Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Mak Ninih


__ADS_3

Pak RT dan Bu RT membawa kami ke rumah ibu Suryanah atau ibu Ninih dengan berjalan kaki. Letak rumah beliau tidak terlalu jauh dan juga tidak terlalu dekat. Namun, untuk sampai kesana kami harus melewati pematang sawah karena letak rumahnya di tengah sawah.


Ketika kami hendak melewati pematang sawah itu, tiba tiba Raihan berjongkok di hadapan ku. Aku mengernyitkan kening ku melihatnya.


"Sayang, naik ke punggungku. Biar aku gendong sampai ke rumah nya."


"Apa apaan sih Rai, jangan bikin aku malu deh."


"Aku takut kamu tercebur ke sawah apalagi jalannya gelap."


"Tapi kan pak RT bawa senter. Bisa pakai senter ponsel juga."


"Ehem." Kak Bayu yang berada di belakangku tiba tiba berdehem. Aku cukup malu padanya lalu melanjutkan langkahku menyisi melewati tubuh Raihan yang masih berjongkok begitu saja dan mengekor di belakang Bu RT. Setelah menyadari aku sudah berjalan lebih dulu, Raihan memanggil ku namun aku tidak mempedulikannya.


Butuh lima menit melewati pematang sawah yang terbentang luas dan akhirnya kami tiba di depan rumah yang cukup sederhana. Meskipun rumah nya terletak sendirian di tengah sawah tapi tidak membuat rumah itu sepi karena tidak memiliki tetangga. Justru rumah itu ramai sekali oleh suara kodok dan jangkrik yang terdengar saling bersahut sahutan.


"Assalamualaikum, Minah, mang Udin!" Pak RT mengucap kan salam namun dari dalam tidak terdengar sahutan.


"Assalamualaikum, Mak Ninih, mang Udin, Minah!" panggilan kedua kalinya pun masih tidak terdengar sahutan.


"Apa mereka sudah tidur ya pak!" kata Raihan.


"Kurang tau mas tapi.."


"Pak RT, Bu RT. Aya naon wengi-wengi ka bumi Abi? abi teh karaget nempona.( Ada apa malam-malam ke rumah saya?saya terkejut lihatnya)."

__ADS_1


Kami berbalik, nampak seorang pria yang sudah tak lagi muda memegang senter di sebelah tangan kanannya dan memegang kantong kresek warna hitam di sebelah tangan kirinya sedang berdiri melihat kami.


"Eh, tos timana wae, mang?( Eh, habis dari mana saja, pak?)" pak RT balik bertanya.


Sebelum pria itu menjawab pertanyaan pak RT, tiba tiba pintu terbuka. Kami mengalihkan pandangan kami pada pintu yang terbuka setengah, nampak seorang wanita sudah tidak lagi muda menyembulkan kepalanya dengan penampilan memakai daster nanggung dan rambutnya di balut tudung yang letaknya melenceng lalu mengucek matanya.


"Minah!" ucap Bu RT.


"Bu RT, pak RT. Aya naon? Terus eta mawa saha? meuni geulis sareung meuni karasep pisan( Bu RT, pak RT, Ada apa? terus itu bawa siapa? cantik banget dan ganteng-ganteng banget). Kata wanita itu nampak terkejut sembari menelisik penampilan kami. Aku yang mengerti bahasa ibu itu menyungging kan senyum padanya. Sementara Raihan dan kak Bayu yang tidak mengerti hanya terbengong saja.


Kemudian Bu RT menjelaskan pada wanita yang bernama Minah itu bahwa kami dari Jakarta bermaksud ingin bertemu dengan ibu nya yaitu Mak Suryanah atau di kenal dengan Mak Ninih di kampung nya.


Awalnya kedua pasutri itu nampak ragu untuk mempertemukan kami dengan beliau karena dulu pernah ada dua orang pria yang ingin menculik nya sebelum Mak Ninih belum setua sekarang. Namun beruntung, sebelum si penculik itu membawa Mak Ninih menjauh dari kampung ini warga lebih dulu mengeroyok dua orang pria itu hingga babak belur. Oleh karena itu, mak Ninih tidak di perbolehkan keluyuran sendiri dan jika kemana mana selalu di antar oleh anak-anak nya.


