Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Temani aku tidur, Rai!


__ADS_3

Kami melepaskan pagutan setelah merasa stok oksigen sudah habis di rongga paru paru. Kemudian aku menghirup udara dengan rakus sementara Raihan hanya tersenyum melihatku. Setelah nafas ku kembali stabil, aku membalik kan tubuhku melihat pemandangan kota Jakarta kembali.


"Masuk yuk sayang!"ajak Raihan.


"Aku masih ingin disini Rai."Aku menolaknya. Selain belum puas melihat pemandangan kota aku juga masih merasa malu padanya.


"Ya sudah kalau begitu aku ke dalam dulu ya sayang."


Aku mengangguk pelan tanpa menoleh padanya. Raihan mengusap pucuk kepala ku lalu masuk ke dalam ruangan.


Malam kian larut, rasa dingin mulai menyelinap di tubuhku hingga sampai pada tulang rusuk. Aku tak kuasa menahan dinginnya hingga menyerah dan memilih masuk ke dalam ruangan lalu menutup pintu balkon.


Setelah menutup pintu dengan pelan, nampak Raihan sedang sibuk berbicara dengan seseorang lewat telpon. Aku berdiri dan memperhatikan nya saja. Dalam hati aku berharap semoga ada titik terang tentang keberadaan anak ku Zain.


Raihan melirik ke arahku setelah menyadari keberadaan ku sedang memperhatikannya di depan pintu lalu menutup telponnya.


Dia tersenyum padaku." Sudah puas sayang?"tanya nya sembari berjalan ke arah ku. Aku yang sudah satu jam berdiri di atas balkon hanya memandangi suasana kota sedikit merasa malu padanya. Bagaimana tidak, aku merasa seperti orang kampung yang terkesan kampungan melihat kota karena memang ini merupakan pengalaman pertama ku melihat kota Jakarta pada malam hari di atas gedung.


Aku mengangguk pelan.


"Apa sekarang sudah mengantuk?"Raihan bertanya kembali sembari meraih sebelah tanganku.


Aku menggeleng. Lagi pula mana mungkin langsung mengantuk karena baru dua jam yang lalu aku bangun tidur.


"Tangan mba dingin sekali. Apa mba kedinginan?"


"Tidak, emm Rai.."


"Hem, kenapa sayang?"tanya nya, sembari menggosok gosok kan telapak tangan nya pada telapak tangan ku yang terasa dingin.


"Apa sudah ada kabar mengenai Zain, Rai?" Aku balik bertanya penuh harap.


Raihan menghela nafas berat lalu mengelus belakang kepalaku. Di saat itu pula dia menjawab."Belum ada mba, mereka masih berusaha mencari."


"Apa kota ini sangat besar sehingga sulit menemukan keberadaan anak ku?" Bersamaan dengan berucap mata ku berkaca kaca seraya menatapnya. Kemudian ku alihkan pandanganku menyamping dan melihat ke atas menahan air mata agar tidak tumpah.


Raihan yang menyadari jika aku hendak menangis segera merangkul dan memeluk ku.


Sekuat apapun aku menahan agar air mataku tidak mengalir, pada akhirnya mengalir juga dengan deras. Aku menangis di pelukan Raihan dan membasahi kaos oblong yang sedang dikenakannya.


"Sabar ya sayang, sabar."Raihan terus menerus menenangkan aku yang rapuh dengan sabar yang tak terbatas.

__ADS_1


Butuh beberapa menit aku menumpahkan kesedihanku di pelukan Raihan hingga air mataku menyurut dengan sendirinya. Raihan menghapus jejak air mata yang masih menempel di kedua pipiku.


"Jangan menangis lagi ya?"Ucap nya di sela sela menghapus jejak air mataku.


Aku tersenyum dan mengangguk pelan.


