
Nura serta ketiga temannya memasuki butik sembari tertawa seperti sedang menertawakan pembicaraan yang lucu. Namun seketika itu pula Nura menghentikan gerakan langkahnya serta tawanya ketika melihat keberadaan kami yang sudah lebih dulu berada di dalam butik itu yang hanya berjarak tiga meter dari nya.
Nura mematung dan wajah nya nampak terkejut namun tak lama wajah itu berubah menjadi wajah angkuh serta tatapan sinis ke arah kami. Aku yakin dia pasti masih kesal atas perlakuan Raihan yang telah menamparnya ketika berada di sebuah bar di atas rooftop.
"Lho, bukannya itu Raihan pacar lo ya Ra? kok dia ada di sini sama cewek cantik pula." Salah satu teman Nura tiba tiba berceloteh namun Nura tidak meresponnya melainkan tambah memandang sinis ke arah kami.
Aku menelan saliva ku mendengar ucapan temannya itu. Mereka beranggapan bahwa Raihan masih kekasih Nura. Ku lirik Raihan, wajahnya nampak datar melihat mereka. Setelah itu, dia mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang baru ku ketahui sebagai pemilik butik yang kami kunjungi.
"Apa kami bisa fitting khusus gaun pengantin dalam waktu dua Minggu, mba Raya?" Tanya raihan.
Ekor mataku melirik pada Nura, wajah angkuhnya berubah kembali menjadi wajah terkejut mendengar pertanyaan Raihan pada pemilik butik.
"Apa pernikahan mas Rai dan mba Nuri akan berlangsung dua Minggu lagi?" Mba Raya balik bertanya.
"Benar mba, inshaallah kami akan melangsungkan pernikahan dalam dua Minggu ini."
"Apa menikah!"ucap lantang salah satu teman Nura kemudian saling pandang dengan temannya yang lain lalu pandangan mereka beralih ke arah Nura yang wajah nya sudah nampak memerah.
"Ra, bukan nya kemarin Lo bilang kalau lo mau nikah sama Raihan dalam waktu dekat? tapi kok mau nikahnya sama wanita itu?" Tanya salah satu temannya." Iya Ra, sebenarnya dia itu pacar lo bukan sih? kok kayak bukan pacar lo kalau gue perhatikan." Teman yang satunya pun ikut bertanya dengan nada memojokkan. Nura melirik kesal ke arah dua temannya itu lalu melirik ke arah kami kembali.
"Kalian mau tau? Wanita itu adalah pelakor yang sudah merebut Raihan dari gue." Ucap lantang Nura sembari menatap tajam ke arah ku.
Aku tersentak mendengar ucapan lantang serta tatapan kebencian darinya. Dia menganggap aku adalah pelakor yang sudah merebut Raihan darinya.
"Apa pelakor!"ucap temannya itu.
"Iya, dia pelakor berstatus janda miskin yang..."
Plaak
"Aw, aduh!" Nura mengaduh serta meringis sembari memegang kepalanya yang terkena lemparan mainan milik Zain. Aku cukup terkejut melihat perlakuan Raihan yang telah melempar mainan itu ke arah Nura sehingga mengenai kepalanya.
Kedua teman Nura pun tak kalah terkejutnya dengan ku lalu saling pandang satu sama lain. Entah apa yang mereka pikirkan tentang perlakuan Raihan.
"Jangan asal ngomong kamu Ra, sekali lagi kamu mengatai calon istriku pelakor bukan kepalamu saja yang ku lempar dengan mainan anak ku tapi mulut mu yang akan aku lempar dengan sepatu ku."Ucap geram Raihan.
Nura nampak membesarkan pupil matanya sembari memegang kepalanya mendengar ancaman Raihan. Ekspresi yang cukup terlihat lucu menurutku. Perlakuan Raihan sepertinya di luar dugaannya dan apa yang telah Raihan lakukan cukup membuatnya malu pada dua temannya itu.
"Apa tadi, kamu sebut anak kecil itu anak mu?" Tanya salah satu teman Nura. Nampak dia penasaran sekali mendengar pengakuan bohong Raihan.
"Iya, anak ku. kenapa? apa kamu tidak melihat kemiripan kami?"
Dua teman Nura terdiam dan memperhatikan wajah Raihan dan Zain."Tapi Nura bilang kalian...."
