
Raihan melangkah mendekati mereka. Raut wajahnya memancarkan wajah datar dan dingin menatap mereka. Sementara aku masih berdiri di ambang pintu dan menatap geram pada dua wanita yang sedang duduk di lantai dalam keadaan kedua tangan dan kaki di ikat serta mulut di lakban. Kedua tangan ku mengepal, gigi ku bergemeletuk. Rasanya tak sabar ingin menghajar dua wanita yang sudah menculik anak ku.
"Buka lakban nya."Titah Raihan pada pria pria kekar itu. Dan dua di antara mereka maju lalu membuka lakban yang menempel di mulut mereka dengan paksa.
"Aaaakkkk."Mereka memekik kesakitan ketika lakban ukuran lebar itu di cabut dari mulutnya.
Raihan berdiri tegak di hadapan mereka dan menyilang kan kedua tangannya serta menatap tajam kearah mereka. Nampak wanita muda menunduk kan mukanya, sepertinya dia takut menatap wajah dingin Raihan. Sementara wanita tua di sampingnya menatap balik seperti menantangnya.
"Oo, jadi kalian yang menculik anak ku?"tanya Raihan datar dan pelan. Aku tau Raihan tidak akan tega menyakiti fisik seorang wanita baik muda maupun tua meskipun mereka bersalah. Tapi jika mereka laki laki aku yakin dua penculik itu sudah habis di hajar nya.
"Apa tujuan kalian menculik anak kami? apa kalian tau kalau kalian sudah tega memisahkan antara ibu dan anaknya? Kalian wanita bukan, bagaimana jika hal itu terjadi pada anak kalian?"
Hening.
"Sekarang katakan padaku dimana anak ku kalian sembunyikan?"
Hening.
"Hoh, kalian masih tidak mau mengaku? Jangan sampai kesabaran ku habis dan menghajar kalian sampai mati."
Hening.
Aku sangat kesal melihat mereka yang tidak mau menjawab pertanyaan Raihan. Aku pikir buang buang waktu saja. Aku berjalan mendekati mereka dengan kedua tangan mengepal. Mereka mengalihkan pandangannya ketika aku mendekat dengan berbagai ekspresi. Si wanita muda menunjukan wajah ketakutan dan sedikit menunduk. Sementara si wanita tua mengangkat wajahnya seolah olah menantang ku.
Raihan melirik lalu mundur seolah olah memberi ruang kesempatan aku untuk mengintrogasi mereka.
Ku tatap mereka satu persatu dengan tatapan kemarahan yang siap ku ledak kan.
"Kemana kalian membawa anak ku, hah?"Tanya ku dengan suara ku lantang kan agar mereka mau menjawabnya tapi sayangnya mereka hanya diam. Wanita yang lebih tua menunjukan kan muka angkuh seolah olah gertakan ku tidak ada artinya dan tidak membuatnya takut. Sementara wanita yang terlihat masih muda hanya menunduk.
Emosiku memuncak melihat sikap mereka yang acuh dan tak ada rasa takut padaku. Aku berjalan mengitari lalu berdiri tepat di belakang mereka. Setelah itu dengan tanpa ada rasa belas kasihan aku menarik kuat rambut mereka hingga mereka mendongak.
"Aaaakkkk." Si wanita muda menjerit sementara si wanita tua hanya meringis.
"Katakan dimana anak ku?"teriak ku kembali tanpa melepas rambut mereka. Tidak ada jawaban yang ada hanya jeritan yang keluar dari mulut wanita muda, sementara wanita tua hanya memejamkan kan matanya dan meringis.
Aku sangat geram sekali melihatnya. Mereka masih saja tidak mau buka mulut. Kemudian ku tarik lebih kencang lagi hingga mereka mendongak tinggi sampai letak posisi muka mereka berada di belakang. Selain itu beberapa helai rambut mereka pun ikut tercabut oleh tanganku.
__ADS_1
"Aaakkk, sakiiiit." Teriak wanita yang lebih muda.
"Katakan dimana anak ku, dimana anak ku, dimanaaa brengsek?"Ku jambaki rambut mereka dengan brutal, di tarik-tarik, di uwel-uwel hingga rambut mereka tak berbentuk. Selain itu muka mereka pun tak luput dari lampiasan amarahku. Ku cakari muka mereka dengan kasar sehingga menimbulkan goresan luka kecil kecil di wajah mereka. Teriakan kesakitan pun terdengar menggema di ruangan sempit itu dan aku tidak mempedulikannya karena aku pikir rasa sakit yang mereka rasakan tidak sebanding dengan rasa sakit hati ku sebagai seorang ibu yang anak nya mereka sakiti.
