
Setelah Oma menjelaskan tentang restauran beserta menu yang tersedia, aku memesan satu porsi nasi ukuran kecil, beef steak dan spaghetti bolognese karena dua makanan itu lebih nyambung jika di makan bersama nasi. Spaghetti ku anggap mie goreng dan beef steak ku anggap sate daging tanpa tusuk.
Untuk Zain Oma memesan Zuppa di patate yaitu jenis makanan berupa sup. Dia bilang sup itu cocok untuk balita seusia Zain. Oma juga menjelaskan bahan pembuatan sup itu berupa kentang, keju, irisan roti, bawang, kaldu, minyak zaitun dan berbagai bumbu lainnya.
Sepuluh menit kemudian pesanan kami datang dan di letak kan di hadapan masing-masing sesuai pesanan. Ku lirik makanan pesanan Oma dan dokter Bayu terlihat aneh dan aku tidak tau apa namanya.
"Biar Zain Oma yang suapi Nuri, kamu makan duluan saja."Ucap Oma lalu merapatkan kursi yang sedang di duduki oleh Zain dengannya.
"Tapi Oma, Oma juga kan mau makan."
"Tidak masalah yang penting Zain kenyang dulu. Kamu tau, Oma sudah sangat lama sekali tidak pernah menyuapi seorang balita. Dan terakhir menyuapi balita itu ya waktu Bayu masih bayi sekitar dua puluh tujuh tahun yang lalu. Lama sekali bukan? Bayu sendiri hingga saat ini belum saja ngasih Oma cicit dan entah kapan dia mau ngasih Oma cicit. Padahal cucu Oma hanya Bayu dan hanya dia satu satunya harapan Oma untuk memberikan Oma cicit." Di saat Oma curhat dan di saat itu pula aku melirik dokter Bayu. Dia nampak senyum malu malu melihat ke arah ku.
"Tapi sekarang Oma tidak mengharapkan dia lagi karena sekarang Oma sudah memiliki cicit yang tampan sekali."Sambung Oma. Dokter bayu nampak terbengong melihat ke arah Oma.
"Zain mau kan jadi cicit Oma?"Tanya Oma pada Zain dan Zain mengangguk saja padahal dia tidak mengerti apa itu cicit.
"Yeee sekarang Oma punya cicit." Sorak Oma sembari tersenyum lebar. Terlihat sekali kalau Oma sangat menyayangi Zain. Aku bersyukur sekali selain Raihan ternyata masih ada orang yang sangat menyayangiku dan Zain yaitu Oma.
"Ayo sayang, sekarang makan dulu Oma suapi ya?"Ucap Oma, kemudian dia mulai menyuapi Zain perlahan. Ku perhatikan Zain tidak ada penolakan pada makanan asing itu, dia memakannya dengan lahap. Entah karena dia merasa lapar atau karena rasa sup nya yang enak.
"Nuri, kenapa diam saja? ayok di makan." Dokter Bayu mengalihkan perhatian ku. Aku tersenyum padanya lalu mengangguk.
Ku perhatikan tiga menu makanan yang ada di hadapanku. Sekepal nasi, beef steak dan spaghetti. Aku menyendok spaghetti kemudian menyatukan nya dengan nasi lalu spaghetti itu ku makan bersamaan dengan beberapa butir nasi. Perlahan mengunyahnya dan terasa aneh sekali di lidahku. Mungkin karena aku yang tak biasa memakan makanan pasta di tambah lagi campur nasi jadi rasanya sangat aneh. Jika di bandingkan dengan mie goreng instan menurut lidahku jauh lebih enak mie goreng instan dari pada spaghetti yang ku makan saat ini.
"Apa rasanya enak Nuri?"Ternyata apa yang aku lakukan tengah di perhatikan oleh dokter Bayu hingga dia bertanya atas keanehan yang aku lakukan.
Aku tersenyum nyengir."Enak banget dok, enak sekali." Jawab ku dengan senyuman yang ku paksakan. Aku terpaksa berbohong demi menghargai mereka yang sudah mentraktirku meskipun sebenarnya rasanya ingin muntah. Begitu lah aku, soal cita rasa saja aku sudah terkesan kampungan apalagi soal penampilan jadi wajar saja jika mantan kekasih dokter Bayu menyebutku kampungan.
"Beneran enak?"Tanya nya lagi seperti tidak percaya atas pengakuanku.
"kamu ini bay, Nuri lagi makan kok di tanyain terus." Omel Oma di sela sela menyuapi Zain.
Dokter Bayu tersenyum lebar."Soalnya aku baru tau kalau spaghetti itu enak di makan bersamaan dengan nasi. Aneh saja Oma."
"Makanan apa saja enak jika di jadikan lauk sebagai teman nasi tergantung seleranya. Kalau Nuri seleranya begitu ya tidak aneh, Bay."
