Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Potong pita dan tumpeng


__ADS_3

Raihan menuruni panggung dan berjalan tegap ke arah meja kami. Kedatangannya di sambut senyuman oleh Bu haji, Nura serta Andre sementara aku hanya menundukkan wajahku.


Sang MC bersuara kembali memberitahu pada para tamu untuk mengikuti acara selanjutnya yaitu memotong pita dan memotong tumpeng. Dia meminta Raihan serta seluruh keluarganya untuk maju ke depan dimana sebuah pita panjang serta sebuah tumpeng besar telah tersedia di sana.


Raihan berdiri, Andre sambil menggendong Zain juga ikut berdiri, begitu pula dengan Bu haji. Namun tidak dengan aku serta Nura. Aku tau diri bahwa aku adalah orang lain bukan bagian dari keluarga Raihan sementara Nura aku tidak tau apa alasannya dia tidak ikut dan Raihan sendiri pun terlihat cuek saja padanya.


Andre terlihat kembali lagi ke meja kami dan dengan perasaan heran aku bertanya," kenapa balik lagi Dre?"


"Ada yang tertinggal."


Aku mengernyitkan kening ku namun sebelum aku bertanya kembali Raihan buru buru meraih tanganku dan menarik paksa aku untuk ikut dengannya.


"Dre, ngapain sih. lepasin, aku bukan keluarga Raihan." Aku protes di sela sela dia menarik paksa tanganku.


Andre tidak menghiraukan ocehan ku melain kan terus saja menarik tangan ku hingga mendekati Raihan dan Bu haji yang sudah lebih dulu berdiri di balik pita panjang yang siap di potong. Aku benar benar gugup sekali menjadi tontonan orang orang karena perbuatan Andre. Aku juga malu pada Bu haji serta Raihan yang sedang melihat ke arahku.


"Tidak apa apa Nuri, kamu juga bagian dari keluarga kami," kata Bu haji seolah olah menenangkan aku yang sedang cemas. Aku mengangguk kecil.


Bertepatan dengan Bu haji bicara, ponsel Andre berbunyi. Andre menyerah kan Zain pada ku karena dia hendak mengangkat telponnya terlebih dahulu mungkin hal yang penting sehingga Andre keluar dari tempat acara.


"Bagaimana pak Raihan apa sudah bisa di mulai?" tanya seseorang yang entah siapa. Pandangan Raihan mengarah pada dimana Andre keluar tadi begitu pula dengan Bu haji.


"Tunggu dua menit lagi pak!" tawar Raihan dan orang itu mengangguk.


Sudah dua menit berlalu tapi Andre belum saja menampakan batang hidungnya. Terdengar Raihan menghela nafas kesal karena Andre yang belum saja kembali pada kami.

__ADS_1


"Apa di mulai saja tanpa harus menunggu Andre Rai? takut para tamu terlalu lama menunggu." Bu haji menyarankan dan ternyata saran Bu haji mendapat anggukan dari Raihan. Akhirnya hanya aku, Zain serta Bu haji yang menemani Raihan memotong pita.


Aku sembari menggendong Zain berdiri di sebelah kanan Raihan sementara Bu haji berdiri di sebelah kiri. Setelah mendapat aba aba dari sang MC dan dengan mengucapkan bismillah Raihan memotong pita itu. Tepukan meriah pun menggema, senyum mengembang terukir di wajah Raihan. Aku pun ikut tersenyum karena aku bangga padanya meskipun aku bukan siapa siapa Raihan.


Bu haji memeluk Raihan sembari menangis dan berucap," selamat ya nak, ibu bangga sekali sama kamu. Tetap menjadi orang baik, sederhana serta sholeh ya nak."


"Terima kasih ibu, ini semua berkat doa ibu, tanpa ibu aku tidak akan menjadi apa apa." kemudian Raihan menciumi wajah ibu nya. Pelukan mereka membuat aku terharu dan menitik kan air mata.


Kemudian Raihan melepaskan pelukannya dan melihat ke arahku. Aku segera menghapus air mataku meskipun Raihan sempat melihatnya. Kemudian aku mengulurkan tanganku dan Raihan membalas uluran tanganku.


"Selamat ya Rai, semoga perusahaan mu akan terus dan selalu maju," ucap ku dengan pandangan ku tunduk kan karena aku tidak sanggup menatap sorot matanya.


Raihan tidak merespon ucapan ku melainkan mendekatkan dirinya denganku. Raihan yang memiliki postur lebih tinggi dariku mensejajarkan tingginya dengan ku serta Zain yang sedang aku gendong. Wajah ku dan Zain berdekatan dan aku pikir Raihan hanya akan mencium Zain namun tak ku sangka dia mencium pipi ku sekilas kemudian berlanjut mencium Zain dengan gemas. Aku tercengang mendapat kecupan singkat dari Raihan, aku mulai cemas, aku takut perbuatan nya di lihat oleh orang orang serta Nura yang sedang melihat ke arah kami. Namun sepertinya tidak ada yang menyadari itu karena aku melihat ekspresi Nura yang terlihat tersenyum saja melihat kami. Jujur ku katakan bahwa aku merasa bersalah padanya karena menurutku dia yang lebih berhak menemani Raihan bukan aku karena dia adalah kekasih Raihan.


