
Aku membiarkan Raihan mengakui dirinya sebagai calon suamiku di hadapan tiga orang wanita itu, terutama di hadapan Ipah Saripah agar dia tidak lagi bicara sembarangan mengatakan pada orang orang bahwa aku masih mengejar ngejar suaminya. Sekalian ku tunjukan padanya bahwa aku bisa mendapatkan laki laki yang jauh lebih sempurna segala gala nya dari laki laki yang dia puji setinggi langit itu, meskipun aku tidak tau bagaimana hubungan kami ke depannya.
Dengan sadar aku menautkan tanganku dan bergelayut manja di tangannya. Raihan melirik dia tersenyum menggoda."Aku senang sekali melihat sikap mu yang manja seperti ini," ucap nya.
"Benar kah?"tanya ku sembari tersenyum. Jujur, sebenarnya aku merasa malu sekali bermesraan di depan orang. Namun apa boleh buat sebab hal ini merupakan hal yang sangat langka karena aku sendiri sangat jarang bertemu dengan Ipah Saripah di dunia nyata. Dan semoga setelah ini dia tidak lagi menghina ku serta mengatakan bahwa aku masih mengejar suaminya.
"He'em."
"Ya sudah yuk, kasihan Ria mungkin dia sedang menunggu kita,"kataku.
Sembari memegang lengan Rio, Raihan menggandeng lenganku hingga sampai mobilnya yang sedang terparkir tampan di depan warung bakso.
Aku melepaskan tanganku dari tangan Raihan karena dia hendak membuka pintu mobil belakang untuk Rio. Setelah Rio masuk ke dalam mobil, Raihan membukakan pintu untuk ku dan aku memasukinya setelah mengucapkan terima kasih padanya.
Sebelum Raihan melajukan mobilnya dan meninggalkan warung bakso itu aku menyempatkan diri melirik pada tiga wanita yang masih terbengong melihat ke arah mobil yang kami tumpangi. Entah apa yang mereka pikirkan terutama Ipah Saripah tentangku saat ini. Melihat ekspresinya seperti itu aku jadi penasaran ingin mengetahui isi pikiran nya.
Tiba di depan sekolah Ria, belum pula nampak siswa siswi keluar dari gedung bercat hijau muda itu. Aku jadi bingung sendiri kenapa jam sekolah nya terlalu lama sekali padahal sudah jam satu lebih. Raihan melirik jam yang melingkar di tangannya kemudian menyugar rambutnya kebelakang dengan kedua tangannya.
"Lelah ya?"tanya ku.
Dia melirik."Sama sekali tidak sayang,"ucap nya, lalu meraih sebelah telapak tangan ku dan meletak kan di pipinya sesekali mengecupnya.
"Udahan aktingnya Rai."
"Mba yang berakting, aku mah tidak."
"Kok..." Aku terbengong melihatnya.
Raihan tertawa renyah lalu mengelus pipiku."Aku tau tadi mba sedang berakting kan di depan istrinya mas Surya?"
"Kok kamu tau kalau itu istrinya...."
"Apa sih yang tidak di ketahui oleh seorang Raihan Hermawan Gemilang yang tampan ini? tanpa berakting pun kita memang pasangan yang romantis kan mba, he he."
Aku memajukan bibir bawah ku lalu tersenyum tipis.
Di sela sela mengobrol, bergerombolan siswa siswi keluar pintu gerbang. Aku segera keluar dan berdiri di samping mobil agar Ria mudah mencari ku. Raihan pun ikut turun dan berdiri sembari menyender dan bersedekap dada. Selama menunggu Ria, ternyata keberadaan kami menyita perhatian para siswa siswi serta orang tua yang sedang menunggu anak anaknya karena penampilan Raihan yang kontras di tambah lagi mobil mewah yang terparkir. Sebenarnya aku malu jadi bahan tontonan orang orang namun jika aku menunggu di dalam mobil, Ria tidak akan mengetahui keberadaan ku.
Cukup lama kami menunggu Ria yang tidak muncul juga. Aku heran kenapa Ria lama sekali keluar dari sekolahnya padahal siswa siswi sudah mulai berkurang.
__ADS_1
"Kenapa Ria tidak ada mba?"tanya Raihan di seberang mobil.
Aku menggeleng kepala.
Hingga siswa siswi yang keluar bisa di hitung dengan jari Ria masih belum nampak. Aku jadi cemas di buatnya. Ketika ada dua siswi sedang jalan beriringan aku menyetop mereka.
"Dek, kalian kenal sama Ria kelas tiga belas B tidak?"
"Oh, kenal kak, kita satu kelas,"jawab salah satu dari mereka.
"Terus Ria nya mana kenapa tidak keluar?"
"Tadi Ria di panggil ke ruang BP kak,"
"Hah, memang kenapa?"
"Berantem sama si cungkring."
"Berantem sama si cungkring?"ucap ku mengulang. Aku jadi bingung di buat dua murid itu.
Setelah kepergian dua murid tadi aku melihat Ipah Saripah berjalan tergesa gesa masuk ke dalam sekolah."kenapa dia ada di sekolah ini? apa jangan jangan anaknya bersekolah di sini juga?"ucap ku dalam hati.
"Kata anak dua tadi Ria sedang berada di ruang BP."
