
Raihan menenangkan aku yang rapuh dan mudah menangis ini dengan lembut dan kesabaran yang tiada batas sampai aku berhenti menangis sendiri. Setelah aku tak lagi menangis dan pikiranku sedikit waras, Raihan meminta ijin padaku untuk menemui penculik Zain yang sudah tertangkap oleh orang suruhannya. Aku memaksakan diri untuk ikut bersamanya meskipun pada awalnya Raihan tidak mengijinkan dengan alasan terlalu malam dan bahaya. Dia memintaku untuk menunggunya di rumah saja tapi karena aku terus menerus memaksa akhirnya Raihan luluh dan membolehkan aku untuk ikut dengannya.
Raihan mengambil switer tebal miliknya di dalam lemari pakaian nya lalu memberikannya padaku."Pakai ini mba, di luar dingin." Ucap nya.
Aku meraih switer pemberiannya lalu segera memakainya. Setelah selesai, aku dan Raihan keluar dari apartemen berjalan menuju lif yang terletak tepat di depan apartemen miliknya.
Setelah berada di parkiran yang letaknya di basemen nampak sepi sekali seperti tidak ada kehidupan di sana. Wajar saja jika Sepi karena jam masih menunjukkan pukul dua dini hari. Kami mendekati mobil Raihan yang terparkir di antara jejeran mobil yang terparkir.
Ketika Raihan hendak membukakan pintu mobil untuk ku, seketika itu pula dia terdiam dan pandanganya mengarah pada suatu tempat. Aku mengikuti arah pandangannya nampak sebuah mobil silver bergoyang di antara jejeran mobil. Dahi ku mengernyit melihatnya. Aku berpikir apa sedang terjadi gempa? tapi kenapa hanya satu mobil saja yang bergoyang sementara yang lainya tidak.
"Rai, itu..itu kenapa mobilnya bergoyang? apa sedang terjadi gempa?"tanya ku dengan polos.
"Sebentar mba."Raihan tidak menjawab pertanyaan ku melainkan berjalan mendekati mobil tersebut.
Dari kejauhan aku memperhatikan Raihan sedang mengetuk ngetuk pintu mobil yang belum saja terbuka. Namun anehnya mobil itu tidak lagi bergoyang setelah didekati olehnya. Aku penasaran apa yang mau Raihan lakukan pada mobil itu maka aku pun ikut mendekatinya.
Setelah berada dekat mobil itu, tiba tiba kaca mobil terbuka dan menampakan seorang pria paruh baya dengan muka penuh keringat serta nampak pula seorang wanita muda menutupi area gunung kembarnya dengan jaket namun memalingkan wajahnya. Aku terkejut di buatnya dan aku baru menyadari jika mobil bergoyang itu bukan di sebabkan karena gempa melainkan perbuatan asusila yang tidak tau tempat.
"Mau apa kalian mengganggu kami?"Sinis pria paruh baya itu.
"Ck, mengganggu? apa kau tak punya uang untuk menyewa kamar hotel sehingga melakukan hubungan terlarang di tempat umum. Kalian tau perbuatan kalian mengganggu orang lain?"
Pria itu terdiam namun wajahnya tetap nampak sinis.
"Dan kamu mba, mau saja di ajak e na e na sama pria tua dan tak bermodal seperti pria ini."Ejek Raihan.
Wanita itu menoleh ke arah kami dan nampak dengan jelas bagaimana bentuk rupanya. Wanita muda berkisar usia dua puluh tahun kebawah itu nampak malu malu melihat kami.
"Apa kau bilang? enak saja bilang aku tak bermodal. Terserah aku lah mau make pacarku dimana toh aku sudah memberikan uang banyak padanya." Pria itu tak terima dan nampak marah.
__ADS_1
Raihan berdecak."Kasihan sekali istri dan anak anak anda pak tua, uang yang semestinya untuk mereka malah anda pergunakan untuk membayar kepuasan anda sesaat, kasihan sekali." Setelah berkata Raihan menggandeng tanganku.
"Kau.."Pria itu nampak geram dan hendak membuka pintu namun wanita muda itu menahan nya.
"Jangan om."Rengek wanita itu.
"Kenapa? dia harus di hajar karena sudah menggangu kita dan sok menasehati ku."
Aku dan Raihan saling pandang.
"Jangan bikin masalah di sini om, nanti aku bisa di usir."Ucap wanita itu lagi.
"Siapa yang bikin masalah? mereka yang sudah bikin masalah dengan kita."
"Yang salah itu Om, Om sih tidak sabaran."
