
Semua orang terkejut mendengar jawaban Zain termasuk Oma Melisa. Namun tidak dengan aku karena ini merupakan bukan lah kejadian yang pertama aku melihat Zain di asuh oleh sosok berwajah mirip denganku atau wajah yang mirip dengan ibu Hanum. Tidak ada orang yang sudah meninggal dunia hidup kembali atau menjadi hantu, kuntilanak dan sejenisnya. Tapi aku meyakini bahwa sosok yang mirip dengan aku atau ibu Hanum adalah jin qorin yang menyerupai wajah kami dan entah apa tujuannya selalu menampak kan diri di hadapanku mau pun Zain.
"Oma, Oma siapa maksud nya sayang?" Tanya Oma dengan wajah terkejut bercampur penasaran. Namun, Zain nampak seperti kebingungan menjawabnya.
"Sudah maghrib lebih baik kita bicara di dalam saja." Raihan menyarankan dan di setujui oleh semua orang.
"sayang, apa mau sholat Maghrib berjamaah?" Tanya Raihan padaku di saat kami sudah berada di dalam rumah.
Aku melirik Oma." Emm, Oma maaf, apa Nuri boleh pinjam mukena? soalnya Nuri tidak membawa mukena."
Oma diam dan bengong saja menatap ku.
"Oma, kenapa diam saja?"
Oma nampak salah tingkah terlihat dari cara duduk nya yang tidak tenang.
"Oma, Oma."
Aku mengernyitkan kening ku melihat Oma yang nampak nya kesulitan bicara.
"Non Nuri mau sholat berjamaah?" Tanya bi Sukma ketika dia baru saja datang dan membawa kan mainan untuk Zain.
Aku menoleh padanya." Ah ya Bi, tapi saya tidak bawa mukena."
"Pakai punya bibi saja non, kebetulan bibi punya stok."
Aku tersenyum senang." Oh ya Bi, terima kasih banyak ya!"
"Sama-sama non. Tapi apa bibi boleh ikut sholat berjamaah?"
"Tentu saja boleh bi, siapa pun boleh ikut sholat berjamaah. Bibi tau kan kalau sholat berjamaah itu pahala nya lebih besar daripada sholat sendirian." Tiba tiba Raihan berucap dan meyakin kan bi Sukma.
"Jadi beneran bibi boleh ikut den Raihan?" Bi Sukma bertanya kembali, mungkin dia merasa segan pada kami.
"Iya bi boleh. Siapa pun boleh, Oma mungkin atau dokter Bayu mau ikutan juga sholat berjamaah?"
__ADS_1
Dokter Bayu yang sedang memainkan ponselnya tiba tiba tercengang melihat Raihan karena namanya di sebut. Sementara Oma hanya menatap bengong saja ke arah Raihan
"Bagaimana dokter apa dokter mau ikut sholat berjamaah?" Tanya Raihan. Dokter Bayu nampak semakin tercengang mendapat ajakan dari Raihan untuk beribadah.
"Ehm, ya, ya, aku..aku mau ikut," jawab dokter Bayu nampak gugup.
"Kalau Oma?" Pertanyaan Raihan mengubah ekspresi Oma yang mulanya bengong menjadi nampak cemas.
"Oma, Oma....tidak punya peralatan ibadah, Rai," ucap Oma lalu menunduk. Sepertinya Oma malu pada kami.
Aku menatap Oma dengan sedikit prihatin. Jika Oma tidak memiliki peralatan sholat berarti seumur hidupnya Oma tidak pernah melaksanan ibadah meskipun dia beragama Islam. Padahal usianya sudah lanjut dan sudah semestinya Oma memperbanyak ibadah di usianya yang sekarang.
"Kalau Oma mau sholat pakai mukena saya saja kebetulan saya punya stok tiga." Bi Sukma menawarkan mukenanya. Oma menyunggingkan senyum lalu mengangguk.
Kami bersiap siap mengambil air wudhu lalu menggelar karpet bersih sebagai alas pengganti sajadah. Setelah itu kami mulai menjalankan ibadah sholat maghrib berjamaah dengan khusuk di imami oleh Raihan.
Selepas sholat dan ketika berdoa, Oma yang duduk di sampingku tiba tiba terisak menangis. Aku segera merangkul kedua pundaknya dan bertanya." Oma, Oma kenapa menangis?"
Di tengah terisak dia berusaha bicara." Oma, Oma malu sama kalian. Oma, Oma malu sama tuhan. Hidup sudah lebih dari setengah abad tapi Oma tidak pernah melaksanakan ibadah, Oma lupa sama tuhan yang selama ini memberi kehidupan dan harta melimpah untuk Oma. Oma malu Nuri, Oma malu..."