Dokter Bayu manggut manggut kecil sembari tersenyum melihat ke arahku.
Setelah itu, kami mulai fokus pada makanan masing-masing. Begitu pula dengan Oma yang sudah mulai memakan makanannya setelah selesai menyuapi Zain yang hanya habis separuh makanannya.
Di tengah makan dan jika di perhatikan dokter Bayu sering kali curi pandang ke arah ku dan entah apa yang dia lihat dari diriku.
Beberapa menit kemudian aku merasa perut ku sudah penuh oleh makanan padahal makanan milik ku masih banyak. Aku jadi dilema, jika di teruskan makan aku merasa perutku sudah tidak muat lagi namun jika menyudahi aku merasa tidak enak hati pada Oma serta dokter Bayu yang sudah mentraktir ku.
"Kenapa Nuri?" Tanya Oma di tengah kediamanku.
Aku menoleh ke arahnya." Saya, saya tidak sanggup lagi menghabiskan makanan ini Oma."
"Ya ampun Nuri, kalau sudah kenyang ya sudah jangan di paksa memakannya nanti kamu bisa muntah."
__ADS_1
"Apa Oma tidak marah?"
Oma dan dokter Bayu tersenyum lebar."Kenapa harus marah Nuri, kamu ada ada saja."
"Emm, sebenarnya kamu dengan siapa ke mall ini? tanya dokter Bayu tiba tiba.
Aku menceritakan padanya dengan siapa aku datang ke mall ini tanpa ada yang ku tutupi. Aku menceritakan dari awal datang hingga berpisah dengan Raihan. Dokter Bayu nampak geram setelah aku menceritakan semuanya.
"Dasar pria tidak bertanggung jawab seenaknya saja menelantarkan kalian. Untung kalian bertemu dengan kami. Biar aku kasih pelajaran dia." Dokter Bayu berdiri namun aku segera memegang lengannya."Jangan dok, jangan. Biar saja lagi pula Nura itu kekasihnya dan aku tidak apa apa." Setelah aku mencegahnya dia duduk kembali.
"Kalian ini ngomongin Raihan dan Raihan dari tadi memangnya Raihan itu siapa sih?" Oma yang dari tadi sibuk becanda dengan Zain tiba tiba bertanya.
"Pacar anak kesayangan papa, Oma." Jawab dokter Bayu.
"Maksudmu pacarnya Nura?"
Dokter Bayu mengangguk.
"Terus kenapa Nuri bisa kenal dengan pacarnya Nura?"
"Karena mereka tetangga satu kampung dan sudah kenal sejak lama." Dokter Bayu menjawabnya kembali. Aku menelan saliva ku yang terasa getir. Andai saja mereka tau hubunganku dan Raihan lebih dari sekedar tetangga dan lebih dari teman, aku tidak tahu apa tanggapan mereka padaku.
"Oala, begitu to, kok tumben anak si Meri itu kenal dan mau sama pemuda kampung? si Nura itu kan matrealistis sama kayak ibunya incarannya pasti laki laki tajir."
Aku mengernyitkan dahi ku."Apa iya Nura seperti itu? jadi dia menyukai Raihan apa karena kekayaanya? atau.."Aku bermonolog.
"Oo, perusahaan yang sedang naik daun itu dan Oma dengar CEO nya ganteng dan muda jadi itu pacarnya Nura? hebat juga dia. Oma jadi penasaran sama yang namanya Raihan itu."
"Dih, lihat Bayu Oma, dua belas dua belas lah dengan bayu tampannya, ha ha."
Aku hanya menyimak saja obrolan mereka tanpa ikut mengomentari karena orang yang sedang mereka bicarakan saat ini sedang membuat aku kesal dan kecewa.
Satu jam berlalu kami selesai makan dan memutuskan untuk keluar dari restauran ini.
"Nuri, setelah ini kamu mau kemana?" Tanya dokter Bayu di sela sela berjalan.
"Aku ingin pulang ke kampung dok."
"Jangan sekarang nak Nuri, kaki mu kan belum sembuh benar. Nanti saja kan bisa di antar sama Bayu."Saran Oma.
"Oma benar Nuri, aku akan mengantar mu pulang tapi tidak sekarang. Lagi pula kita kan datang ke kota ini sama sama jadi pulang pun harus sama sama."
Setelah mereka membujuk akhirnya aku menuruti saran mereka untuk pulang bersama dengan dokter Bayu nanti dan entah kapan dokter Bayu akan membawaku kembali pulang.
Oma memutuskan untuk pulang ke rumahnya padahal dia sendiri baru datang dan belum sempat belanja. Dia bilang kasihan Zain butuh istirahat yang nyaman sementara dirinya bisa belanja di lain waktu.
