
Setelah kepergian mba Yati, orang orang yang menonton kami pun bubar dan aku mulai mencari beberapa potong baju dan celana untuk bang Supri. Setelah mendapatkan apa yang aku cari, aku segera membayarnya di kasir.
"Totalnya dua juta seratus mba," kata sang kasir.
Aku segera merogoh uang di dalam tas, uang yang aku rebut dari mba Yati serta uang milik ku pribadi. Setelah itu, aku memberikan nya pada kasir tesebut.
Aku keluar toko dengan membawa lima kantong paper bag di tanganku semuanya berisi pakaian untuk bang Supri. Setelah dari toko aku berjalan ke arah tempat penjual lauk pauk dan sayur mayur. Banyak penjual yang menawari untuk membeli dagangan mereka tapi aku hanya membeli kebutuhan seperlunya saja.
Tak sedikit pasang mata yang memperhatikan bahkan menggodaku. Oleh karena itu lah aku malas sekali jika berbelanja di pasar kalau bukan karena terpaksa. Siang ini pun aku terpaksa belanja di pasar karena selain sekalian membeli pakaian bang Supri, warung sayur langganan ku pun sedang tutup karena pemiliknya sedang ke luar daerah.
Setelah selesai belanja sayur mayur, aku bergegas berjalan mendekati motorku yang terparkir.
"Ya ampun neng, cantik cantik kok mau belanja di pasar? mau Abang antar tidak neng?"goda seorang laki laki yang sedang duduk di motor Scoopy nya.
Aku tidak menghiraukan perkataanya melainkan melewatinya begitu saja dan menaiki motorku yang terparkir tidak jauh dari pria itu. Sebelum aku melajukan motorku, ekor mataku melirik ke arah pria yang sedang menatapku sembari mulutnya terbuka. Entah apa yang pria itu pikirkan, entah karena diriku sendiri atau karena motor yang aku tunggangi.
Aku melajukan motorku dengan pelan meninggalkan pasar namun ketika aku melaju dengan santai seorang pengendara sepeda motor dan mukanya tertutup oleh helm hendak menyerempet motorku namun sebelum hal itu terjadi aku menghindarinya.
Brughh
Terdengar suara sesuatu yang terjatuh. Karena penasaran aku memberhentikan motorku di pinggir jalan lalu menoleh ke belakang, tenyata pengendara yang hendak menabrak ku terjatuh di selokan dan sedang di tolong oleh warga.
Dan lebih menariknya lagi orang yang akan mencelakai ku dan pada akhirnya dia yang celaka sendiri itu adalah mba Yati. Penampilan nya menjijikkan sekali, pakaiannya berubah warna hitam karena terkena air comberan yang sudah menghitam dan berlumpur dan hanya mukanya saja yang tidak terkena air comberan. Dia menatap nyalang ke arahku, aku tersenyum miring saja melihatnya lalu melajukan kembali motorku.
Sepanjang jalan menuju pulang senyum di bibirku terus tersungging mengingat kejadian di pasar tadi dimana aku sudah mempermalukan mba Yati di depan umum serta melihat mba Yati terjatuh ke dalam selokan karena hendak mencelakai ku.
Tiba di halaman rumah aku di kejutkan lagi dengan kedatangan seseorang. Seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupku. Tumben sekali dia datang ke rumah ku padahal aku sudah tidak ada hubungan apa apa lagi dengannya setelah dia menjatuhkan talak tiga padaku selain hubungan nya dengan Zain sebagai ayahnya.
Kedatanganku menjadi pusat perhatian dua orang pria yang sedang berdiri di teras rumahku, mas Surya dan bang Supri. Mereka sepertinya sedang mengobrol sebelum aku datang. Aku memarkirkan motorku tepat di depan rumah kemudian turun dan membawa barang belanjaan yang cukup banyak di kedua tanganku.
