
Andre membawaku ke sebuah kota yang di sebut kota metropolitan. Aku takjub sekali melihat gedung gedung pencakar langit berjejer rapih di sepanjang perjalanan kami menuju entah kemana Andre akan membawaku.
"Kita sudah sampai di Jakarta pusat Nuri!" Andre memberitahu di sela sela mengemudi. Aku yang sedang menatap takjub pada gedung gedung menjulang tinggi lewat kaca mobil melirik ke arahnya.
"Apa artinya kita sudah sampai di tempat sepupu mu?" tanya ku kemudian.
"Oh tidak, sepupuku berada di Jakarta timur."
Aku mengernyitkan kening ku merasa heran padanya. Bagaimana tidak heran, sepupunya berada di Jakarta timur namun Andre membawaku ke Jakarta pusat.
"Lantas kenapa kamu membawaku ke sini? bukan kah Jakarta pusat ke Jakarta timur itu cukup jauh?"
"Tapi tidak sejauh dari kampung mu ke Jakarta kan Nuri?"
"Dre...aku sedang bertanya serius lho!"
Andre tertawa lebar kemudian berkata,"aku sengaja membawamu kemari siapa tau kamu ingin menikmati kerlap kerlip kota Jakarta dari ketinggian." Lagi lagi aku mengernyitkan dahi ku, kurang paham pada apa yang Andre katakan, namun aku memilih untuk tidak bertanya lagi melainkan mengalihkan pandanganku ke arah kaca mobil dan menikmati suasana kota kembali.
Setelah berputar putar akhirnya Andre memarkirkan mobilnya di bawah sebuah gedung yang ku ketahui bernama basemen. meskipun aku tidak pernah ke kota Jakarta tapi aku mengetahuinya.
"Ayok Nuri, kita turun," ajak Andre, dan aku mengangguk.
Setelah itu, Andre membawaku ke sebuah pintu yang ku ketahui sebagai lif. Setelah pintunya terbuka, benar saja dugaan ku bahwa itu adalah sebuah lif. Kemudian kami memasuki lif yang dalam keadaan kosong lalu Andre memencet tombol nomer dua puluh. Aku sedikit terkejut melihat tombol yang Andre pencet, itu artinya Andre akan membawaku ke lantai dua puluh. Dalam hati aku bertanya sebenarnya kemana Andre akan membawaku? namun mulutku memilih diam saja. Setelah pintu lif terbuka, kami berjalan melewati lorong lorong yang terlihat sepi hanya ada satu atau dua orang saja yang sedang berlalu lalang.
Langkah kami berhenti di sebuah pintu bernomer 202. Terlihat Andre mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya kemudian membuka pintu tersebut.
"Ayok Nuri masuk!" ajak nya, aku menurut saja memasuki pintu yang telah terbuka. Setelah tiba di dalam aku tercengang melihat sebuah ruangan seperti tempat tinggal minimalis yang modern.
"Disini lah aku tinggal selama aku di Jakarta Nuri !" aku sedikit membesarkan pupil mataku."Jadi..."
__ADS_1
"Iya, ini apartemen ku!" kemudian Andre berjalan ke arah tirai yang cukup lebar kemudian menyibak kan tirai tersebut hingga lebar, seketika mataku membelalak melihatnya. Kaca lebar itu menampilkan pemandangan kota Jakarta dan aku berada di ketinggian dua puluh lantai sebuah apartemen.
"Kita istirahat dulu disini, soalnya acaranya sekitar jam tiga sampai malam."
"Jadi ini yang kamu maksud melihat kerlap kerlip kota Jakarta pada malam hari di ketinggian Dre?" tanya ku pada Andre yang sedang menatap ke arah luar kaca dan dia mengangguk tanpa menoleh ke arah ku.
"Jadi maksudmu kita akan menginap di sini?"
"Iya, kita tidak mungkin langsung pulang ke kampung Nuri, karena aku sendiri tidak tau acaranya akan selesai sampai jam berapa. Lagi pula aku tidak sanggup menyetir malam hari..ngantuk, kecuali.....kalau kamu mau menyetirnya."
"Kamu meledek ku?"
"Ha ha ha....aku lupa kalau kamu tidak bisa menyetir mobil." Andre meledek ku, namun aku tidak menghiraukan ledekan nya melainkan memilih duduk di sebuah sofa panjang dan menidurkan Zain.
"Apa Zain tertidur?" tanya Andre, mungkin dia baru menyadari kalau Zain tertidur. Padahal Zain sudah tertidur sejak memasuki lif tadi.
"Apa kamu mau ikut tidur juga bersama Zain Nuri? Andre menawariku, aku yang memang terasa sangat lelah rasanya ingin sekali merebahkan tubuhku, aku pun bertanya balik." Apa boleh aku tidur di ranjang mu?"
