Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Zain kelaparan


__ADS_3

Aku melirik pada mas Surya yang sedang tertidur pulas di sampingku setelah permainan panas kami. Mungkin dia kelelahan setelah mengemudi jauh dari Jakarta hingga sampai rumah dia langsung menggauliku dari siang hingga sore dengan nafsu yang menggebu gebu. Setelah perdebatan kami usai dan aku mengalah dia meminta hak nya sebagai suami dan mau tak mau aku menurutinya.


Aku bangkit hendak turun ke lantai untuk mengambil dasterku yang teronggok di bawah. Namun ternyata pergerakan tubuhku mengusik tidur mas Surya sehingga dia menarik tubuhku kembali lalu mendekap erat sambil berkata,"Jangan kemana mana disini saja temani suami mu tidur." Dalam keadaan mata terpejam.


Hening....


Dalam dekapan mas Surya pikiran ku kembali teringat pada ucapannya beberapa jam yang lalu bahwa aku pernah menyebut nama laki laki lain saat mas Surya menyentuh ku di saat malam pertama pernikahan kami sehingga dia sakit hati dan membalasnya dengan cara seperti ini. Aku paksakan otak ku untuk mengingatnya namun aku benar benar tidak ingat apa apa. Apakah semua ini hanya alasan mas Surya saja? Selain itu, aku juga teringat tentang uang tiga ratus juta yang mas Surya berikan pada ibu serta kakak pertamaku. Pantas saja setelah satu hari pernikahan kami, bang Supra serta istrinya pergi dari rumah dengan alasan dapat pekerjaan di Kalimantan namun ternyata dia membawa uang banyak hasil menjual ku. Pantas saja ibu serta bang Supra memaksaku agar aku segera menikah dengan mas Surya padahal aku baru mengenalnya tidak lebih dari dua minggu.


"Mama..mama Zen Atut elap mama elap," teriak Zain sambil menangis dan menggedor pintu kamarku.


Aku tersentak kaget. Aku terhanyut oleh pikiranku sehingga melupakan anak ku yang sedang tertidur sendirian di depan TV sementara aku dan mas Surya berada di dalam kamar.


Aku mencoba menarik tangan mas Surya dari pinggangku namun sulit karena dia memeluk ku cukup erat. Ku lirik jam yang menempel di dinding sudah menunjukan pukul enam sore menjelang Maghrib pantas saja Zain ketakutan karena lampu ruangan TV belum di nyalakan. Jika siang hari lampu di dalam rumah ku matikan agar menghemat biaya listrik.


"Mas..tolong lepas kan tangan mu ini mas, kasihan Zain di luar ketakutan." Aku terpaksa bersuara membangunkan mas Surya.


"Biarkan saja,"ucapnya dengan lirih.


"Biarkan bagaimana? tega sekali kamu mas. Kalau kamu tidak mau melepaskan tanganmu aku pun tidak akan mau lagi melayani mu di tempat tidur," ancam ku dengan kesal. Ternyata ancaman ku berhasil, dia melepaskan tangannya dari pinggangku kemudian berkata seolah olah tidak tau apa apa."Apa sayang apa? Zain menangis? maaf aku pikir tadi kamu bicara apa." sambil mengucek matanya.


Aku mendengus kesal kemudian turun lalu mengambil pakaianku yang teronggok dilantai. Setelah itu, bergegas keluar tanpa menghiraukan mas Surya yang sedang tersenyum mesem ke arah ku.


"Mama Zen atuutt..!" ucap Zain sambil terisak. Aku segera memeluk dan menggendongnya lalu menyalakan lampu.

__ADS_1


"Maafin mama ya nak, maafin mama."Ku ciumi wajah Zain yang penuh dengan air mata dan tak lama suara adzan magrib berkumandang. Dalam hati aku merutuki mas Surya karena telah menahan ku hingga maghrib sehingga aku belum sempat memandikan Zain.


"Zain, kita mandi dulu ya nak? ajak ku, dan Zain mengangguk.


"Mama, Zain lapal!"ucap Zain ketika aku sedang memakaikan pakaian ganti untuknya. Aku baru teringat bahwa Zain belum ku beri makan dari tadi siang karena perdebatan ku dan mas Surya sehingga aku melupakan kalau anak ku belum makan siang.