Mas Surya memperhatikan aku terutama memperhatikan motor mahal ku yang terparkir cantik tepat di samping motornya yang terlihat sudah jelek. Meskipun dia diam tidak bicara aku tau apa yang ada dipikirannya.
"Nuri..sini Abang saja yang membawanya," kata bang Supri sambil berjalan cepat ke arahku lalu mengambil alih semua barang bawaan ku dan aku pun membiarkan nya.
"Terima kasih bang," ucap ku, ketika semua barang belanjaan ku sudah berpindah tangan.
Setelah bang Supri masuk ke dalam dan membawa semua barang belanjaan, aku berjalan mendekati mas Surya yang masih berdiri di tempat dan dengan pandangan seperti sedang memperhatikan motorku.
"Ehm.."
__ADS_1
"Eh Nuri." Mas Surya salah tingkah karena kepergok sedang memperhatikan motorku.
"Motor mu bagus banget ya Nuri, aku tau itu motor keluaran terbaru harganya di atas tiga puluh juta, hebat kamu bisa membelinya." Kata mas Surya, aneh sekali baru datang bertamu bukannya menanyakan kabar malah mengomentari motorku.
Aku tersenyum miring dan tidak menanggapi celotehannya. Biar kan saja dia menduga jika motor itu aku yang membelinya sendiri karena aku sendiri pun tidak ingin banyak bicara dengannya."Ada keperluan apa mas Surya kesini?"
"Aku...aku hanya ingin melihat Zain saja,"ucap nya.
"Oh." Dalam hati aku bertanya tumben sekali dia mau menemui Zain padahal semenjak sudah pisah pun dia tidak pernah melihat bahkan menafkahi Zain. Tapi hari ini dengan percaya dirinya dia mengatakan ingin bertemu anak ku.
"Apa mas sudah minta ijin sama istrinya kalau mau datang kemari? jangan sampai dia datang kemari lalu melabrak ku lho mas karena suami tercintanya mendatangi rumah mantan istri," sindir ku.
"Buat apa ijin sama dia, lagian aku kemari juga mau menemui anak ku."
"Aku tidak mau di salahkan lho mas."
"Dia tidak akan tau dimana rumah mu Nuri."
Aku tersenyum miring saja mendengarnya.
"Kamu terlihat senang ya setelah terlepas dari aku, kamu juga terlihat semakin cantik saja."
"Aku...aku menyesal sudah menceraikan kamu Nuri, aku benar benar menyesal sekali."
"Terus?"
"Ya aku menyesal saja, aku bodoh sekali mau saja menuruti keinginan Ipah untuk menceraikan mu."
"Terus?"
"Andai saja bukan talak tiga rasanya aku ingin sekali rujuk sama kamu Nuri." Dengan percaya dirinya mas Surya mengatakan demikian.
Aku berdecak kesal." Kamu kesini hanya untuk membahas hal yang tidak penting seperti itu? maaf mas, meskipun kamu menjatuhkan talak satu padaku aku tidak yakin akan mau kembali lagi sama kamu."
"Kenapa Nuri, Apa karena kamu sudah menjalin hubungan sama pria kaya itu?"tuduh mas Surya.
"Mau tau alasannya? karena aku tidak memiliki perasaan apa apa lagi sama kamu mas, dan jangan pernah menyangkut pautkan teman ku itu dengan masalah kita."
"Tapi Nuri aku masih mencintaimu."
__ADS_1
Bersamaan dengan ucapan mas Surya, bang Supri muncul di ambang pintu.
"Nuri, ini ponsel mu berdering terus dari tadi," kata bang Supri sembari menyodorkan ponsel mahal itu di depan mas Surya.
Terlihat mas Surya tercengang melihat ponselku yang berlogo gambar apel yang di gigit. Mungkin dia tidak menyangka aku bisa memiliki ponsel yang jauh lebih mahal harganya dari pada ponsel miliknya yang sering dia sombong kan padaku.