Andre tertawa lebar lalu berkata," boleh dong, jangankan hanya satu hari atau dua hari, untuk selamanya juga boleh, justru aku pengen banget kamu meniduri ranjang ku untuk selamanya bersama.....aku." Andre mulai menggodaku.
"Dre...!"
"Aku hanya becanda saja Nuri, tapi...aku akan menunggu kamu sampai kamu benar benar siap untuk meniduri ranjang ku selamanya denganku." Kemudian Andre melangkah keluar kamar setelah bicara demikian. Aku menatap punggungnya dengan perasaan campur aduk. Kemudian aku menghela nafas besar lalu ikut merebah kan tubuhku di samping Zain dan menutup mata.
Di tengah aku sedang bermimpi bertemu dengan Raihan, aku merasa tubuhku berguncang dan sedikit demi sedikit aku membuka mata ku yang terasa masih lengket, nampak wajah pertama yang aku lihat adalah wajah Andre. Aku terkejut kemudian langsung duduk, ternyata Andre membangunkan aku yang sudah tertidur cukup lama. Aku memperhatikan penampilan Andre sudah rapih memakai jas hitam dan sebuah dasi di lehernya.
"Mama," Zain menyapaku yang sedang berdiri di samping Andre, dia juga sudah terlihat rapih.
"Mama mu seperti kerbau saja kalau sudah tidur sulit di bangunin Zain." Andre meledek ku namun aku diam saja malah memikirkan tentang mimpi bertemu dengan Raihan. Aku heran siang hari aku bermimpi bertemu dengannya apa karena aku terlalu rindu padanya sehingga terbawa mimpi di siang hari.
__ADS_1
"Cepat mandi gih, sebentar lagi kita berangkat," titah Andre, dan aku mengangguk.
Lima belas menit kemudian aku sudah siap dengan penampilan ku. Memakai dress panjang yang aku beli beberapa waktu lalu, memakai high hill tujuh senti sehingga tubuhku terlihat menjulang tinggi serta tidak lupa pula aku membubuhkan make up di wajahku.
Andre tercengang melihat ku yang baru saja keluar dari kamarnya."Kamu cantik banget Nuri," ucap nya.
"Terima kasih lho atas pujiannya, biar tidak malu maluin kamu di sana nanti." Andre tertawa lebar mendengar ucapan ku, kemudian dia mengajak ku untuk keluar dari apartemennya.
Setelah keluar dari lif, kami memasuki mobil Andre dan dia melajukan mobilnya keluar dari basemen meninggalkan gedung yang menjulang tinggi. Di sepanjang jalan tidak banyak pembicaraan yang kami obrolkan namun di seperempat perjalan mendekati lokasi aku merasa jantung ku berdegup dengan kencang. Aku bingung kenapa jantungku seperti ini padahal pada saat di apartemen detak jantungku normal normal saja. Aku memegang dadaku yang terasa sesak dan gerak gerik ku tak luput dari ekor mata Andre yang tengah memperhatikan aku.
"Nuri, are you okey?" tanya ya, setengah ekor matanya melirik ke arahku. Aku mengangguk meskipun kurang pasti kalau aku baik baik saja.
"Sebentar lagi sampai kok, kamu bertahan ya?"sambungnya lagi, seolah olah aku ini sedang sakit parah. Namun aku tidak menghiraukan ucapannya melainkan berusaha menetralisir perasaan agar jantungku berdetak dengan normal. Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya perlahan sehingga aku merasa detak jantungku kembali seperti biasa.
"Bagaimana Nuri? apa kita perlu ke rumah sakit?"
"Oh, tidak perlu, aku sudah baik baik saja." Aku segera menolaknya.
"Are you sure?" tanya Andre lagi memastikan.
"Yeah, im sure." jawabku dengan yakin.
"Okey, aku jadi tenang mendengarnya," ucap Andre kemudian tersenyum, begitu pula dengan aku ikut tersenyum.
Tak lama kemudian mobil Andre memasuki sebuah area parkiran mobil yang sudah terlihat penuh dengan mobil. Kemudian kami berjalan ke arah sebuah gedung berlantai tiga dan terlihat banyak orang yang sedang berlalu lalang serta terlihat pula berjejer karangan bunga berisi tulisan ucapan selamat pada sebuah perusahaan yang sepertinya baru didirikan. Namun yang membuat aku tercengang melihat puluhan jejeran karangan bunga adalah nama pemilik perusahaan seperti nama orang yang tengah aku pikirkan selama ini.
"R&N Group. Bapak Raihan Hermawan." Aku membaca nama yang terdapat pada semua karangan bunga dalam hati.
Sempat terlintas di pikiranku, apakah pemilik perusahaan yang baru didirikan ini adalah Raihan yang aku rindukan selama ini? Namun aku segera menepis pemikiran itu, rasanya tidak mungkin karena Raihan yang aku kenal hanya seorang mahasiswa dan bekerja di sebuah showroom mobil. Aku berpikir mungkin secara kebetulan saja namanya sama.
__ADS_1