
Aku menatap bingung pada isi lemari bajuku karena aku tak memiliki baju baru untuk pergi ke acara ulang tahun anak adik ipar ku nanti sore. Aku tau, Elis pasti mengundang keponakannya dari mantan istri suamiku juga. oleh karena itu, aku ingin memakai baju baru agar nanti mantan istri suamiku tidak mengatai ku kucel dan dekil lagi seperti yang dia katakan di inbox Facebook.
Terpikir oleh ku untuk membeli pakaian baru saja sekalian membelikan pakaian untuk Zain serta membeli peralatan make up. Toh, aku punya uang hasil penjualan kerupuk. Sepertinya tidak apa apa jika aku ingin sekali kali memanjakan diri dan menikmati hasil dari jerih payahku sendiri.
Siang ini aku bersiap untuk pergi ke toko yang ada di pasar. Ku lihat wajah Zain yang berseri seri karena dia tau aku akan mengajaknya jalan jalan. Sambil mengusap pucuk kepalanya aku bertanya," Zain senang tidak kita akan jalan jalan?"
"Ceneng mama!" sambil tersenyum nyengir.
"Doain mama ya nak, semoga usaha mama lancar terus. Nanti kalau uangnya sudah banyak kita beli motor supaya kalau Zain mau kemana mana tidak lagi berjalan kaki."
"Iya mama!" sambil senyum yang tak lepas dari bibir mungilnya.
Aku tersenyum dengan senyuman penuh harap. Ingin rasanya memiliki sebuah motor lagi seperti dulu ketika aku masih bekerja. Andai saja tidak di jual oleh bang Supra kakak pertamaku, mungkin saat ini aku masih memiliki motor dan jika ingin kemana mana tidak harus bersusah payah berjalan kaki.
Aku menggendong Zain kemudian melangkah pergi meninggalkan rumahku. Namun baru saja sampai di ujung jalan rumah, sebuah Avanza melintas dan berhenti tepat di depanku. Aku tau siapa pemilik mobil itu, mobil yang kemarin memberi tumpangan padaku dan Zain ketika hendak ke mini market.
Kaca mobil terbuka, nampak pria paruh baya tersenyum lebar ke arahku lalu menyapa," Mau kemana dek Nuri?"
"Mau ke pasar pak ustad!"jawab ku. Aku heran tumben sekali ustad Amir melintasi jalan ke arah rumahku padahal selama ini aku tidak pernah melihatnya.
__ADS_1
"Wah, saya mau ke rumahmu ada perlu dengan ibu mu."
"Tapi, ibu saya sedang tidak ada di rumah pak ustad!"
"waduh, memang sedang kemana dia? apa saya bisa menunggu di rumah mu saja?"
"Ibu saya sedang ke Cirebon sudah dua bulan lebih dan saya tidak tau kapan dia mau pulang pak ustad."
"Oo..begituu..pantas saja sudah lama saya tidak melihat ibumu ikut pengajian."
"Memang kenapa pak ustad, apa ibu saya memiliki hutang sama pak ustad?" tanya ku dengan serius. Aku langsung berfikir ke arah hutang karena setiap ada orang yang menanyakan keberadaan ibu pasti tak lepas dari hutang dan sudah banyak sekali orang yang menagih hutang padaku. Aku takut ibuku memiliki hutang juga pada ustad Amir.
"Ya, begitu dek Nuri, tapi tidak usah kamu pikirkan ini masalah saya dan ibumu. Selagi istri saya tidak tau rasanya aman saja."
"Saya sudah bilang tidak usah di pikirkan dek Nuri, ini urusan saya dan ibu Retno. Kamu santai saja."
Aku yang sedikit melamun tersadar jika masih ada ustad Amir di hadapanku.
"Terima kasih pak ustad," ucap ku kemudian.
__ADS_1
"Sama sama dek Nuri. Oya, kamu mau ke pasar kan? sekalian saja ikut dengan saya, soalnya saya juga akan mengarah ke sana."
Aku terdiam memikirkan menerima atau menolak tawaran ustad Amir. Sebab, aku takut sekali akan menjadi sebuah fitnah di kampung ini. Namun jika menolak terpaksa aku harus berjalan kaki lagi menuju jalan raya.
