Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Penyakit hati


__ADS_3

Keesokan harinya, sembari menggendong Zain aku berjalan ke arah warung sayur untuk membeli bahan pembuatan kerupuk serta stok bahan makanan sehari hari. Ketika melewati rumah Raihan yang selalu nampak sepi, aku berdiam diri memperhatikan rumah berlantai dua tersebut. Ada rasa kerinduan di hatiku ketika melihat rumah itu, kerinduan ku pada Raihan. Entah lah, aku tidak pernah bisa menghapus Raihan dari pikiranku sekeras apa pun.


Aku belajar mencintai mas Surya dan sedikit demi sedikit aku bisa mencintainya meskipun belum sepenuhnya. Namun kenapa aku tidak bisa melupakan sosok Raihan? ku tatap jendela kaca di lantai dua yang tertutup rapat oleh tirai di baliknya, aku tau, itu adalah kamar Raihan, kamar yang pernah aku tiduri beberapa waktu yang lalu.


"Kamu dimana Rai?"ucap ku lirih dengan pandangan ku yang tak lepas dari jendela kaca kamar Raihan.


Ku langkah kan kembali kedua kaki ku dengan langkah gontai menuju warung langganan ku. Tiba di sana terlihat cukup ramai orang orang yang sedang berbelanja serta bergosip ria. Aku berjalan santai ke arah warung dengan senyuman yang tak lepas dari bibirku. Selain itu, aku juga menyapa orang orang yang sedang berbelanja.


"Eh ada Nuri, tumben baru kelihatan belanja lagi." kata Bu Siti pada ku yang baru saja tiba. Apa yang di katakan oleh Bu Siti merupakan perkataan yang benar bahwa aku sudah seminggu tidak berbelanja di warung ini karena sebelumnya aku sudah menyetok bahan pembuatan kerupuk serta bahan makanan untuk seminggu.


Baru saja hendak membalas perkataan Bu Siti, tiba tiba seseorang yang tengah berdiri di balik tubuh gempal seorang wanita yang tidak aku kenal menyindirku.


"Iya lah Bu Siti tidak belanja disini, dia kan sudah naik level sekarang, belanjanya saja di minimarket sama mall, apa Bu Siti tidak tau kalau dia sudah punya gebetan orang kaya, jadi hidupnya tidak sudah lagi. Kemarin saja dia di belanjain di mini market sama pacarnya sampe empat kantong lho Bu."


Dari suaranya aku bisa menebak siapa pemilik suara tersebut, siapa lagi kalau bukan Bu Rida si tukang fitnah, ternyata ancaman Andre tidak mempan untuknya. Ketika wanita bertubuh gempal menyingkir, benar saja dugaan ku, Bu Rida sedang tersenyum sinis ke arahku.


Aku geleng - geleng kepala, kenapa dia selalu ada dimana pun aku berada, seolah olah seperti sengaja tapi sebenarnya kami bertemu secara kebetulan saja.


"Penyakit hati itu berbahaya sekali ya Bu Siti? kasihan penderitanya yang selalu dengki serta iri terus sama orang lain. Katanya sih, kalau penyakit hati itu tidak segera di obati maka penderitanya akan jadi g i l a permanen lho Bu!"


"Benar, amit amit! semoga kita di jauhkan dari penyakit hati itu ya Nur, tidak kebayang jika jadi orang g i l a terus berlari larian keliling kampung, ha ha ha."Ternyata Bu Siti mengerti juga kalau aku sedang menyindir wanita yang baru saja bicara fitnah.


Sindiran ku dan Bu Siti mampu membuat Bu Rida bungkam namun raut mukanya menampakan kekesalannya pada kami. Dia meletak kan kembali barang barang yang sudah di pilihnya dengan kasar lalu beranjak pergi. Tingkahnya membuat pemilik warung geleng - geleng kepala karena harus membenahi kembali barang - barang yang tidak jadi di beli oleh Bu Rida.

__ADS_1


"Sing sabar pak Mamat," ucap Bu Siti.


"Sudah pak Mamat, blacklist saja dia dari warung ini. Istri ustad kok ngono tingkahnya," saran wanita bertubuh gembul, ternyata diam diam dia menguping.


"Gimana ya Bu, kesel juga sih sama sikapnya yang sembrono, tapi dia sudah jadi langganan meskipun sering ngutang," kata pemilik warung keceplosan.


"Hah, ngutang!"ucap Bu Siti dengan wajah terkejut.


"Walah, sekelas Bu Rida seorang istri ustad dan punya mobil sering ngutang di sini? berarti gelar salah satu orang terkaya di kampung ini tidak berlaku dong ya Bu Siti?" Wanita bertubuh gempal pun tak kalah terkejut dari Bu Siti, sementara aku hanya menyimak saja.


