Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Di antar Raihan


__ADS_3

Setelah masuk mobil dan Raihan mulai melajukan mobil nya, aku melirik interior dalam mobil yang terlihat mewah serta masih wangi seperti baru di pakai, bahkan jok belakang masih terbungkus plastik.Terlihat kampungan dan aku mengakuinya karena ini merupakan pertama kalinya aku menumpangi mobil mewah dan mahal.


Aku tau Raihan sedang memperhatikan tingkah kampungan ku namun dia tidak protes melainkan membiarkan aku untuk terus memandang kagum mobil yang sedang ku tumpangi.


"Mbak suka mobil ini?"


"Suka banget, enak di tumpangi nya."


Raihan terlihat menyunggingkan senyum mendengar jawaban yang terdengar kampungan dan aku merasa itu.


"Emang ini mobil kamu Rai?" tanya ku.


"Bukan, ini mobil showroom."


Aku mengernyitkan dahi, kurang paham pada apa yang baru Raihan katakan. Aku pun bertanya kembali."Maksudnya Rai?."


Raihan melirik ke arah ku dengan ekor matanya." Aku hanya meminjam mba, mobil ini milik showroom, nanti akan aku kembalikan lagi ke sana. Tapi kalau mba mau aku tidak akan mengembalikannya melainkan akan aku tinggalkan di rumah mba."


"Hah?"aku terbengong memandang Raihan. Belum paham sama apa yang dia katakan.


Raihan yang melihat ekspresi wajahku tersenyum tipis lalu bertanya,"mba mau tidak?"


"Mau, mau apa maksudmu Rai?"tanya ku masih dalam kebingungan.


"Mau menerima mobil ini untuk di pakai sama mba."


Pupil mataku membesar." What, are you crazy?" ucap ku, saking terkejutnya.


"Aku serius mba, mau memberikan mobil ini untuk mba dan Zain."


Aku menggeleng cepat dalam arti menolaknya melalui bahasa tubuh karena mulutku rasanya terkunci.


"Mba...."


"Tidak, tidak Rai tidak. Aku tidak berminat memiliki mobil apalagi di beri oleh orang lain secara cuma cuma." Aku menolaknya mentah mentah bukan tanpa alasan. Aku rasa orang sekampung akan geger Jika mengetahui wanita miskin seperti aku tiba tiba mendadak kaya dan memiliki sebuah mobil BMW. Jangan kan mobil yang sifatnya besar dan dapat langsung terlihat oleh mata. Berlian yang Raihan berikan saja aku tidak berani memakainya meskipun bisa di tutupi oleh jilbab ku.


"Aku ini calon suamimu mba, kenapa mba menganggap aku orang lain?" kata Raihan, dia terlihat kesal.


"Tolong jangan berlebihan Rai, aku belum menjadi siapa siapa kamu, terkecuali kalau aku sudah benar benar menjadi istrimu kamu boleh memberikan apa pun yang mau kamu beri." Aku memberikan alasanku agar Raihan mengerti.


Raihan menghela nafas berat lalu berkata,"ya sudah mba, tidak usah di bahas lagi." Raut wajahnya terlihat datar saja.


Kemudian Raihan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah berada di jalan raya menuju rumah sakit. Salip menyalip pun terjadi sepanjang jalan. Aku ketakutan sampai aku mencengkram jok mobil dan memejamkan mata meskipun sebenarnya tubuhku sudah di pasang sabuk pengaman. Tidak biasanya Raihan mengebut ketika membawaku tapi kali ini dia seperti seorang pembalap saja.


Tiba tiba kepalaku pusing dan perutku mual, kemudian aku berteriak karena aku takut muntah di dalam mobil barunya." Berhenti Rai, berhenti stopp."Kemudian Raihan mengurangi kecepatannya lalu melihat aku yang sedang menutup mulutku menahan rasa ingin muntah.


Setelah tau aku hendak muntah, dia menepikan mobilnya dan membuka kunci pintu mobil. Aku segera turun dan dalam posisi berjongkok aku memuntahkan isi perutku.


Raihan memijit kecil tengkuk ku. Setelah merasa perutku tidak mual lagi aku berdiri dan Raihan memberikan sebotol air mineral tapi aku tidak mengambilnya dan mengalihkan pandangan ku ke arah lain karena aku sedang kesal sekali padanya.


"Maaf mba, aku minta maaf. Bukan maksud aku kebut kebutan di jalanan tapi..."


"Aku tidak biasa naik mobil mewah Rai makanya aku mabuk. Dari pada nanti aku membuat kamu repot lagi aku mau naik kendaraan umum saja."


Raihan menggeleng cepat." Tidak mba tidak, aku tidak akan membiarkan mba naik kendaran umum. Apa mba tidak takut kalau di luar sana banyak orang jahat?"