"Jangan di dengar omong kosong wanita itu. Asal kalian tau saja kalau aku sama sekali tidak pernah menganggap dia kekasihku apalagi calon istri ku. Berkhayal menikah dengannya saja aku tidak pernah. Dia saja yang berlebihan meminta aku untuk menjadi kekasihnya dan mengharap lebih dariku. Dan satu hal lagi yang harus kalian tau bahwa calon istriku ini bukan seorang pelakor. Aku sudah menjalin hubungan dengannya jauh sebelum aku mengenal teman kalian yang pembohong itu."
Kedua temannya nampak mengerutkan keningnya lalu menoleh pada Nura."Berarti kemarin lo bicara bohong dong sama kami kalau lo akan menikah dengan Raihan." Ucap salah satu temannya." Ya ampun Nura, kok lo bohong sih sama kita. Terus Lo ngapain membawa kami ke butik ini kalau omongan Lo saja hanya halu." Teman yang lain ikut memojokkan nya.
Nura yang merasa terpojok berubah sikap salah tingkah. Nampak nya dia merasa malu pada kedua temannya karena sudah bicara bohong pada mereka. Dan dalam keadaan terpojok Nura menghentak kan kaki nya lalu pergi begitu saja meninggalkan dua temannya itu.
Dua wanita itu saling pandang lalu geleng-geleng kepala melihat punggung Nura yang sedang berjalan ke arah pintu. Setelah itu, mereka pun pergi menyusulnya.
"Mas Rai, bagaimana kelanjutan masalah gaun pengantin?" Tiba tiba pemilik butik itu bertanya. Aku dan Raihan mengalihkan pandangan kami padanya.
__ADS_1
"Ya mba, maaf kami sudah membuat kekacauan di butik mba."
"Tidak apa apa mas Rai, lagi pula mereka duluan yang berulah. Emm terus bagaimana apa mau fitting khusus atau fitting gaun yang sudah tersedia saja."
"Rai, apa sebaiknya memilih yang sudah jadi saja? waktunya sudah terlalu mepet. Aku takut mba Raya keteter nanti." Aku memburu usul.
"Tapi aku ingin memberikan yang special untuk mu sayang."
"Rai, kamu membawaku ke butik ini saja sudah melakukan yang amat special."
"Tapi apa mba tidak keberatan kalau memakai gaun pengantin yang ada bukan yang khusus?"
"Kenapa harus keberatan. Aku yakin gaun di di sini bagus bagus dan mahal harganya."
"Ya sudah kalau itu mau nya mba." Raihan melirik ke arah mba Raya." Calon istriku ini ingin gaun yang sudah jadi saja mba. Em, tolong pilihkan gaun yang terbagus dan termahal di butik ini ya mba."
"Siap mas Rai." Kemudian mba Raya mengajak kami ke area khusus gaun pengantin. Setelah berada di area itu aku cukup kagum melihat bermacam macam model gaun pengantin yang nampak anggun dan cantik. Mba raya menjelaskan satu persatu tentang gaun pengantin yang terpajang dan di bantu oleh seorang staf nya.
Ketika mba Raya menjelaskan secara detail dari sekian banyaknya gaun yang terpajang, sorot mataku tertuju pada satu gaun yang menurutku benar-benar berkelas, elegan dan sangat cantik. Sebuah gaun pengantin berwarna putih susu dengan segala manik manik nya.
"Gimana kalau aku pesan yang ini saja, Rai?" Aku minta pendapat nya. Raihan yang sedang berdiri di sampingku memperhatikan gaun indah itu dari leher hingga ujung yang menjuntai hampir ke lantai.
"Emm, bagus juga sayang. Apa mba mau yang ini?"
Aku mengangguk.
"Mba Raya istriku ingin gaun yang ini." Mba Raya mendekati kami.
Setelah mencobanya dan sangat pas di tubuhku, Raihan memesan gaun itu gaun pengantin yang aku pilih sendiri dengan tiga puluh lima juta. Awal nya aku ingin mengurungkan karena harga nya terlalu mahal namun Raihan tetap saja memesan gaun itu dan tidak mempedulikan soal harga.
Raihan melirik di tengah mengemudi."Kenapa sayang?"
"Emm, pernikahan kita nanti akan di adakan dimana?"
"Kalau di adakan di Jakarta kira kira mba setuju tidak?"
"Di Jakarta?"
"Iya, soalnya kenalan aku banyak di Jakarta mba. Tapi kalau mba tidak setuju pun tidak masalah. Dimana pun tempatnya yang terpenting kita bisa menikah kan."
