Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Tentang lukisan


__ADS_3

Setelah memakan mie rebus aku langsung membersihkan semuanya. Aku tidak ingin dapur bu haji menjadi kotor karena bekas aku pakai. Ketika aku sedang mencuci mangkok kotor di wastafel Raihan berdiri di sampingku sambil melihatku mencuci.


"Mba...!"


Aku menghentikan pergerakan tanganku lalu melihat ke arah wajah Raihan."Ada apa?"


"Kenapa wajah mba Nuri sembab? apa mba habis menangis?"


Aku langsung menunduk. Bagaimana aku bisa melupakan tentang wajahku setelah menangis tadi. Aku sendiri tak sempat melihat cermin terlebih dahulu.


"Apa terlihat begitu?" tanya ku sambil menunduk.


"Hm, kalau mba Nuri tidak keberatan mba boleh kok curhat ke aku. Ya, anggap saja aku ini teman mba atau kalau mba tidak mau menganggap aku teman mba boleh anggap aku sebagai kakak mba Nuri."


Aku mendongak kan wajahku kembali lalu tersenyum geli mendengar permintaan Raihan yang ingin di anggap kakak oleh ku.


"Bagaimana bisa aku anggap kamu kakak Rai, sementara usiaku saja jauh lebih tua daripada kamu. Kamu hanya besar fisiknya saja Rai tapi usiamu masih kecil."


"Ishh, mba meledek ku, kecil kecil gini aku sudah bisa membuat anak lho mba..!"


"Hah?"


"Eh, maksudku meskipun usiaku masih dua puluh satu tahun tapi aku sudah bisa jagain anak kecil ya contohnya jagain Zain."


"hm, begitu!"


"Lagipula usia dua puluh satu tahun menikah tidak di larang kan mba? Rasanya aku ingin sekali menikah muda he he."


Aku mengerutkan dahi ku mendengar keinginan Raihan yang menurutku aneh. Sebab, di usianya yang masih dua puluh satu tahun dia ingin menikah. Meskipun sebenarnya menikah lebih baik daripada pacaran.


Aku mencuci tanganku dan mengelapnya lalu duduk di kursi makan dan Raihan mengikuti lalu duduk di kursi makan yang


berhadapan denganku.


"Menikah memang indah jika di bayangan kan oleh orang yang belum pernah menikah. Tanpa mereka ketahui bahwa menjalankan pernikahan itu begitu sulit sekali. Kamu itu laki laki Rai dan masih sangat muda. Setelah menikah nanti beban hidup mu akan bertambah. Biaya yang di keluarkan pun sudah di pastikan akan berkali Kali lipat. Ketika kamu sudah menikahi anak gadis orang, anak gadis itu sudah menjadi tanggung jawab mu sepenuhnya. masalahnya apa kamu sudah mampu menafkahi secara materi dan bathin? karena menikah itu tidak boleh di jadikan ajang coba coba lho? Kalau aku boleh sedikit menyarankan lebih baik kamu fokus saja dulu sama kuliah kamu. Jadi orang sukses dulu. buat Bu haji bangga memiliki anak lelaki sepertimu."


"Jadi mba tidak setuju kalau aku menikah di usia sekarang?"


"Ha ha..Rai, aku ini bukan siapa siapa kamu lho, aku tidak ada hak untuk mengatakan setuju atau tidak. Kalau kamu merasa sudah mampu segala halnya ya silahkan saja. Aku jadi penasaran siapa sih kekasih dari seorang Raihan gemilang? apa wanita di lukisan kamarmu itu Rai?


"Hah, Oh..i itu sebenarnya dia..dia.....bidadari Pemilik hatiku mba, dia wanita yang aku inginkan dari dulu tapi sayangnya dia sudah dimiliki oleh pria lain."

__ADS_1


"Oo, jadi wanita yang di lukisan itu sudah menikah?"


Raihan mengangguk lesu.


"Tapi kenapa kamu masih memajang lukisannya? bukan kah hanya akan membuat kamu bertambah sedih karena mengingat nya terus jika melihatnya?"


"Karena aku masih mencintainya dan akan tetap selalu mencintainya sampai kapan pun mba."


"Meskipun dia sudah memilki keluarga dan sudah hidup bahagia bersama keluarganya?


Raihan memandang serius ke arah ku. Aku jadi salah tingkah di tatap seperti itu oleh Raihan.


"Apa menurut mba, pernikahannya bahagia?"


"Ya...ya aku tidak tahu Rai, aku tidak mengenal dan tidak pernah bertemu. Udah ah, aku mau lihat Zain." Aku berdiri dari dudukku namun Raihan segera memegang tanganku. Aku terperangah kaget lalu menoleh ke arah wajahnya. Rai segera melepaskan tanganku.


"Ma...maaf mba, kita bareng ke kamarnya."


Aku mengangguk lalu berjalan menuju kamar Raihan untuk melihat Zain. Tiba di kamar Zain terlihat masih nyenyak tidur di kasur empuk milik Raihan.


