
Malam kian larut Bu haji menyuruhku untuk segera tidur begitu pula dengan Raihan. Aku memasuki kamar Raihan yang sudah terdapat Zain di sana, menatap senyum pada tubuh mungil yang sedang tidur lelap sekali di atas kasur empuk.
"Tidak menyangka ya sayang. Kita bisa tidur di kamar papa Raihan lagi." Monolog ku.
Aku melirik pada sebuah lukisan yang masih menempel sempurna di atas dinding dan menyunggingkan senyum pada lukisan itu. Sebuah lukisan wajah ku sendiri yang di lukis oleh Raihan ketika ia patah hati saat aku menikah dengan mas Surya.
"Andai saja waktu bisa di putar kembali dan kamu mengungkapkan perasaan mu sebelum aku menikah mungkin...."
"Mungkin cerita nya akan berbeda sayang dan tidak ada Zain di dunia ini melainkan anak anak dari benih ku." Tiba tiba Raihan berucap dan memeluk ku dari belakang.
"Rai, kamu kapan masuk nya? aku tidak melihat pintu terbuka."
"Aku punya pintu ajaib doraemon sayang."
"Aku serius, Rai."
"Aku juga serius."
"Tidak lucu."
Raihan tertawa renyah. Kemudian ia melepaskan pelukannya dan membalik kan tubuhku lalu mendekatkan wajah nya pada wajahku.
"Ja..jangan mencium ku, Rai."Ucap ku sembari menjauhkan wajahku dari wajahnya.
"Percaya diri sekali hehe."
Aku melepaskan kedua tangan Raihan dari pinggangku lalu naik ke atas rancang.
"Sudah malam, Rai. Mending kamu keluar deh. Aku tidak ingin bu haji mengira kira tidur bersama."
Raihan tertawa lepas membuat aku kesal melihatnya.
"Memang kenapa kalau ibu tau kita tidur bersama?"
"Kita ini belum menikah Rai, jangan membuat citra Bu haji jelek di mata orang karena kelakuan kita."
Raihan tertawa lagi seolah olah ucapanku hanya sebuah lelucon.
"Sayang, apa kamu pikir ibu ku tidak tau kalau kita sering tidur satu kamar?"
"Apa maksudmu?"
"Ibuku tau kok kalau kita sering tidur satu kamar."
Kedua alisku saling bertautan."Kamu...serius, Rai?" Aku benar benar malu sekali jika yang di ucapkan Raihan benar. Bagaimana besok aku berhadapan dengannya? rasanya tidak memiliki muka untuk bertemu dengannya.
"Iya benar. Tapi ibuku percaya kok kalau anak nya yang tampan ini tidak mungkin merusak anak orang sebelum di nikahi."
"Menurutmu bagaimana tanggapan ibu mu tentang aku, Rai."
"Wanita yang baik dan seorang ibu yang bertanggung jawab."
"Bukan itu maksud ku."
"Rai, Raihan.." Di tengah obrolan kami suara gedoran pintu dan panggilan Bu haji terdengar di depan pintu. Aku dan Raihan menoleh ke arah pintu itu secara bersamaan.
"Tuh kan, apa ku bilang."
Raihan hanya tersenyum saja lalu melangkah ke arah pintu.
__ADS_1
"Ada apa Bu?" Tanya Raihan setelah pintu di buka.
"Kamu ngapain di dalam kamar?"
"Mau ngambil bantal dan selimut, Bu." Pandai sekali Raihan beralasan.
"Ya sudah cepat ambil selimut dan bantalnya lalu cepat keluar."
"Iya Bu, iya." Raihan menggaruk belakang kepalanya lalu kembali berjalan ke arah ku.
"Sayang aku pinjam bantal nya satu ya?"
Aku mengangguk.
Setelah mengambil bantal yang ada di atas ranjang dia mengambil selimut di atas lemari. Sementara aku tersenyum canggung pada Bu haji yang berdiri di ambang pintu sambil menunggu Raihan.
"Cepat Rai."
"Iya, Bu iya. Ini aku ambil selimut dulu."
Setelah mendapatkan selimut itu Raihan melangkah ke luar namun sebelum sampai ke ambang pintu dia menoleh ke arah ku.
"Have a nice dream, honey." Ucap nya lalu mengerling kan mata.
"Cepetan Rai." Bu haji berucap dengan suara sedikit tinggi.
"Iya Bu, iya. Sabar kenapa."
Bu haji menggeser tubuhnya ketika Raihan akan keluar kamar. Setelah Raihan keluar Bu haji menoleh ke arah ku.
"Nuri, kamu kunci pintunya supaya si Raihan tidak nyelonong masuk." Setelah berucap dia menutup pintu itu. Aku terbengong melihat daun pintu yang sudah tertutup rapat.
"Mama, papa lehan ana, ma?"
Aku tersenyum. Baru bangun Zain sudah menanyakan keberadaan Raihan. Sebegitu dekat nya dia sama Raihan sehingga Pagi ini belum melihat Raihan saja dia menanyakan nya.
"Papa Raihan masih bobo di luar sayang."
"Bobo di lual!"
"Iya."
Dor dor dor
"Sayang, buka pintunya sayang. Cepetan buka pintunya."
Aku menoleh ke arah pintu. Raihan menggedor pintu dan berteriak memanggil ku. Aku langsung berpikir sedang terjadi hal buruk karena tidak biasa nya Raihan membangunkan aku dengan berteriak.Tanpa berpikir panjang lagi aku bergegas turun lalu berjalan cepat ke arah pintu.
Setelah pintu terbuka Raihan nyelonong masuk bahkan dia menyenggol bahuku hingga aku memutar namun beruntung aku tidak jatuh.