Tanpa bicara lagi raihan meraih pinggangku lalu menggiring pelan hingga sampai di pintu mobil dan Raihan memintaku untuk masuk kedalam mobil. Awalnya aku diam namun melihat tatapan tajam Raihan mau tak mau aku pun menurutinya.

__ADS_1


Setelah itu, Raihan melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang.


Hening...


Tidak ada obrolan diantara kami. Kami sibuk dengan pikiran kami masing. Aku memikirkan sikap Raihan yang tiba tiba berubah hingga mengemudi dengan brutal. Aku merasa dia kesal padaku tapi apa yang sudah membuat dia kesal karena aku sendiri tidak merasa melakukan atau berbicara yang dapat membuatnya kesal. Aku mencoba mengingatnya dan tak lama aku ingat terakhir kali dia berucap sebelum mengemudi dengan kencang. Raihan tidak ingin dianggap orang lain oleh ku karena itu dia marah.


Tanpa di duga dan aku pikir Raihan masih marah, dia memegang telapak tanganku


dan berkata penuh sesal.


"Maaf kan aku ya mba, maafkan aku. Aku bukan bermaksud menakuti mba dan membuat mba ketakutan, aku hanya..."


"Sudah lah Rai, seharusnya aku yang meminta maaf sudah membuatmu kesal. Sekarang kamu fokus saja menyetir bahaya kalau menyetir sambil mengobrol." Kemudian aku melepaskan tanganku dari genggaman Raihan karena aku ingin dia fokus saja menyetir dan Raihan tersenyum tipis nyaris tidak terlihat.


Sebelum memasuki area rumah sakit aku meminta Raihan untuk berhenti di penjual martabak di pinggir jalan, Raihan pun menurut. Dia memarkirkan mobilnya tepat di depan mobil berwarna putih.


"Rai, kamu tunggu sebentar ya?"


Raihan mengangguk.


Kemudian aku keluar mobil dan berjalan ke arah penjual martabak.Terlihat ada tiga orang yang sedang menunggu duduk di bangku panjang dan membelakangi di sana. Aku pun mendekati penjual martabak itu.


"Mang saya pesan martabak telor satu sama martabak isi kacang satu ya!" Aku memesan martabak itu di belakang punggung ketiga orang yang sedang menunggu, karena akses untuk mendekati gerobak penjual martabak itu terhalang oleh bangku panjang yang melintang dan di duduki oleh tiga orang itu membuatku kesusahan untuk mendekat sang penjual.


"Siap neng, di tunggu beberapa menit ya neng."


Aku mengangguk.


Setelah memesan pada si penjual, ketiga orang itu menoleh ke arahku yang ada di belakang mereka secara serempak.


Aku mengernyitkan kening ku setelah melihat dengan jelas ketiga muka orang yang sangat aku kenal. Namun, aku bersikap biasanya saja pada mereka.


"Orang kampung masuk kota ya gini penampilannya, kampung tetap kampung memalukan sekali," ejek Bu Rida.


Aku tidak menanggapi ejekan Bu Rida Melainkan basa basi menyapa."Eh, ada Bu Rida, Risa dan pak ustad."Seperti biasa Bu Rida selalu bertampang sinis jika melihat ku.


"Dek Nuri apa kabar? kenapa dek Nuri ada di kota? sudah lama ya kita tidak bertemu."Tanya ustad Amir. Namun pertanyaannya itu mendapat pelototan dari istrinya sehingga dia menciut. Mungkin saat dia menyapaku dia lupa jika istrinya ada di sampingnya.


Aku mengerti kenapa ustad Amir bertanya demikian karena menurut mereka aku ini hanya sebuah katak dalam tempurung, orang kampung yang tidak mengenal kota. Namun aku tidak menanggapi sapaan sekaligus pertanyaannya karena aku tidak ingin berurusan dengan Bu Rida.


"Raihan mana? dimana kamu sembunyikan Raihan? dasar perebut pacar orang" Tiba tiba Risa bertanya dengan suara keras. Dia menatap nyalang ke arahku. Bu Minah benar bahwa Risa terlihat stres dan mendekati gi la.


Terlihat ustad Amir memegang lengannya mungkin supaya Risa tidak mengamuk padaku. Aku hanya tersenyum tipis saja padanya lagi pula buat apa aku meladeni orang seperti dia.


Kemudian aku menoleh pada tukang martabak dan menanyakan tentang pesanan ku.


"Sudah jadi neng, sebentar ya?"ucap penjual martabak.


Aku mengangguk.


Tak selang lama penjual martabak itu hendak memberikan satu kantong berisi dua kotak martabat kepadaku namun dia kesulitan karena jalannya di tutupi oleh ketiga orang yang selalu memusuhiku.


"Ibu bapak ini gimana sih, kalau tidak beli kenapa nongkrong disini. Kasihan pelanggan saya yang harus berdiri dari tadi."Kata


si penjual.


