
Aku memandangi kelap kelip lampu kota Jakarta dari atas balkon lantai tiga lima dengan pikiran menerawang kemana mana. Pesan dari Nura yang meminta Raihan untuk datang ke rumahnya atas permintaan orang tua nya cukup mengusik pikiran serta perasaanku.
"Jangan di pikirkan mba."Raihan tiba tiba membuka kebisuan di antara kami dan seolah olah tau atas apa yang sedang aku pikirkan saat ini.
Aku meliriknya."Kenapa kamu tidak menghadiri undangan papa nya Nura?"
"Untuk apa?" Raihan balik bertanya.
"Bukannya selain untuk membicarakan tentang hubungan kalian papa nya juga akan membicarakan masalah perusahaan?"
"Masih bisa di bicarakan di kantor atau di luar tidak harus di rumahnya."Jawab Raihan dengan santai.
Aku menghela nafas berat."Aku..."
"Sudah lah mba, jangan di bahas. Lebih baik kita memikirkan masa depan kita saja dan kapan ibu mba pulang? aku ingin segera melamar mba." Raihan memotong ucapan yang belum sempat ku ucapkan. Malah dia menanyakan kepulangan ibu yang aku sendiri saja tidak tau kapan dia akan pulang. Ibu seperti melupakan anak anak nya begitu saja bahkan sudah delapan bulan lamanya dia tidak memberi kabar padaku begitu pula pada bang Supri. Sementara kami baik aku atau bang Supri sama sekali tidak tau alamat bahkan nomer telpon saudara ibu yang katanya ada di Cirebon karena ibu sendiri tidak pernah memberi tau kami dan tidak pernah memperkenal kan saudara saudaranya. Jangan kan tentang saudara saudaranya, tentang nenek atau kakek saja baik ibu mau pun almarhum bapak tidak pernah memberitahu apakah mereka masih hidup atau sudah meninggal. Ini cukup aneh menurutku, orang tua ku tidak pernah terbuka tentang keluarganya padaku. Seolah olah aku ini orang asing yang tak boleh tau.
"Mba, mba!"Raihan mengibas kan telapak tangannya didepan wajah ku.
"Oh, Maaf!" Aku yang memikirkan tentang keanehan keluargaku sedikit terperangah.
"Kenapa termenung?"
"Emm, aku mikirin ibu, kapan dia akan pulang."
"Kenapa tidak di susul saja?"
"Aku tidak tau alamatnya begitu juga dengan bang Supri. Bahkan nomer telpon saudaranya saja kami tidak pernah tau."
"Lho, kok bisa."
"Itu yang membuat aku heran. Biasanya orang tua akan memperkenalkan anak anaknya pada saudara-saudara mereka tapi tidak dengan orang tuaku. Jangan kan memperkenal saudara-saudara mereka memperkenalkan aku pada kakek nenek ku pun mereka tidak pernah. Bahkan aku sendiri tidak pernah tau apa orang tua dari ibu atau dari bapak masih ada apa sudah meninggal. Aneh kan orang tuaku?"
"Iya juga sih, tapi mungkin orang tua mba punya alasan sendiri kenapa tidak melakukan seperti yang mba pikirkan."
"Aku tidak tau Rai, mungkin saja begitu."
Hening
"Sudah larut malam mba, kita masuk yuk? lagi pula memang nya kaki mba tidak pegal terus menerus berdiri?"ajak Raihan setelah cukup lama kami berdiri di atas balkon.
__ADS_1
"Mumpung masih disini Rai, sebelum pulang ke kampung."
"Kok mba bicaranya seperti itu sih, seperti tidak akan kembali kesini lagi saja."
Aku tersenyum." Aku kan memang harus pulang kampung Rai, karena rumah ku ada di kampung."
"Tapi ini kan rumah mba sama Zain juga."
"Kita belum menikah Rai, bagaimana aku bisa mengaku ini rumah ku."
"Mba, please...apa yang aku miliki ini semua juga milik kamu mba. Mba tau aku berada di titik sekarang karena semua berawal dari mba."
"Maksudmu?"
"Dulu ketika aku masih memakai seragam putih abu abu, aku bermimpi untuk menjadi orang sukses dengan tujuan agar ketika aku menikahi bidadari ku ini aku bisa memberikan kehidupan yang lebih dari kata layak untuk mba sebagai istriku dan juga anak anak kita. Mba adalah motivasi terbesar ku hingga aku bisa menjadi sekarang. Jadi apapun yang aku miliki saat ini adalah milik mba juga. Dan satu hal lagi yang harus mba tau, nama perusahaan yang aku pimpin saat ini adalah gabungan nama kita dan aku berharap ke depannya kita bisa mengelola perusahaan itu bersama sama.
keningku mengernyit." Ja jadi nama R&N GROUP itu adalah singkatan nama Raihan dan Nuri, bukan Raihan dan Nura?"
Raihan tertawa cukup keras." Jadi selama ini mba berpikir itu singkatan dari nama ku dan Nura?"
Aku mengangguk."Ya kan wajar saja kalau aku berpikir begitu kalian kan pasangan kekasih."
"Tapi itu tadi dia sebut sayang ke kamu Rai."
"Tapi aku tidak kan?"
"Kamu sudah memberi harapan palsu padanya Rai.
"Itu resiko dia sendiri, mencintai orang yang tidak pernah mencintainya. Lagi pula kami memiliki kesepakatan yang di setujui olehnya juga."