"Aku...serahkan semuanya sama kamu saja Rai. Terserah kamu mau dimana dan bagaimana konsepnya."
"Benarkah?"
Aku mengangguk. Aku rasa memang lebih baik ku serahkan semua nya pada Raihan karena dia yang menginginkan sebuah pesta pernikahan dan dia pula yang akan mendanai pernikahan kami. Lagi pula di kampung pun aku tidak memiliki banyak teman yang ada hanya langganan kerupuk saja. Mungkin nanti di kampung aku akan mengadakan syukuran kecil kecilan saja.
"Apa kita akan kembali ke hotel lagi, Rai?"
"Mba mau nya kita kembali ke hotel atau.."
"Kalau aku ingin pulang kampung gimana?"
"Kenapa harus buru buru sih mba, memang nya mba tidak kangen sama aku?"
__ADS_1
"Bukan begitu Rai, tapi kerjaan ku.."
"Mba tidak usah khawatir aku sudah menyuruh bang Supri serta teman mba yang sotoy itu untuk mengurus pabrik mba selama di Jakarta."
"Hah, menyuruh bang Supri. Kok bisa kamu.."
Sambil mengemudi Raihan menggaruk tengkuk nya dan tersenyum nyengir.
"Jadi selama ini kalian..."
"Ehem, Iya deh aku mau ngaku kalau selama mba marah sama aku, aku sering bertukar informasi dengan bang Supri. Jadi meskipun aku tidak melihat mba secara langsung tapi lewat bang Supri aku tau kegiatan mba di kampung. Mba tau, galeri ponsel ku penuh dengan foto foto kegiatan mba he he."
Pantas saja bang Supri seringkali memotret kegiatanku dalam keadaan sadar atau pun tidak ternyata foto foto itu dia kirimkan ke Raihan.
"Kalian itu, memang ya sama sama nyebelin."
Raihan tertawa renyah.
"Tapi bagaimana caranya kamu mengambil Zain, Rai? apa bang Supri yang mengantarkan nya ke kamu?"
"Bukan."
"Lantas?"
"Aku sendiri yang mengambil Zain saat mba tertidur."
"Kok bisa kamu dan aku tidak sadar. Apa ibu ku tau?"
"Tau, tapi bang Supri memberi uang tutup mulut."
"Sumi?"
"Tidak, teman mba yang satu itu kan rese. Kalau dia tau pasti akan memberitahu mba kalau aku yang menculik Zain."
Sumi memang kurang suka pada sikap Raihan yang dingin saat bertemu di rumah sakit pada waktu ibu Mariam di rawat di rumah sakit. Begitu pula dengan raihan. Namun setelah aku menceritakan bahwa yang membayari biayai rumah sakit ibunya adalah raihan, Sumi tidak lagi kesal padanya.
Di tengah asik mengobrol tidak terasa kami sudah berada di basemen apartemen Raihan.
"Kamu membawa kami ke apartemen mu, Rai?" Tanyaku saat Raihan membuka sabuk pengamannya.
"Apa mba mau kita nginap lagi di hotel?" Raihan balik bertanya.
Aku menggeleng cepat.
"Kenapa?"
"Tidak apa apa. Aku...aku hanya tidak ingin kita satu kamar saja."
Raihan tersenyum."Mba tidak perlu khawatir. Meskipun kita satu kamar aku tidak akan tega menodai mba sebelum mba menjadi pasangan sah hidup ku."
"Bu..bukan itu maksud ku. Aku..aku percaya kok sama kamu. Hanya saja apa kata orang kalau melihat kita tidur satu kamar bisa jadi bahan gunjingan orang."
"Ha ha ha." Raihan tertawa lepas. Aku kesal melihatnya menertawakan aku.
__ADS_1
"Sayang, ini di kota bukan di kampung. Tidak akan ada yang peduli orang mau berbuat apa sekalipun tinggal satu rumah tanpa adanya ikatan pernikahan. Tidak akan ada gunjingan atau ghibahan para tetangga. Hidup di kota itu individual, hidupnya masing masing dan tidak akan ada yang peduli pada urusan masing masing ya meskipun sebenarnya masih ada orang orang yang suka mencampuri hidup orang lain tapi hanya sebagian kecil saja."
Apa yang di katakan Raihan itu benar apa lagi orang orang yang tinggalnya di apartemen. Jangankan ghibah atau rumpi, bertegur sapa antar tetangga satu flat saja sangat jarang sekali ada.