Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Perdebatan dengan ipah


__ADS_3

Aku melihat mas Surya sedang membenarkan penampilannya di depan cermin ketika aku baru saja membuka pintu kamar. Dia menyunggingkan senyum ke arahku yang sedang berdiri di ambang pintu sembari memperhatikannya.


"Mau kemana mas pagi pagi begini sudah rapih?"aku bertanya karena merasa heran jam masih menunjukan pukul enam pagi mas Surya sudah rapih seperti hendak pergi.


"Mau balik ke Jakarta," jawabnya. Tangannya sibuk menyisir rambutnya yang sudah mulai memutih namun ekor matanya melirik ke arahku melalui cermin.


"Jadi kamu di sini hanya dua puluh empat jam saja mas?" tanya ku lagi.


Mas Surya meletak kan sisir di tempat biasa penyimpanan sisir kemudian berjalan mendekatiku. Dia meraih tanganku lalu menarik pelan ke dalam kamar sambil berdiri berhadapan dia menggodaku."Kenapa? apa kamu masih ingin berlama lama dengan ku?"


"Sebagai seorang istri tentu saja aku tidak ingin hidup berjauhan dari suamiku."


Senyum mengembang di bibirnya sambil membelai pipiku dia berujar,"bukan nya aku tidak ingin tinggal bersamamu disini sayang, tapi mata pencaharian ku ada di Jakarta. Dan bukannya aku tidak ingin membawamu ikut tinggal di Jakarta bersamaku tapi rumah ini kan rumah mu, rumah yang kamu bangun atas jerih payah mu. Apa kamu tidak takut jika kamu meninggalkan rumah ini kedua kakak mu yang rakus itu akan mengambil alih? apalagi rumah ini di bangun di atas tanah ibumu."Mas Surya memberikan penjelasannya dengan panjang lebar.


Apa yang dikatakan oleh mas surya memang benar bahwa aku tidak boleh pergi dari rumah yang sudah aku bangun dengan uangku sendiri. Apa lagi kedua kakak ku memiliki sifat yang licik bisa saja mereka merayu ibuku untuk menjual rumah ini kalau aku tidak ada di rumah ini.


Aku tersenyum padanya dan berucap," terima kasih ya mas, sudah mengingatkan aku."


Kemudian mas Surya merogoh dompetnya yang dia simpan di saku celana Levis nya. Setelah itu, dia mengambil beberapa lembar uang warna merah lalu menyodorkannya padaku.


"Uang ini untukmu, ambilah!"


Aku terdiam namun pandangankutak lepas dari uang yang di sodorkan oleh mas Surya.


"Kenapa diam saja?ayok ambil!" titah nya lagi.


"Apa uang ini sebagai bonus karena semalam aku sudah memuaskan mu mas?" tiba tiba pikiranku mengarah kearah itu.


Mas Surya tertawa renyah lalu menyangkalnya," hei, kenapa kamu memiliki pemikiran seperti itu? apa kamu pikir aku menganggap mu seorang pe la cur? kamu adalah istri ku Nuri dan uang ini adalah hak mu."

__ADS_1


"Ngomong ngomong masalah semalam, aku jadi ingin lagi he he!" Di ujung ucapannya mas Surya menggodaku dan ucapannya cukup membuat aku menunduk malu.


Kemudian mas Surya meraih tanganku lalu meletak kan uang itu di tanganku dan berkata,"ambilah dan pakailah untuk membeli baju baru." Senyum mengembang di bibirku dan tidak lupa aku mengucapkan terima kasih padanya. Setelah itu, mas Surya mengecup kening serta bibirku dan selanjut nya dia menciumi wajah Zain yang sedang tertidur.


Aku menatap kepergian mas Surya dengan perasaan nano nano di hatiku. Namun aku berusaha keras untuk selalu berfikir positif dan menghilangkan pikiran negatif pada mas Surya.


Sudah dua bulan ini mas Surya selalu bersikap baik dan sangat perhatian padaku dan Zain. Seperti yang dia katakan, mas Surya pulang ke rumahku setiap satu minggu sekali dan setiap dia pulang selalu membawakan kami oleh oleh. Selain itu, dia juga sering membawa kami jalan jalan serta belanja.


Perhatian mas Surya padaku mampu mengalihkan pemikiran ku tentang keberadaan raihan yang sudah tiga bulan ini tidak ada kabarnya. Aku berpikir lebih baik aku fokus pada usahaku serta keluarga kecilku saja. Meskipun sebenar nya jujur aku katakan bahwa jauh di lubuk hatiku yang terdalam wajah Raihan tetap tersimpan. Rasanya sulit sekali menghilangkan dia dari hati ini bukannya aku tidak ingin melupakannya seratus persen tapi memang tidak bisa.


Usaha ku berjalan lancar tabungan di rekening pribadi ku pun semakin bertambah saja karena selain uang nafkah lima ratus ribu yang aku dapatkan tiap bulan, uang mingguan pun aku dapatkan pula dari mas Surya ketika dia pulang. Oleh sebab itu, uang hasil menjual kerupuk tidak aku gunakan melainkan di tabung. Mas Surya sendiri tidak mengetahui usaha ku, dia tidak pernah bertanya mengenai kegiatan ku di saat dia tidak ada di rumah dan aku sendiri pun tidak pernah bercerita padanya.


