
Setelah keluar dari rumah sakit, kami meneruskan perjalanan kami menuju kantor polisi dimana tempat mas Surya di tahan.
"Ayok anak-anak turun." Kata Raihan setelah kami tiba di depan kantor polisi. Aku serta kedua anak mas Surya turun dan setelah itu melangkah beriringan memasuki kantor polisi.
"Selamat sore pak!" Sapa Raihan setelah berada di dalam dan menghadap seorang polisi yang sedang duduk di kursi kerjanya.
Polisi itu mendongak melihat kami."Selamat sore mas, mba. Apa ada yang bisa kami bantu?"
"Maaf pak, kami mau membesuk pak Surya yang baru dua hari lalu di tahan disini?"
"Emm, saudara Surya yang menyiram istrinya dengan air keras?"
"Benar pak."
"Boleh, tapi tidak bisa ramai ramai seperti ini ya, harus bergilir."
Aku dan Raihan saling pandang kemudian dia berucap." Kamu dulu saja yang besuk dan bawa anak anak nya. Aku dan Zain tunggu disini."
Tanpa pikir panjang aku pun mengangguk. Kemudian polisi itu menggiring aku dan kedua anak mas Surya ke suatu tempat.
"Silahkan duduk dulu mba." Ucap polisi itu.
Aku mengangguk."Terima kasih pak."
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya orang yang kami tunggu pun keluar. Dia menghentikan langkahnya ketika melihat ku ada di hadapannya dengan jarak beberapa meter.
"Nu...Nuri!" ucap nya dengan terbata bata serta tatapannya tidak berkedip melihatku. Aku rasa dia terkejut melihat keberadaan ku yang tiba tiba ada di kantor polisi. Aku mengangguk pelan dan tersenyum tipis padanya.
"Papaaaaa!" kedua anak mas Surya berlari ke arah pria yang sudah menyiram ibu mereka dengan air keras. Kemudian dia memeluk kedua anaknya sembari menangis.
"Kalian ada di sini?" Tanya nya di tengah memeluk.
"Tante Nuri mengajak kami kemari untuk ketemu papa. Kami juga sudah melihat mama di rumah sakit. Kasihan mama pa, muka nya di tutup perban kami tidak bisa melihat wajah mama." Kata si cungkring sembari terisak.
Kemudian mas Surya menoleh ke arahku lalu melepaskan pelukan kedua anaknya dan berjalan mendekat.
"Kamu...membawa anak anak ku menjenguk si wanita laknat itu? dan apa kamu sengaja datang kemari hanya ingin menertawakan kesialan ku?" Tuduhnya dengan suara tinggi.
__ADS_1
Aku mendengus kesal. Bagaimana tidak kesal, jauh jauh datang malah di tuduh demikian." Aku kemari atas permintaan anak anak mu mas. Mereka meminta aku untuk di antar kan pada orang tua nya yang egois. Kalau tidak pun mana sudi aku menjenguk orang orang yang sudah menyakitiku."
Mas Surya terdiam lalu menunduk kan wajahnya dan memegang kanan kiri kepalanya.
"Gara gara keegoisan kalian anak anak kalian menjadi korban nya. Kamu tau apa yang sedang terjadi ketika aku menemui kedua anak mu di rumah mu? mereka sedang di seret oleh dua orang depkolektor yang menagih hutang pada istrimu agar keluar dari rumah kalian."
Mas Surya mendongak lalu menatap serius ke arah ku." A..apa maksud mu?"
"Ya, istri mu memiliki hutang sebesar lima ratus juta pada seseorang dan orang itu mengambil paksa rumah kalian sebagai gantinya."
Mas Surya menatap bengong pada satu arah."Wanita itu.....mestinya ku bunuh saja." Ucap nya dengan geram.
Aku berdecak." Istighfar kamu mas, lihat anak anak mu yang masih kecil. Kalau kamu membunuh istrimu dan di penjara seumur hidup bagaimana dengan nasib mereka? keluargamu saja tidak ada yang menjenguk mereka. Aku heran sama orang tua mu, bukanya anak anak mu itu cucu yang paling di sayang oleh mereka dari pada cucu nya Zain? tapi kenapa mereka tidak menyusul anak anak mu ke rumah kalian? aku yakin mereka pasti sudah tau kabar tentang masalah mu dan istrimu."
