Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Ratu ku


__ADS_3

Raihan menceritakan perkara yang sedang terjadi antara dirinya dengan kasir sombong pada pria bertubuh gempal itu. Setelah bercerita, raut wajah pria itu memancarkan kemarahan pada mba kasir yang sedang menunduk kan wajahnya. Sikap keberaniannya yang merendahkan orang lain seketika menciut setelah mengetahui siapa Raihan sebenarnya.


"Elis sini kamu!"panggil pria gempal itu, namun Elis masih terdiam di tempat.


"Apa kamu tuli Lis?" ucap pria itu, terlihat kesal dan marah.


Dengan gugup serta menunduk mba kasir itu keluar dari meja kasir dan mendekati kami.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada pak Raihan?" bentak pria gempal itu, setelah Elis berada di dekat kami dan dia terlihat terperanjat mendapat bentakan dari bosnya.


"Ambil kartu pak Raihan yang kamu lempar tadi,"titah nya, namun Elis diam dan menunduk saja.


"Cepat ambil!"bentaknya kemudian.


Dengan tubuh gemetar mba kasir berjongkok tepat di hadapan Raihan dan mengambil kartu yang tergeletak di bawah kakinya. Setelah mengambil kartu debit itu, dia berdiri lagi lalu memberikan kartu itu pada Raihan dengan tangan gemetar.


"Untung tidak patah, kalau sampai itu terjadi aku tidak segan-segan untuk memberikan hukuman padamu,"ucap Raihan sembari meneliti kartu debitnya.


Setelah itu, pria bertubuh gempal itu menyuruh Elis untuk meminta maaf pada kami. Awalnya Elis diam saja namun setelah di desak dan di ancam akan di keluarkan dari pekerjaannya jika tidak mau minta maaf akhirnya dia meminta maaf meskipun tidak tulus dan dengan terpaksa.


"Sepertinya kami harus segera pergi pak, terima kasih sudah menerima pengaduan kami dengan baik selaku pelanggan di toko ini,"kata Raihan, mengakhiri pembicaraan.


"Sama sama pak Raihan. Saya memohon maaf atas ketidak nyamanan pak Raihan berbelanja di toko saya."


"Saya harap ke depannya toko bapak bisa memberikan kenyamanan yang ekstra bagi customer karena kenyamanan itu hal yang utama untuk menarik minat para pengunjung toko agar membeli produk bapak. Usaha bapak tidak akan maju bahkan bisa mengalami kemunduran kalau bapak mempekerjakan karyawan yang memiliki perangai buruk seperti karyawan bapak yang satu ini." Setelah berkata, Raihan menatap tajam ke arah mba kasir yang tidak memiliki keberanian untuk mengangkat wajahnya apa lagi menatap balik dirinya dan memasang wajah angkuh seperti tadi.


"Ayok sayang kita keluar dari sini," ajak Raihan dan aku mengangguk. Setelah itu, dia menggiring tubuhku untuk keluar dari toko sepatu tersebut.


Sebelum keluar dari toko itu, aku menyempatkan diri menoleh ke arah kasir, nampak mba kasir masih sedang di maki oleh bos nya sendiri. Sebenarnya aku tidak tega melihat nya namun mengingat sikapnya yang tidak sopan pada kami ku abai kan saja. Biarkan bos nya memarahinya agar ke depannya dia bisa memperbaiki sikap dan bisa menghargai orang lain.


"Buang buang waktu saja."Raihan menggerutu setelah keluar dari toko, dia nampak kesal atas kejadian tadi.


Aku melirik ke arah samping, nampak bang Supri dan anak anak sedang duduk di kursi panjang menunggu kami dengan wajah cemberut. Mereka menoleh ke arah kami secara bersamaan.


"Kalian kenapa lama sekali bayarnya?"tanya bang Supri.


"Ngantri,"bohong Raihan.


"Oh, apa kita mau langsung pulang, Rai?"tanya bang Supri lagi.


Raihan melirik ku."Terserah ratu ku saja,"ucap nya, aku hanya memajukan bibir bawah ku.


"Ratu dari pantai selatan,"ledek bang Supri.

__ADS_1


Raihan tersenyum lebar, sementara aku meliriknya dengan kesal.


"Sayang, kalau kamu mau langsung pulang apa mau kemana lagi?"tanya Raihan padaku.


"Pulang,"jawab ku singkat.


"Yahh, kok langsung pulang sih nyonya ratu, kita belum puas main di sini lho, ya tidak Ria, Rio?" protes bang Supri.


"Iya kak, nanti dulu kenapa pulangnya kak, Ria masih ingin di sini,"rengek Ria.


"Aku juga kak, masih ingin main disini,"Rio ikut merengek.


Aku menatap wajah memelas mereka satu persatu. Rasanya tidak tega juga kalau aku tidak menuruti keinginan mereka apalagi ini merupakan untuk pertama kalinya mereka mengunjungi mall.


"Ya sudah kalau kalian masih ingin disini."