Hari ini aku tidak memiliki kegiatan oleh karena itu waktu luang ini ku gunakan untuk bersantai sambil membuka Facebook yang sangat jarang membukanya.


Ada beberapa pesan yang masuk ke inbox facebook ku salah satunya dari mantan istri mas surya. Tumben sekali dia mengirim pesan padahal semenjak dari ulang tahun Nano anak adik ipar ku dua bulan yang lalu dia tidak pernah mengirim pesan atau menghina aku lagi. Aku penasaran pesan apa yang di kirimkan oleh Ipah padaku kemudian aku membuka pesan darinya.


Aku mengerutkan dahi ku membaca pesan ancaman dari Ipah. Dia bilang aku merebut perhatian mas Surya dari mereka. Aku tidak merasa merebutnya mas Surya sendiri yang perhatian padaku, lagi pula apa yang salah jika aku di perhatikan oleh mas Surya? toh aku ini istri sah nya dan Zain anak kandungnya.


Aku membalas pesan ancaman Ipah dengan perasaan kesal dan geram.


"Apa mba tidak salah bicara? saya merebut perhatian mas Surya dari kamu mba? hello, mba nyadar tidak sih siapa mba? mba itu hanya mantan...mantan. Dan rasanya wajar saja jika mas Surya lebih memperhatikan saya toh saya ini istri sah nya. Dasar


PELAKOR.


Tak lama Ipah membalas pesan ku dan aku segera membacanya.


"Enak saja kamu mengatai ku pelakor. Apa kamu lupa mas Surya memiliki dua anak dari ku? gara gara kamu jatah uang untuk mereka di kurangi dan kasih sayangnya pun tidak lagi seperti dulu. Dasar perempuan tidak tau diri."


Aku membalas kembali.

__ADS_1


"Yang tidak tau diri itu mba sendiri dan jangan pernah mengatasnamakan anak anak mba, Apa mba pikir aku percaya? mereka masih kecil tidak butuh duit banyak. Dan yang butuh duit banyak itu ya mba sendiri untuk memenuhi gaya hidup mba yang merasa sok hedonis. Pantas saja selama ini mas Surya tidak pernah memberikan nafkah yang layak sama istri sah nya ternyata uang nya di keruk oleh PELAKOR."


"Heh, brengsek kamu menuduh ku mengeruk uang mas Surya. Asal kamu tau saja justru dia sendiri yang memberikan uangnya dengan suka rela karena aku ini ibu dari anak anaknya."


"Apa mba pikir aku percaya? kasihan sekali anak anak mas Surya di manfaatkan ibunya demi bisa mengeruk uang mantan suaminya."


"Brengsek kamu pe la cur. jangan asal nuduh kamu. Aku sudah bilang berkali kali kalau mas Surya itu masih cinta sama aku."


"Masa sih masih cinta? Tapi kok mas Surya pengen nya nempel terus ya sama saya? bahkan di atas ranjang saja mas Surya minta berkali kali di layani. Kalau dia masih cinta sama mba rasanya dia tidak akan ketagihan sama pelayanan saya lho!"


Aku sengaja berkata tentang privasi ku dan mas Surya, sebab, aku kesal sekali padanya telah mengatai ku pe la cur.


"Cih, paling juga kamu pelet dia agar dia nempel sama kamu dan melupakan kami. Dasar perempuan ja la ng."


"Pelet? apa tidak sebaliknya mba sendiri yang melet mas Surya? ha ha. Saya tanpa menggunakan pelet, laki laki nempel sendiri sama saya mba."Sedikit aku membanggakan diri ku sendiri karena dia menuduhku menggunakan pelet. Tentu saja tuduhannya membuat aku semakin kesal.


Aku menunggu balasan pesan ipah hingga sepuluh menit tapi tidak ada balasan lagi, mungkin dia sudah kehabisan kata kata untuk mengatai ku. Kemudian aku membuka pesan dari Andre, dia mengabarkan bahwa dirinya sudah berada di Indonesia dan ingin bermain ke rumahku. Namun, aku mengabaikan pesannya karena aku tidak ingin Andre benar benar mengunjungi rumahku dan aku takut membuat mas Surya salah paham atas kedatangannya. Apa lagi sekarang mas Surya sudah bersikap baik dan menganggap aku layak nya seorang istri.


Baru saja aku menutup akun Facebook, terdengar ketukan pintu serta salam. Aku beranjak dari dudukku lalu mendekati pintu, setelah di buka ternyata ustad Amir tengah tersenyum lebar ke arahku.


"Wa'alaikum salam pak ustad, maaf ada perlu apa ya pak ustad?"


"Saya...hanya ingin bersilaturahmi saja dek Nuri."


"Bersilaturahmi!" ucap ku mengulang.


"Tapi...maaf pak ustad saya mau pergi ada keperluan di luar." Aku terpaksa berbohong karena semakin lama semakin merasa risih saja di temui oleh ustad Amir, apalagi cara pandang dia terhadapku sama sekali tidak mencerminkan seorang ustad.


"Oh, begitu ya dek nuri...padahal saya kangen sekali sama....dek Nuri tiga hari tidak bertemu," ucap nya sembari malu malu kucing. Sementara aku bengong saja melihat tingkah ustad Amir, seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2