Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Pencarian 2


__ADS_3

Pak RT itu pergi dari hadapan kami setelah memberi tau kemana orang-orang pemilik rumah tersebut.


"Siapa lagi yang harus kita kunjungi?' Tanya Raihan sebelum kami masuk ke dalam mobil.


"Seorang perawat."


"Di mana rumahnya?"


"Di pinggir kota Jakarta."


"Ya sudah kita meluncur sekarang."


Aku dan dokter Bayu mengangguk lalu kami masuk ke dalam mobil.


Raihan melajukan mobilnya meninggalkan rumah yang sudah tidak lagi berpenghuni membelah jalanan kota Jakarta kembali.


Di sepanjang jalan tidak ada obrolan di antara kami dan kami terhanyut dengan pemikiran kami masing-masing. Hingga tanpa terasa mobil yang kami tumpangi sudah berada di tempat yang padat penduduk di pinggir kota Jakarta.


Raihan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan yang sedikit lebar. Sorot mataku mengedar ke arah luar mobil yang nampak padat oleh orang orang yang lalu lalang.


"Apa sudah sampai, Rai? kenapa banyak orang sekali di sini?"


Raihan yang sedang sibuk memainkan ponselnya menoleh padaku." Ya ramai lah sayang, nama nya juga pasar."


"Pasar!" kemudian sorot mataku mengedar kembali dan benar saja kalau tempat itu adalah pasar. Tadi sepertinya aku tidak melihat para pedagang lapak. Tapi sekarang kenapa penglihatan ku di penuhi para pedagang lapak.


"Apa rumah orang itu di pasar ini?" Tanyaku kembali.


"Tidak, tapi kita harus melewati pasar ini untuk menembus gang yang berada di dalam pasar."

__ADS_1


"Terus, apa mobil ini bisa lewat?" Tanya kak Bayu.


"Sepertinya tidak bisa. Selain karena pedagang lapak yang menjajakan dagangannya terlalu mepet ke jalan nampaknya gang itu kecil dan sulit di tembus oleh mobil."


"Terus?"


"Kita jalan kaki saja."


Aku dan kak Bayu menyetujui usulan Raihan.


Sebelum kami turun, Raihan mencari tempat yang aman untuk memarkirkan mobilnya karena jika parkir di pinggir jalan akan menghambat pengguna jalan. Selain itu, mobil Raihan adalah mobil mewah dan kami takut ada orang yang akan berbuat jahat pada mobil itu jika parkir di sembarangan tempat.


Akhirnya mobil Raihan terparkir di depan sebuah ruko cukup besar. Selain di sana ada juru parkir yang menjaga, Raihan juga menyewa tempat itu pada pemilik ruko bukan hanya sekedar menumpang parkir gratis jadi akan jauh lebih aman.


Kami turun kemudian Raihan menggaet tanganku lalu kami melangkah beriringan melewati pasar. Sepanjang kami melewati pasar itu, di samping kiri dan kanan kami semua wajah yang melihat kami berekspresi sama yaitu mata tidak berkedip dan mulutnya menganga lebar. Seolah olah mereka sedang melihat tiga tokoh penting atau tiga orang selebritis sedang masuk pasar. Bagaimana mereka tidak berekspresi demikian. Jika di lihat dari segi fisik, Raihan dan kak Bayu merupakan dua orang pria yang sangat sempurna. Tubuh tinggi tegap, kulit putih bersih, wajah tampan rupawan persis seperti opa opa Korea. Sementara aku sendiri, maaf bukan maksud ku membanggakan diri. Aku memiliki tubuh tinggi semampai, wajahku kebulean meskipun berhijab tetap saja tidak menutupi wajah kebulean ku. Oma bilang wajahku mewarisi wajah ibu Hanum yang cenderung lebih mewarisi wajah opa yang berasal dari belanda. Sementara kak Bayu mewarisi wajah pak Bagas dan jika di perhatian mereka memang mirip.


Kami terus melangkah menyusuri jalanan yang hanya memiliki lebar dua meter. Kiri kanan adalah rumah-rumah sempit yang saling berdempetan bahkan rumah-rumah itu tidak memiliki halaman. Aku mendongak nampak deretan jemuran pakaian berjajar di atas lantai dua dari setiap masing-masing rumah.


