Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Mencari bukti


__ADS_3

Sembari berjalan cepat dan tersenyum, Oma merentangkan kedua tangannya mengarah pada kami.


"Nuri, Zain, eyang rindu sekali sama kalian," kata Oma dengan senyum senang yang tak lepas dari bibirnya.


Aku membalas senyumannya lalu menerima tubuh tua nya. Kami saling berpelukan menumpahkan rasa kerinduan baik aku mau pun Oma.


"Kenapa kalian baru berkunjung kemari? padahal Oma hampir tiap hari mengharap kalian datang."


"Maaf Oma, Nuri baru sempat nya sekarang."


"Kamu itu, apa benar benar wanita sibuk?"


"Sangat Oma." Raihan menyahuti.


Kemudian Oma melirik ke arah Raihan yang sedang menggendong Zain lalu Raihan memberikan senyuman termanisnya pada Oma. Namun Oma hanya tersenyum samar saja padanya. Setelah itu dengan rasa tidak sabar, Oma mengambil paksa Zain dari tangan Raihan.


Wajah Raihan menekuk." Oma ini tidak ngomong dulu kalau mau mengambil anak ku."


"Terserah Oma lah, Zain ini cicit ku."


"Bukan begitu Oma, saya kasihan sama Oma, Zain ini berat biar saya saja yang menggendong."


Oma melirik kesal pada Raihan." Meskipun aku ini sudah terlihat tua renta tapi aku ini masih memiliki tenaga yang tidak kalah kuat dari kamu," ucap Oma sedikit meremehkan tenaga Raihan. Nampak jakun Raihan naik turun melihat Oma. Sementara aku tersenyum saja melihat mereka.


"Ya sudah Nuri ayok masuk," ajak Oma lalu dia berjalan lebih dulu.


Aku mengangguk kemudian mengekor di belakang nya begitu pula dengan Raihan tapi tidak dengan dokter Bayu.


"Oma!" panggil dokter Bayu yang ada di belakang kami. Oma, aku dan Raihan pun berbalik.


"Kenapa Bayu?" Tanya Oma.


"Bayu harus ke kabupaten sekarang Oma, banyak pasien yang sedang menunggu."


"Tapi sedang ada tamu bayu."


"Tidak, apa Oma. Menyelamatkan nyawa seseorang jauh lebih penting dari pada hanya sekedar menerima tamu yang tidak penting," kata Raihan dan dokter Bayu melirik kesal padanya.


"Ya sudah kalau begitu. Kamu hati hati ya!"


Dokter bayu pun tersenyum pada Oma tapi tidak pada kami. Aku bingung pada sikapnya yang tidak lagi hangat padaku apalagi pada Raihan. Apa jangan-jangan dokter Bayu suka aku dan cemburu pada Raihan? tanpa sadar aku geleng-geleng kepala menepis pemikiran itu.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Raihan. Ternyata dia memperhatikan gestur tubuhku.


"Oh, tidak apa apa." Aku tersenyum canggung.

__ADS_1


"Ya sudah yuk masuk," ajak Oma tiba tiba. Kami pun mengangguk dan mengikutinya.


Oma mempersilahkan kami duduk di atas sofa kemudian memanggil salah satu ART untuk membuatkan air minum untuk kami.


"Apa ada hal yang sangat penting hingga kalian ingat datang ke mari?" Tanya Oma dengan nada menyindir.


Aku dan Raihan saling pandang. Aku sendiri bingung apa tujuan aku datang ke rumah ini karena Raihan lah yang mengajak aku. Aku pun memilih diam dan membiarkan Raihan saja yang berbicara.


"Emm, begini Oma. Kedatangan kami kesini selain untuk bersilaturahmi juga ingin menanyakan sesuatu sama Oma," kata Raihan. Aku tidak tau apa yang akan di bicarakan pada Oma karena Raihan pun tidak memberi tahu aku sebelumnya.


"Menanyakan sesuatu, soal apa itu?"


Sejenak Raihan terdiam namun tak lama dia bertanya. Sembari menunjuk pada gelang yang di pakai oleh Zain." Apa Oma mengenal gelang yang ada di tangan Zain?"


Oma mengernyitkan keningnya yang sudah mengkerut lalu memegang tangan Zain yang terdapat gelang. Kebetulan Zain sedang di pangku olehnya.


Dia memperhatikan gelang itu secara detail. Aku menunggu jawaban nya dengan perasaan was was. Namun tak lama kemudian dia menggeleng.


"Oma tidak tau gelang itu. Oma baru kali ini melihatnya."


Aku terdiam begitu pula dengan Raihan.


"Apa Oma yakin?" Raihan memastikan Oma kembali.


"Iya yakin, Oma baru kali ini melihatnya. Memang ada apa dengan gelang ini?"