"Ish orang kita sama sama sudah tidak sabar kok, kenapa aku saja yang di salahkan." Kesal si pria. Wanita itu nampak memajukan bibirnya.
"Dasar tua tua keladi, semakin tua semakin menjadi jadi kelakuan nya." Ejek Raihan lagi.
"Brengsek kau."Pria tua itu semakin marah dan hendak membuka pintu mobil namun wanita nya masih menahan tangannya.
"Kenapa? kau mau menghajar ku? silahkan keluar tapi sebelum keluar pakai dulu kolor mu itu." Ledek Raihan.
Pria itu nampak menunduk melihat pada anunya dan selang beberapa detik wajahnya berubah tak lagi menunjukan muka sangar melainkan terbengong lalu salah tingkah. Mungkin dia baru menyadari jika dirinya belum memakai celananya kembali. Raihan tersenyum miring sementara aku berusaha menahan tawaku agar tidak menimbulkan suara.
"Kau bukan penghuni salah satu unit apartemen ini kan? cepat pergi dari sini kalau tidak mau ku panggil satpam untuk mengusir paksa kalian." Setelah berkata, Raihan menuntunku hingga mobil dan membukakan pintu mobil untuk ku. Setelah berada didalam mobil Raihan tertawa keras begitu pula dengan aku ikut tertawa melihatnya tertawa. Aku pikir kejadian ini cukup menghibur ku ketika aku sedang menghadapi situasi tegang seperti saat ini.
"Ada ada saja. Kenapa mereka tidak melakukannya didalam apartemen wanita nya saja kenapa harus di dalam mobil? apa si tua itu sudah kebelet sehingga tidak bisa lagi menahan anu nya?"
__ADS_1
Aku melirik padanya yang sedang mengumpat."Kamu bertanya sama siapa Rai?"
Raihan melirik ku lalu tersenyum nyengir dan menggaruk tengkuknya.
Setelah itu, Raihan melajukan mobilnya keluar dari basemen membelah jalanan kota yang nampak lengang sehingga Raihan dapat melajukan mobilnya di atas kecepatan rata rata.
"Untung si wanita menahan nya untuk tidak keluar mobil, kalau tidak rasanya tidak ikhlas jika calon istriku ini melihat anu nya si tua. Mba hanya boleh melihat milik ku, hanya milik ku seorang." Ucap Raihan di sela sela mengemudi.
keningku mengernyit. Raihan bicara ngaco dan terkesan fulgar membuat aku merasa malu sendiri mendengarnya."Kamu bicara apa sih Rai aku tidak mengerti."
"Ya, ya membicarakan kejadian tadi."
Aku geleng-geleng kepala.
Setelah selesai membicarakan kejadian tadi tidak ada lagi obrolan di antara kami. Raihan fokus mengemudi dan sesekali melihat ponselnya seperti melihat petunjuk arah yang ada di ponselnya. Sementara aku hanya duduk manis sembari termenung memikirkan Zain.
Setelah tiba di suatu tempat yang sangat asing bagiku, Raihan memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah rumah sangat sederhana yang nampak sepi. Setelah keluar dari mobil, kami di sambut oleh tiga orang pria berbadan kekar dan berwajah sangar. Sempat aku berpikir apa mereka orang suruhan Raihan untuk mencari anak ku.
"Siapa mereka Rai?" tanya ku dengan sedikit takut melihat fisik mereka yang tinggi besar dan penuh tato.
"Mereka orang suruhan ku mencari Zain."
Aku manggut manggut kecil.
"Selamat malam pak Raihan!"Sapa mereka serempak.
Raihan hanya mengangguk kecil."Dimana mereka?"tanya Raihan tanpa basa basi.
"Di dalam pak."Kata salah satu dari mereka.
__ADS_1
Raihan melirik ku begitu pula denganku meliriknya. Kemudian dia menggandeng tanganku dan menuntun aku memasuki rumah kecil atau bisa dikatakan rumah itu berupa sebuah gudang.
Salah satu dari mereka membukakan pintu rumah itu dan setelah terbuka aku dan Raihan masuk ke dalamnya. Setelah berada di dalam aku tercengang melihat dua orang wanita yang masih terlihat muda dan satu lagi wanita yang sudah tidak lagi muda berkisar usia empat puluh tahunan sedang dalam keadaan tangan dan kaki di ikat serta mulut di lakban. Ternyata penculik anak ku adalah dua orang wanita bukan laki laki. Namun kenapa begitu sulit menemukan mereka padahal mereka hanya seorang wanita yang tentu saja kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan seorang pria.