
Byuurrrrrr
Seketika kepala, wajah, serta setengah tubuh ku penuh dengan cairan lengket serta potongan buah buahan. Tidak hanya cukup memfitnah dan menghina ku, Nura nekat menyiramkan minuman milik ku yang belum sempat ku minum ke arahku hingga membuat aku cukup terkejut atas ulahnya yang secara tiba tiba dan tidak dapat ku hindari. Saat ini aku benar-benar merasa sangat terhina. Kedua tangan ku pun mengepal ingin mencabik cabik mukanya namun apalah daya, aku hanya bisa memejamkan mata menahan emosi ku yang ingin meledak.
Plaak
Suara sebuah tamparan keras terdengar dengan jelas di kedua telingaku. Bathin ku bertanya siapa yang di tampar dan siapa yang menampar? Ku buka kelopak mataku perlahan nampak Nura tengah meringis sembari memegang pipinya. Ternyata Nura mendapat sebuah tamparan dari pria yang aku pikir akan lebih percaya dan memihak padanya. Ku lirik pria itu dia nampak amat marah. Tatapan nyalang nya menghunus wanita yang sudah tega berbuat keji pada ku. Memfitnah, menghina bahkan menyiram aku dengan mocktail di tempat umum.
"Rai, kamu...kamu berani menampar ku?" Nampak Nura berucap dengan bibir bergetar serta suara parau.
"Iya, kenapa? jangan kan menamparmu melempar kamu dari sini saja akan aku lakukan kalau kamu berani menyakiti calon istriku." Ucap Raihan dengan suara lantang hingga membuat banyak pengunjung mengarah pada kami.
Nura tersentak hingga nampak membulatkan matanya."Rai, bukan aku yang menyakitinya tapi dia yang menyakitiku." Tunjuk Nura padaku." Apa yang aku lakukan ke dia tidak sebanding dengan luka di lutut ku akibat perbuatannya." Sambungnya kemudian.
Raihan nampak mendengus."Cih, apa kamu pikir aku percaya sama omong bohong mu? Kamu tidak tau kan berapa lama aku mengenal sosok Nuri Aisha? aku sangat lama mengenal nya dan selama itu pula aku sudah hapal bagaimana sikap dan sifatnya. Dia itu wanita lembut jangan kan menyakiti sesama manusia apalagi sesama wanita menyakiti seekor semut pun dia tidak akan tega melakukannya."
"Tapi dia benar benar menjegal kaki ku, Rai."
"Kamu itu seperti hidup tanpa tuhan saja Ra, Calon istriku sudah bersumpah atas nama Tuhannya saja sudah membuat aku percaya bahwa kamu lah yang bohong."
"Rai, aku..."
"Cukup Nura. Jangan membuat aku semakin marah lalu nekat melempar mu dari gedung ini."
Nura nampak tersentak oleh bentakan serta ancaman Raihan dan baru kali ini aku melihat Raihan sekasar itu pada seorang wanita. Terlebih wanita itu adalah wanita yang pernah dekat dengan nya.
"A..aku tidak terima atas perlakuan mu padaku Rai, akan aku adukan sama papaku."
"Ya, silahkan kamu adukan. Wanita manja seperti mu memang pantasnya berada di ketiak bapak mu. Dan sampai kan salam ku pada tuan Bagaskara kalau bapak mu mau mencabut sahamnya silahkan karena hal itu tidak akan membuat perusahaan ku rugi dan bangkrut justru sebaliknya bapak mu lah yang akan rugi besar mencabut saham dari perusahaan yang sedang maju pesat dan mendatangkan keuntungan yang jauh lebih besar. We will see siapa yang akan dia pilih anak manjanya atau..."
Nura menghentak kan kakinya lalu beranjak pergi membawa kemarahan padaku serta pada Raihan.
Raihan geleng-geleng kepala melihat kepergian nya." Aku pikir benar-benar sudah berubah ternyata tidak. Dasar bunglon betina." Terdengar umpatan kesal keluar dari mulutnya.
