Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Kedatangan Andre


__ADS_3

Keesokan harinya. Matahari sudah nampak meninggi dan sinarnya pun sudah terasa panas. Aku mulai membawa satu persatu kerupuk yang hendak di jemur di atas bunga pagar. Baru saja selesai menjejerkan penampi berisi kerupuk basah di atas bunga pagar, suara seorang pria yang sangat asing menyapa dari arah belakang.


Aku berbalik dan ku dapati seorang pria bertubuh tinggi serta tampan yang sering ku lihat wajahnya di sosial media kini sedang berdiri tegak di hadapanku. Aku mengucek mataku berulang kali agar aku tersadar dari mimpiku namun sosok tampan itu masih saja ada di hadapanku sembari tersenyum manis sekali ke arahku.


Seketika bola mataku membulat setelah apa yang aku lihat bukan lah sebuah mimpi melainkan kenyataan."A...Andre..!" ucap ku dengan gugup. Rasanya seperti sedang bermimpi bertemu lagi dengannya di dunia nyata. Pria tampan yang dulu sangat ku harap kan kedatangannya dan mengharap untuk dinikahinya seperti yang dia ucapkan saat kami masih sekolah dasar dulu.


Sorot matanya menelisik penampilanku namun bibirnya tersenyum. Aku menunduk malu karena penampilanku kontras sekali dengannya yang berpenampilan fashionable. Baju daster panjang yang warna nya sudah memudar serta terdapat beberapa sobekan namun sudah ku jahit serta jilbab rumahan.


"Nuri....kamu Nuri kan?" tanya nya memastikan. Mungkin dia bingung melihat penampilanku yang berbeda dengan tiga foto yang ku upload di Facebook, foto lima tahun yang lalu ketika aku belum memakai hijab.


Dulu aku sangat merindukan pria di hadapanku ini, rindu sekali. Namun setelah mengetahui bahwa dia telah menikah, rasa rindu itu mulai memudar di tambah kehadiran Raihan yang sering menemani hari hariku meskipun kami hanya sebatas teman tapi Raihan mampu menghilangkan perasaan cintaku pada pria ini.


Aku mendongak berusaha menghilangkan rasa malu. Aku malu bukan karena masih memiliki perasaan padanya namun rasanya tidak pantas saja menerima tamu dengan pakaian seperti yang aku pakai saat ini.


Aku pun tersenyum padanya." Iya, aku Nuri. Nuri si siswi miskin penjual es lilin."


Andre tertawa renyah mungkin dia menganggap ucapan ku sebuah lelucon. kemudian dia berkata,"Kamu tidak berubah ya Nuri, tetap sederhana dan apa adanya."


"Ya kamu benar Dre, mungkin sudah jalan hidup ku harus seperti ini tetap menjadi manusia biasa yang sederhana."


Andre tersenyum kemudian melirik ke arah jejeran penampi di atas bunga pagar. wajahku mengikuti arah pandangannya.


"Itu.....!" sambil menunjuk dengan telunjuk jarinya.


"Itu usahaku Dre." Aku memberitahu sebelum dia bertanya.


"Oh," ucap nya sembari manggut manggut kecil.


"Tapi...apa itu Nuri?"


"Kerupuk!" jawabku singkat.


"Kerupuk!" ucapnya mengulang.


Aku mengangguk dan menundukkan sedikit wajahku. Andre tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya ke arah rumahku lalu berkata," Ini rumah mu Nuri? rumah mu tidak lagi seperti...!"


"Seperti dulu yang kecil dan berdinding bilik!" timpal ku.


"Oh, bu..bukan maksud ku seperti itu Nuri," ucap Andre, dia sepertinya merasa tidak enak hati padaku.

__ADS_1


"Tidak apa apa Dre, aku mengerti mungkin kamu terkejut melihat rumah ku yang sudah berubah menjadi tembok bukan lagi bilik yang memiliki banyak bolong. Dulu kamu sering kali tergigit semut ketika mampir setelah mengantar aku pulang sekolah."


Andre tertawa lebar aku mengingatkan tentang sering kali dia di gigit semut ketika bermain di rumahku setelah pulang sekolah.


"Kamu masih ingat saja Nuri," ucap nya kemudian.


Aku tersenyum kemudian bertanya," kenapa kamu bisa ada di sini Dre? sejak kapan? dan naik apa kesini? kok aku tidak melihat kamu tadi? terus kenapa kamu masih hapal rumahku? padahal keadaannya sudah berubah!" Aku memberikan pertanyaan beruntun pada Andre, ternyata pertanyaan ku membuat Andre mengerutkan dahinya kemudian berkata,"pertanyaan nya satu satu dong Nuri, saya jadi bingung mau jawab yang mana dulu!"


Aku tersenyum nyengir lalu berucap," maaf Dre, soalnya aku merasa seperti bermimpi saja bisa bertemu lagi dengan sahabat baik ku waktu SD."


"Sahabat?" ucap Andre dengan nada mengayun.


"Iya, sahabat. Kita sahabatan kan dulu?"


"Yaa.....ki...kita..sa..habat," ucapnya enggan, lalu tersenyum dengan senyuman seperti di paksakan.


Cukup lama aku mengobrol sambil berdiri dengan Andre hingga aku tersadar bahwa Andre belum ku persilahkan memasuki rumah ku. Selain itu, aku juga takut ada yang melihat kami mengobrol di halaman rumah lalu menyebarkan gosip negatif tentang kami. Namun sebelum aku mengajaknya untuk memasuki rumah ku dia sendiri yang menawarkan diri, mungkin kakinya sudah merasa pegal telah berdiri dengan waktu cukup lama.