"Kesepakatan, maksudmu?"
"Iya, kesepakatan. Kesepakatannya adalah jika dalam dua bulan ini aku tidak bisa mencintainya maka sudahi. Dan sekarang waktunya sudah dua bulan sepertinya aku harus segera mengingatkannya agar dia tidak lagi memanggilku dengan sebutan lebay nya."
"Hah, apa semudah itu Rai? kamu akan menyakiti perasaannya."
"Sudah aku bilang mba, itu sudah resiko dia. Lagi pula aku mau dekat dengannya karena ada kesepakatan. Sudah lah mba, pokoknya mba tidak usah memikirkan hubungan antara aku dan Nura. Mba pikirin planning kita saja dan satu hal yang aku mau dari mba tolong percaya padaku mba. Aku, aku tidak akan pernah menyakiti mba, tidak akan pernah memberikan harapan palsu pada mba karena aku sayang banget sama mba, aku juga ingin menghabiskan sisa usiaku bersama mba, menua bersama sampai kita memiliki cucu hingga cicit."
"Rai..."Aku menatap lekat wajahnya. Tidak bisa ku ungkapkan dengan kata kata bagaimana perasaanku saat ini. Terharu, bangga, senang bahagia berbaur jadi satu. Semoga apa yang di ucapkan olehnya bukan bualan semata tapi benar dari hatinya karena aku sudah memasrahkan perasanku padanya. Kemudian tanpa ada rasa malu aku menghambur ke dalam kepelukan nya dan Raihan menerima pelukan ku dengan suka cita.
__ADS_1
"Sudah larut malam mba tidur gih."Setelah berucap, dia melepaskan pelukanku menyuruhku untuk masuk ke dalam kamar ku.
Aku mengangguk lalu beranjak meninggalkan Raihan yang masih berdiri di atas balkon. Ketika sudah berada di dalam ruangan, aku heran kenapa Raihan tidak mengekor ikut masuk bersamaku melainkan dia masih saja di sana. Karena penasaran aku pun mengintip dibalik tirai kaca besar yang terpampang. Nampak dia sedang berbicara serius dengan seseorang lewat telpon. Cukup lama aku memperhatikan nya sampai dia selesai bicara dan hendak masuk. Aku pun segera melepas gorden itu kembali lalu pura pura duduk di atas sofa menonton TV yang tidak menyala.
Raihan masuk dan berjalan hendak menuju kamarnya namun dia melihat aku yang sedang duduk santai.
"Lho, kok belum masuk kamar?"Tanya nya.
"Belum ngantuk." Aku beralasan.
"Apa mau aku tiduri?"Goda nya.
Aku mengumpat lalu buru buru jalan dan masuk ke dalam kamar ku.
Keesokan harinya.
Raihan mengajak aku dan Zain jalan jalan kesebuah mall yang terletak di pusat kota Jakarta. Raihan bilang agar aku tidak merasa jenuh berada di Jakarta yang tidak pernah main kemana mana. Padahal aku sendiri tak masalah karena kedatanganku ke Jakarta bukan untuk jalan jalan melainkan untuk mencari Zain.
Raihan menggandeng tanganku dan menggendong Zain memasuki mall yang kata Raihan adalah mall paling elit di kota pusat. Kenapa di sebut paling elit? Selain rata rata pengunjung mall adalah kelas atas, produk produk yang di jual di mall itu merupakan produk produk bermerk dan mahal yang biasanya di incar oleh para wanita sosialita pecinta brand terkenal seperti Chanel, Hermes, LV dan sebagainya.
Benar saja, ketika sudah berada di dalam mall itu aku melihat rata rata pengunjung mall itu orang orang kaya jika melihat dari penampilan nya.
"Kenapa kamu membawa aku kemari Rai? mestinya kamu bawa aku ke mall biasa saja." Aku protes di sela sela melangkah. Tiba tiba saja aku merasa insecure melihat penampilan mereka yang glamor dan modern.
"Memang kenapa mba kalau kita berkunjung kesini? ini tempat umum tidak ada larangan siapa pun yang ingin berkunjung kemari."
"Tapi pengunjung disini semuanya orang kaya Rai, kan kamu tau kalau aku bukan orang kaya. Lagi pula apa kamu tidak malu membawa aku yang penampilan udik ini kemari?"
"Ish, mba ini bicara apa sih, mba juga orang kaya kok. Calon istri dari Raihan Hermawan Gemilang, CEO R&N GROUP."
"Masih calon kan belum jadi istri."
"Sama saja sayang."
Ditengah melangkah dan entah Raihan mau membawa aku kemana, aku memandangi sebuah outlet brand Chanel cukup besar. Dari luar melalui kaca pun terlihat tas tas mewah dan barang cantik lainnya terpajang di sana bahkan terlihat pula pengunjung nya rata rata wanita kaya. Bukan aku menginginkan tas tas cantik itu aku hanya kagum saja melihatnya.
Raihan mengikuti arah pandanganku lalu menghentikan langkah nya. Aku pun ikut berhenti dan mengalihkan pandanganku pada Raihan." Kita mau kemana Rai?"
Raihan tidak menjawab pertanyaan ku melainkan menarik tanganku lalu masuk ke dalam outlet brand Chanel yang sedang ku perhatikan.
__ADS_1
Aku sedikit terkejut namun aku pikir mungkin Raihan ingin membeli sesuatu untuknya di outlet tersebut. Aku pun mengikuti nya saja.