Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Perdebatan dengan Risa


__ADS_3

Setelah kepergian mas Surya aku menghitung jumlah uang yang telah di berikan olehnya sebelum dia pergi. Ku hitung lembar demi lembar uang lima puluh ribuan yang masih terlihat baru mungkin dia baru menariknya dari mesin ATM.


"Lima ratus ribu," ucap ku lirih.


"Seperti Nominal nafkah bulanan. Apa uang ini merupakan pengganti nafkah yang tidak dia berikan padaku dua bulan terakhir?" Aku menerka sambil berfikir.


Drtt..drtt..


Ponsel bergetar di dalam laci. Aku segera bangkit lalu mengambilnya. Sebuah pemberitahuan dari m banking bahwa uang satu juta telah masuk ke akun rekeningku.


Drtt..drtt..


Tak lama kemudian pesan dari mas Surya menyusul dan aku segera membacanya.


"Uang satu juta sudah aku transfer sayang. Itu sebagai uang nafkah ku selama dua bulan ini yang belum aku berikan padamu. Sementara uang yang ada di tanganmu merupakan bonus untuk mu karena kamu sudah melayani suami mu ini sampai puas."


Aku memejamkan kedua mataku merasakan perasaanku saat ini. Antara senang dan sedih. Senang karena mas Surya telah memberikan uang nafkah yang belum dia berikan padaku selama dua bulan terakhir meskipun nominalnya tidak ada penambahan melainkan tetap lima ratus ribu. Dan sedih karena dia telah memberikan bonus berupa uang ketika aku bisa memuaskannya di atas ranjang saja. Mas Surya seperti menganggap ku sebagai seorang pe la cur yang di pakai lalu di bayar setelah puas.


"Mama..mama..!" teriak Zain di luar kamarku. Aku meletak kan ponselku kembali di dalam laci dan meletak kan uang di atas meja begitu saja.


Ketika aku membuka pintu kamarku, Zain mendorong pelan pintu kamar lalu memeluk kaki ku sambil terisak. Mungkin jika Zain sudah pandai bicara dan intonasinya jelas kemungkinan dia akan protes kenapa mamanya membiarkannya tidur sendirian.


Aku berjongkok kemudian memeluknya dan berkata dengan sangat menyesal." maafin mama ya nak, maafin mama. lagi lagi mama menyakiti Zain." Kemudian menciumi wajahnya yang penuh dengan air mata.


Pukul setengah delapan, Zain sudah rapih dan wangi begitu pula dengan diriku. Pagi ini aku tidak memasak untuk sarapan melainkan akan membeli bubur Bu Minah saja.


Aku berjalan pelan sambil menuntun Zain menuju warung bubur. Sesekali aku mencandai Zain hingga membuatnya tertawa lepas. Bersamaan dengan itu sebuah mobil Avanza melintas lalu membunyikan klakson berulang kali seolah olah aku dan Zain sedang berjalan di tengah jalan dan menghalangi jalannya padahal kami jalan menyisi.

__ADS_1


Aku menghentikan langkah ku dan mobil itu berhenti tepat di sampingku kemudian kaca mobil terbuka dan nampak pria paruh baya yang sangat aku kenal. Dia tersenyum lebar dan berucap,"dek Nuri mau kemana?"


"Mau ke warung bubur pak ustad."


"Owh, yuk sekalian saya juga mau lewat arah situ," ajak ustad Amir.


"Terima kasih pak ustad, tapi maaf rasanya tidak perlu warungnya dekat bentar lagi juga nyampe."Aku menolak ajakan ustad Amir karena aku tidak ingin jadi bahan gunjingan orang kampung telah jalan dengan suami orang dan seorang ustad pula.


"Owh begitu. ya sudah kalau begitu saya duluan ya?"


"Silahkan pak ustad."


Aku melanjutkan lagi langkahku setelah mobil ustad Amir lebih dulu melaju. Setelah tiba di warung bubur Bu Minah terlihat cukup ramai. Di tengah keramaian pembeli itu aku melihat ada Bu Rida serta anaknya Risa yang sedang mengantri.


Aku berjalan mendekati warung bubur Bu Minah dan kedatanganku ternyata menjadi pusat perhatian dua orang yang selama ini menganggap ku rival mereka. Aku tidak menyapa mereka melainkan hanya memberikan senyuman termanis ku. Kemudian aku maju ke depan mendekati Bu Minah hendak memesan bubur.


"Heh, ngantri dong. Datang datang main nyerobot saja," Seseorang menyentak ku di arah belakang. Aku menoleh kebelakang ternyata Bu Rida yang berbicara sambil menatap sinis ke arahku.