"Jangan kamu sebut wanita laknat itu istriku lagi. Aku sudah menalaknya."
"Terserah kamu. Mau anggap mba Ipah itu istrimu atau bukan. Yang aku pikirkan disini adalah hidup anak anak kalian ke depannya bagaimana? Kamu yang di penjara entah berapa lama dan mba Ipah yang akan cacat seumur hidupnya. Apalagi sekarang kalian sudah tidak punya tempat tinggal."
Mas Surya terdiam dan seperti nampak berpikir.
"Papa tidak boleh di penjara. Kalau papa di penjara siapa yang akan merawat kami, pa?" Tiba tiba si cungkring bersuara.
"Aku menyesal Nuri, aku menyesal. Aku sudah membuang berlian yang sangat berharga demi sebongkah batu kali yang tidak harganya. Aku sudah menyakitimu demi menuruti kemauan wanita laknat itu." Ucap nya di tengah terisak. Kemudian dia mengelap mukanya dengan lengan baju.
Setelah itu dia menatap ku."Nuri, maafkan aku. Aku benar benar minta maaf. Aku salah. Aku sudah menyakiti mu dan Zain. Aku yang tidak pernah bersyukur memiliki istri sesempurna mu telah di butakan oleh ucapan bohong Ipah."
Aku mengernyitkan dahi ku."Ucapan bohong bagaimana maksud mu, mas?"
"Ipah telah membohongiku, Nuri. Aku pernah bilang sama kamu ketika kita masih suami istri kalau aku sedang terlilit hutang ratusan juta. Aku tertipu oleh orang yang akan menjadi pather bisnis ku. Dia bawa kabur uang dapat pinjaman dari seorang rentenir. Kamu tau Nuri, ternyata semua itu hanya akal akalan si wanita laknat itu. Rentenir yang meminjamkan uang itu ternyata adalah temannya dan uang itu sebenarnya milik Ipah dan orang yang akan bekerja sama dengan ku adalah teman nya juga atas suruhannya. Tujuannya adalah supaya aku merasa berhutang budi padanya karena dia membayarkan hutangku lalu meninggal kan mu dan kembali padanya."
"Bagaimana kamu tau hal itu mas?"
"Awalnya hanya sebuah feeling. Sikap Ipah berubah ketika aku tidak lagi bekerja setelah keluar dari penjara. Dia sering pulang malam namun setelah ku telusuri ternyata dia sering pergi dengan seorang laki laki namun saat itu aku belum tau siapa laki laki itu. Satu minggu ku biarkan saja namun semakin lama sikapnya semakin menginjak injak harga diriku. Sikapnya berubah seperti dulu saat aku belum menceraikan nya, kasar dan arogan. Di tengah aku sedang mencari pekerjaan tanpa sengaja aku melihatnya jalan dengan seorang pria yang sangat aku kenal. Pria itu yang tak lain adalah orang yang sudah membawa kabur uang ku. Pada saat ada kesempatan dan pria itu sedang tidak bersama ipah. Aku datangi dan menghajarnya dan lama lama dia mengakui dan bercerita bahwa semua itu hanya skenario Ipah."
Aku mengernyitkan dahiku mendengarnya.
"Kamu mau tau alasan aku nekat menyiramnya dengan air keras? dia memang pantas memiliki muka yang buruk rupa sesuai dengan hatinya yang sangat buruk."
__ADS_1
"Kenapa?"Aku cukup penasaran sama cerita mas Surya dan aku rasa dia memang sedang tidak mengada ngada.
