
Aku menghitung lembar demi lembar uang berwarna merah di dalam sebuah amplop berwarna putih. Bukannya aku tidak percaya tapi melainkan aku curiga karena amplop yang ku terima dari Bu haji terasa tebal sekali. Benar saja kecurigaan ku, pupil mataku membulat setelah mengetahui berapa jumlah uang yang Bu haji berikan padaku yaitu dua kali lipat dari harga yang ku jual padanya.
Aku memasuk kan kelebihan uangnya ke dalam amplop dan berniat akan mengembalikan pada Bu haji karena aku pikir mungkin Bu haji salah menghitung.
Aku melihat pada anak ku yang sedang asik bermain puzzle."Zain, kita ke rumah Bu haji lagi yuk?" Zain menoleh ke arahku kemudian tersenyum dan mengangguk.
Kedatanganku ke rumah Bu haji bertepatan dengan Bu sum keluar rumah sehingga aku tidak perlu payah lagi memanggil penghuni rumah berlantai dua itu.
Bu Sum melihat ke arah pintu gerbang dimana aku sedang berdiri dan tersenyum padanya. Kemudian dia buru buru turun dan menemui ku."Lho, ada mba Nuri lagi," kata Bu sum, lalu membuka pintunya.
"Iya, Bu sum. Apa Bu hajinya ada?"
"Bu haji ada mba, tapi sepertinya sedang siap siap mau berangkat ke Jakarta sore ini."Bu Sum memberitahu.
"Oh begitu, kira kira saya mengganggu nya tidak ya?" tanya ku dengan ragu.
"Apa penting banget mba?"
"Bisa dikatakan begitu."
"Ya sudah, yuk masuk saya coba panggil Bu haji dulu siapa tau dia sudah selesai."
Aku mengangguk dan mengikuti Bu Sum di belakangnya. Setelah sampai di teras rumah Bu haji, aku memilih menunggu di luar saja karena tidak enak juga nyelonong masuk tanpa seijin dari pemilik rumah. Bu Sum mengerti dan dia membiarkan aku menunggu di luar.
Sepuluh menit kemudian, Bu haji keluar dari rumahnya dengan penampilan yang sudah rapih lalu tersenyum dan menyapa,"Nuri...Zain!" aku segera berdiri dan menyalaminya dan berkata,"maaf saya sudah mengganggu Bu haji."
"Oh, tidak sama sekali Nuri, justru saya yang meminta maaf karena kamu harus menunggu lama."
"Belum terlalu lama Bu, baru beberapa menit saja. Apa Bu haji mau berangkat ke Jakartanya sekarang?" tanya ku dengan ragu.
"Oh, iya Nur, soalnya saya harus siap siap dulu di sana."
"Oh, begitu!" ucap ku, sembari manggut manggut pelan. Ingin rasanya aku bertanya dalam rangka syukuran apa tapi rasanya lidahku tidak berani bertanya terlalu jauh urusan orang lain. Kemudian aku mengambil amplop berwarna putih di dalam dompet kecilku. Bu haji mengerutkan dahinya melihat apa yang sedang aku pegang, mungkin dia merasa heran kenapa amplopnya aku bawa kembali.
"Bukannya itu amplop yang saya berikan pada kamu Nur? kenapa dibawa lagi, apa kurang?" tanya Bu haji kemudian.
Aku segera menggelengkan kepalaku karena takut Bu haji salah paham."Ini memang amplop yang tadi ibu berikan pada saya.Tapi sepertinya ibu salah menghitung, seharusnya tiga juta tapi di amplop ini ada enam juta. Dan ini sisa kelebihan uangnya saya kembalikan pada Bu haji !"Aku menjelaskannya lalu menyodorkan amplop itu ke arahnya.
Bu haji tertawa kecil sembari berucap," oala Nur, Nur...saya pikir kurang uangnya." Kemudian dia menggenggam telapak tanganku yang sedang memegang amplop lalu berkata lagi,"uang nya sengaja saya lebih kan sebagai bonus karena kamu sudah memproduksinya tepat waktu. Ini rezeki mu lho Nuri, jangan di tolak."
"Tapi Bu, saya...!"