Raihan berlari ke arah kamar mandi sembari memegang anu nya. Kemudian masuk ke kamar mandi tanpa menutup pintu. Aku pikir ada sesuatu yang terjadi ternyata dia kebelet ingin buang air kecil.
Selang beberapa saat kemudian. Raihan keluar kamar mandi sembari tersenyum lebar padaku.
'Maaf ya sayang, aku ke belet pipis." Ucap Raihan tersenyum nyengir.
Aku tidak menghiraukan ucapannya melainkan melepaskan pakaian Zain karena akan ku mandikan.
"Biar aku saja yang memandikan sekalian sayang." kata Raihan sambil berjalan ke arah kami.
__ADS_1
"Tidak usah biar aku saja." Aku menolaknya.
"Aku juga mau mandi jadi biar sekalian saja." Raihan tetap memaksa bahkan dia mengambil tubuh Zain dari hadapan ku.
"Rai, aku ini ibunya. Biar aku saja yang memandikan nya." Aku menatap kesal padanya.
"Kamu kenapa sih sayang? apa lagi datang tamu bulanan?"
Aku memajukan bibir bawah ku. Tidak tau saja dia jika aku sedang kesal karena dia telah menabrak ku tanpa meminta maaf. Aku juga heran dengan sikapku kenapa jadi se sensitif ini.
Dan pada akhirnya aku menyerah membiarkan Raihan memandikan Zain. Selama Raihan memandikan Zain, aku membereskan tempat tidur serta menyapu kamar dan setelah selesai hal itu bertepatan dengan keluarnya Raihan dan Zain dari kamar mandi dalam keadaan sangat segar.
Raihan juga yang memakai kan pakaian untuk Zain dan memintaku untuk mandi. Aku berpikir jika kami sudah menikah mungkin aku tidak akan kerepotan mengurus anak anak sendiri melainkan ada Raihan yang akan siap membantuku mengurus anak anak.
"Di suruh cepat mandi malah senyum senyum saja." Sindir Raihan. Aku terperangah dan menyadari bahwa aku sedang termenung sembari melihat mereka. Kemudian buru buru pergi ke kamar mandi.
Kami menuruni anak tangga lalu berjalan ke arah dapur. Di sana sudah nampak bu haji sedang membantu Art menata makanan untuk sarapan kami.
"Wah, enak sekali ini menunya." puji Raihan ketika kami sudah berada di meja makan sembari menatap pada hidangan. Ada nasi goreng, ayam goreng, Roti, potongan buah buahan dan semangkok bubur ayam.
"Iya dong, kan menyambut calon mantu." Ucap bu haji sembari tersenyum.
Aku menunduk malu." Maaf Bu, saya tidak membantu ibu."
"Tidak apa apa Nuri, kan ada si bibi yang bantuin. Ayok duduk kita makan sekarang."
Aku pun menurut lalu duduk di samping Raihan.
"Ini bubur untuk Zain khusus Oma yang bikin." Ucap Bu haji sembari menyodorkan semangkok bubur sayur plus daging dan menguar wangi sekali.
Aku tersenyum. Senang sekali rasanya anak ku di terima sangat baik oleh orang tuanya Raihan. Bahkan Bu haji sangat peduli pada Zain sama halnya dengan Raihan. Kemudian aku menerima bubur itu dan mengucapkan terima kasih padanya.
Setelah sarapan aku dan Raihan pamit pada Bu haji akan pulang ke rumah ku dan Bu haji meminta aku untuk tidur di rumah nya selama berada di kampung aku pun menyanggupinya demi menyenangkan hatinya.
Raihan melaju kan mobilnya dengan pelan menuju rumahku. Tiba di rumah ku, aku di sambut senyuman lebar oleh bang Supri serta Sumi namun tidak dengan ibuku. Dia melengos masuk ketika aku datang dan mau bersalaman dengan nya.
"Jangan di pikirkan Nuri. Biarkan saja nanti juga capek sendiri." Kata bang Supri.
Aku pun mengangguk dan tersenyum tipis.
"Ehm, Rai, aku masuk dulu ya Sebentar."
"Ya sudah, aku mau lihat lihat pabrik mu dulu ya sayang."
Aku mengangguk.
Raihan melangkah di temani bang Supri menuju pabrik sembari mengobrol. Sementara aku memasuki rumahku lalu berjalan ke arah kamar ku.
Setelah membuka pintu kamarku, aku di kejutkan oleh sosok dua anak yang sedang tidur di atas tempat tidurku. Selain itu, aku juga di kejutkan banyak nya barang barang berupa tas dan pakaian serta mainan berserakan di mana mana.
"Siapa mereka?"Gumam ku. Namun ketika aku berbalik hendak bertanya pada bang Supri tiba tiba sosok perempuan yang sudah lama sekali tidak aku lihat berdiri di belakang ku. Aku cukup terkejut di buatnya.
"Ngapain kamu berdiri di situ dan ngeliatin anak anak ku?" Ucap wanita itu dengan sinis. Aku bingung, aku pemilik kamar itu tapi kenapa wanita itu yang seolah olah pemilik kamar nya.
"Mestinya aku yang tanya kenapa anak anak mba dan barang barang mba berada di kamar ku?"
"Aku yang nyuruh kenapa?" Tiba tiba ibu datang membela wanita itu.
Aku menatap kesal pada ibu serta istri dari bang Supra kakak pertama ku yang telah menjual aku pada mas Surya dengan harga tiga ratus juta lalu kabur ke Kalimantan. Karena aku tidak ingin berdebat dengan mereka aku pun memilih untuk pergi dari hadapan mereka.
__ADS_1