"Hujannya belum reda, mba tiduran saja sama Zain nanti kalau hujannya sudah reda aku bangunin mba."


Aku duduk di tepi ranjang dan ku lihat Raihan menyalakan laptopnya di meja belajar. Pandanganku tak berpaling dari lukisan yang terpampang nyata di hadapanku. Aku teringat ucapan Raihan bahwa dia sangat mencintai gadis di lukisan ini.


Hujan masih belum reda serta petir pun masih menyala nyala. Andai saja tidak bawa Zain mungkin aku sudah pulang menerobos hujan. Satu hal yang membuatku merasa gelisah yaitu malam hari berada di rumah orang. Ku lirik Raihan yang sedang sibuk mengetik. Biarlah mungkin dia sedang mengerjakan tugas kuliahnya dan aku tidak ingin mengganggunya.


Disaat sedang menanti hujan reda aku malah tertidur di samping Zain dan entah sudah berapa lama aku tertidur di ranjang Raihan hingga aku terbangun dan mendapati tubuhku sudah terbalut selimut tebal milik Raihan. Pandanganku mengitari sekitar kamar mencari keberadaan Pemiliki kamar namun tidak ada. Aku bangkit dari ranjang lalu berjalan ke arah jendela dan membuka sedikit tirai nya di luar sudah tidak nampak hujan lagi.


Aku tersenyum melihat hujan sudah reda dan ketika aku berbalik tanpa sengaja aku menabrak dada bidang Raihan. Aku hampir saja terjatuh jika Raihan tidak segera memelukku. Raihan memeluk ku dengan erat sekali dan aku membiarkan Raihan memelukku mungkin Raihan sedang rindu pada kedua kakaknya pikirku.


"Rai...aku tidak bisa bernafas!"


Aku sengaja pura pura sesak nafas padahal sebenarnya aku hanya ingin sekedar menyadarkan Raihan dan Raihan segera melepaskan pelukannya.


"Owh, maaf mba, maaf. Aku jadi terbawa suasana he..he!"


"Apa kamu sedang rindu sama kedua kakakmu Rai?"


"Ya....bisa dibilang seperti itu mba!" jawab Raihan lalu menggaruk tengkuknya.


"Rai...!"

__ADS_1


"Ya mba...!"


"Aku ingin pulang sekarang, di luar sudah tidak hujan lagi."


Raihan terdengar menghembuskan nafas nya dengan berat mendengar permintaanku.


"Apa mba tidak tidur di sini saja? sudah jam dua mba!"


"Hah, serius kamu Rai. Kok cepat banget!"


"Kenapa mba?"


"Aku....aku hanya takut suamiku sedang menunggu di rumah."


"Suami? suami mba ada di rumah?"


Aku mengangguk kecil.


"Owh, papanya Zain pasti menunggu Zain dari tadi," ucap Raihan dengan nada pelan namun masih terdengar.


"Tidak juga. Ada atau tidak ada nya Zain tidak akan pernah ngaruh untuk suamiku."


"Apa...apa mba maksudnya?"


Aku langsung menutup mulutku sudah keceplosan bicara tentang sikap suamiku pada Zain.


"Eh, maksudku....itu Zain pasti sudah di tunggu sama papanya di rumah. Yaudah kalau gitu saya mau pulang sekarang saja. terima kasih lho Rai sudah mau menjaga Zain dari tadi sore hingga sekarang."


Raihan tidak menanggapi ucapan ku dia malah berjalan ke arah lemari baju lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam lemarinya.


"Pakai jaket ini mba, di luar cuaca dingin banget." Raihan menyodorkan sebuah jaket padaku dan aku meraihnya.


"Terima kasih Rai...!"


"Biar aku antar kalian pulang dan biar aku yang menggendong Zain sampai rumah mba."


"Apa aku tidak merepotkan kamu Rai?"


"Apa mba pikir aku akan tega membiarkan kalian pulang dalam keadaan gelap seperti ini? Ya sudah yuk, biar aku yang gendong Zain."


Raihan menggendong Zain lalu memasang kan jaket besar miliknya ke tubuh Zain agar anak ku tidak merasa kedinginan di luar nanti. Raihan terlihat cekatan sekali memperlakukan anak ku mulai dari cara menggendong hingga memasangkan jaket ke tubuh Zain.

__ADS_1


Aku dan Raihan berjalan menyusuri jalanan gelap dan licin serta cuaca yang sangat dingin setelah hujan. Jarak tempuh rumahku dengan rumah Raihan adalah lima belas menit terbilang cukup jauh jika berjalan kaki. karena jalanan licin dan gelap aku hampir saja terjatuh jika tidak di tahan oleh Raihan.


"Hati hati mba..!"tanpa permisi lagi Raihan menggenggam tanganku dengan erat. Ku biarkan saja karena aku sendiri masih merasa shock karena hampir saja terjatuh.


__ADS_2