Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Sikap aneh mas Surya


__ADS_3

Ingin rasanya aku mengabaikan perintahnya mengingat perlakuan kasarnya terhadapku tapi aku tidak memiliki keberanian untuk tidak peduli pada mas Surya. Aku tidak ingin di sebut sebagai istri pembangkang hanya karena tidak mau membuatkan kopi untuknya.


"Sebentar ya nak, Zain duduk sebentar di sini ya? mama mau buatkan kopi untuk papa dulu."


"Iya..mama!


Zain duduk di atas kursi dan aku akan meracik kopi untuk mas Surya. Namun ketika aku membuka toples gula sudah kosong tak ada isi.


"Nuriiii... mana kopinya!"teriakan mas Surya terdengar lantang di ruang tamu lalu aku segera menghampirinya


"Maaf mas, gulanya habis. tunggu sebentar ya aku mau beli dulu ke warung."


"Yaelah Nur, kerjaan kamu ngapain saja dari tadi Nur? kenapa tidak dari tadi ke warung nya? giliran aku mau minum kopi baru nyari sana sini. Memang dasarnya istri tidak berguna kamu itu Nur."


Ucapan mas Surya membuat darahku mendidih. lagi dan lagi dia menyebutku istri tidak berguna.


"Oh, lantas untuk apa kamu menyuruh istrimu yang tidak berguna ini mas? ya sudah kalau begitu bikin saja kopi sendiri. Aku mau mengerjakan hal hal yang jauh lebih penting daripada sekedar mengurusi masalah isi perut."


Ku tinggalkan mas Surya yang sedang dalam keadaan kesal padaku. Aku tidak menghiraukan teriakannya yang terus menerus memanggil namaku. dari pada meladeni mulut lemas suamiku lebih baik aku bergegas memandikan Zain di kamar mandi.


"Dasar istri pembangkang, istri durhaka. Istri tidak tau diri. Berani sekali kamu menentang suamimu sendiri. Sudah berani melawan kamu Nur?" Mas Surya masih saja merasa kesal padaku.


Ku abaikan makian mas Surya dan aku lebih memilih fokus memakaikan pakaian untuk Zain namun tanpa di duga mas Surya menarik jilbab belakang kepalaku hingga hijabnya terlepas dari kepalaku.


"Jahat sekali kamu mas!" aku marah lalu ku tarik jilbab yang berada di genggaman tangan mas Surya namun dia tidak mau melepaskan jilbabku.


"Itulah hukuman untuk orang yang membangkang perintahku. kamu benar benar berbeda sekali dengan si Ipah yang lebih manis, sopan dan lebih menghargai ku."


"Oh, kalau begitu kenapa kamu tidak balikan saja sama mantan mu yang bernama Ipah itu mas? Aku ikhlas jika kamu mau menceraikan aku moa dan silahkan jika kamu ingin kembali bersama mantanmu yang sempurna itu."


"Kamu...!" mas Surya hendak menampar ku namun dengan sigap aku menahan tangannya lalu menghempaskan ya. Mas Surya tercengang melihat ku melawannya serta keberanian ku mengatakan untuk di ceraikan. Mungkin dia pikir selama ini aku takut jika di ceraikan nya padahal nyatanya aku sudah pasrah dengan rumah tanggaku. bukan saja soal nafkah tapi soal sikap mas surya yang tempramental.


"Jangan pernah lagi kau sakiti fisik ku ini mas karena aku tidak akan pernah tinggal diam."


Aku segera keluar dari rumah sambil menggendong Zain. Ku langkahkan kakiku menjauhi rumah serta mas Surya. Lagi dan lagi aku harus menelan kekecewaan karena mas Surya berani membandingkan aku dengan mantan istrinya lagi.


Ku langkahkan kakiku menuju tukang bubur ayam karena aku serta Zain harus sarapan agar tetap kuat menjalani hidup pahit yang kami jalani.

__ADS_1


"Bu Minah saya pesan bubur satu mangkok makan di sini."


"Lho, Nuri tumben kamu makan bubur disini?" tanya Bu Minah pemilik warung bubur.


"Iya Bu, lagi ingin makan di sini."


"Owh, ya sudah sebentar ya aku buatkan dulu."


Aku mengangguk sambil mendudukkan Zain di lantai.


"Nuri...kebetulan sekali ketemu kamu di sini. Tadinya saya mau ke rumah kamu lho." Bu Rida salah satu tetanggaku menyapaku.