Di tengah emosiku yang meluap tak terkendali, Raihan memegang tangan ku agar aku menghentikan aksi brutal pada dua wanita itu namun aku menolaknya dan tetap tidak ingin melepaskan tanganku dari kepala mereka.
"Lepas kan Rai, lepas kan tanganmu. Biarkan aku menyakiti mereka karena mereka sudah tega menyakiti anak ku."
"Biar kan aku yang akan membuat mereka mengaku mba. Aku tidak ingin tangan mba kotor menyentuh dua sampah ini."
Aku melemah, namun dada ku masih bergemuruh luar biasa menahan kekesalan tiada tara. Kemudian Raihan melepas paksa tanganku dari kepala mereka. Setelah terlepas dia membawaku menjauh. Setelah membawaku menyingkir, Raihan berjalan memutar lalu berdiri tepat di hadapan mereka dan melipat kedua tangannya.
Isakan tangis pun terdengar dari mulut wanita muda. Dia menunduk sambil terisak. Sementara wanita tua melihat ke arahku dengan tatapan kebencian. Aku heran pada wanita tua itu, sudah ku sakiti tapi tetap saja masih angkuh.
"Setelah ibu dari anak yang kalian culik menyiksa kalian apa kalian masih tidak mau memberitahu dimana keberadaan anaknya?"
Tidak ada jawaban, hanya terdengar isakan tangis wanita muda saja.
"Okey, jika kalian tidak mau mengaku aku akan membawa kalian ke kantor polisi dan ku pastikan kalian di penjara seumur hidup tapi kalau kalian mengaku aku menjamin hukuman kalian hanya sebentar."
Kemudian Raihan melirik ke arah tiga orang suruhannya yang sedang berdiri dengan tegap.
"Siap pak Raihan."
Wanita paling muda mendongak lalu melirik pada wanita yang lebih tua." Tante, aku sudah tidak tahan bekerja dan hidup dibawah bayangan kalian. Aku tidak peduli meskipun Tuan Ramos membunuhku."Ucap wanita muda itu dengan bibir gemetar.
Keningku mengkerut mendengar kalimat yang yang di lontarkan oleh wanita itu. Aku berpikir apakah dia sedang berada di bawah tekanan wanita tua itu sehingga sejak dari tadi dia bungkam saja meskipun sudah ku sakiti.
"Diam kamu, apa kamu mau ibumu ikut mati?" Bentak wanita yang lebih tua pada wanita yang menyebutnya Tante.
Nampak wanita muda itu geleng-geleng kepala dan berderai air mata.
"Kenapa harus membawa ibuku? dia tidak salah apa apa.Tante dan om Alex jahat, kalian menjebak ku dan membawa aku masuk ke dalam lembah hitam kalian hingga aku sulit terlepas. Aku akan katakan pada mereka tentang kejahatan kalian karena kalian sudah menghancurkan masa depanku." Wanita itu berbicara menggebu gebu dan dia nampak marah sekali pada wanita tua itu. Dari kata katanya aku dapat menyimpulkan bahwa wanita itu hidup di bawah tekanan serta ancaman si wanita tua. Dan saat ini dia seperti sedang meluapkan kekesalan dan kekecewaan nya padanya. Aku berharap wanita itu mau memberitahu dimana keberadaan Zain.
"Diam kamu diam, ku pastikan ibu serta adik mu mati jika... emmm... emmm." Sebelum wanita itu melengkapi kalimat ancamannya Raihan lebih dulu menyumpal mulutnya dengan lakban hingga wanita itu kesulitan bicara.
"Banyak omong kau. Lama lama ku robek juga mulut mu." Raihan nampak kesal, aku pun sama, kesal sekali melihat wanita tua itu. Sudah angkuh, sombong, sangar, padahal dalam posisi tak berdaya tapi masih saja bersikap congkak.
__ADS_1
Raihan menatap wanita muda yang sedang berlinang air mata."Sekarang tolong katakan kemana kalian membawa anak ku?"tanya Raihan datar.
Wanita itu melirik pada wanita yang mulutnya sudah di lakban. Si wanita tua itu menatap tajam ke arah nya namun wanita muda itu segera mengalihkan kembali pandangannya seolah olah dia tidak mempedulikan tatapan si wanita tua itu.