Setelah memasuki rumah, pandangannya mengarah ke segala arah kemudian menoleh ke arah ku dan bertanya," kemana ibu, suami serta anak mu Nuri? sepi sekali."


"Ibuku sudah tiga bulan ini berada di luar daerah di tempat sodara nya, suamiku sendiri sedang bekerja di Jakarta dan di sini aku tinggal hanya berdua dengan anak ku."


"Suami mu bekerja di Jakarta? tanya nya dengan wajah serius.


Andre nampak terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu tapi aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan. Kemudian aku menyuruhnya untuk duduk di sofa ruang tamu dan titah ku cukup membuatnya sedikit terperangah.


Aku ijin padanya untuk ke dapur sebentar hendak membuatkan kopi untuknya dan Andre pun mempersilahkannya. Setelah selesai membuat kopi, aku segera kembali ke ruang tamu. Andre tersenyum melihat kedatanganku dengan dua tanganku memegang nampan. Kemudian aku meletak kan kopi serta dua toples cemilan berupa roti serta kerupuk buatan ku.


"Thank you, Nuri!" ucap Andre dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.


"You're welcome, silahkan di minum Dre, maaf lho, aku tidak punya cemilan mewah," ucap ku sembari mendaratkan pinggulku di atas sofa.


"Cemilan mewah itu seperti apa Nuri?"


"Ya cemilan yang sering kamu makan di luar negeri."


Andre tertawa renyah seolah olah jawabanku lucu dan menghiburnya kemudian dia berkata," kamu tau, meskipun aku sering ke luar negeri tapi lidah ku tetap saja lidah indonesia, jadi kalau sedang berada di luar negeri yang ku cari adalah restauran Indonesia tapi kalau tidak ada minimal restauran Asia," jelas Andre.


"Benar kah?"

__ADS_1


"Aku serius Nuri, jadi kamu tidak usah berpikir kalau aku tidak suka cemilan Indonesia seperti kerupuk ini," sembari memegang toples berisi kerupuk. Sementara aku hanya tersenyum saja mendengar pengakuannya.


"Oya, bukan kah tadi kamu bertanya kenapa bisa aku ada di rumahmu?"tanya Andre.


Aku mengangguk membenarkan pertanyaannya. Pertanyaan yang sempat tertunda setengah jam yang lalu dan ternyata Andre masih mengingatnya.


"Aku memiliki bibi adik dari almarhum papaku yang tinggal di kampung ini dan aku sendiri menginap di rumahnya sejak kemarin. Makannya tadi aku berjalan kaki ke sini karena rumah mu tidak terlalu jauh dari rumah bibiku."


"Oh, begitu, pantas saja. Memang siapa saudara kamu di kampung ini Dre?" tanya ku penasaran.


"Mama...!" Zain memanggil di ambang pintu kamar. Mungkin dia sudah lelah bermain di dalam kamar.


Aku mengalihkan perhatian ku pada Zain yang sedang memanggil."Sebentar ya Dre, aku ambil anak ku dulu," ijin ku pada Andre dan dia mengangguk.


Setelah itu, aku menggendong Zain dan membawanya ke ruang tamu. Andre memperhatikan kedatanganku yang sedang menggendong Zain.


"Apa dia anak mu Nuri?" tanya Andre.


"Iya Dre, ini anak ku, namanya Zain. ayok nak, kasih Salim ke om Andre!" titah ku pada Zain dan dia menurut. Zain berjalan ke arah Andre kemudian mengulurkan tangannya dan Andre meraih tangannya.


"Kamu pintar dan menggemaskan sekali sayang!" ucap Andre lalu mencubit gemas pipi Zain. Zain hanya tersenyum nyengir saja. kemudian Zain kembali ke arahku lalu duduk di pangkuan ku.


"Kurang beruntung sekali ya aku ke rumahmu sedang tidak ada suamimu, padahal aku ingin berkenalan dengannya," ucap Andre kemudian.


"Mungkin bisa di lain waktu Dre, aku akan mengenal kan nya padamu,"ucap ku sambil merapikan rambut Zain.


Andre tersenyum tipis dan berucap," ya semoga saja. Tapi aku harus kembali ke Jakarta sore ini."


"Kamu tinggal di Jakarta Dre?"


"Betul Nuri, tapi aku akan sering sering main ke kampung ini. Kampung ini menyisakan banyak kenangan manis antara kamu dan....aku, tapi sayangnya ke datangan ku ke kampung ini sudah terlambat jauh, andai saja waktu bisa di putar kembali aku tidak akan menyia nyiakan nya tapi sayangnya nasi sudah menjadi bubur..dan apakah aku masih memiliki kesempatan itu?


"Kamu bicara apa sih Dre? jujur aku kurang paham he he!" Aku mencoba mencerna kalimat ambigu yang di lontarkan oleh pria tampan di hadapan ku namun belum konek saja.


"Owh, bukan apa apa hanya sebuah khayalan saja," jawab Andre.


"Khayalan!" ucap ku mengulang.


Andre mengangguk." Tidak usah di pikirkan, nanti kamu bisa sakit kepala memikirkannya."Kemudian Kami tertawa lepas bersama.

__ADS_1


Cukup lama aku mengobrol dengan Andre namun aku lebih banyak diam dan membiarkan Andre untuk terus berceloteh menceritakan sekitar tentang bagaimana Andre menjalani kehidupannya selama ini termasuk menceritakan rumah tangganya yang hanya seumur jagung hingga akhirnya Andre pamit untuk kembali ke Jakarta.


Aku menatap kepergian Andre dari rumahku dengan perasaan biasa saja namun hanya tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan masa laluku.


__ADS_2