Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Eksekusi 2


__ADS_3

Aku memperhatikan ketiga orang berbadan kekar itu mengangkuti semua barang yang ada di dalam dapur. Mulai dari kulkas, mesin cuci, meja makan, dispenser, kompor hingga perabotan masak dan pecah belah tanpa ada yang tersisa. Setelah dapur selesai, mereka mulai mengangkuti barang-barang di tempat lain seperti TV dan sofa.


Aku heran pada semua orang yang sedang tidur di kamar. Mereka sama sekali tidak merasa terusik dengan suara orang-orang maupun benda-benda yang saling bersahut sahutan.


"Nuri, di dapur, ruang tamu, ruang TV dan kamar ku semua nya sudah terangkut," lapor bang Supri padaku ketika aku sedang berbicara dengan salah satu polisi.


Aku menoleh padanya." Apa orang-orang yang sedang tidur itu belum bangun juga?"


"Belum, Nur."


Aku mendengus kesal." Sebenarnya mereka itu manusia apa kerbau sih?"


Pak polisi yang sedang berbicara dengan ku tersenyum lebar.


"Bangun kan secara paksa saja bang Supri, sebelum mereka tertimpa reruntuhan bangunan. Sebentar lagi mobil beko akan sampai."


"Iya Rai." Kemudian bang Supri dan tiga orang kekar itu masuk ke dalam rumah.


Beberapa menit kemudian terdengar suara keributan dari dalam. Aku dan Raihan saling pandang kemudian masuk ke dalam rumah dan di ekori dua orang polisi.


Setelah berada di dalam, kami tak langsung menampakan diri melainkan menguping dan mengintip di ruang tamu. Nampak bang Supra sedang di tahan salah satu orang suruhan ku karena dia hendak menyerang bang Supri. Begitu pula dengan ibu serta mba Parmi pun ikut serta di sana menyerang bang Supri namun di tahan pula oleh dua orang lainnya. Tapi aku tidak melihat keberadaan kedua anak mereka.


"Brengsek kamu Supri, brengsek kamu. Dasar adik tidak tau diri. Berani nya kamu memperlakukan kami seperti ini." Bang Supra sangat murka. Muka nya merah padam menatap nyalang bang Supri.


"Dasar anak durhaka kamu Supri, aku sudah susah payah melahirkan kamu, ngasih makan kamu hingga kamu hidup dan besar. Ini balasan mu sama aku Supri,"bentak ibu.


Bang Supri mendengus."Andai tuhan ngasih tau aku kalau aku akan di lahir kan dari Rahim seorang perempuan licik dan picik seperti ibu akan aku katakan padanya jangan lahir kan aku."


"Dasar anak durhaka tak tau bersyukur. Sudah susah payah aku memberi kamu makan sampai besar. Kalau tau setelah besar kamu melawan ku aku tidak sudi membesarkan kamu."

__ADS_1


"Apa tadi ibu bilang, ibu ngasih makan aku hingga aku besar? Apa selama ini ibu pernah bekerja dan menghasilkan uang? dulu, waktu bapak masih ada, bapak lah yang ngasih makan aku, ngasih makan kita semua. Tapi setelah bapak meninggal aku tau siapa yang memberi aku makan. Nuri, Nuri yang ngasih aku makan, Nuri yang banting tulang nyari duit untuk makan aku, bang Supra begitu pula ibu. Aku ingat ibu selalu menyuruh nya jualan barang barang yang tetangga percayakan sama ibu tapi ibu malah menyuruh Nuri yang berjualan. Dan aku ingat hukuman apa yang selalu ibu berikan padanya kalau jualannya kurang laku. Mestinya kalian sadar sama perbuatan kalian. Tanpa Nuri mungkin kalian sudah menjadi pengemis di jalanan."


Hening


"Halah, jangan sok nasehati kami dan sok tau tentang si anak sampah itu kamu brengsek. Si anak sampah itu hanya pembawa sial buat keluarga kita." Ucapan hinaan bang Supra cukup membuat dadaku sesak dan tangan ku pun mengepal.


Ku ambil sebuah gelas terbuat dari kaleng dan sedang tergeletak di atas lantai. Mungkin gelas itu merupakan mainan anak bang Supra.


Prenggg


Gelas itu ku banting hingga menimbulkan suara pantulan yang cukup keras hingga mengejutkan semua orang termasuk anak anak bang Supra. Kemudian aku memunculkan diriku dan di ikuti oleh Raihan serta dua orang polisi itu.