"Kamu dan Oma tunggu di sini dulu ya
biar aku ambil mobil dulu di parkiran." Dokter Bayu menyuruhku dan Oma menunggunya di depan pintu utama mall.
__ADS_1
Ketika aku dan Oma sedang menunggu dokter Bayu, tak sengaja pandanganku mengarah pada sosok pria yang sudah membuatku kecewa sedang berjalan beriringan dengan Nura namun tidak dengan orang tuanya. Dan seketika itu pula dia melihat ke arahku lalu buru-buru berjalan mendekatiku.
Setelah mendekat dia langsung memegang lenganku dan bertanya dengan wajah cemas. "Sayang, kamu kemana saja, aku mencari mu kemana mana."
Aku melirik Nura di belakang Raihan sedang menatap sinis ke arahku.
"Kenapa Nura masih saja bersama Raihan? kenapa mereka tidak pisah?Bukan kah Raihan bilang sudah memutuskannya?tapi kenapa mereka masih jalan bersama?" Bathin ku bertanya tanya. Kemudian aku langsung menepis kasar lengan Raihan.
"Lebih baik kamu urus saja kekasihmu Rai dan tidak usah mempedulikan aku dan Zain mulai saat ini."Ucap ku dengan ketus.
Tin tin tin
Bersamaan dengan berucap, sebuah mobil yang ku ketahui milik dokter Bayu membunyikan klakson dan berhenti tepat di depanku dan Oma.
"Mba, kenapa sikapmu berubah seperti ini mba?" Raihan bertanya seolah olah tidak tau bagaimana perasaanku melihatnya masih dekat dengan Nura yang katanya sudah dia putuskan.
"Tanyakan pada dirimu sendiri apa yang membuat aku berubah, Rai." Mata ku berkaca kaca menatapnya.
"Jangan salah paham dulu mba, aku, aku bisa menjelaskan semuanya. Aku tidak seperti yang mba pikirkan. Tolong kasih aku kesempatan untuk menjelaskannya mba."
Aku menggeleng."Cukup Rai, tidak ada lagi yang harus di jelaskan, dan aku tidak perlu mendengar penjelasan apa apa lagi darimu. Aku akan mengembalikan apa yang pernah kamu kasih ke aku secepatnya dan aku berharap ini untuk terakhir kalinya kita bertemu."
Nampak Raihan tercengang mendengar apa yang aku ucapkan dengan penuh emosi. Aku sendiri sudah sangat kecewa sehingga aku berani bersikap dan berbicara demikian. Aku menahan agar air mataku tidak tumpah karena ini tempat umum dan selain itu aku tidak ingin Nura menertawakan aku jika aku menangis meskipun mataku sudah berkaca kaca.
"Nuri, ayok nak!"Ajak Oma.
Aku menoleh ke arah mobil dokter Bayu nampak deretan mobil tengah menanti di belakang mobilnya menunggu giliran untuk mengangkut penumpangnya yang juga sedang menunggu sama sepertiku.
"Kenapa, kenapa kamu bicara seperti itu mba? aku aku akan menjelaskan semuanya. Tolong mba, dengarkan dulu penjelasan ku mba."
Aku tidak menghiraukan ucapan Raihan melainkan meraih lengan Oma dan menuntun nya lalu membuka kan pintu mobil untuknya. Setelah itu, aku ikut masuk bersamanya.
"Mba tunggu mba, mba tunggu mba, aku mohon tunggu mba."Raihan mengetuk ngetuk pintu mobil.
"Jalan sekarang dok."Titah ku pada dokter Bayu dan dia mulai melajukan mobilnya.
Aku sudah sangat kecewa pada Raihan dan aku pun tidak mengerti dengan sikapnya. Dia bilang dia sangat mencintaiku dari dulu dan dia selalu menampik bagaiman perasaannya pada Nura jika di hadapanku. Tapi setelah melihat sikapnya hari ini membuat aku semakin yakin bahwa Raihan tidak benar benar mencintaiku. Aku yang sudah terlanjur melabuhkan rasa cintaku padanya harus menelan pil pahit secepat ini.
"Siapa pria tadi nak Nuri?"
Aku yang sedang melamun sedikit terkejut mendapat pertanyaan dari Oma."Itu tadi Raihan pacarnya Nura, Oma."
"Oh, itu toh yang namanya Raihan! ganteng sih tapi kenapa kamu tadi bertengkar dengannya?"
Aku menelan saliva ku dengan susah payah. Aku sendiri baru sadar jika perdebatan ku dengan Raihan di depan Oma.
"Hanya ada masalah sedikit, Oma."
"Apa Nura menyakitimu? kalau iya kasih tau Oma biar Oma kasih pelajaran sama anak ular itu."
__ADS_1