Aku melihat layar ponsel ada beberapa panggilan tak terjawab dari Raihan. Aku tersenyum menatapnya kemudian masuk ke dalam rumahku tanpa menghiraukan keberadaan mas Surya.
Aku memasuki kamarku dan ku lihat Zain sedang tertidur di kasur. Aku duduk di tepi ranjang kemudian membalas beberapa pesan chat dari Raihan. Ketika aku sedang mengetik pesan pintu kamar ku di gedor gedor sambil memanggil manggil namaku. Dari suaranya aku sudah bisa menebak siapa lagi kalau bukan mas Surya.
Tiba tiba Zain menangis mendengar gedoran pintu, dia terkejut di tengah tidur siangnya. Aku meletak ponselku di meja rias kemudian segera menggendong Zain lalu membuka pintu. Ku tatap tajam mas Surya yang tidak berakhlak itu dan dengan kesal aku berkata," tidak punya etika sekali kamu mas, main masuk ke rumah orang dan ganggu orang tidur saja."
"Lagian kamu juga tidak sopan sekali Nuri, ada tamu bukannya di suruh masuk malah di biarkan berdiri di luar." Mas Surya protes sembari menatap kesal padaku.
Aku berdecak kesal."Sudah tau aku tidak mempersilahkan mu masuk kenapa kamu memaksa? itu artinya aku tidak mengharapkan Kedatangan mu ke rumahku. Aku sudah bilang tidak ingin lagi berurusan denganmu apa lagi sama istri tercinta mu itu."
"Jangan begitu kamu Nuri, ingat Zain adalah anak ku darah daging ku. Aku berhak menemuinya.
"Tidak perlu kamu ingatkan juga aku tau siapa Zain, bahkan dari dulu justru aku yang mengingatkan mu siapa Zain. Tapi sayangnya ayah biologisnya tidak pernah menganggap Zain darah dagingnya. Tidak pernah menyayanginya dan tidak pernah membahagiakannya. Terus sekarang kamu datang kemari sambil ngotot dan menggedor gedor kamar orang hanya mau bilang Zain anak mu dan darah daging mu? mas tau tidak perbuatan mas membuat Zain terusik dari tidur siangnya?"
"Habisnya kamu kenapa nyuekin aku Nuri, aku datang jauh jauh hanya ingin bertemu dengan kamu dan Zain tapi kenapa respon mu seperti itu?"
"Kamu sadar tidak kalau kita sudah jadi mantan bukan lagi pasangan suami istri? yang namanya mantan itu sudah menjadi orang lain bukan lagi orang dekat. Kamu ingin aku memperlakukan mu seperti perlakuan seorang istri pada suaminya? jangan mimpi."
Terlihat tangan mas Surya mengepal seperti nya dia tidak terima atas perkataan ku.
"Bang Supri...bang Supri!" sebelum dia melakukan tindakan lebih padaku, aku berteriak memanggil bang Supri.
"Kenapa Nuri, kenapa Zain menangis?" sembari jalan tergopoh gopoh bang Supri mendekati kami.
"Zain tidurnya belum kenyang di usik sama bapak biologisnya. Aku mau menidurkannya kembali tolong bang Supri layani tamu ini. Permisi."
Brakk
Aku segera menutup pintu dengan kencang karena aku kesal sekali gara gara kelakuan mas Surya Zain terbangun dan itu membuatnya tidak puas tidur lalu menangis terus.
Aku menenangkan Zain dari isakan tangisannya menimang sambil mengelus elus punggung nya. Aku teringat dengan cara Raihan menenangkan Zain beberapa waktu yang lalu dan ternyata benar saja dalam hitungan menit Zain tertidur kembali dalam gendonganku.
Aku menidurkan Zain di kasur kembali dan aku pun ikut merebahkan tubuhku di sampingnya. Selain rasa kantuk aku juga tidak ingin keluar kamar sebelum mas Surya pergi dari rumahku.
__ADS_1