"Kalau aku mengatakan nya apa kalian akan menjamin keselamatan keluarga ku? dan juga memenjarakan dia seumur hidup?"tanya wanita itu lalu menunjuk pada wanita tua itu dan memberikan tatapan kebencian.
"Tentu saja aku akan menjamin keselamatan keluargamu dan ku pastikan dia akan mendekam di penjara dalam waktu yang sangat lama bahkan untuk selamanya."
Akhirnya wanita itu menceritakan dimana keberadaan Zain. Paman dari wanita muda itu atau suami dari wanita tua itu telah menjual Zain pada seorang pria bernama Ramos yang nantinya akan di perjualbelikan kembali ke luar negeri.
Tubuhku gemetar, air mataku tumpah ruah mengalir deras mendengar dimana keberadaan Zain sekarang. Zain akan di jual ke luar negeri oleh seseorang. Anak ku yang malang, usiamu baru saja dua tahun lebih tapi sudah menjadi korban perdagangan anak di bawah umur.
Tiba tiba saja pandanganku ber kunang kunang lalu gelap gulita.
"Sayang, bangun sayang!"samar samar telingaku mendengar khas suara yang sudah familiar. Selain itu aku pun mengendus wangi aroma terapi. Perlahan berusaha membuka kelopak mataku hingga terbuka dan setelah terbuka sampai seratus persen aku melihat sosok wajah tampan namun nampak cemas berada tepat di hadapan ku. Selain itu, aku juga berada di atas kasur empuk dalam sebuah ruangan yang sudah tak asing lagi.
"Alhamdulilah akhirnya mba sadar juga. Mba sudah membuat aku sangat khawatir."Raihan menggenggam erat telapak tanganku selain menggenggam dia juga mengecupi nya hingga kening ku.
"Rai..."panggilku dengan lemah.
"Iya sayang." Raihan menyibak kan anak rambut yang menghalangi penglihatan ku. Aku tidak tau sejak kapan hijab ku terlepas dari kepalaku.
"Aku kenapa?"Aku bertanya karena aku benar benar lupa apa yang sudah terjadi padaku.
Raihan menghela nafas."Mba pingsang selama hampir dua jam."Ucap nya sembari tangan nya masih membenarkan uraian rambutku yang acak acakan.
Kening ku mengernyit."Aku pingsan selama dua jam!" ucap ku mengulang. Aku berusaha mengumpulkan potongan potongan memori hingga akhirnya teringat pada kejadian sebelum penglihatan ku kabur lalu gelap dan tak ingat apa apa lagi setelah itu.
Secara reflek aku duduk." Zain, Zain Rai, Zain dimana Rai? aku mau mencari anak ku Rai." Air mataku kembali mengalir. Aku berteriak panik lalu berusaha menyingkirkan tubuh Raihan dari hadapan ku agar dia tidak menghalangi aku yang hendak turun. Namun Raihan menahan kemudian memeluk ku dan mengusap usap punggungku."Tenang mba, tenang. Polisi serta orang orang suruhan ku sedang bergerak untuk mengepung tempat penyelundupan anak dimana Zain berada saat ini."
"Apa, apa mereka akan menemukan dan membawa Zain dengan selamat, Rai?"tanyaku di tengah tengah terisak dan dalam dekapannya.
"Iya sayang, mereka pasti akan menemukan Zain dengan selamat."Raihan menenangkan aku dengan sabar hingga aku berhenti menangis.
Setelah di rasa hatiku kembali tenang, kami melepaskan pelukan. Setelah itu, Raihan meminta ijin padaku untuk keluar dengan alasan akan ketempat lokasi dimana keberadaan Zain. Awal nya aku merengek ingin ikut dengan nya tapi Raihan memberikan pengertian bahwa tempat itu tidak aman untuk ku. Dia meminta aku untuk menunggunya di rumah hingga dia kembali pulang dan membawa Zain.
"Aku janji sayang, aku janji akan membawa Zain pulang dengan selamat dan utuh." Setelah berucap dia mengecup kening ku dengan lembut lalu beranjak pergi. Aku menatap punggungnya dengan tatapan penuh harap, berharap dua laki laki yang sangat aku cintai, Raihan dan Zain kembali dengan selamat tanpa kekurangan suatu apa pun.
__ADS_1
Ketika sudah berada di ambang pintu, Raihan menoleh padaku." Mba, masak yang enak ya, untuk menyambut kepulangan aku dengan Zain." Ucap Raihan sembari memberikan senyuman manis. Aku membalas senyumannya lalu mengangguk.