Kemudian Raihan menoleh ke arahku lalu melangkah mendekati aku yang sedang berdiri mematung sembari bersedekap dada menahan hawa dingin yang sudah masuk ke dalam pori pori hingga tulang rusuk ku.
"Maaf kan aku sayang, maafkan aku." Raihan buru buru membersihkan area kepala, wajah serta bajuku yang terkena minuman mocktail dengan tangannya tanpa lap atau tisu. Setelah itu dia memeluk tubuhku tanpa ada rasa jijik dan takut basah.
"Lepaskan pelukan mu Rai, nanti baju mu jadi basah."
Namun, Raihan tidak menghiraukan ocehanku melainkan semakin mengeratkan pelukannya bahkan dia mengecupi pucuk kepalaku. Dalam dekapannya aku menyunggingkan senyum senang. Aku pikir Raihan akan lebih mempercayai omongan Nura tapi ternyata tidak. Dia justru lebih mempercayaiku dan bahkan dia berani bersikap kasar padanya demi membela aku yang sudah di fitnah, di hina serta di siram dengan air es yang semestinya untuk ku minum dan sekarang aku merasa haus di tengah kedinginan.
"Rai, aku haus."
"Iya sayang." Raihan melepaskan pelukannya lalu mengambil minuman miliknya yang belum sempat di minum olehnya lalu dia memberikan minuman itu padaku. Aku segera meneguknya hingga airnya habis tinggal menyisakan potongan buah buahan nya saja.
"Apa mau lagi?"
Aku menggeleng pelan."Aku ingin pulang saja, Rai."
"Iya, kita pulang sekarang." Raihan mengambil gelas yang ada di tanganku lalu meletak kan nya di atas meja. Kemudian pandangan nya mengarah ke sekitar seperti sedang mencari seseorang.
__ADS_1
"Mas kemari." Dia memanggil seorang waiter yang tengah melayani pengunjung lain. Waiter itu mengangguk dan tak lama dia menghampiri kami.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya waiter itu.
Kemudian Raihan merogoh dompetnya lalu mengambil uang warna merah sebanyak tiga lembar. Setelah itu dia memberikan uang itu pada waiter tersebut.
"Wah, kebanyakan pak."
"Tidak apa untuk mu saja sisanya. Emm, tadi ada masalah sedikit. Lantai ini tolong di keringkan secepatnya takut ada pengunjung lain yang akan duduk di sini saya takut mereka terpeleset."
"Oh, ya pak baik. Akan segera kami bersihkan dan terima kasih banyak pak."
"Sama sama." Kemudian Raihan meraih tanganku." Ayok sayang kamu harus segera ganti baju. Aku tidak mau kamu masuk angin." Lalu raihan menuntunku meninggalkan bar di bagian outdoor dan masuk ke bagian indoor.
"Rai, Zain mana?" Tanyaku ketika kami sudah berada di lounge.
"Sebentar sayang aku telpon mereka dulu." Setelah berucap Raihan merogoh ponselnya dan menghubungi dua wanita yang membawa Zain.
Beberapa menit kemudian dari kejauhan nampak dua wanita sedang berjalan cepat ke arah kami sembari menggendong Zain yang sedang tertidur.
"Sejak kapan anak ku tertidur?" Tanya Raihan sembari mengambil alih Zain dari salah satu mereka.
"Sejak tiga jam yang lalu pak bos."
"Wah, enak banget kalian makan gaji buta." Ledek raihan. Mereka saling pandang."Habis gimana pak, Dede nya habis makan minta tidur tidak ingin di ajak main." Jawab salah satu dari mereka.
"Terus selama anak saya tidur kalian ngapain?"
"Ya, ikutan tidur pak."Jawab wanita yang sejak tadi tidak bersuara.
"Lho, kok di potong pak." Protes mereka.