Kami duduk di lantai beralaskan tikar yang sudah nampak usang. Tak lama kemudian Bu Minah datang sembari menuntun seorang wanita tua yaitu Mak Suryanah atau mak Ninih. Kami terbengong menatap wanita bertubuh kurus, baju kebaya judul dan memakai kain sebagai rok nya serta kepalanya di tutupi kupluk.


"Calik Mak! ( duduk, bu)" wanita itu menurut. Dia pun duduk di hadapan kami.


Aku melihat wanita tua itu dengan perasaan yang mulai gelisah. Wanita itu menelisik kami satu persatu. Mulai dari kak Bayu, Raihan kemudian terakhir aku.


"Aranjeun saha nyak? ( Kalian siapa ya?)" tanya wanita itu.


Aku yang mengerti bahasa Sunda halus memberikan senyuman pada nya namun tidak dengan Raihan dan kak Bayu yang diam dan datar saja.


"Kumaha kabar na Mak, damang?( gimana kabarnya Bu, sehat?)" Aku berusaha mengajak nya bicara menggunakan bahasanya meskipun kaku. Di kampung ku sendiri sebenarnya menggunakan bahasa Sunda juga namun bukan Sunda halus seperti Sunda Sukabumi, cianjur, Ciamis, dsb melainkan Sunda kasar di campur bahasa Jawa. Tapi bukan Jawa Tengah atau Jawa timur melainkan Jawa yang aku sendiri tidak paham.

__ADS_1


Seiring perkembangan zaman, bahasa daerah atau dialek yang di wariskan oleh nenek moyang di kampung ku bisa dikatakan sedikit lagi akan menghilang karena penduduknya sembilan puluh persen sudah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia bahkan anak anak kecil saja tidak pernah di ajarkan hingga mereka tumbuh hanya tau atau bisa satu bahasa saja yaitu bahasa Indonesia.


Mak Ninih tidak langsung menjawab pertanyaan ku melainkan sorot mata tuanya menatapku lalu mengerutkan kening nya yang sudah mengkerut hingga nampak tambah mengkerut saja.


"Asa pernah nempo maneh, tapi..dimana nyak? hilaf tos lami.( Sepertinya pernah melihat kamu, tapi..dimana ya? lupa sudah lama)


Aku tersenyum mendengarnya. Setidak nya meskipun katanya pikun ternyata masih ada sedikit ingat pada bentuk wajah ku dan aku yakin yang dia maksud adalah wajah ibu Hanum.


"Dulu, apa ibu pernah kerja jadi seorang perawat di rumah sakit Sucipto Jakarta?" Dengan rasa tidak sabar aku langsung bertanya pada intinya. Maksud ku langsung bertanya mumpung dia sedikit ingat.


"Sucipto?"


Aku mengangguk harap harap cemas.


Lama kami menunggu nya berpikir namun ujung-ujung nya dia menggeleng.


Raihan dan kak Bayu memijit keningnya sementara aku terbengong menatap wanita tua itu. Namun tak lama kemudian aku teringat pada gelang pemberian bapak lalu segera merogoh tas ku dan memperlihatkan nya pada beliau.


Bu Ninih mengambil gelang itu dari tanganku lalu di tatapnya lekat dan di bacanya nama yang tertera di gelang itu." Nuri Aisha B." Lalu mengangkat sedikit wajahnya ke atas dan menerawang. Tak lama kemudian dia menatap gelang itu kembali dan berucap." Sigana urang pernah nempo gelang iyeu tapi teuing dimana nyak urang hilaf deui.( Sepertinya saya pernah melihat gelang ini tapi dimana ya saya lupa lagi).


"Coba di ingeut ingeut deui, mak," kata pak RT.


Mak Ninih menatap pak RT lalu menggeleng.


Kali ini aku memijit kening ku. Aku merasa seperti sudah tidak memiliki harapan lagi untuk mengungkap semuanya, bagaimana aku bisa terpisah dari keluargaku dan bagaimana bisa di makam yang mestinya jasad bayi namun berubah jadi sebuah boneka.

__ADS_1


__ADS_2