"Mencari pemilik gelang itu? bukan kah itu gelang milik Nuri?"


Raihan mengangguk.


"Ada hal lain yang ingin saya tanyakan lagi sama Oma?"


"Apa lagi?"


"Apa anak ke dua Bu Hanum yang baru di lahir kan itu benar-benar sudah meninggal?"


"Iya, dia sudah meninggal. Saya sendiri melihat wajahnya dan melihat pemakaman nya bersamaan dengan memakamkan ibunya."


"Rai, kamu kenapa harus tanya-tanya sama Oma?" Tanyaku.


Raihan diam.


"Sebenarnya ada apa ini Nuri?" Oma bertanya padaku.


"Itu...."

__ADS_1


"Pertanyaan saya yang terakhir Oma. Tolong beritahu saya di rumah sakit mana ibu Hanum melahirkan?"


"Ada apa ini? kenapa kalian tanya tanya tentang almarhum anak saya?" Suara Oma mulai meninggi. Mungkin dia kesal Raihan telah mengungkit anak nya yang sudah meninggal dan menyisakan kepedihan mendalam.


"Maaf Oma, bukan maksud saya seperti itu. Saya.....hanya ingin membantu mencari orang tua calon istri saya ini."


Aku sedikit membulatkan mataku melihat Raihan. Jadi dia minta di antarkan ke rumah Oma untuk mencari tau asal usulku.


"Apa maksud mu?"


"Saat Nuri bayi, dia di temukan oleh seseorang di tempat pembuangan sampah di sertai gelang itu."


Oma nampak tercengang melihatku. Entah apa yang dia pikirkan.


"Dan Oma tau, semenjak pertama kali dia ke rumah ini dan melihat sebuah foto wanita yang mirip dengannya, dia sering kali di halusinasi oleh sosok nya dan terkadang melalui mimpi aneh."


Oma semakin tercengang bahkan mulutnya terbuka lebar.


"Bukan kah usia wafatnya anak Oma itu dua puluh tujuh tahun yang lalu? Apa Oma tau berapa usia Nuri sekarang? usianya sama dengan wafatnya anak Oma."


Oma menatap lekat wajah ku dengan mata tua yang sudah berkaca kaca. Kemudian, dia meraih wajahku.


"Apa Oma tau siapa nama lengkap Nuri?


Oma menggeleng dengan arah wajah yang tak berpaling dari wajahku.


"Nama lengkap nya sama dengan nama yang ada di balik gelang itu Oma. Nuri Aisha B. Bukan kah di batu nisan cucu Oma itu bernama Nuri Aisha Bagaskara? dan saya yakin inisial B yang terdapat di gelang itu adalah Bagaskara bukan Baharudin.


Seketika itu pula wajah ku mengalih pada Raihan. Apakah benar aku ini anak pak Bagas dan ibu Hanum cucu dari Oma? Tapi..tapi rasanya mustahil. Mereka semua menganggap aku sudah mati dan mereka pun melihat jenazah nya.


Oma semakin lekat menatap ku dan air matanya sudah tumpah satu persatu.


"Apa, apa mungkin kamu adalah bayi yang di lahir kan oleh Hanum dua puluh tujuh tahun yang lalu? Tapi.....tapi....bayi itu sudah meninggal dan aku melihat sendiri jenazah nya."


Aku pun ikut menangis melihat Oma mengeluarkan air mata. Besar harapan ku bahwa wanita tua ini adalah Oma ku. Tapi..apa mungkin aku cucunya sementara dia mengatakan bahwa cucunya sudah meninggal dan dia melihat sendiri jenazah nya.


"Kita lakukan tes DNA dan melakukan pembongkaran makam saja, Oma."


Kami melihat ke arah sumber suara ternyata dokter Bayu sudah berdiri dengan jarak cukup dekat dengan kami. Aku tidak tau sejak kapan dia berdiri di situ karena kami tidak mendengar kedatangan nya.


"Bayu.." ucap Oma.


"Yah, aku setuju dengan ide dokter Bayu. Tapi kalau untuk melakukan tes DNA kita harus menunggu pak Bagas pulang dari luar negeri dulu," kata Raihan.


"Bagaimana kalau kita bongkar saja dulu makamnya sambil menunggu papa pulang." Dokter Bayu memberi saran.

__ADS_1


Raihan mengangguk.


Tiba tiba Oma memeluk ku." Siapapun kamu, Oma sudah menganggap kamu seperti cucu Oma sendiri Nuri. Tapi Oma berharap kamu benar benar cucu Oma." Oma menangis memeluk ku. Begitu pula dengan ku ikut menangis. Apa yang Oma harapkan sama hal nya dengan ku. Bukan karena Oma orang kaya hingga aku ingin di akui tapi terlebih pada sikap Oma yang sangat hangat padaku.


__ADS_2