Setelah acara memotong pita selesai andre baru kembali pada kami kemudian berkata dengan konyol" Acara Potong pintanya sudah selesai ya? kenapa kalian tidak menungguku."


Setelah itu, acara selanjutnya yaitu memotong tumpeng. Tumpeng yang berukuran besar dan cantik sudah tersedia di depan kami. Setelah mendapat aba aba dari sang MC dan mengucapkan bismilah Raihan mulai memotong tumpeng itu dengan pelan. Suapan pertama dia berikan pada Bu haji kemudian pandanganya di arahkan pada Andre yang sedang menggendong Zain karena sebelumnya Andre mengambil alih Zain dari tanganku. Dengan pedenya Andre membuka mulutnya dengan lebar ketika setengah sendok tumpeng mengarah ke wajahnya. Namun ternyata sendok itu Raihan belok kan dan berhenti tepat di mulut Zain. Zain yang melihat ada makanan di hadapan nya langsung membuka mulutnya dan Raihan menyuapinya. Hal itu sontak saja membuat gelak tawa menggema di tempat acara tersebut, menertawakan Andre dan raihan, aku pun tak kuasa menahan tawa. Andre memasang wajah kesal pada Raihan karena sudah di kerjain nya dan membuat orang orang menertawakannya.


Setelah acara potong pita dan potong tumpeng selesai, kami kembali ke meja semula dimana Nura sedang menunggu dengan setia.


"Ehm, Rai, Tante, sepertinya Nura mau pamit pulang sekarang?" Tiba tiba Nura ijin ingin pulang dan terlihat Rai menyunggingkan senyum tipis sekali sehingga tidak dapat terlihat oleh pandangan mata sekilas saja.


"Lho, kok buru buru sekali Nura? kan belum mencicipi hidangan,"kata Bu haji.


"Iya Tante, maaf bukannya Nura tidak ingin menemani Raihan hingga acara selesai tapi sepertinya papa sudah pulang dari Singapore."

__ADS_1


"Oh, ya sudah kalau begitu, apa mau di antar sama Raihan?"


"Nura bawa mobil sendiri Bu, dan disini masih banyak tamu, Raihan tidak enak jika meninggalkan tamu tamu Raihan," kata Raihan, entah hanya sekedar alasan atau apa tapi aku merasa Raihan terlihat enggan mengantar Nura.


"Apa yang di katakan Raihan benar Tante, saya bawa mobil. Lagi pula Raihan masih sibuk disini."


"Ya sudah kalau begitu hati hati ya nak Nuri..eh maaf maksud saya nak Nura," ucap Bu haji sembari tersenyum canggung mungkin dia merasa tidak enak hati karena salah menyebut nama.


"Iya Tante."


Kemudian Nura berdiri dan menoleh ke arah ku kemudian berkata," senang sekali bisa kenal dengan mba Nuri, semoga di lain waktu kita masih bisa bertemu ya mba? dan saya harap pertemuan pertama ini menjadi awal pertemanan kita."


Aku ikut berdiri dan tersenyum padanya, kemudian dia memeluk ku dan aku pun membalas pelukannya. Aku merasa apa yang dia lakukan ini tulus padaku dan aku juga merasa aku begitu dekat dengannya. Setelah itu dia melepaskan pelukannya dan berjalan memutar mendekati Andre yang sedang memangku Zain.


"Mas...!"


"Aku bukan orang Jawa nona tapi orang minang." Andre protes dengan wajah datar.


"Tapi tadi saya panggil mas, situ tidak protes."


"Nama saya Andre bukan situ." Andre protes lagi. Nura terlihat kesal padanya.


"Tidak perlu di tanggapi orang sableng kayak Andre nak Nura, dia memang begitu kadang lurus kadang miring." Kata Bu haji. perkataannya mengundang gelak tawa yang ku tahan, begitu pula dengan Raihan.


"Aku antar Nura ke depan dulu Bu!" ucap Raihan sambil berdiri. Kemudian mereka beranjak pergi dan berjalan beriringan keluar gedung.

__ADS_1


"Nuri, lebih baik kita makan yuk, aku sudah lapar banget lho," ajak Andre, aku yang sedang memperhatikan punggung Raihan dan Nura melirik ke arah Andre.


"Aku tidak lapar Dre, kamu saja yang makan." Sebenarnya perutku lapar tapi aku melihat Raihan mengantar Nura seketika mood ku berubah jadi tidak nafsu makan. Lagi lagi aku cemburu melihat kedekatan mereka.


__ADS_2