
Aku tersenyum melihat anak anak santri membawa gorengan pemberianku yang akan di makan bersama sama oleh mereka. Tidak apa apa tidak mendapatkan keuntungan, aku hanya berharap semoga mendapatkan pahala dan keberkahan.
Ku gendong Zain lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Ketika memasuki dapur, ibu sedang membuka tudung saji dan mengambil satu gorengan yang sudah di sisihkan sebelum pergi berjualan. Ibu menoleh ke arahku lalu menyuruh membuatkan kopi untuknya. Tanpa menyela aku melaksanakan perintah ibu. Namun ketika hendak membuat kopi dan membuka toples gula, aku menghela nafas melihat isinya sudah kosong.
Aku menoleh ke arah ibu yang sedang menikmati gorengan lalu memberitahu bahwa gulanya sudah habis.
Ibu melirik ke arahku dan bertanya dengan nada kesal," kenapa sampai bisa habis sih? terus aku ingin ngopi bagaimana?"
"Kalau ibu mau menunggu, aku beli dulu ke warung gulanya."
Ibu terdengar mendengus kesal lalu menjawabnya dengan suara keras," sudah sana cepat pergi. Awas saja kalau lama."
Sambil menggendong Zain, aku bergegas pergi ke warung untuk membeli gula. Warungnya tampak sepi hanya ada penjualnya saja yang sedang berada di dalam warung. Aku memesan gula setengah kilo pada Bu Endang dan tak lama dia memberikan gula itu padaku sambil menelisik penampilan ku yang sedang memakai daster panjang lusuh kegemaran ku dari bawah hingga wajah.
"Ada apa dengan saya Bu Endang?"tanyaku pada Bu Endang karena aku penasaran kenapa Bu Endang melihat ku seperti itu.
"Nur, apa benar kamu menjalin hubungan sama anaknya Bu hajah Fatimah yang super ganteng itu? kok bisa ya dia tertarik sama kamu? padahal penampilan kamu lusuh gini."
Aku menelan saliva ku dengan susah payah mendengar perkataan Bu Endang pemilik warung. Ternyata gosip kedekatan antara aku dan Raihan memang benar benar sedang menjadi perbincangan hangat warga kampung ku. Aku segera menimpali pertanyaan Bu Endang," saya tidak memiliki hubungan apa apa sama Raihan Bu, kami hanya berteman. lagi pula saya sadar diri saya ini wanita yang memiliki suami."
"Iya juga sih kalau di pikir pikir, Raihan yang sempurna itu mana mungkin mau sama kamu yang sudah bersuami dan penampilan lusuh."
"Ini uangnya Bu!" aku segera memberikan uangnya lalu pergi. Aku tidak ingin menimpali ucapan Bu Endang lagi.
Aku kembali ke rumah dan Ibu terlihat masih menikmati gorengan di atas meja. Aku mulai meracik kopi hitam untuk ibu lalu memberikan padanya. Aku sedikit membulatkan mata ketika melihat piring berisi gorengan yang awalnya penuh sekarang sudah habis tak tersisa. Ibuku telah memakan semua gorengan yang berjumlah lima belas biji. Bukannya tidak boleh tapi aku merasa geli saja melihatnya.
__ADS_1
"Kamu telat bikin kopinya Nur, gorengan sudah habis kopinya baru datang," ucap ibu dengan kesal. Aku tidak menimpalinya melainkan pergi dari hadapan ibu.
Siang hari aku sibuk memasak untuk makan kami. Memasak menu yang sama dengan semalam karena bahan yang ada dan tersisa hanya itu. Tumis kangkung, ikan goreng serta sambal. Setelah selesai ku letak kan di atas meja.
Ibu masuk ke dapur ketika aku sedang mencuci perabotan bekas masak. Aku menoleh ke arahnya terlihat ibu sedang berdiri di hadapan meja melihat pada makanan yang sudah terhidang. Aku tau dia sudah lapar. Bangun tidur lalu makan. Itulah aktifitas ibuku sehari harinya. Tidur, makan lalu pergi pergian. Bagaimana tubuhnya tidak tambah subur.
Ketika ibu sedang makan dengan nikmat, aku mendekati ibu. Kulihat ikannya tinggal tersisa dua ekor di atas piring padahal sebelumya ada lima ekor. Tanpa bicara lagi ku ambil sisa ikan di atas piring karena aku takut ibu menghabiskannya. Ibu mendongak miring ke arahku yang berdiri di sampingnya lalu protes dengan nada kesal," kenapa kamu mengambil semua ikannya Nur? aku kan sedang makan?"
"Ibu kan sudah makan tiga ekor. Aku dan Zain belum makan Bu, dan ini bagian kami."
"Tapi ini nasi ku masih banyak Nur, gimana aku makan kalau tidak ada lauknya?"
"Itu masih ada sambal dan kangkung, ibu makan saja itu. lagian ibu sudah memakan tiga ekor ikan kenapa masih saja kurang?"
"Tega dan pelit banget kamu Nur sama orang tua. kualat kamu Nur!"
Aku menyuapi Zain di ruang TV yang sedang bermain puzzle. pemainan yang telah di belikan oleh raihan. Zain makan dengan lahap karena jam sudah menunjukan pukul setengah dua.
Ibu keluar dari dapur dengan muka di tekuk memasuki kamarnya. Aku pun diam saja tidak ingin bertanya, kesal juga padanya yang bersikap seperti anak kecil.
Setelah selesai menyuapi Zain, aku mulai mengisi perutku sendiri yang terasa sudah sangat lapar. Ketika aku sedang makan ibu menghampiriku sambil membawa tas tenteng dan ku pastikan dia pasti akan pergi entah mau kemana.