Sambil mengelus kepalanya aku berucap,"maafin mama ya nak? iya sayang setelah ini kita makan ya?" Zain mengangguk.


Setelah menggantikan baju di tubuh Zain, aku segera ke dapur untuk menggoreng ikan. Ketika sedang menggoreng ikan, dua buah tangan melingkar di pinggangku. Tangan siapa lagi kalau bukan tangan mas Surya.


"Lepasin mas, aku sedang menggoreng ikan." titah ku, namun mas Surya tidak ingin melepaskan tangannya melainkan tambah mengeratkan lengannya dan berkata," Aku tidak ingin melepas mu sayang, kita mandi bersama yuk, kamu belum mandi kan?"


Aku mendengus kesal dan menjawab," mas, lebih baik kamu mandi duluan saja. Aku mau menyuapi Zain, kasihan dia dari tadi siang belum ku kasih makan karena aku yang sibuk melayani mu di atas ranjang."


Mas Surya mengerang setelah mencapai pelepasannya. Dia merasa sudah puas menyetubuhi ku dengan gaya ***** *****. Kemudian dia memeluk ku dari belakang dan tanpa terasa air mataku mengalir begitu saja membayangkan wajah Zain yang sedang menunggu ku dalam keadaan kelaparan.


Aku segera mendorong tubuh mas Surya sehingga dia sedikit terjungkal kebelakang. Sambil membenarkan dasterku, aku berkata dengan kesal," tega sekali kamu mas, anak ku sedang kelaparan tapi kamu lakukan ini ke aku tidak tau tempat, tidak tau waktu, tidak tau kondisi."


Mas Surya tertawa lalu menimpali," ya, bagaimana lagi Nuri, namanya juga sudah on fire, sulit di kendalikan." Aku tidak menghiraukan ucapannya melainkan keluar dari kamar mandi dan menemui Zain.


Aku melihat Zain menangis terisak sambil memegang perutnya. Sambil berderai air mata aku mendekatinya lalu memeluknya.


"Maafin mama nak!"

__ADS_1


"Zain lapal ma!" ucap Zain lirih sambil terisak.


"Iya, iya sebentar ya nak?" Aku bergegas mendekati kompor dan hendak menggoreng ulang ikan yang sempat tertunda. Namun ketika aku menyalakan kompor, gas nya habis. Aku menatap sedih ke arah Zain yang sedang meringis sambil memegang perutnya. kasihan sekali Zain, gara gara papa nya yang hyper s e x dia menjadi kelaparan.


Tidak ingin membiarkan Zain kelaparan, ku ambil nasi di penanak nasi kemudian menaburi nya dengan garam lalu di aduk aduk agar nasinya terasa asin.


Mas Surya menghampiri ku ketika aku sedang menyuapi Zain makan. Sebelum dia berbicara aku lebih dulu bertanya dengan ketus." Mau apa lagi?"


"Aku lapar Nur, kamu masak apa?" tanya nya sambil melihat ke arah piring di hadapanku.


"Tidak masak," jawabku tanpa melihat ke arahnya.


"Kok belum masak, terus itu kamu kasih Zain makan dengan apa?"


"Garam," jawabku singkat sambil menyuapkan nasi ke dalam mulut Zain.


"Astaga Nur, apa kamu sama sekali tidak memiliki uang sampai kamu kasih Zain makan hanya dengan garam?


Aku tidak menghiraukan ocehan mas Surya seolah olah dia seperti orang tua yang peduli saja pada Zain selama ini. Aku tidak akan cerita padanya bahwa aku memiliki penghasilan dan juga tidak akan memberitahunya bahwa aku memiliki uang simpanan cukup banyak. Biarkan saja mas Surya beranggapan aku pengangguran yang tidak memiliki penghasilan.


"Terus aku makan apa malam ini kalau kamu tidak masak apa apa? Protes nya kemudian.


Aku mengalihkan pandanganku ke arahnya kemudian menyahuti," Suruh siapa kamu menahan aku di kamar dari siang hingga maghrib?" Mas Surya menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum nyengir.

__ADS_1


__ADS_2