"Setelah aku tahu tentang skenario masalah uang itu aku mencecarnya dan memakinya bahkan mengancam akan menjebloskannya ke penjara. Saat aku sedang mengamuk dia bersujud di kakiku memohon maaf dan mengakui kesalahannya. Dia bilang dia terpaksa melakukan itu karena dia sangat mencintaiku. Demi anak anak aku pun luluh karena aku pikir aku tidak ingin pernikahan ketiga ku ini gagal lagi dan berdampak pada anak anak. Masalah dia sering jalan dengan laki laki pun aku mencoba berpikir positif kalau mereka hanya sebagai teman tidak lebih seperti yang ipah akui. Pada saat malam Jumat, aku membuntuti Ipah ke suatu tempat dan ternyata tempat yang Ipah kunjungi adalah tempat seorang dukun. Aku mengintip dari celah kecil rumah nya serta mendengar percakapan mereka kalau Ipah menginginkan aku menjadi pria penurut lagi sama dia seperti dulu. Dari situ aku tau kalau dukun itu sudah membantu Ipah mengguna guna aku sejak dia tau kalau aku akan menikah denganmu Nuri."
"Hah! Apa kamu serius mas? Ipah minta bantuan dukun agar kamu nurut sama dia terus menelantarkan aku dan Zain?"
"Iya, demi tuhan aku tidak bicara bohong Nur. Kamu bisa tanyakan sama dukunnya langsung kalau kamu mau. Lagi pula hanya pria bodoh saja yang menyia nyiakan wanita sempurna sepertimu. Andai saja akal fikiran ku sehat dan tidak terpengaruh oleh jampe jampe Ipah pasti aku pun tidak akan bertindak bodoh."
"Tidak perlu mas, aku percaya kok. Tapi apa pun alasannya pada kenyataanya kita sudah resmi bercerai secara hukum dan agama. Apa yang menimpa padamu jadikan sebagai pembelajaran untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya. Dan satu hal lagi yang harus kamu lakukan mulai sekarang yaitu dekat kan diri mu sama Allah agar jiwa dan pikiranmu tidak mudah dikendalikan oleh hal hal yang berhubungan dengan setan atau pun Jin jahat seperti apa yang sudah terjadi padamu. Karena ibadah sholat itu bukan saja kewajiban seorang muslim tapi juga sebagai penangkal dari perbuatan perbuatan syirik."
"Iya Nur, kamu benar. Selama ini aku memang jauh sekali sama Allah. Aku tidak pernah melaksanakan sholat, aku juga tidak pernah melakukan ibadah yang lain sehingga setan mudah sekali memasuki fikiran dan jiwaku."
"Ya sudah mas, aku tidak bisa berlama lama selain waktunya terbatas, kasihan Zain terlalu lama menunggu ku."
"Zain, dimana Zain? kenapa kamu tidak membawa nya untuk menemui ku?"
"Zain sedang menungguku di luar."
"Sama siapa?"
"Sama.....calon suamiku."
Mas Surya menatap bengong padaku. Entah apa yang dia pikirkan." Kamu...kamu mau menikah Nuri?"
"Iya mas aku akan menikah Minggu depan."
"De...dengan siapa? apa apa aku mengenalnya?"
"Dengan seorang pria yang sangat tulus mencintai ku dan juga Zain anak mu."
Lagi lagi mas Surya tercengang melihat ku.
"Sudah selesai belum sayang?" Tiba tiba Raihan menyembul di balik pintu. Aku dan mas Surya menoleh ke arahnya dan lagi lagi mas Surya memancarkan wajah tercengang melihat Raihan.
"Iya, sudah." Lalu aku mengalihkan pandangan ku pada mas Surya." Itu...calon suami ku, pria yang mencintaiku aku tulus dan apa adanya."
Mas Surya menatap bengong padaku.
__ADS_1
"Ya sudah mas, aku permisi dulu dan anak anak mu akan aku titipkan pada keluargamu. Maaf aku tidak bisa merawat anak anak mu yang lain karena aku tidak enak hati pada calon suamiku yang sebentar lagi akan menjadi suamiku. Tapi tenang saja meskipun aku tidak merawat mereka, calon suamiku bersedia membiayai kebutuhan mereka hingga kamu keluar dari penjara." Setelah itu aku memanggil dua anak mas Surya untuk menyalimi mas Surya sebelum kami keluar dari kantor polisi.