"Aku minta duit empat ratus ribu Nur, untuk bayar arisan." ucapnya tiba tiba dengan enteng.
Aku yang sedang makan sedikit tersendat mendengar permintaan ibu yang tiba tiba minta uang padaku. Aku melirik ke arah ibu lalu menjawabnya," aku tidak punya uang sebanyak itu Bu, ibu kan tau aku sakit seminggu dari mana aku dapat uang? dagangan ku pagi tadi saja tidak laku Bu."
__ADS_1
Meskipun sebenarnya aku menyimpan uang pemberian Raihan tapi aku tidak akan pernah memberikan uang itu pada ibu karena itu uang milik raihan. Sementara uang hasil jerih payah ku pun untuk kebutuhan makan kami sehari hari. Jika aku memberikan uang pada ibu untuk membayar arisannya lantas bagaimana kami makan sehari harinya nanti apalagi sekarang semua orang sedang memandang negatif padaku karena gosip yang beredar. Lagi pula aku kesal pada gaya hidup ibu yang seperti wanita sosialita banyak uang saja yang telah ikut ikutan arisan. Padahal hasilnya aku tidak pernah di beri sepeserpun olehnya. Dan aku heran kemana uang hasil arisan ibu yang berjumlah dua puluh juta itu? Entahlah aku tidak tau.
"Halah bilang saja kalau kamu tidak mau kasih duit ke aku. Kan si Surya kemarin pulang pasti dia ngasih duit ke kamu."
"Apa ibu pikir mas Surya memberi uang selama dia tinggal disini padaku Bu? dia pernah memberiku uang tapi uangnya sudah ku kasih kan pada bang Supri, dia bilang sih pinjam. Kalau ibu mau ibu tagih saja sama bang Supri."
"Perhitungan banget kamu sama kakak sendiri, baru pinjam saja sudah di tagih."
"Aku bukannya perhitungan Bu, karena memang hanya uang itu yang aku punya. Kalau ibu mau silahkan tagih ke bang Supri kalau tidak mau ya sudah. Lagi pula ibu tidak pernah memberi hasil arisan itu sepeserpun padaku lalu kenapa ibu memintaku membayarkan arisan ibu?"
"Ya, karena kamu tidak pernah lagi membuat kerupuk. Wajar kan kalau aku minta duit ke kamu?"
"Apanya yang wajar Bu? Kenapa ibu mengharapkan aku saja yang membuat kerupuk? kenapa tidak ibu yang mengerjakannya? apalagi seratus persen hasil dari penjualan kerupuk itu ibu sendiri yang memakainya bukan untuk kebutuhan bersama."
"Karena kamu itu anak ku makannya aku nyuruh kamu, paham kamu?"
"Jadi ibu melahirkan aku ke dunia ini hanya untuk di jadikan budak penghasil uang? aku ingat betul bagaimana perlakuan ibu terhadap ku. sejak kecil ibu sudah memerah ku seperti seekor sapi."
Ibu bungkam, mungkin dia merasa apa yang aku katakan adalah benar. Dari kecil dan ketika ayah ku meninggal, ibu sudah memerah ku untuk mencari uang, menyuruhku berdagang. Tiap hari aku sekolah sambil membawa dagangan es lilin ke sekolah. Pulang sekolah ibu menyuruhku berdagang getuk keliling kampung. Aku ikhlas dan tak pernah membantah perintah ibu meskipun terkadang aku iri melihat kedua kakakku yang bisa bermain bebas tanpa harus mencari uang sepertiku.
Aku ingat betul bagaimana tubuhku yang mungil ini membawa dagangan sambil menawarkan dagangan pada orang orang. Tak sedikit pula anak anak kecil sebayaku mengejek ku karena berdagang. Hingga aku dewasa ibu masih saja memerah ku.
Aku bersyukur karena di kasih otak yang pintar sehingga saat sekolah SD hingga SMA aku sering kali mendapat bea siswa karena prestasi ku di sekolah sehingga mengurangi biaya sekolahku. Karena nilai ijazah ku yang bernilai tinggi akhirnya aku di terima kerja di sebuah perusahaan kimia yang sangat besar hingga di tempatkan di bagian yang seharusnya di peruntukan untuk orang yang hanya lulusan sarjana. Tapi, karena kemampuanku yang ku miliki, mereka tidak ragu untuk menempatkan ku di bagian tersebut. Hingga aku menikah paksa dengan mas Surya. Namun sekarang, kenapa aku merasa hidupku kembali lagi ke masa kecil dimana aku harus menjadi sapi perah ibuku.
Ibu menghentak kan kakinya lalu pergi meninggalkan aku dengan perasaan kesal. Aku tak peduli dia mau marah atau apa karena aku sendiripun cukup pusing memikirkan bagaimana caranya aku mendapatkan uang lagi. Tidak mungkin aku berjualan gorengan keliling lagi karena gosip yang beredar tentang perselingkuhan ku dengan Raihan. Aku pun harus memutar otak mencari cara untuk mencari uang.
__ADS_1
Sebenarnya aku bisa saja melamar pekerjaan ke perusahaan dengan pengalaman serta skill yang ku miliki. Aku bisa mengoperasikan komputer dengan baik, bisa berbahasa Inggris karena dulu saat aku kerja di perusahaan kimia aku sering kali berhubungan dengan orang luar dan menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi kami sehari hari.
Namun, aku melihat anak ku Zain jika aku bekerja di luar dan meninggalkannya dengan seorang pengasuh. Cukup sudah dia tidak pernah mendapat kasih sayang dari papanya serta nenek nenek nya. Oleh karena itu, aku tidak ingin mengurangi kasih sayangku padanya dan aku sendiri pun ingin Zain tumbuh kembang di tanganku.