Karena rumah-rumah itu tidak memiliki halaman maka jalanan di jadikan tempat bermain anak-anak. Banyak sekali anak-anak yang berseliweran di sepanjang langkah dan memperhatikan kami. Selain anak anak juga para gadis serta ibu ibu yang sedang duduk di pintu atau depan rumah mereka pun ikut memperhatikan gerak langkah kami.


"Apa masih jauh Rai?" Tanyaku.


"Kalau dari GPS letak rumah nya sih di sini tapi aku tidak tau dimana letak rumahnya."


"Kita tanyakan pada penduduk sini saja siapa tau ada yang mengenalnya." Dokter bayu memberi saran.


Aku dan Raihan pun menyetujui nya.


Kami melihat ada sekelompok wanita yang sedang ngerumpi di sebuah gardu kecil. Kemudian kami mendekati mereka.Ternyata dari jarak jauh saja kami sudah menjadi pusat perhatian mereka yang ada di gardu tersebut.

__ADS_1


"Permisi mba, ibu! kami boleh numpang tanya?" Raihan bertanya setelah kami mendekati sekumpulan para wanita.


Mereka saling pandang bahkan ada yang memandangi Raihan tanpa mengedipkan matanya. Mungkin wanita itu terpesona pada ketampanan Raihan. Aku mendekati Raihan lalu memepetkan tubuhku pada nya. Aku cemburu dan aku tidak suka melihat gadis muda itu memandangi Raihan sedemikan rupa. Bak gayung bersambut, Raihan pun mengusap pucuk kepala ku lalu meraih pinggangku dan di dekap nya. Sungguh untuk kali ini aku tidak punya rasa malu untuk bersikap manja dan mesra pada Raihan. Bahkan aku lupa kalau di belakang kami ada kak Bayu. Raut wajah wanita itu seketika berubah menjadi masam lalu mengalihkan pandangan nya ke arah lain dan tak lama kemudian dia beranjak pergi. Aku menyunggingkan senyum melihatnya.


"Oh iya mas tampan, mau bertanya apa?" Tanya salah seorang dari mereka.


"Apa mba dan ibu tau rumah Bu Suryati yang dulu nya seorang perawat dan bekerja di rumah sakit Sucipto Mangunkusumo?"


Mereka saling pandang dan bertanya tanya satu sama lain.


"Bagaimana, apa ada yang mengenalnya?" Raihan mengulang pertanyaannya.


"Setau saya di sini ada sih yang namanya Suryati tapi saya tidak tau dulu nya dia bekerja sebagai apa," jawab seorang wanita yang sudah tidak lagi muda.


"Benar kah?"


" Iya, tapi nenek Suryati ini sedang sakit dan sakit nya sudah lama tidak sembuh-sembuh."


"Sakit apa?"


"Sakit nya aneh, hidup enggan mati pun tidak mau kayak kena azab,"celetuk seorang wanita yang lebih lebih tua.


"Hus, Bu Imah ini. Nanti kalau kedengaran sama anak cucu nya bisa di semprot sama mereka." Wanita yang berceletuk tadi langsung terdiam.


Aku mengerutkan dahiku. Hidup enggan mati tak mau, kena azab. Otak ku langsung berpikir keras, sakit apa yang sedang di derita oleh orang itu.


"Tidak ada yang tau sakitnya apa, yang jelas sakit nya sudah ada sekitar lima tahunan. Para dokter saja pada nyerah. Tapi ada ustad yang bilang kalau itu semacam sakit yang harus mendapat kan pengampunan dari seseorang. Mungkin dulu nek Suryati itu punya kesalahan sama orang. Ah, pokok nya saya tidak tau sakitnya apa yang jelas dia sudah tidak bisa ngapa-ngapain lagi tapi sih telinganya masih bisa berfungsi."


Jantungku langsung terasa berdetak kencang mendengar kalimat penjelasan tentang perawat yang bernama Suryati itu.

__ADS_1


__ADS_2