"Sudah, jangan protes lagi. Tolong di terima ya?" Bu haji memaksa. Sejenak aku terdiam dengan mulut sedikit menganga karena di luar dugaan ku dan ternyata Bu haji sengaja melebihkan uang itu sebagai bonus. Aku menghela nafas, sebenarnya aku tidak ingin seperti ini tapi Bu haji memaksa dan aku pun tidak dapat menolaknya.
Keesokan paginya ketika aku baru saja selesai mandi dan berganti pakaian, aku di kejutkan dengan kedatangan motor mas Surya. Aku mengintip di tirai jendela kamarku dan benar saja mas surya yang datang. Mau apa lagi mas Surya datang ke rumahku? apa mau mengambil beberapa bajunya yang tertinggal? fikir ku. Sebelum mas Surya menanyakan nya lebih baik dikemasi terlebih dahulu olehku agar dia tidak lama lagi berada di rumahku.
"Assalamualaikum Nuri!" Terdengar suara mas Surya memanggil namaku. Namun ada yang aneh, tidak biasanya dia mengucapkan salam bahkan bisa dikatakan belum pernah selama menikah denganku.
Dengan rasa malas aku berjalan ke arah pintu lalu membukanya sedikit." Wa'alaikum salam, ada perlu apa mas?" Aku bertanya pada intinya saja karena aku tidak suka bertele tele atau berbasa basi terlebih itu pada mas Surya.
__ADS_1
"Sombong sekali kamu Nuri, bukannya di suruh masuk terlebih dahulu,"ucap mas Surya, dia terlihat kesal.
"Maaf mas, di rumah ku sepi. Lagi pula kita bukan muhrim lagi." Bukan tanpa alasan aku berkata demikian mengingat mas Surya seorang pria pemaksa ketika ada keinginan apalagi soal ranjang. Aku takut dia lupa tentang status kami yang sekarang bukan lagi sebagai suami istri melainkan mantan.
"Memangnya kenapa kalau kita bukan suami istri lagi Nuri? toh, secara negara kita belum bercerai."
"Tapi dimata tuhan kita sudah bukan pasangan suami istri lagi mas."
"Tapi aku rasa aku masih berhak masuk ke rumah ini Nuri."
"Berhak? kamu bilang berhak? Oh, apa kamu mau mengambil baju baju mu yang tertinggal? sebentar aku ambilkan."Aku hendak menutup pintu namun mas Surya mendorongnya hingga aku terdorong ke belakang namun tidak sampai terjatuh.
"Jangan kurang ngajar kamu di rumahku mas." Aku geram sekali padanya yang memaksa masuk.
"Siapa yang kurang ngajar kamu yang tidak sopan padaku main tutup pintu saja "
"Untuk apa aku sopan pada laki laki brengsek sepertimu. Ingat kita sudah bercerai dan aku sudah mengurus surat cerai kita."
"Kita memang sudah bercerai tapi apa kamu lupa kalau aku masih punya anak disini?"
Aku berdecak kesal kemudian berkata,"jangan mencari alasan, sejak kapan kamu peduli dan menganggap Zain anak mu?"
"Nuri...!"
"Tolong jangan pernah ganggu hidupku lagi. Kamu sudah menceraikan aku bahkan talak tiga sekaligus. Lagi pula kamu sudah memiliki keluarga, lebih baik kamu fokus saja pada istri dan anak anak mu."
"Aku menyesal Nuri!" ucapnya dengan nada tinggi, kemudian dia mengacak acak rambutnya seperti sedang frustasi.
"Lebih baik kamu pulang mas, kita jalani hidup kita masing masing saja. Bukan kah kamu sendiri yang lebih memilih Ipah dan menceraikan aku mas? mestinya kamu bahagia karena sudah terlepas dari istri tidak berguna sepertiku."
"Nuri...!"
"Pulang lah mas!"
"Aku rindu sama kamu Nuri!" ucap nya dengan mata berkaca kaca.
Aku menggelengkan kepalaku, aku sudah tidak ingin lagi mendengar kata kata lebai dari mulutnya.
"Pulang lah mas!" sudah berapa kali aku mengusirnya namun mas Surya masih saja diam di tempat sepertinya dia enggan pergi dari rumahku.
"Aku tidak ingin pergi dari sini Nuri, aku masih sayang sama kamu. Aku ingin kita rujuk Nuri."
