Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Kado kejutan


__ADS_3

Acara telah usai dan satu persatu tamu undangan telah meninggalkan tempat acara. dalam hitungan menit sudah terlihat sepi dan hanya menyisakan keluarga serta kerabat dekat saja. Aku yang sedang duduk terpisah dari keluarga serta kerabat dekat di panggil oleh Elis." Mba Nuri sini gabung sama kita!"


Panggilan Elis dengan suara sedikit keras membuat orang orang yang sedang bersamanya ikut menoleh ke arahku. Aku tersenyum dan mengangguk kemudian beranjak dari kursi sambil menuntun Zain menuju arah mereka.


"Sini mba duduk!" titah Elis sambil menepuk sebuah bangku di sampingnya. Aku tersenyum ke arahnya dan duduk di atas kursi di samping Elis.


"Mba dan Zain belum makan kan ya? Sana ambil makanan di prasmanan dulu mba, biar Zain sama saya dulu," titah Elis lagi.


Aku menoleh ke arah meja prasmanan yang letaknya di dalam rumah kemudian bertanya pada Zain yang sedang berada di pangkuanku." Zain mau makan sayang?" Zain mengangguk." iya mama!" jawabnya. Wajar saja jika dia lapar karena jam sudah menunjukan pukul lima sore.


"Ya sudah mba Elis, saya ambil makanan dulu ya? saya titip Zain sebentar," ucap ku sambil berdiri lalu mendudukkan Zain di atas kursi.


"Iya mba, silahkan."


Aku berjalan melewati beberapa pasang mata yang sedang menatapku sambil menundukkan sedikit wajahku menuju masuk kedalam rumah untuk mengambil makanan yang sudah tersedia di meja prasmanan. Makanan yang sengaja di sediakan untuk para kerabat serta tetangga dekat yang datang ke acara ulang tahun Nano. Ketika aku sedang mengambil makanan tiba tiba sesosok tubuh jangkung dan kurus berdiri di samping ku dan hendak mengambil makanan juga. Aku menoleh ke samping, ternyata Danu suami adik kedua mas Surya.


Dia menyapaku sambil mengambil piring." mau makan mba?"


"Iya, Zain yang mau makan."jawabku, namun pandangan tetap fokus ke makanan yang tersedia.


"Kenapa tidak sekalian sama mba nya yang makan?" lagi diet ya?" tanya nya lagi. Sambil tersenyum lebar.


Aku tersenyum tipis dan menjawabnya."Saya masih kenyang mas."


"Owh, begitu. Tapi menurut saya meskipun mba makan banyak sepertinya tidak akan gemuk dan tetap langsing serta cantik."

__ADS_1


Aku hanya tersenyum tipis saja mendengar pujiannya. Setelah itu, aku pamit keluar duluan setelah selesai mengambil makanan. Aku tau dia memperhatikanku namun aku pura pura tidak tau saja.


Di saat sedang menyuapi Zain makan, Nano menghampiri Elis. Sambil bergelenjot manja di tangan Elis dia berkata,"mama Nano pengen buka kadonya sekarang boleh ya ma?" Bocah laki laki berusia enam tahun itu tidak sabar ingin membuka kado nya yang menumpuk di meja.


Rengekan nya terdengar jelas di semua telinga orang orang yang duduk di sekitaran Elis termasuk Ipah, mantan istri mas Surya. Kemudian dia berseru," Iya dong Elis, buka kado nya sekarang saja biar pada tau sodara sodara nya Nano memberi kado apa saja," Sambil melirik sinis ke arah ku yang sedang santai menyuapi Zain.


Elis tidak menanggapi seruan Ipah melainkan dia membujuk keinginan anaknya." Tapi kan masih banyak tamu sayang. Nanti saja ya kalau sudah sepi."


"Sekarang saja tante, biar ku bantuin buka kadonya," celetuk seorang bocah kurus yang ku ketahui sebagai anak pertama mas Surya atau anak tiri ku.


"Iya mama, Nano ingin buka kado sekarang saja," rengek Nano.


"Sudah Lis, turutin saja apa maunya Nano. Benar kata Ipah biar semua pada tau sodara sodara nya Nano ngasih kado apa saja," Ucap ibu mertua. Menyetujui pendapat mantan menantunya Ipah. Terlihat Ipah tersenyum lebar karena telah di setujui oleh mantan mertuanya.


"Horeee!" Nano bersorak gembira.