"Memang ada ada apa ya Bu Rida?" tanya ku penasaran karena tumben tumbenan aku di cari orang.


"Nanti sore aku mau pesan gorengan dua ratus biji Nur untuk acara pengajian nanti malam di rumahku. Apa kamu bisa Nur?"


Mulutku sedikit menganga mendengar Bu Rida ingin memesan gorengan sebanyak dua ratus biji padaku.


"Bi...bisa Bu, bisa..!"


"Syukurlah kalau kamu bisa." Bu Rida mengeluarkan uang seratus ribu di dompetnya lalu menyodorkannya padaku dan berucap," ini sebagai uang mukanya, nanti sisanya akan di bayarkan setelah selesai. Oya, jam lima sore harus sudah selesai ya nur?"


"Ya sudah kalau begitu saya pulang dulu."


"Iya, Bu Rida terima kasih banyak ya Bu?"


"sama sama Nur."


Tak henti hentinya aku ucapkan rasa syukur atas rizki yang Allah kasih hari ini padaku.


"Nur, ini buburnya..!" Bu Minah menyodorkan satu mangkok bubur ayam yang telah aku pesan sebelumnya.


"Terima kasih Bu!" Aku mulai menyuapkan Zain bubur ayam sedikit demi sedikit hingga ia merasa kenyang. setelah itu, aku memakan bubur sisa Zain yang masih banyak dalam mangkok.


Aku pulang ke rumahku setelah membeli bubur. Tiba di rumah aku mendapati ibu sudah bangun tidur dan mas Surya yang sedang sibuk dengan ponselnya di atas sofa ruang tamu.


Aku masuk tanpa mengucapkan salam dan tanpa menoleh ke arah mas Surya. Aku tau dia memperhatikanku tapi aku pura pura tidak tau saja.

__ADS_1


Aku berjalan ke dapur dan ku lihat ibu sedang membuka tudung saji lalu terdengar dia mendengus kesal setelah melihat isinya.


"Tiap hari gorengan terus yang kamu suguhkan Nur. Sekali kali kek belikan aku bubur ayam."


"Tadi kan ibu masih tidur jadi aku tidak tau ibu mau sarapan apa?"


"Ya sudah kalau begitu bikinkan aku nasi goreng saja pakai telor dua."


Aku mengangguk menuruti kemauan ibu dan beruntung aku masih memiliki stok telor di kulkas jadi tidak perlu mencari ke warung lagi. Ketika aku sedang membuat nasi goreng suamiku berdiri di sampingku.


"kamu sedang masak apa Nuri?" tanya mas Surya. Aku tau dia hanya basa basi menyapaku.


"Seperti yang mas lihat aku sedang membuat nasi goreng untuk ibuku."


"Hanya untuk ibu? untuk akunya tidak di buatkan?"


"Owh, kamu mau mas?"


"Mau dong..!"


"Ya sudah tunggu saja nanti aku akan mempersiapkannya untuk mu."


"Terima kasih sayangku..!" kemudian mas Surya pergi dari dapur.


Aku mencebik kan bibirku rasanya mual sekali mendengar kata bualan dari mulut mas Surya yang tak pernah dia ucapkan selama pernikahan kami. Aku tau dia sengaja mengucapkan kata lebay agar aku lupa tentang perceraian yang aku ajukan padanya.


Dua buah nasi goreng telah selesai ku buat. Satu piring untuk ibu serta satu piring untuk mas Surya.


"Bu...nasi gorengnya sudah siap di atas meja." Aku memanggil ibuku di depan pintu kamarnya. Tak lama dia membuka pintu kamarnya lalu berjalan menuju dapur dengan rambut yang masih acak acakan menuju ke dapur tanpa menyapaku.


Ku bawa satu piring nasi goreng serta satu gelas air putih dan ku letak kan di hadapan mas Surya di ruang tamu.


"Terima kasih sayang...nah, gini yang namanya istri sholehah. Jadi membuat mas tambah cinta saja sama kamu Nuri..!"


"Silahkan di makan mas mumpung masih hangat." Aku sengaja menimpali ucapannya karena aku sudah merasa enek mendengar kata bualan dari bibir munafik suamiku.


"Oya mas, kamu makan sendiri saja ya? aku harus ke tukang sayuran dulu."

__ADS_1


"Iya sayangku, silahkan. Kamu hati hati ya di jalannya..!"


Aku mengerutkan dahi ku mendengar kata kata sayang yang terlontar dari mulut suamiku. Namun aku tidak merasa tersanjung atas apapun yang dia katakan.


__ADS_2