"Rujuk? ha ha ha!mas, apa kamu tidak tau hukum tentang talak?" kamu sudah menalak tiga aku lho mas dan itu artinya kita mana bisa rujuk lagi. Terima kenyataan saja mas, lagi pula bukannya kamu itu masih cinta sama Ipah ya? mestinya kamu bahagia dong bisa kembali lagi dengannya."
"Sudah ku katakan aku tidak cinta lagi sama dia Nuri, aku terpaksa."
"Mau terpaksa atau tidak, itu sudah pilihanmu mas, kamu terima saja karena kamu sendiri yang memulainya."
"Nuri, aku ingin kembali lagi sama kamu, aku akan ceraikan Ipah."
__ADS_1
"Jangan pernah mempermainkan sebuah pernikahan mas dan sampai kapan pun aku tidak akan bisa lagi menjadi istrimu."
"Nuri...aku..!"
"Kamu ingin kembali lagi sama Nuri? dasar pecundang kelas teri yang tidak punya muka."
Aku tertegun melihat kedatangan Andre di balik pintu. Kapan dia datangnya? dan kenapa aku tidak mendengar suara mobilnya? pikirku.
Mas Surya berbalik mengarah pada Andre yang sedang bersedekap dada dan menyender di tiang pintu serta menatap sinis ke arah mas Surya.
"Kamu...."
"Apa? aneh melihat aku ada disini?" Andre memotong ucapan mas Surya yang belum sempat terlontar.
"Kamu mau ngapain datang kemari?" tanya mas Surya dengan ketus.
"Seharusnya aku yang tanya kamu mau ngapain lagi datang ke rumah Nuri?"
"Bukan urusan mu!" jawab mas Surya.
"Ya sama, aku juga datang kemari bukan urusanmu."
"Kau..!" tunjuk mas Surya dengan wajah yang mulai memerah.
"Sudah...sudah!" aku menghentikan perdebatan mereka karena aku tidak ingin ada keributan di rumahku.
"Lebih baik kamu pulang ke rumah istrimu mas! kasihan dia pasti sudah mengharapkan kamu pulang kerumahnya." Aku membujuk mas Surya.
"Oh, kamu mengusir ku karena kamu mau berbuat mesum di rumah sepi mu ini dengan pria itu Nuri?"tuduh mas Surya padaku.
Plaakk....
Aku melayangkan tamparan cukup keras di pipi mas Surya karena dia sudah menuduhku yang bukan bukan.
Sembari memegang pipinya dia melihat ke arahku dengan tatapan tajamnya dan berkata," kamu berani menamparku Nuri?"
"Sebenarnya dari dulu aku ingin sekali menampar kamu mas, tapi sayangnya baru kesampaian sekarang. Bukannya dulu aku tidak berani menamparmu ketika kamu sering kali berkata kasar dan kotor padaku namun terlebih aku menghargai mu karena kamu adalah suamiku yang harus aku hormati meskipun kamu selalu berlaku buruk padaku."
"Nuri..."
"Sudah lah mas, lebih baik kamu cepat pulang dari sini. Aku tidak ingin Ipah mengira aku yang mengganggu suaminya."
"Heh, kau dengar itu? sang tuan rumah sudah mengusir mu. Kenapa kau masih saja berdiri di situ," ucap Andre dengan nada meledek.
"Jangan ikut campur kamu brengsek."
Andre berdecak kemudian berkata,"Kenapa harus tidak ikut campur? ingat, kamu bukan suami Nuri lagi dan Nuri berhak mendapatkan pembelaan dari siapa saja termasuk aku."
"Sudah...sudah, lebih baik kamu cepat pergi dari sini mas, aku sudah tidak ingin lagi berdebat denganmu. Dan kamu Andre kenapa pagi pagi datang ke rumahku?"aku mengalihkan pandangan ku ke arah Andre yang sedang berdiri santai saja.
__ADS_1
"Tentu saja untuk menjemput kamu dan Zain, apa kamu lupa ya kalau kita ada janji akan pergi ke acara syukuran sepupuku?" Perkataan Andre membuat aku sedikit membesarkan mataku, bagaimana aku bisa melupakan janji akan pergi ke syukuran dengan Andre.
Mas Surya tidak bicara lagi kemudian dia beranjak pergi melewati Andre yang sedang berdiri di tiang pintu dan Andre pun menyingkir memberinya jalan.