Elis menoleh ke arahku lalu berkata," bentar ya mba, saya turuti kemauan Nano dulu untuk membuka kado." Aku mengangguk lalu tersenyum tipis.


Elis menuntun Nano mendekati sebuah meja berisi tumpukan kado yang letak nya tidak jauh. Kemudian mereka mulai membuka satu persatu kadonya. Di tengah tengah sedang membuka kado, Ipah berseru kembali.


"Elis, bacakan yang keras dong siapa nama nama pemberi kadonya? siapa tau ada yang memberi kado besar tapi isinya hanya mainan lima ribuan," kemudian melirik ke arahku sambil mencebik kan bibirnya. Aku hanya menggoyangkan kepalaku saja karena tak mengerti dengan sikap mantan istri suamiku.


Elis menuruti keinginan Ipah. Dia pun mulai membacakan satu persatu nama nama yang tertera di luar pembungkus kado. Saat tiba giliran kado pemberian ipah lalu di buka oleh Elis nampak mainan robot. Sambil tersenyum sumringah dan dengan bangga dia berkata," itu aku beli khusus untuk Nano lho Lis, harganya saja mahal seratus lima puluh ribu." Lagi lagi dia melirik ke arah ku, entah apa maksudnya.


"Oh, ya mba Ipah, makasih ya!" ucap Elis lalu menyimpan robot yang berukuran kecil.

__ADS_1


Elis mulai membuka kado lagi dan tiba pada kado terakhir Nama Zain di sebut oleh Elis Kemudian dia membukanya.


"Hore...hore...mobilan remote, akhirnya aku punya mobilan remote." Teriak Nano sambil loncat loncat. Dia terlihat girang sekali.


"Wah, Zain. Ini kadonya mewah sekali," seru Elis dengan suara sedikit tinggi sehingga semua orang menoleh ke arahnya.


"Ini kan mobil remote harga nya mahal banget, dan ini mobil remote pintar yang di inginkan oleh Nano sejak dua bulan yang lalu tapi belum kesampaian soalnya mahal banget harganya nyampe tiga juta lima ratus," sambung Elis kemudian.


Aku tercengang mendengar berapa harga mobilan remote pemberian Raihan untuk Zain yang telah di sebutkan oleh Elis. Aku pikir harganya tak lebih dari lima ratus ribu karena aku sendiri tak tahu menahu tentang harga mobilan remote karena aku sendiri tidak pernah membelinya.


Semua orang menoleh padaku hanya karena memberikan kado mainan mahal pada Nano. Termasuk Ipah yang terlihat dadanya naik turun seperti menahan kesal. Begitu pula dengan ibu dan bapak mertua serta sodara sodara yang lain dengan ekspresi dan pemikiran yang berbeda beda.


"Nano harus bilang terima kasih sama Tante Nuri dan Zain, karena akhirnya Nano bisa memiliki mobilan remote ini," titah Elis pada Nano.


Dengan mata berbinar binar Nano berlari ke arah ku dan Zain lalu memeluk ku kemudian menciumi Zain sambil berucap," terima kasih ya Tante, Zain, kadonya. Nano suka sekali."


Sambil mengelus pucuk kepalanya aku menjawab,"sama sama sayang."


Acara telah usai, aku pun pamit pulang pada Elis. Awalnya Elis memintaku menginap saja namun aku menolaknya dengan alasan aku banyak kerjaan.


"Gimana ya mba Elis, aku sebenarnya ingin nginap tapi aku banyak kerjaan di rumah. Maklum, aku ini kan orang sibuk bukan seorang pengangguran seperti yang orang orang bilang dengan ke sok tahuannya tentang ku,"ucap ku dengan suara di tinggikan karena aku sengaja agar mantan istri suamiku serta ibu bapak mertua tidak lagi menyebutku sebagai seorang pengangguran yang mentergantungkan hidupnya pada mas Surya dan juga agar mereka tidak mengira kalau kado yang aku berikan pada Nano bukanlah uang pemberian mas Surya melainkan uangku sendiri meskipun sebenarnya pemberian Raihan.


Setelah itu, aku menyalami satu persatu orang orang yang ada di sana sebelum kembali pulang ke rumah ku. Tiba giliran bersalaman dengan Ipah, dia membuang muka dan pura pura sibuk memainkan ponselnya.


Aku tersenyum melihat tingkahnya lalu berucap," well, bukan hal yang penting." Kemudian bergegas pergi sambil menuntun Zain tanpa menoleh lagi ke belakang.

__ADS_1


__ADS_2