"Halah bangku reyot saja pelit banget."

__ADS_1


"Bukan masalah bangku nya bagus atau reyot tapi kalian telah menghalangi pelanggan saya karena sudah melintang kan bangku nya. Seharusnya bangku ini menghadap jalan bukan seperti ini." Penjual Itu terlihat kesal sekali.


"Maaf pak ustad, tolong minggir dulu ya saya mau mengambil martabak itu." kata ku pada ustad Amir. Ternyata ustad Amir menurut dan dia menyingkir memberi celah bagi si penjual untuk memberikan martabak itu pada ku.


Setelah menerima dan membayar martabak itu aku lekas pergi dan memasuki mobil yang sedang terparkir dengan jarak sepuluh meter dari penjual martabak itu.


Ku perhatikan orang orang tadi melalui kaca depan sedang memandang mobil yang aku tumpangi dengan mulut menganga lebar. Jangankan lalat kelelawar pun sepertinya bisa masuk ke dalam mulut mereka saking lebarnya. Mungkin mereka tidak menyangka aku yang bersandal jepit dan berdaster menaiki mobil mewah seseorang yang pastinya membuat mereka penasaran pada pemilik mobil yang aku tumpangi.


"Sudah mba?" Raihan bertanya.


"Sudah Rai."


"Apa lagi yang mau di beli?


"Di depan sana ada rumah makan Padang, tolong berhenti ya?"


"Siap sayang." Kemudian Raihan melajukan mobilnya dengan pelan menuju rumah makan Padang yang ku tunjuk. Setelah tiba, aku tidak langsung turun karena masih banyak orang yang mengantri di rumah makan Padang itu.


"Kenapa tidak beli di restauran yang ada di sana saja mba," tunjuk Raihan ke sebuah restoran. Aku mengikuti arah telunjuknya


"Ribet Rai, harus putar arah. Lagi pula temanku itu penyuka nasi Padang."


"Owh."


Lima menit menunggu akhirnya rumah makan Padang itu sudah sepi. Aku meminta ijin pada Raihan untuk turun dan Raihan mengijinkannya. Aku berjalan mendekati pembatas antara pembeli dengan etalase.


"Permisi.."


Aku menyapa seseorang yang sedang sibuk mengelap meja. Kemudian dia menoleh ke arahku lalu tercengang dengan mulut terbuka lebar melihat ku. Mungkin dia tidak menyangka aku akan kembali lagi ke rumah makan Padang ini. Aku pun tak ada pilihan lain karena ini satu satunya rumah makan Padang yang paling dekat dengan rumah sakit. Meskipun sebenarnya aku malas sekali bertemu dengan pria bertampang berantakan ini.


Dia berjalan dengan langkah lebar mendekatiku dan berdiri di samping etalase.


"Mba...si cantik yang bertemu di toko pakaian itu kan? sama tadi siang kemarin dan sekarang kemari lagi."


"Tolong bungkusin satu, lauk nya rendang dan ayam bakar." Aku tidak menanggapi ocehannya melainkan langsung pada intinya saja.


"Sebentar dong mba jangan terburu buru. Kenalan dulu gitu, kita kan sudah sering bertemu tapi belum saling kenal siapa tau kita berjodoh mba," kata nya, penuh percaya diri.


Kemudian dia menyodorkan tangannya kearah ku ingin bersalaman namun aku tidak membalasnya melainkan aku mengernyitkan dahi ku melihat sikap pria ini, percaya diri sekali. Apa dia pikir aku ini Suryati yang gampang di ajak kenalan dengan sembarang orang terutama kaum laki laki.


"Maaf aku buru buru nih, tolong bungkusin pesanan aku tadi. Apa kamu mau aku laporkan ke bos kamu agar di pecat?" Aku mengancamnya agar dia segera membungkus nasinya dan ternyata ancaman ku berhasil. Tanpa bicara lagi dia segera membungkus nasi serta lauk pauk yang ku pesan.


"Kenapa lama sekali sayang?"tiba tiba Raihan datang dan menggenggam tanganku. Pria itu menoleh ke arah kami namun kemudian dia terlihat terkejut setelah melihat Raihan di sampingku.


"Boss Rai..."


"Lho, kamu kerja di sini sekarang?"tanya Raihan.


Aku mengerutkan dahi ternyata Raihan mengenal pria itu.


"I..iya boss."


Raihan tersenyum tipis kemudian melirik ke arahku." Ayok sayang, teman mu pasti sudah menunggu nasi ini."


Aku mengangguk dan ketika kami akan beranjak dari tempat itu, pria itu memanggil Raihan.


"Ada apa? tanya raihan.

__ADS_1


"Mba ini siapa nya boss Rai?"


"Calon istriku, Jangan coba coba mengganggunya kalau tidak mau berurusan dengan ku lagi.


__ADS_2