
Baru saja aku hendak menyalakan motorku tiba tiba hujan turun deras sekali dan mau tak mau aku harus menunggunya hingga sampai reda. Padahal siswa siswi di sekolah ku semuanya sudah meninggalkan sekolah sejak tiga jam yang lalu dan hanya tinggal aku serta beberapa staf sekolah saja. Aku sendiri sengaja akan pulang sore hari karena berniat menumpang menggunakan WiFi yang di sediakan di sekolah. Sebab, sudah dua hari jaringan Wifi di rumahku eror dan semenjak dua hari ini lah aku memanfaatkan fasilitas sekolah untuk mengerjakan pekerjaan di luar sekolahku.
Setengah jam berlalu akhirnya hujan reda. Aku bergegas menyalakan motor sport ku, motor yang aku beli seminggu yang lalu hasil dari usahaku sendiri. Sejak dari SMP aku memang sudah terbiasa mencari uang sendiri meskipun sebenarnya orang tua ku tergolong orang tua yang mampu untuk memenuhi kebutuhan ku serta keinginan ku. Akan tetapi, aku tidak ingin memanfaatkan uang orang tuaku dan aku lebih suka mencari uang sendiri. Ketika aku menginginkan sesuatu aku tak pernah meminta pada mereka melainkan berusaha sendiri.
Entah mewarisi bakat dari siapa sehingga aku bisa berbisnis menjual barang barang yang memiliki nilai. Mulai dari barang barang elektronik seperti kulkas, mesin cuci, TV, AC dan handpone Padahal pekerjaan kedua orang tuaku bukan seorang pembisnis. Ayah ku sendiri bekerja di pemerintahan, sementara ibuku seorang kepala sekolah di sebuah SMA negeri namun bukan di tempat dimana aku bersekolah.
Jika bertanya dari mana modal awal bisnisku? tentu saja dari uang saku pemberian orang tua tiap bulan yang aku tabung selama aku sekolah SMP. Jika bertanya bagaimana cara menjalankan bisnis berjualan sementara aku masih sekolah? Tentu saja dengan cara online. Aku memiliki toko online di beberapa aplikasi bahkan sosial media. Untuk barangnya sendiri aku bekerja sama dengan sebuah toko elektronik serta toko handphone yang telah memberikan kepercayaan nya padaku. Dan untuk menjalankan toko online yang cukup banyak karena aku tidak bisa menghandle nya sendiri maka aku menggaet tiga orang teman ku yang tidak lagi bersekolah namun sedang mencari pekerjaan untuk membantuku.
Usaha ku pun lancar karena aku memiliki banyak pelanggan yang percaya membeli produk di toko toko online ku karena toko ku memberikan pelayanan yang sangat baik. Selain itu, aku juga sering beriklan hingga sering mengadakan diskon besar besaran. Hasil dari usahaku mendatangkan keuntungan yang cukup besar bahkan sangat besar untuk seorang anak yang baru berusia belasan tahun sepertiku. Ketiga teman yang membantuku pun ku bayar tiap bulan dengan imbalan yang sepadan. Aku sendiri tidak suka jajan dan nongkrong atau main - main menghamburkan uang seperti kebanyakan teman - teman sebayaku. Oleh karena itu, uang hasil dari usaha aku tabung di rekening atas nama ayahku namun aku sendiri yang memegangnya. Kelak suatu saat nanti tabunganku bisa ku gunakan untuk modal membuat usaha yang lebih besar lagi karena menjadi seorang pengusaha adalah cita cita ku. Orang tua ku hanya mendukung saja apa yang menjadi keinginan serta passion ku. Meskipun mereka menginginkan aku menjadi seorang abdi negara.
Aku menyalakan motorku lalu melaju pelan meninggalkan gedung dimana tempat yang sudah dua tahun ini aku menuntut ilmu. Ketika aku melewati jalanan basah serta licin motorku tergelincir karena aku sendiripun belum terlalu lancar menggunakan motor apalagi motor besar. Maklum, selama ini aku selalu di antar serta di jemput oleh mang Udin kemana pun aku pergi. Mang Udin adalah sopir pribadi ayahku yang sering mengantarkan nya dinas ketempat kerjanya di kabupaten karena ayahku sendiri bekerja di pemerintahan. Tapi aku tidak tau apa jabatan ayahku karena aku sendiri tipikal anak yang tidak pernah mencampuri urusan orang tua dan tidak pernah bertanya pula.
Aku menahan motor besar ku agar tidak menindih seluruh tubuhku dan berteriak meminta pertolongan namun tak ada satupun orang yang melihat ku karena jalanan yang ku lewati adalah jalanan sepi tanpa penduduk melainkan kebun di sisi kiri dan kanan. Ketika aku sudah tidak tahan lagi menahan motor ku dan aku sudah pasrah jika harus mati tertimpa motor tiba tiba sebuah tangan berkulit putih serta halus ikut menahan motor ku dan mengangkatnya lalu menegakkan nya kembali dengan tenaga supernya.
"Ya Allah dek, kamu tidak apa apa kan?" tanya wanita yang menolongku. Dari nada bicaranya sepertinya dia mencemaskan ku.
Dia berjongkok melihat pada lutut ku yang mengeluarkan darah banyak di balik celana seragam sekolah yang sedang ku gunakan. Kemudian dia menggulung celana seragamku tanpa permisi lagi padaku karena aku sendiri sedang menahan rasa sakit. Aku yang dari tadi menunduk sambil memegang sebelah kakiku yang terluka mendongak kan wajahku dan seketika aku tercengang melihat wanita yang telah menolongku sedang menyibak kan rambut yang tergerai panjang serta lurus ke belakang telinganya sehingga menampakan sebuah wajah yang sangat cantik sekali. Hidung mancung, bibir tipis, mata bulat, bulu mata lentik, alis tebal serta putih mulus tanpa jerawat.