Aku memeluk Oma dan menenangkan nya dari tangisan yang semakin lama semakin meraung. Aku juga menasehatinya dengan sedikit ilmu yang aku tau. Selebihnya Raihan lah yang membantu menjelaskan nya pada Oma. Seperti yang ku ketahui bahwa ilmu pengetahuan agama Raihan sangat jauh di atas ku.
Aku menatap bangunan rumah sakit yang cukup besar di hadapanku. Bangunan yang sudah berdiri kokoh sejak puluhan tahun lamanya dan hingga sekarang masih beroperasi dengan baik.
"Kenapa diam? ayok masuk," kata Raihan di sampingku.
Aku pun mengangguk mengikuti dua pria tampan memasuki rumah sakit itu.
"Aku sudah membuat janji dengan seseorang yang bekerja di rumah sakit ini dan aku juga sudah meminta data yang kita butuh kan jadi kita tinggal melihatnya saja nanti," kata Raihan di sela sela langkah kami.
Aku dan dokter Bayu saling pandang. Ternyata diam diam Raihan bergerak cepat tanpa sepengetahuan kami.
"Kamu serius Rai?" Tanya dokter Bayu.
"Yah, kebetulan teman ku bekerja di rumah sakit ini jadi aku minta tolong saja sama dia. He he."
__ADS_1
Aku dan dokter Bayu tersenyum. Setidaknya kami tidak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk mencari data-data itu.
"Apa...kamu menceritakan masalah kita pada teman mu itu?"
"Tenang saja calon kakak ipar ku. Aku tidak sebodoh itu memberi tahu apa tujuan ku mencari data itu sama orang lain."
Nampak dokter Bayu memajukan bibir bawahnya." Oh, begitu ya calon adik ipar ku."
"Ha ha ha." Raihan tertawa renyah. Sementara aku hanya tersenyum saja mendengarnya.
Kami terus melangkah hingga tiba di depan sebuah pintu lalu Raihan mengetuk pintu itu.
"Masuk." Terdengar suara dari dalam menyuruh kami masuk kemudian kami pun memasuki ruangan itu. Raihan lebih dulu masuk lalu aku dan dokter Bayu mengekor.
"Hai, bro Rai!" sapa seorang pria masih nampak muda duduk di kursi kerjanya lalu dia berdiri dan memberikan senyuman pada kami. Kemudian Raihan dan pria itu bersalaman. Setelah mereka bersalaman pria itu menoleh pada ku dan juga dokter Bayu yang berdiri di belakang Raihan.
"Siapa mereka, Rai?" tanya pria itu. Kemudian raihan memperkenalkan aku sebagai calon istrinya dan dokter Bayu sebagai calon kakak iparnya pada pria itu. Setelah itu, dia mempersilahkan kami duduk di sebuah sofa yang tidak terlalu besar.
"Bagaimana?"
"Beres boss Rai, sebentar." Pria itu berdiri lalu berjalan ke mejanya dan mengambil sebuah file yang tergeletak di atas meja kerja nya. Setelah itu, dia menyodorkan nya pada Raihan sembari berkata." Kamu tau Rai, semalaman aku tidak tidur mencari data ini sampai aku menginap di rumah sakit ini."
Raihan mengambil file itu sembari tersenyum lebar." Kerja keras mu akan ku bayar tunai bro. Don't worry."
"Tidak, tidak. Aku tidak mau uang. Kamu cukup carikan aku calon istri yang cantiknya sama seperti calon istrimu saja. Ha ha."
"Wajah calon istriku itu limited edition di dunia ini hanya dia saja yang punya."
"Ya setidak mirip sedikit gitu."
"Sulit bro. Tapi meskipun ada belum tentu dia mau sama kamu."
"Kamu selalu meremehkan aku." Wajah pria itu menekuk.
Raihan tersenyum lebar." Bukan maksudku meremehkan kamu bro. Tapi...jangan kan kamu yang tampangnya pas pasan, aku yang tampan nya melebihi Cha Eun Woo saja butuh beberapa tahun untuk bisa menaklukan calon istriku ini."
__ADS_1
Mulut pria itu nampak terbuka." Kau serius, Rai?"
"Tanya saja sama orangnya langsung. Aku suka dia sejak lima tahun yang lalu dan baru bisa mendapatkannya setelah lima tahun kemudian." Raihan berkata sembari menatap ku di iringi senyuman yang tersungging di bibirnya. Jujur ku katakan bahwa saat ini aku benar benar malu sekali. Raihan membuka memory masa lalu di depan orang lain termasuk dokter Bayu yang sedang tersenyum mesem saja melihatku.