"Ayok sayang." Raihan tidak merespon protes mereka melainkan menarik tangan ku dan mau tak mau aku pun menurut.
"Kok kamu gitu sih Rai, main potong gaji karyawan. Kasihan lho mereka lagi pula mereka kan sudah menjaga Zain dengan baik." Aku ikutan protes setelah berada di dalam lif.
"Aku hanya menggertak saja sayang. lagian siapa yang tidak kesal. Aku sudah mengirim beberapa kali pesan untuk membawa Zain pada kita namun tidak satu pun di balas oleh mereka. Ehh, tidak taunya mereka sedang enak enak tidur."
Aku baru mengerti kenapa Raihan nampak kesal dan bersikap datar pada dua staf nya itu ternyata karena mereka tidak membalas pesan pesan Raihan.
Beberapa menit kemudian pintu lif terbuka. Sembari menggendong Zain, Raihan menuntunku ke luar dari lif. Tempat yang ku singgahi saat ini adalah sebuah lobby di atas lantai lima puluh dua. Raihan menyuruhku menunggunya dan duduk di sebuah bangku tunggu lalu dia berjalan ke arah meja resepsionis. Entah apa yang dia bicarakan dengan salah satu resepsionis itu hingga nampak resepsionis itu seperti memberikan sebuah kartu padanya.
"Ayok sayang." Ajak Raihan setelah berada di hadapanku. Aku bangun lalu Raihan memegang tanganku dan menggiringku memasuki sebuah lif kembali. Namun yang membuat aku heran adalah kenapa Raihan tidak membawaku turun ke lantai dasar gedung ini melainkan membawaku naik lagi ke atas.
Beberapa menit kemudian lif itu berhenti di lantai enam puluh enam dan dalam hitungan detik pintu lif itu terbuka. Raihan menggiringku keluar dari lif itu dan aku pun menurutinya.
"Rai, kenapa kita kemari?" Tanya ku sembari ekor mataku mengitari ke sekeliling. Tempat itu nampak mewah di mataku.
"Nanti saja bertanya nya sayang."
Aku mengikuti kemana pun Raihan melangkah karena dia satu satu nya petunjuk jalan ku di tempat yang sangat asing bagiku hingga Raihan menghentikan gerakan langkahnya di depan sebuah pintu lalu menempelkan kartu yang dia dapat dari resepsionis itu di depan sebuah sensor ukuran kecil. Setelah itu, Raihan memutar gagang pintu yang entah apa di dalamnya lalu terbuka.
__ADS_1
"Ayok sayang masuk." Raihan lebih dulu masuk lalu aku mengekor di belakangnya.
Tiba di dalam aku tidak lagi penasaran melainkan tercengang melihat apa yang aku lihat yaitu sebuah kamar yang nampak sangat mewah bagi ku namun tidak tau bagi Raihan. Maklum aku ini hanya orang kampung yang sangat jarang masuk kota besar apa lagi masuk hotel super mewah bahkan belum pernah dan baru kali ini. Kamar berukuran sangat luas, desain modern dan dominan warna putih serta kaca berukuran besar terpampang nyata menampilkan keindahan kota Jakarta.
"Kamu....kenapa membawa kami ke hotel, Rai?" Tanya ku pada Raihan yang sedang meletak kan tubuh mungil Zain di atas kasur yang berukuran besar dan nampak empuk.
"Kalau aku membawa mba ke apartemen terlalu lama di jalan sayang. Aku tidak mau mba masuk angin. Oleh karena itu aku bawa mba kemari. Lagi pula sudah terlalu malam sayang, kasihan Zain kalau nekat pulang ke apartemen."
"Tapi Rai, aku tidak bawa baju ganti."
"Tunggu si Dina sebentar lagi dia akan sampai."
"Dina."
