oleh orang tua calon istri gue waktu dia berusia lima tahun," kata Raihan.
Pria itu membulatkan matanya." Are you serious?"
"Yeah, im so serious."
"Hebat. Aku rasa orang tua calon istrimu ini seorang crazy rich."
Aku dan Raihan saling pandang. Aku pikir mana mungkin bapak ku seorang crazy rich. Bapak ku dulu seorang pemulung, terus bertani dan berkebun. Kadang jualan keliling. Pokoknya bapak ku kerja serabutan bukan orang kaya.
"Maksud Lo apa bro?"
"Setelah aku periksa. Lingkaran gelang ini merupakan logam mulia platinum murni. Kamu tahu kan kalau perhiasan platinum di Indonesia itu cukup langka tidak seperti emas. Sebab, proses pembuatan perhiasan platinum cukup sulit untuk di bentuk karena bahan nya yang keras.Tidak seperti emas yang lunak dan mudah di tempa yang bisa di jadikan berbagai model perhiasan emas. Oleh sebab itu, Harga perhiasan platinum lebih mahal daripada harga perhiasan emas, bro. Apa lagi jaman dulu. Aku rasa perhiasaan platinum di Indonesia pada saat itu sangat-sangat langka atau jarang ada.
Aku dan Raihan saling pandang." Terus bro!"ucap Raihan dengan antusias.
"Ehm, dan satu hal lagi yang harus kalian tahu.."
"Apa?" tanya ku dengan rasa tidak sabar.
__ADS_1
"Tiga permata gelang ini..merupakan permata berlian."
Seketika itu pula aku tercengang dengan mulut ku yang terbuka lebar. Begitu pula dengan Raihan yang tak kalah terkejut. Bagaimana mungkin bapak ku yang hanya seorang pekerja serabutan bisa membuatkan gelang dari bahan yang langka dan terdapat tiga butir berlian.