"Apa kita datangi saja ke sana mba, takut terjadi apa apa sama dia,"saran Raihan.
Aku mengangguk menyetujui sarannya.
Aku dan Raihan berjalan beriringan memasuki pintu gerbang yang terbuka lebar. Tiba di gedung bercat hijau muda itu terlihat sudah sepi hanya ada dua orang tukang bersih bersih yang sedang menyapu. Kami pun menghampiri mereka dan menanyakan letak ruangan BP. Setelah mereka memberi tahu, kami melanjutkan langkah kami menuju ruang BP yang sudah di beri tahu sebelumnya oleh Tukang menyapu itu.
Setelah berada di ruang BP kami mendengar suara isakan tangis dan ku yakini itu pasti suara isakan tangis Ria, dan aku juga mendengar suara teriakan seorang perempuan sepertinya sedang memarahi Ria. aku semakin tidak sabar untuk memasuki ruangan itu.
Raihan mengetuk pintu Ruang BP tersebut. Tidak lama kemudian pintu terbuka nampak seorang pria paruh baya berseragam guru tercengang melihat kami.
"Ma..maaf, mas...mba..siapa ya?"tanya pria itu yang kemungkinan seorang guru BP. Aku tidak tau kenapa dia merasa gugup melihat kami, apa karena melihat Raihan yang terlihat seperti seorang bos atau orang penting.
"Maaf pak, kedatangan kami kesini sedang mencari seorang adik yang kebetulan ada orang memberi tahu kami bahwa adik kami sedang berada di Ruang BP."Raihan menguraikan tujuan kami datang ke ruang BP.
"Maaf, Nama adiknya siapa ya mas?"
__ADS_1
"Ria, namanya Ria pak." Aku yang menjawab dengan rasa tidak sabar.
Guru BP itu terlihat terkejut.
"Saya mendengar dia menangis di dalam, sebenarnya apa yang sedang terjadi? apa boleh kami melihatnya?" tanya Raihan.
"Iya, silahkan, silahkan masuk."Guru BP itu mempersilahkan kami masuk.
Setelah berada di dalam aku melihat orang yang sangat aku kenal sedang mencubit geram Ria, sontak saja perlakuannya membuat aku marah.
"Heh, lepasin itu tanganmu dari adik ku," bentak ku dengan geram.
Ipah menoleh ke arah kami lalu membesarkan bola matanya, nampak nya dia terkejut sekali melihat keberadaan ku dan Raihan terlebih dia telah ke pergok sedang bertindak kekerasan pada anak di bawah umur.
"Kak Nuri...."teriak Ria, sembari menangis dia berlari ke arah ku lalu memeluk ku. Aku membalas pelukan Ria, sambil mengelus punggungnya ku tatap tajam Ipah Saripah sehingga membuat nya menciut seketika. Aku juga melihat anak laki laki kurus sedang menatap songong ke arah ku. Dan ku yakini bahwa anak laki laki yang di sebut cungkring oleh dua murid tadi itu adalah anak laki laki yang terlihat kurus kering ini, mantan anak tiriku.
"Silahkan duduk mas, mba,"ucap guru BP.
Aku dan Raihan duduk berdampingan dan berhadapan dengan ipah Saripah dan guru BP itu. Ku perhatikan Ipah sering kali curi pandang ke arah Raihan, aku tau dia terpesona pada ketampanannya.
"Bisa mulai di jelas kan apa yang terjadi dengan adik kami pak?" Raihan membuka pembicaraan.
"Begini mas, mba, sebelumnya saya mau tanya dulu apa Ria adik mba dan masnya?"guru BP itu balik bertanya.
Aku dan Raihan saling pandang kemudian mengalihkan kembali pandangan kami pada guru BP itu.
"Begini pak, sebenarnya Ria ini adik dari teman saya dan orang tuanya saat ini sedang di rawat di rumah sakit. Jadi untuk saat ini saya lah penanggung jawab apa pun yang terjadi sama Ria."Aku menjelaskan tentang hubungan ku dan Ria.
"Oh, begitu."
Guru BP itu mulai menceritakan perkara yang terjadi yang mana Ria bertengkar dengan anak Ipah gara gara bermula si cungkring meledeki sepatu Ria yang bolong dan memaksa untuk melepasnya lalu membuang sepatu itu ke atas genteng. Ria tidak terima dan dia marah dan dengan emosi yang tidak terkontrol Ria menendang perut serta anu nya si cungkring dan menyebabkan si cungkring pingsan.
Raihan tersenyum mendengar cerita guru BP kemudian mengacungkan jempol ke arah Ria. Guru BP dan Ipah Saripah terbengong melihat Raihan yang lebih mendukung perbuatan Ria.
"Kalau saya jadi Ria, saya juga akan melakukan hal yang sama," kata Raihan dengan santai dan bersedekap dada.
Kemudian dia menoleh ke arah anak laki laki berbadan kurus."Hai boy, apa luka anu mu parah? Mau di obati di rumah sakit tidak? sekalian di sunat. Kamu belum sunat bukan?"
Anak itu terlihat terkejut kemudian berdiri dan berteriak."Tidak, aku tidak mau di sunat. Anu ku baik baik saja."
__ADS_1