"Owh, ibu ustad tenang saja saya tidak akan menyerobot milik ibu kok. Saya hanya memesan terlebih dahulu," jawab ku dengan santai. Kemudian mengalihkan pandanganku ke depan.


Tiba tiba Risa menarik tanganku sontak saja membuat aku terkejut dan hampir saja menjatuhkan Zain dari gendongan.


"Lepas kan Ris!"aku menepis kasar tangan Risa yang sedang memegang erat tanganku dan membuatnya sedikit terguncang. Bukan tanpa sebab aku menepisnya kasar karena Zain hendak merosot dari gendongan dan aku butuh dua tangan untuk menahannya agar tidak terjatuh.


"Bilang sama aku mba, dimana Raihan? kamu menyembunyikan Raihan kan agar dia tidak tunangan denganku?" Risa bertanya sekaligus menuduh sambil mengguncang bahuku sehingga ulahnya membuat Zain ketakutan dan menangis.


Sambil menyingkirkan tangan Risa dari bahuku aku berkata dengan kesal."Apa apaan kamu Risa sembarangan menuduh aku menyembunyikan Raihan."

__ADS_1


Perdebatan kami menjadi bahan tontonan orang orang yang hendak membeli bubur. Aku kesal sekali pada Risa membuat yang telah malu diri sendiri saja.


"Memang kamu yang menyembunyikan Raihan kan? sudah ngaku saja kamu Nuri."


"Apa kamu punya bukti menuduhku seperti itu?"tanyaku dengan tatapan tak ingin kalah dari Risa.


"Raihan kan sering sama kamu siapa lagi kalau bukan kamu yang menyembunyikan Raihan." Tuduh nya lagi padaku.


Aku menggoyangkan kepalaku tidak habis pikir Risa telah menuduhku menyembunyikan Raihan padahal aku sendiri tidak tau dimana keberadaannya sudah satu bulan ini.


"Cepat katakan mba, dimana Raihan?" tanya Risa lagi dengan nada menyentak.


"Aku sudah bilang berapa kali kalau aku tidak menyembunyikan Raihan dan tidak tau dimana keberadaannya saat ini. Jangan asal nuduh kamu Risa."


"Semua ini gara gara kamu perempuan murahan. Kalau bukan kamu yang selalu menggangu Raihan dia tidak akan menolak bertunangan dengan ku." Risa berbicara dengan suara tinggi dan perkataan kasarnya mulai keluar. Aku tidak terima di sebut perempuan murahan lalu aku pun membalasnya.


"Hah, apa kamu bilang, aku perempuan murahan? apa tidak sebaliknya kamu yang murahan! sudah jelas lakinya tidak suka sama kamu tapi kamu terus memaksanya dan akhirnya kabur kan?"


"Kurang ngajar kamu perempuan murahan..!" Risa tidak terima dan dia hendak menamparku namun aku segera menangkis tangannya dan berucap," jangan coba coba kamu menyentuh seujung kuku pun kalau tidak mau aku patahkan tanganmu yang pendek ini," ledek ku dengan geram. Kemudian ku hempas tangannya dengan kasar membuat tubuhnya terguncang serta berputar dan hampir saja terjatuh jika tidak di tahan oleh Bu Rida.


"Kurang ngajar banget kamu berani menyakiti anak ku Nuri,"sentak Bu Rida dengan wajah sangarnya serta dada naik turun. Dia tidak terima anaknya di perlakukan seperti gangsing olehku.


Aku tidak takut pada sentakannya dan aku pun menimpali," semua orang disini juga tau siapa yang memulai dan siapa yang menyakiti lebih dulu.Tolong ajari anak Bu ustad yang berpendidikan tinggi ini untuk bisa bersikap sopan pada orang lain. Sembarangan banget menuduh aku menyembunyikan Raihan. Aku sendiri saja tidak tau dimana keberadaan Raihan."


Orang orang masih setia menonton perdebatan kami tanpa ada satu pun yang ingin ikut campur urusan kami dan aku sangat suka. Namun ada saja seorang ibu yang iseng bertanya tentang hubungan Risa dan Raihan.


"Bukannya Bu Rida bilang waktu itu kalau anak ibu ini sudah bertunangan dengan anaknya Bu haji. Tapi kok Risa sendiri menuduh Nuri menyembunyikan Raihan karena Raihan tidak ingin di jodohkan dengan anak ibu."

__ADS_1


Bu Rida sepertinya menahan malu karena anaknya sendiri secara tak sadar telah membeberkan tentang pertunangan dan menyebabkan Raihan kabur dari rumahnya karena menolak di jodohkan dengan Risa. Sementara Bu Rida sendiri mengakui pada semua orang bahwa anaknya sudah bertunangan dengan Raihan.


__ADS_2