
Rasa lapar yang awalnya mendera perutku tiba tiba menghilang ketika melihat ibu sedang makan begitu lahap di meja makan.
Ibu memakan nasi Padang milik ku namun aku tidak marah melainkan membiarkannya saja. Sebab, aku tidak ingin bertengkar dengannya hanya karena soal makanan.
Aku mencoba berpikir positif saja mungkin ibu masih lapar atau sedang ingin makan nasi Padang meskipun dia baru makan satu setengah jam yang lalu. Lagi pula ibu tidak pernah makan enak saat dia tinggal di Cirebon jadi aku pun tidak mempermasalahkan nya karena aku pikir aku masih bisa menggoreng telur dan sambal yang sudah ada di meja sebagai menu makan siang ku nanti.
Ibu menoleh ke arah ku yang masih berdiri mematung menatapnya."Kenapa kamu lihatin aku terus dari tadi?"Tanya ibu dengan ketus dan menunjukan wajah datar. Aku sedikit terkejut karena ini merupakan untuk pertama kalinya dia bertanya atau mengeluarkan suaranya pada ku setelah pulang dari Cirebon.
Aku menggeleng cepat."Tidak bu, silahkan di lanjut lagi makan nya, Bu." Setelah berucap aku melangkah pergi menjauhinya. Sembari berjalan aku menoleh ke belakang nampak ibu masih melihat ku dengan tatapan yang sulit ku artikan.
Ketika beranjak dari dapur dan melewati kamar bang Supri, samar samar telingaku mendengar suara berisik nya sedang mengobrol dengan seseorang lewat telpon dan menyebut nyebut namaku. Aku cukup penasaran kenapa bang Supri ngobrol dengan seseorang menyebut nyebut namaku. Tapi aku berpikir positif mungkin bang Supri sedang mengobrol dengan salah satu langganan kerupuk. Aku pun melanjutkan langkah ku menuju kamarku dan tidak menghiraukan percakapannya lagi.
Setelah berada di dalam kamar nampak Zain masih tidur dengan pulas padahal dia belum makan siang. Melihat Zain tidur rasanya ingin ikut tidur di samping nya. Beberapa kali menguap akhirnya aku merebahkan tubuhku sembari memeluk Zain lalu memejamkan mata.
Entah berapa lama aku tertidur hingga bangun sudah tidak menemukan Zain di samping ku. Kemudian sorot mataku mengitari kamar siapa tau Zain sedang bermain di bawah kasur namun aku tidak menemukan keberadaanya.Kemana Zain? tidak biasanya dia keluar kamar ketika aku masih tidur. Biasa nya dia akan keluar kamar setelah aku terbangun karena aku selalu mengajarinya demikian.
Setelah itu, aku buru buru turun lalu keluar kamar untuk mencari Zain.
"Zain, Zain, Zain!" Berulang kali aku berteriak memanggilnya di depan pintu kamar namun Zain tidak menyahut.
"Berisik banget sih!" Ibu yang sedang menonton TV tiba tiba berucap kesal karena merasa terusik oleh teriakan ku. Aku sendiri baru menyadari keberadaan ibu di sana saking cemas nya.
"Apa ibu melihat Zain?"Aku tidak menghiraukan kekesalannya melainkan bertanya dan siapa tau ibu mengetahui keberadaan Zain karena ibu berada di ruang TV yang jaraknya lebih dekat dengan kamarku.
"Mana ku tau anak mu dimana? lihat saja tidak." Ternyata dugaan ku salah. Aku pikir ibu yang duduk di depan TV melihat Zain keluar kamar tenyata tidak bahkan melihat pun tidak. Begitu lah ibu, dia tidak pernah peduli pada cucunya sendiri dari dulu hingga sekarang masih saja begitu dan entah kapan dia akan menyayangi anak ku.
Aku tidak lagi menghiraukan keberadaan serta ucapan kesal ibu melainkan meneruskan pencarian ku. Aku berjalan ke sana kemari mencari keberadaan Zain hingga sudut-sudut ruangan ku cari namun Zain tidak ku temukan.
"Ya Allah nak, kamu kemana sih?"
Satu satu nya tempat pencarian yang belum adalah di luar rumah. Aku pun bergegas keluar rumah. Setelah berada di luar rumah aku mencari ke sana kemari hingga ke pekarangan milik orang namun tidak menemukan keberadaannya.
__ADS_1
Pandanganku mengarah ke arah pabrik."Apa Zain ada di dalam pabrik?" Tidak ingin berpikir panjang lagi aku langsung berjalan ke arah pabrik dengan harapan Zain ada di situ karena tempat itu satu satunya yang belum aku datangi.
"Zain, Zain!" Teriak ku sembari masuk ke dalam pabrik. Tiba di dalam semua mata tertuju padaku termasuk Sumi dan bang Supri.
"Nur, kamu teriak teriak nyariin si Zain kok kemari?" Bang Supri bertanya dengan raut muka heran.
"Mana Zain bang? apa Zain ada di sini?" Aku bertanya antusias sembari mengedarkan pandangan ke segala sudut.
"Lho, kok kamu nanya si Zain ke aku ya mana aku tau lah. Orang dari tadi aku di sini terus. Bukannya tadi dia sedang tidur sama kamu?"