Kehadiran kami sangat mengejutkan mereka apalagi aku membawa dua orang polisi.


Nampak bang Supra tercengang dengan mulut terbuka lebar melihat ke arah kami. Begitu pula dengan istrinya yang tak kalah terkejut.


"Cepat kalian ambil barang barang kalian sebelum tertimbun reruntuhan," kata ku sembari menatap tajam pada mereka.


"A..apa maksud mu, anak sampah," ucap bang Supra.


Aku kembali mengepal kan kedua tanganku, emosi ku memuncak. Rasa nya aku ingin sekali merobek mulut nya.


"Cepat kalian kemasi barang kalian sebelum aku menghancurkan rumah ini," ucap ku meninggi.


Ibu membelalak kan matanya nyaris keluar. Begitu pula dengan mba Parmi. Sementara bang Supra menatap nyalang padaku.


"Brengsek kau Nuri. Dasar tidak tau terima kasih dan balas Budi."


"Ha ha ha. Balas budi! balas budi sama siapa? kalian? aku berhutang budi sama bapak bukan sama kalian. Justru kalian yang berhutang budi sama aku, memerah aku dari kecil dan sekarang menempati rumah ku."

__ADS_1


"Ini rumah di bangun di atas tanah bapak ku. Jadi kamu tidak punya hak mengungkit atau menguasai rumah ini."


"Aku tidak akan menguasai rumah ini, aku cuma mau menghancurkan nya saja karena seperti yang kalian katakan kalau rumah ku ini di atas tanah milik kalian. Jadi nanti kalian bisa bangun ulang tanpa ku ungkit."


"Ja...jangan Nuri, jangan lakukan itu. Kalau di robohkan kami mau tinggal dimana?"


"Ibu dan bang Supra bisa membangun ulang."


Ibu geleng-geleng kepala." Dari mana kami punya uang untuk membangunnya Nuri."


"Terserah. Kalian kan punya otak, gunakan otak kalian untuk mencari uang dengan cara yang benar jangan hanya di gunakan untuk berpikir bagaimana caranya menyingkir kan aku dari rumah ini agar kalian bisa menguasai rumah serta pabrik ku." Aku menyindir mereka dan hal itu cukup mengejutkan mereka. Mungkin mereka bertanya tanya dalam benaknya, dari mana aku tau tentang rencana mereka.


"Nuri....ibu..."


Ibu menangis dan aku tau dia hanya pura pura menangis.


Kemudian aku menoleh pada dua orang polisi." Tolong bantu aman kan mereka pak, saya sudah sangat malas melihat dua orang ini.


"Siap bu." Kemudian dua polisi itu menuruti ku. Yang satu mendekati bang Supra yang sedang di pegang erat oleh salah satu orang suruhan ku lalu memborgol tangannya. Awalnya dia melakukan perlawanan tapi tenaga nya kalah kuat dari orang suruhan ku. Dia pun pasrah ketika tangan nya di borgol. Dan polisi satu nya memborgol ibu. Aku sengaja meminta mereka di borgol agar tidak mengacau kan ketika rumah di robohkan.


Tak ada satu kata kalimat maaf yang keluar dari mulut mereka yang ada hanya umpatan dan cacian. Andai saja mereka mau meminta maaf yang tulus dan menyadari kesalahan mereka, aku bisa saja membatalkan eksekusi. Namun nyatanya tidak sama sekali.


Aku menyuruh mba Parmi agar membawa anak anaknya keluar. Dua polisi itu pun membawa bang Supra yang nampak sangat marah dan ibu yang sedang menangis meraung keluar rumah. Tapi aku rasa kali ini ibu benar benar menangis dan aku tidak peduli sebelum kata maaf itu keluar dari mulutnya.


Setelah kami keluar dan sudah di pastikan tidak ada barang barang yang tertinggal termasuk milik mereka. Excavator mulai merobohkan rumah dan pabrik ku.


Aku melihat pada ibu yang sedang menangis meraung hingga bergoleran di atas tanah. Aku juga melihat mba Parmi sedang menangis sambil memeluk kedua anaknya. juga, aku melihat bang Supra menangis duduk di tanah dan menumpukan muka nya di kedua lutut yang menekuk.


Aku heran pada mereka. Apa kah sekeras itu hati mereka? sedikit pun tidak ada penyesalan dan tidak ada kata maaf yang mereka ucapkan padaku.

__ADS_1


__ADS_2