"Tidak usah sungkan dek Nuri, slow saja sama saya mah. Meskipun saya seorang ustad terpandang di kampung ini tapi anggap saja saya ini orang biasa sama seperti penduduk lainnya," ujar ustad Amir, merendah diri namun membanggakan diri.
Aku hanya tersenyum tipis saja mendengar ujarannya dan mau tak mau aku menerima tawarannya. Ustad Amir melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju pasar. Sepanjang jalan aku tidak banyak bicara hanya ustad Amir saja yang berceloteh hingga menceritakan masalah pribadinya mengenai bagaimana istrinya. Selain itu, dia juga menceritakan bagaimana Risa anaknya begitu menyukai Raihan meminta serta memaksanya untuk meminang Raihan, jika tidak Risa mengancam akan pergi dari rumahnya padahal Raihan tidak menyukai Risa. Ustad Amir bilang dia cukup pusing menghadapi sikap serta keinginan Risa yang harus di turuti dan gaya hidup istrinya yang seperti seorang sosialita.
Namun di ujung ceritanya dia berkata,"saya lebih suka sama wanita sederhana seperti dek Nuri, cantik, sederhana dan sopan." sambil tersenyum lebar ke arahku.
Aku tercengang mendengar ucapan ustad Amir. Tidak menyangka seorang ustad serta memiliki seorang istri dan anak memuji wanita lain bahkan wanita itu sudah memiliki suami. Aku segera mengalihkan pandangan ku ke arah depan. Rasanya aku ingin segera sampai di pasar namun mobilnya terasa melaju lamban sekali.
Memberanikan diri aku berkata,"Pak ustad, sebenarnya saya buru buru ini. Bisa tidak sedikit di cepat kan mobilnya? kalau tidak bisa biar saya turun di sini saja dan naik kendaraan umum."
"Oh, ya dek Nuri, maaf ya! saya ke enakan cerita he he!" Kemudian dia langsung mencepatkan mobilnya hingga akhirnya kami tiba di pasar.
Aku turun dari mobil setelah berterima kasih pada ustad Amir. Sebenarnya, dia menawariku untuk di jemput nya kembali namun aku menolak dengan alasan akan mampir ke rumah temanku terlebih dahulu. Aku bernafas lega setelah kepergian mobil ustad Amir dari hadapan ku. Entah mengapa aku merasa sikap ustad Amir aneh. Bagaimana tidak aneh, dia seorang ustad tapi terang terangan menceritakan aib keluarganya pada orang lain terlebih orang itu wanita dan memiliki suami. Selain itu, pujiannya padaku seolah olah menunjukan ketertarikannya. Padahal dia seorang ustad dan sudah memiliki keluarga apa pantas seperti itu? Aku menggoyangkan kepalaku. Tidak usah ku pikirkan lagi lebih baik aku segera berbelanja.
Kemudian aku menyusuri pasar mencari toko pakaian wanita dewasa. Setelah menemukannya aku segera memilih pakaian yang cocok untuk ku. Setelah aku selesai membeli pakaian untuk ku, aku pergi ke toko pakaian khusus anak anak lalu memilih lima pasang baju untuk Zain. Setelah itu, aku memasuki sebuah toko kosmetik dan memilih beberapa kosmetik yang aku butuhkan. Setelah semua yang aku butuhkan di dapat, aku membawa Zain ke tempat permainan anak anak. Mata Zain berbinar binar melihat banyak nya permainan yang ada di sana.
__ADS_1
Dua jam cukup menyenangkan hati Zain, sekarang dia merasa lapar begitu pula denganku yang tak kalah lapar dari Zain. Aku memasuki sebuah rumah makan sederhana namun cukup bagus kemudian memesan beberapa makanan untuk ku dan juga Zain.
Hari semakin sore, aku bergegas pulang menaiki angkutan umum. Seulas senyum tersungging di bibirku melihat Zain tertidur di pangkuanku. Ini untuk pertama kalinya aku menyenangkan hati Zain. Membelikannya beberapa baju, membawanya ke tempat permainan serta mentraktirnya makan di sebuah rumah makan. Aku merasa hidupku kembali seperti dulu, memiliki uang lalu ku nikmati hasilnya dengan bebas.