Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Nuri anak pungut


__ADS_3

Siang hari aku membeli tiga belas nasi bungkus untuk makan siang para ibu-ibu yang sedang bekerja, aku, bang Supri dan Sumi. Ketika kami sedang makan di teras rumah ibu dan mba Parmi menyembul di balik pintu.


"Kamu beli nasi bungkus kok tidak bagi kami, Sup!" kata ibu pada bang Supri.


Bang Supri mendongak melihat mereka namun aku dan Sumi fokus makan saja. Entah mengapa aku tidak lagi respek pada ibuku bahkan cenderung benci. Aku yang selama ini selalu menghormatinya dan menuruti kemauannya ternyata hanya di jadikan ladang usaha nya. Dan sekarang aku tidak ingin peduli lagi padanya.


"Yang beli nasinya si Nuri Bu, uang nya juga uang dia," kata bang Supri di tengah mengunyah.


"Tapi ibu belum makan dari pagi, Sup."


"Ya masak lah. Suruh tuh mantu ibu masak biar hidupnya berguna sedikit."


"Ngomong apa sih kamu, Pri. Apa kamu tidak lihat aku punya bayi." Muka mba Parmi cemberut. Dia tidak terima di ledek bang Supri.


"Ya sudah kalau tidak butuh makan. Perut sendiri, lapar sendiri. Terserah jangan harap jatuh makanan dari langit."


"Gimana mau masak orang tidak ada stok bahan makanan."


"Kalau tidak ada lauk pauk ya belanja ke warung dong mba. Kalau tidak ada uang minta sama lakinya, kalau laki nya tidak ada uang suruh kerja jangan pengennya tinggal makan doang. Uang ku saja sudah habis buat belanjakan kalian."


"Kamu kok perhitungan banget sama kami, Pri,"ucap ibu menatap kesal pada bang Supri.


"Bukan nya aku yang perhitungan sama kalian tapi kalian sendiri yang memiliki sifat picik sama si kami khususnya sama Nuri."


Ibu terdiam entah apa yang dia pikirkan dan aku pun tidak peduli.


"Mama aku lapar." Tiba tiba anak pertama mba Parmi datang dan mengeluh lapar. Sebenarnya aku tidak tega membiarkan mereka kelaparan terutama anak anaknya. Tapi bagaimana lagi aku hanya ingin memberi pelajaran saja agar mereka mikir dan tidak bersikap semena mena padaku.

__ADS_1


"Tuh, anak mu minta makan, mba. Bikin kan nasi goreng kek kalau tidak ada lauk pauk. Nasi kan ada tinggal di goreng."Kata bang Supri.


"Sum, kita mulai kerja yuk."


"Hayu Nuri." Kemudian kami beranjak meninggalkan mereka menuju pabrik.


Malam hari ketika aku sedang bergurau dengan Zain di dalam kamar, tiba tiba suara teriakan dan gedoran pintu kamarku terdengar keras sekali.


"Hei, Nuri keluar kamu keluar."


brak brak brak


"Keluar, keluar kamu Nuri."


Brak brak brak


Aku dan Zain sangat terkejut bahkan Zain sempat menangis ketakutan. Aku kesal sekali Ia telah membuat anak ku ketakutan. Kemudian aku membuka pintu itu secara kasar lalu mendorong kuat tubuh bang Supra hingga dia ter jengkal kebelakang dan mengenai istrinya.


"Kenapa harus tidak berani sama kakak Brengsek dan tidak tau diri kayak kamu." Aku pun tak kalah nyalang menatap nya saking kesal dan geram padanya.


Kemudian bang Supra maju dan hendak menerkam ku namun sebelum itu terjadi bang Supri lebih dulu menahan tubuhnya agar tidak menerkam ku. Bang Supra meronta ronta. Amukannya persis seperti orang yang sedang kesurupan.


"Lepas kan brengsek. Lepaskan aku. Biar aku mencekik dia sampai mati." Muka nya merah padam. Matanya membelalak besar. Entah setan apa yang sedang merasuki hati dan pikirannya hingga dengan enteng nya berucap ingin membunuhku.


"Eling kamu bang, eling. Nuri adik mu kenapa harus menyakiti nya."Kata bang Supra sembari menahan kedua tangan bang Supra.


"Cih." Bang Surya meludah yang di tujukan padaku.

__ADS_1


"Kau tahu kalau dia bukan adik kita. Dia hanya anak yang di pungut dari tong sampah oleh bapak ku."


Seketika aku tercengang hingga mulut ku terbuka lebar mendengar apa yang di ucap kan oleh bang Supra. Dalam benak ku bertanya tanya, apakah benar aku ini bukan anak ibu dan bapak? bukan adik bang Supra dan bang Supri? dan anak yang di temukan di tong sampah.


"A...apa maksud mu?" Tanya ku dengan bibir mulai bergetar.


"Jangan bicara ngaco kamu bang. Aku tidak percaya sama kamu. Nuri itu anak ibu dan bapak serta adik ku."


"Ha ha ha." Bang Supra tertawa panjang. Kemudian dia menepis kasar kedua tangan bang Supri yang nampak mengendur. Mungkin dia juga merasa terkejut sama hal nya dengan ku.


"Kau bilang si Nuri anak ibu dan bapak? coba tanyakan sama ibu. Siapa si Nuri sebenarnya."


Aku dan bang Supri menoleh pada ibu yang diam mematung di samping mba Parmi.


"Bu..!" ucap lantang bang Supri.


Ibu nampak terperangah melihat bang Supri.


"Katakan padaku Bu kalau semua yang di katakan oleh bang Supra itu tidak benar kalau Nuri lahir bukan dari rahim ibu?" Kata bang supri namun ibu diam dengan mimik wajah melongo.


Banyak pertanyaan yang ingin aku katakan pada ibu terkait benar atau tidaknya jika aku bukan anak ibu. Namun, mulutku seperti terkunci rapat dan tidak bisa mengucap kan apa-apa. Air mataku pun mulai mengalir dengan mudahnya.


"Katakan pada mereka Bu, siapa si Nuri sebenarnya. Agar dia tidak lagi sok dan berbuat sewenang wenang sama kita dan agar dia tau diri kalau dia tidak punya hak tinggal di rumah ini karena rumah ini di bangun di atas tanah milik bapak dan akan di wariskan sama anak anak kandungnya bukan anak yang di pungut dari tong sampah seperti dia." Kalimat panjang bang Supra yang di tujukan pada ibu cukup membuat dadaku terasa sangat sesak sekali.


Ibu masih diam dengan pikirannya.


"Bu." Bentak bang Supra hingga membuat ibu terperanjat.

__ADS_1


"I..iya benar. A...apa yang...di katakan Supra Benar. Kamu bukan anak ku Nuri, tapi anak yang di pungut dari tong sampah oleh suamiku saat dia menjadi pemulung di kota. Suamiku menemukan mu di dalam sebuah kardus di dalam tong sampah."


Bagai tersambar petir di malam hari mendengar pengakuan ibu tentangku bahwa aku bukan anak ibu dan bapak melainkan anak yang di pungut di dalam tong sampah. Kenapa, kenapa orang tuaku tega sekali membuang aku di tong sampah? Apa aku ini anak yang tidak di inginkan dan hanya sebuah aib bagi mereka? Ya Tuhan, kenapa, kenapa baru sekarang aku mengetahui fakta siapa aku sebenarnya. Pantas saja, ibu tidak pernah sayang dan selalu membenci aku dari kecil hingga dewasa danternyata aku hanya seorang anak pungut lalu di jadikan sebagai mesin pencetak uang oleh ibuku.


__ADS_2