"Iya. Ya sudah lebih baik mba bersihkan diri dulu. Ehh, tapi...sebentar mba aku dulu yang ke kamar mandi." Setelah berucap Raihan tergesa gesa berjalan ke arah kamar mandi sembari memegang area miliknya. Sepertinya dia sudah tidak tahan lagi menahan kantong kemihnya yang sudah penuh.
Tok tok
Aku menoleh ke arah pintu yang sedang di ketuk cukup keras. Lalu menoleh lagi ke arah kamar mandi, Raihan belum saja muncul dari kamar mandi itu.
Tok tok
Ketukan pintu pun terdengar kembali bahkan lebih keras dari pada yang pertama dan mau tidak mau aku pun mendekati pintu itu meskipun sebenarnya takut.
Kemudian dengan hati hati aku membuka pintu itu lalu nampak seorang pria berwajah datar dan dingin sedang berdiri tegak di depan pintu. Pria yang pernah mengantar aku saat akan bertemu dengan Raihan di restauran atas.
Aku menautkan kedua alisku melihat pria itu dan pria itu pun menatap ku datar tanpa ekspresi."Ka..kamu kenapa ada di sini?" Tanya ku dengan heran. Namun tak lama aku baru ingat bahwa Raihan sedang menunggu orang yang bernama Dina. Tapi bukan kah Dina itu nama perempuan?
"Apa kamu yang bernama Dina?" Tanya ku pelan. Dia tidak menjawab melainkan mengerutkan keningnya.
"Siapa sayang?" Tanya Raihan dari dalam.
"Kanebo kering." Jawab ku dengan suara sedikit tinggi. Pria itu semakin mengerutkan keningnya mendengar aku menyebutnya kanebo kering. Lagi pula siapa yang tidak kesal di tanya nama nya tapi tidak mau menjawab.
"Kanebo kering." Ulang Raihan sembari berjalan ke arah pintu.
"He'em."
Setelah berada dekat denganku dia ikut melihat ke arah luar." Ya ampun kanebo kering ha ha ha." Raihan tertawa terbahak bahak menertawakan si pria datar dan dingin di depan kami.
Pria itu nampak kesal ditertawakan Raihan. "Nih, pesanan Lo, bro." Ucap pria itu dengan bahasa gaulnya sembari melempar paper bag berukuran besar ke arah kami. Raihan dengan sigap menangkapnya.
"Lo kagak sopan banget Dina main lempar. Gimana kalau kena muka calon bini gue? bakal gue tuntut lho."
"Nama gue Dino, D I N O. Dinoo. Lagian Lo ngetawain gue. Kagak tau Lo kalau gue udah susah payah nyari pesanan Lo?" Pria yang baru ku ketahui bernama Dina alias Dino itu nampak kesal dengan ledekan Raihan. Sudah ku sebut kanebo kering tambah lagi Raihan memanggilnya dengan sebutan nama perempuan wajar saja jika dia nampak kesal. Namun meskipun begitu mereka nampak akrab seperti berbicara dengan seorang teman sepermainan saja jika di lihat dari gaya bahasa yang mereka gunakan.
"Ha ha ha. Lebih enak di panggil Dina biar mulut gue kagak monyong. Atau kanebo kering saja seperti yang calon bini gue bilang."
Aku mencubit kecil pinggang Raihan agar dia berhenti meledek pria yang entah siapanya Raihan. Lagi pula wajah pria itu nampak semakin datar saja.
"Tidak mengapa sayang kami sudah biasa becanda. Lagi pula dia duluan yang sering memanggilku Raihana. Kurang ngajar banget kan sama boss sendiri berani meledek."
__ADS_1
"Raihana! ha ha." Seketika Raihan membekap mulutku ketika aku tertawa lepas. Seketika itu pula aku menghentikan tawaku. Nampak Dino ikut tertawa namun dia menutup mulutnya dengan tangannya. Ini pertama kalinya aku melihatnya tertawa.
"Ya sudah sana pergi. Nanti gue tambahin bonus di slip gaji Lo satu persen."