Semua nya tidak ada yang menyangka, di balik pakaian nya yang selalu terlihat bagus serta emas kiri kanan tangannya dan memiliki mobil ternyata kalau masalah untuk isi perut doyan ngutang juga pada warung yang tidak terlalu besar.


"Waduh, keceplosan! maaf lho ibu ibu saya tidak sengaja mengumbar aib orang," ucap pak Mamat sembari menutup sedikit mulutnya, mungkin dia memang tidak sengaja membicarakan Bu Rida karena pak Mamat sendiri orangnya latah.


"Rapopo pak mamat, santai saja. yang penting kita sudah tau bagaimana Bu Rida yang sok kaya dan agamis itu ha ha ha."


"Beres pak Mamat, tidak udah khawatir. Meskipun mulut saya ini nyablak tapi masih bisa di rem pak Mamat."


Aku tersenyum saja mendengar pembicaraan wanita gempal serta pemilik warung yang membicarakan bu Rida. Sementara aku sendiri tak ingin ikut ikutan karena aku tidak suka mengganggu urusan orang lain.


Setelah selesai berbelanja, aku kembali berjalan kaki menuju rumah. Tiba di depan rumah Raihan, aku terdiam kembali dan menatap ke arah rumahnya yang terlihat sepi serta pintu gerbang tertutup rapat. Tiba tiba, aku membayangkan sosok Raihan sedang berdiri di pintu gerbang lalu tersenyum manis ke arah ku. Hal itu membuatku tersenyum sendiri seolah olah membalas senyuman Raihan dan apa yang aku lakukan persis seperti orang kurang waras. Aku menggoyang kan kepalaku agar sadar bahwa aku sedang berkhayal, bukan kenyataan.


"Nuri...please stop mikirin Raihan." Aku mengumpati diriku sendiri karena kesal otak ku yang selalu memikirkannya.

__ADS_1


Kemudian aku melanjutkan langkahku menuju rumah. Setelah tiba di jalan mengarah ke arah rumahku ku lihat dari kejauhan sebuah mobil Avanza terparkir di halaman rumah. Mobil siapa lagi kalau bukan mobil ustad Amir.


"Ada urusan apa lagi ustad Amir ke rumah ku?" gumam ku dengan perasaan kesal.


Ingin rasanya aku berbalik arah namun kedua tanganku sudah tidak sanggup lagi menahan beban berat dan mau tak mau aku pun melanjutkan langkahku menuju rumahku.


Dari kejauhan ustad Amir sudah menyadari kedatanganku. Kemudian dia berlari kecil ke arahku dengan ekspresi datar, aku terkejut serta ketakutan melihatnya lalu melangkah mundur. Aku takut dia dendam padaku atas kejadian kemarin di mini market dan sekarang hendak membalasnya.


"Jangan mendekat, kalau tidak saya akan teriak," ancam ku padanya sembari melangkah mudur. Seketika ustad Amir diam di tempat namun sedetik kemudian dia berseru,"dek Nuri, saya hanya ingin membantu membawakan barang belanjaan mu." Sejenak aku terdiam kemudian menghela nafas lega. Aku pikir dia akan berbuat yang macam macam padaku ternyata aku salah duga.


"Oh, maaf pak ustad,"


"Tidak apa apa dek, sini saya bawakan kantong belanjaannya."Ustad Amir menawarkan diri. Aku terdiam sambil berpikir sebaiknya bagaimana, namun tiba tiba pak Amir memaksa mengambil alih barang


bawaan ku dan mau tak mau aku pun membiarkan nya saja.


"Maaf pak ustad, ada keperluan apa ya datang ke rumah saya?"tanya ku setelah berada di teras rumah. Aku tidak ingin membawa ustad Amir masuk ke dalam rumah ku jika tidak ada keperluan yang sangat penting. Olah karena itu, aku membiarkan saja dia berdiri di teras rumah.


"Apa tidak sebaiknya bicara di dalam saja dek Nuri, tidak enak jika di lihat orang kalau ngobrol seperti ini," pintanya padaku. Aku tau dia hanya alasan saja supaya lebih bebas jika di dalam.


"Maaf pak ustad, justru kalau pak ustad masuk ke dalam rumah saya akan menjadi omongan orang, apalagi mobil pak ustad terparkir di rumah saya." Ustad Amir bisa beralasan, aku pun demikian. Padahal sebenarnya aku tidak ingin ngobrol berlama lama dengannya.


"Pak ustad mau bicara apa? to the point saja pak, soalnya saya tidak banyak waktu. Saya banyak kerjaan di dalam."

__ADS_1


"Saya....!"


"Bapaaaak.......!" teriak Bu Rida sambil melangkah cepat ke arah kami.


__ADS_2