"Aku...aku telah di tolong oleh bidadari? gumam ku dalam hati. Dan aku merasa rasa sakit yang aku tahan dari tadi hilang seketika setelah melihat wajahnya.
"Ya Allah, ini lukanya cukup parah dek. Kita harus segera ke klinik," ucapnya.
Aku tidak menghiraukan ucapannya malah aku masih betah memandangi wajah cantiknya yang baru kali ini aku melihatnya dan tanpa sadar aku bertanya.
__ADS_1
"Apa...kamu bidadari?"
Pandangan nya tiba tiba mengarah ke wajah ku sehingga aku bisa melihat bentuk wajahnya dengan jelas. Tidak ada cacat dan hanya ada satu kata untuk pemilik wajah wanita yang sedang memandangku yaitu, perfect. Sorot mata bulatnya mampu menggetar kan hatiku sehingga jantung ku terasa berdetak lebih cepat. Aku menjadi gugup di tatapnya.
"Hei, dek, kamu bicara apa?" tanya nya sambil mengerutkan dahinya mungkin dia bingung dengan pertanyaanku.
Pertanyaannya membuat ku tersadar sehingga aku menjadi salah tingkah.
"Ti..tidak apa apa mba, ma..maaf!" jawab ku dengan gugup. Lalu ku alihkan pandanganku rasanya tak sanggup di tatap oleh mata beningnya.
"Ayok, kita ke klinik sekarang karena luka mu harus segera di obati," ajaknya sambil tangannya memegang lenganku. Aku sempat melirik tangan yang sedang memegang lenganku kemudian menunduk melihat pada lutut ku yang yang celananya sudah di gulung hingga ke atas lutut oleh bidadari di hadapanku. Benar saja lukanya lumayan besar dan harus di tangani oleh dokter.
Bidadari cantik ini membangunkan ku serta menuntunku menuju motor yang berjarak tiga meter dari kami. Setelah itu, dia menaiki motorku.
"Kenapa diam saja dek, ayok naik. Kamu tidak usah khawatir aku bisa kok membonceng mu dan inshaallah tidak akan jatuh."
Dengan perasaan campur aduk antara kagum, gugup, takut serta senang akhirnya aku menuruti perintahnya.
"Pegangan ya dek!" aku pun menuruti perintahnya memegang pinggang rampingnya.
Sepanjang jalan menuju klinik aku menyunggingkan senyum di bibirku sedang di bonceng oleh bidadari cantik yang entah darimana datangnya. Jujur aku kagum sekali pada wanita ini. Selain sangat cantik, dia baik sekali dan selain itu dia bisa mengendarai motor besar dengan lancar tidak sepertiku.
Lima belas menit kemudian kami tiba di depan sebuah klinik. Dia menuntunku kembali untuk masuk ke dalam klinik. Tiba di dalam dia menyuruhku untuk duduk di sebuah kursi tunggu dan dia berjalan menuju tempat admistrasi dan tak lama dia pun kembali lalu duduk di sampingku.
__ADS_1
Secara tak sengaja aku membaca name tag ukuran kecil yang menempel di bajunya Mungkin wanita ini lupa jika dia masih memakai name tag nya. Kemudian aku membacanya.
"Nuri Aisha!" ucapku.
Wanita cantik di sampingku menoleh padaku lalu bertanya,"kok, kamu tau nama saya dek?"
Aku jadi salah tingkah karena aku sendiri pun tak sadar jika membaca nya dengan mulutku bukan dalam hati.
"Ma...maaf mba, saya tidak sengaja melihat name tag kakak," jawab ku dengan jujur sambil menggaruk tengkuk ku.
Kemudian dia menunduk lalu mengumpat lirih," ya ampun malu maluin saja. Dasar ceroboh kenapa aku bisa lupa melepasnya!"
Benar saja dia lupa dan aku hanya tersenyum saja mendengar umpatannya.Tak lama namaku di panggil dan wanita yang baru saja ku ketahui bernama Nuri Aisha menuntunku kembali menuju ruang dokter. Tiba di ruang dokter dia berkata," aku tunggu kamu di luar ya?" dan hendak pergi namun secara reflek aku memegang tangannya seolah olah aku tidak ingin di tinggal olehnya.
"Apa..apa mba Nuri tidak mau menungguku di sini saja?" pintaku padanya. Dia tersenyum manis sekali dan itu cukup membuat jantungku kembali berdegup kencang. Kemudian dia menoleh ke arah dokter dan bertanya," apa saya boleh menemani adik saya di sini dok?"
"Adik..!"ucap ku dalam hati. Aku tercengang mendengar pengakuannya yang mengatakan jika aku adalah adiknya.
"Silahkan saja mba, tidak apa apa," jawab sang dokter.
"Terima kasih dok," jawab mba Nuri sambil tersenyum.
Ketika aku sedang di obati di atas brankar oleh dokter, mba Nuri hanya memperhatikan saja sambil duduk di atas kursi dan ketika aku menoleh padanya dia tersenyum manis padaku dan lagi lagi jantungku berdebar kencang.
__ADS_1
Apa kah ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama? entahlah aku tidak tau apa ini rasanya? karena aku sendiri tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya ketika bertemu dengan wanita wanita cantik di luar sana. Meskipun di sekolah ku sendiri aku menjadi primadona serta banyak sekali siswi yang menyukaiku tapi aku tidak pernah merasakan perasaan seperti yang saat ini aku rasakan.