"Horeeee!"mereka bersorak serempak.


"Kalau begitu kita bawa anak anak ke trans studio mini saja mba,"saran Raihan.


"Terserah kamu saja Rai."


Kemudian kami jalan beriringan menuju trans studio mini. Setelah berada di dalam dan Raihan membeli beberapa tiket untuk anak anak, dia meminta bang Supri untuk bermain sekaligus menjaga anak anak dengan iming iming di bayar lima ratus ribu oleh Raihan dan dia langsung menyetujuinya.


"Kita tunggu di sana saja yuk mba," ajak Raihan dan menunjuk pada dua buah bangku kosong yang terletak di pojokan.


Dari kejauhan aku memperhatikan keseruan anak anak yang sedang bermain mobil mobilan. Aku melirik ke arah samping dimana Raihan sedang duduk dan ternyata dia sedang menatapku. Kemudian aku mengalihkan kembali pandanganku ke arah anak anak.


"Kenapa melihat ku seperti itu Rai?"tanya ku tanpa melihatnya karena aku tidak sanggup menatap sorot matanya.


"Aku ingin segera menikahi mba dan memiliki anak yang banyak."


"Rai, aku sedang tidak ingin becanda."


"Apa aku terlihat sedang becanda?"


Aku melirik malas ke arah samping dimana Raihan masih saja memandangku.


"Ini di tempat umum Rai, jangan membahas masalah itu. Apa kamu tidak malu di dengar oleh orang orang?"


"Tidak."


"Rai..."Aku merasa gemas sekali padanya, apa dia tidak menyadari jika di samping kiri dan kanan kami ada orang yang sedang duduk dengan jarak sangat dekat sehingga tanpa ada rasa malu dia bicara demikian.

__ADS_1


Raihan tersenyum lebar. Kemudian dia melihat pada jam yang melingkar di tangannya."Sebentar lagi mall nya akan tutup mba," ucap nya.


"Memang sudah jam berapa sekarang?"


"jam sepuluh kurang sepuluh menit."


"Apa kita harus pulang sekarang?"


"Harus, kalau tidak ingin di usir sama satpam."


Kami tertawa serempak.


Setelah itu, kami mendekati anak anak dan meminta mereka untuk menyudahinya karena sebentar lagi studio mini dan mall akan di tutup.


"Rai, jangan lupa uang lima ratus ribu."Bang Supri menagih janji Raihan yang akan memberikan uang setelah menjaga anak-anak.


"Ngutang dulu ya bang!"


"Yee, belum juga nerima sudah di hutang."


Raihan tersenyum lebar, sementara aku geleng-geleng kepala saja. Entah bang Supri hanya becanda atau serius dia menagih uang yang di janjikan oleh Raihan, yang jelas aku tidak suka pada sikap nya yang terkesan hitung hitungan. Padahal Raihan sendiri sudah mengeluarkan uang hingga ratusan juta untuk biaya pengobatan dirinya sendiri tapi dia tidak pernah membicarakannya apalagi menagihnya pada bang Supri.


Di perjalanan anak-anak tertidur begitu pula dengan bang Supri, hanya aku dan Raihan yang masih terjaga. Sering kali Raihan melirik ke arah ku yang sedang menatap lurus ke depan.


"Mba..."


Aku menoleh."Kenapa Rai?"


"Sedang mikirin apa?" Raihan balik bertanya.


"Tidak ada."


"Benar?"


Aku mengangguk pelan.


Raihan tersenyum lalu mengelus pucuk kepalaku.


Setelah tiba di depan rumah aku segera membangunkan bang Supri dan anak anak untuk.


"Biar aku yang membawa Zain mba." Raihan menawar kan diri untuk membawa Zain lebih dulu masuk ke dalam rumah dan aku membiarkan saja.


Sementara aku membawa fatan yang tertidur dan meletakkan nya di kasur bulu. Menyusul Rio dan Ria kemudian mereka melanjutkan tidur mereka di kasur bulu bersama Fatan. Bang Supri sendiri sudah masuk ke dalam kamar nya lebih dulu.

__ADS_1


Setelah semuanya sudah tertidur, ekor mataku melirik ke sana kemari mencari keberadaan Raihan tapi aku tidak menemukanya. Namun ketika aku memasuki kamarku nampak Raihan sedang tidur sembari memeluk Zain. Aku menghela nafas pendek kemudian duduk di tepi kasur lalu menggoyangkan tubuhnya berulang kali tapi Raihan tidak mau bangun. Ku lirik jam yang menempel di dinding sudah menunjukan pukul setengah satu. Aku berusaha membangunkan Raihan kembali namun tetap saja tidak mau bangun dan sepertinya Raihan benar benar mengantuk.


Aku yang sudah menguap berulang kali sudah tidak bisa lagi menahan rasa kantuk yang mendera kedua mataku hingga aku ikut tertidur di tepi kasur dan tidak mempedulikan keberadaan Raihan di kamarku.


__ADS_2