"Iya Nur, kami dari tadi siang belum keluar dari sini. Coba kamu cari lagi siapa tau Zain sedang main di dalam rumah." Sumi membenarkan ucapan bang Supri.
"Tidak ada, Zain tidak ada dimana mana Sum. Sudah aku cari ke segala sudut ruangan tapi Zain tidak ada."
"Apa kamu sudah tanya sama ibu?"Tanya bang Supri.
Aku menggeleng lemah."Ibu tidak tau keberadaan Zain, bang." Air mataku mulai berjatuhan membayangkan Zain hilang di culik lagi seperti dulu.
Sumi mengangguk lalu membuka sarung tangannya. Begitu pula dengan bang Supri membuka sarung tangan lalu mencuci tangannya.
Kemudian aku, Sumi dan bang Supri keluar dari pabrik setelah menyerahkan pada ibu ibu semuanya. Setelah itu mulai mencari keberadaan Zain.
Setelah mencari kemana mana tidak ada satupun dari kami yang menemukan keberadaan Zain. Aku mulai resah dan gelisah. Air mata ku pun berjatuhan kembali.
"Sabar ya Nur, sabar. Zain pasti baik baik saja dan pasti akan ketemu." Ucap bang Supri menenangkan aku sembari mengelus elus punggungku.
"Gimana bisa sabar bang anak ku hilang lagi. Aku takut sekali Zain di culik lagi kayak dulu."
"Ya ampun Nur, mikir nya yang positif saja kenapa. Kita berdoa saja semoga Zain baik baik saja."
"Coba kita cari ke rumah pak Yanto. Bukannya dia pernah bermasalah dengan kalian ya? siapa tau dia dendam lalu nyembunyiin Zain." Usul Sumi tiba tiba. Sempat sempat nya dia berpikir pak Yanto yang menculik Zain.
__ADS_1
Aku dan bang Supri saling pandang. Apa mungkin pak Yanto menculik Zain karena kami pernah membiarkannya menggantung di atas pohon? pikir ku.
"Jangan asal nuduh Sum, nanti jatuh nya fitnah." Ucap bang Supri.
"Aku bukan nuduh bang, tapi tidak apa kan kalau kita mencurigainya? terus kemana coba Zain?"
"Usul Sumi boleh juga bang. Apa salahnya kita coba datangi rumah pak Yanto."
"Ya sudah kalau begitu. Ayok kita pergi sekarang."
Setelah itu kami beranjak pergi ke rumah pak Yanto melalui jalan setapak agar tembus langsung ke halaman rumahnya. Sebab, kalau lewat belakang pabrik tembus nya ke belakang rumahnya dan sulit masuk ke halaman rumahnya karena di pagar. Pak Yanto memang licik. Halaman depan rumah di pagar agar tidak dikotori oleh ayam ayamnya namun pekarangan belakang di biarkan sehingga ayam ayam nya bisa bebas berkeliaran hingga sampai ke halaman rumahku yang tidak di pagar.
Setelah tiba di halaman rumah pak Yanto Pintu rumahnya nampak tertutup. Semenjak kejadian waktu itu pak Yanto tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya namun ayam ayamnya masih tetap berkeliaran di pekarangan rumah ku.
"Permisi pak Yanto, bu Yanto!" Sumi memanggil pemilik rumah sambil mengetuk ngetuk pintu rumahnya namun belum ada sahutan dari dalam.
"Permisi pak, Bu Yanto!" Ulang Sumi tanpa putus asa. Hingga sampai ke tiga kalinya baru pintu itu terbuka lalu nampak pak Yanto dari balik pintu. Setelah melihat kondisi pak Yanto aku jadi tidak yakin jika anak ku di culik olehnya. Sepertinya pak Yanto dalam keadaan sakit. Mukanya pucat pasi, keningnya di tempel koyo kiri dan kanan. Selain itu, tubuhnya pun nampak lemah. Pantas saja aku tidak melihatnya dalam beberapa hari ini.
"Ada apa kalian rame rame datang ke rumah ku? mau ngeroyok?"Tanya pak Yanto pelan namun sinis.
"Ngeroyok? kami kemari mau mencari Zain apa pak Yanto menculik anaknya Nuri?" Tanya Sumi.
Alis pak Yanto nampak saling bertautan." Menculik, menculik siapa maksud mu?"
"Maaf pak, maksud teman saya kita kemari mau menanyakan anak saya Zain apa ada main kemari?" Aku segera melarat pertanyaan Sumi agar dia tidak tersinggung.
"Sejak kapan anak mu pernah main ke rumah ku? tidak pernah. Terus kenapa kamu mencarinya kemari?"
"Anda kok...." Aku segera memegang lengan Sumi agar dia diam.
"Maaf pak, Iya benar anak saya memang tidak pernah main kemari. Saya hanya bertanya saja siapa tau tiba tiba Zain main ke rumah pak Yanto. Tapi kalau tidak ada ya sudah tidak apa apa. Maaf ya pak sudah menggangu istirahat pak Yanto. kalau begitu kami permisi." Aku langsung menarik lengan sumi untuk menjauh rumah pak Yanto sebelum dia bicara nyablak lagi. Sementara bang Supri mengekor di belakang kami.
__ADS_1
"Jika Zain tidak bersama pak Yanto, lantas siapa yang membawa Zain pergi?"