"Sekarang mba bobo ya sayang !" setelah berkata, Raihan menuntun ku masuk ke dalam kamar. Dia memintaku untuk tidur karena jam sudah menunjukan pukul tengah malam. Aku menurut dan membiarkannya menuntunku hingga ranjang tidur. Ku duduk kan pinggulku di atas ranjang lalu Raihan mengangkat kedua kakiku agar ikut naik ke atas. Dia juga membenarkan letak bantal yang akan aku tiduri. Perlakuan Raihan benar benar membuat aku merasa memiliki seorang suami yang benar-benar suami, meskipun kenyataannya dia belum menjadi suamiku.


"Tidur ya sayang, aku akan tidur di kamar sebelah." Ucap Raihan. Dan ketika dia hendak beranjak, secara reflek aku memegang lengannya seolah olah aku tidak ingin di tinggalkan olehnya.


"Kenapa sayang?"tanya nya.


"Te..temani aku tidur Rai." Pinta ku dengan ragu dan malu.


"Nemani mba tidur?" kening nya mengernyit.


"Ma..maksudku temani aku disini sampai aku tertidur." Aku menjelaskan maksudku.


"Mba yakin mau ku temani tidur?


Aku mengangguk yakin.


Aku menelan saliva ku. Aku berpikir apa iya Raihan akan setega itu? tapi rasanya tidak mungkin dia akan berbuat macam-macam padaku. Dan aku pun tidak tau entah mengapa malam ini rasanya ingin sekali di temani olehnya. Apa karena selama ini aku sudah terbiasa tidur dengan Zain serta memeluknya dan sekarang Zain tidak ada di sampingku lalu....entah lah aku tidak tahu.


"Kenapa diam saja, apa mba takut, hem? Jangan khawatir sayang, aku tidak akan setega itu sama mba kecuali....mba sendiri yang minta."


Lagi lagi aku menelan saliva ku, kalimat terakhirnya membuat aku semakin malu saja. Karena yang memintanya untuk menemani aku tidur adalah diriku sendiri. Sempat aku berpikir apa aku ini wanita murahan yang sudah menawarkan diri pada seorang laki laki meskipun sebenarnya niatku sama sekali tidak menjurus ke arah sana.


"Ya sudah, aku temani mba sampai tidur ya!" Kemudian Raihan membenarkan letak bantal untuk tidurku di tengah dan untuk dirinya di samping.


Aku merebahkan tubuhku di tengah. Raihan menyelimuti ku hingga leher dan dia sendiri hanya duduk bersender di tepi ranjang sembari memainkan ponselnya.


"Rai.."Aku yang belum bisa memejamkan mata memanggilnya.


Raihan mengalihkan pandanganya padaku."Kenapa sayang?"


"Apa kamu sudah mengantuk?"


"Belum, memang kenapa?" Raihan balik bertanya.


"Kalau sudah ngantuk kamu ke kamar mu saja. Aku tidak apa apa kok."

__ADS_1


"Aku akan keluar kalau mba sudah tidur."


"Tapi.."


"Tidak apa apa sayang, tidur lah." Raihan meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian mendekatkan tubuhnya denganku lalu ikut berbaring bersamaku.


Aku yang di tutupi selimut tebal merasa panas dingin di buatnya. Aku takut sekali kalau Raihan akan berbuat macam macam padaku. Tapi ternyata dugaan ku salah, dia hanya mengelus elus pucuk kepalaku agar aku tertidur. Apa yang dia lakukan sama persis seperti ketika aku sedang menidurkan Zain yang harus di elus terlebih dahulu pucuk kepalanya.


Seketika aku teringat pada Zain kembali. Anak ku sedang apa malam ini? apa dia sudah makan? apa dia tidur di kasur yang empuk sama sepertiku saat ini. Aku menyibak kan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhku.


Pukul dini hari aku terjaga di tengah tidurku karena mimpi buruk tentang anak ku. Keringat mengucur di tubuhku membasahi bagian baju bawahku. Ku lirik kiri dan kanan ternyata Raihan sudah tidak ada mungkin dia meninggalkan aku setelah aku tertidur.


Pintu kamar terbuka, nampak Raihan dengan wajah cemasnya melihat ke arahku dan bertanya.


"Ada apa mba, ada apa?"Lalu mendekatiku. Mungkin dia sempat mendengar teriakan ku ketika aku terbangun dari mimpi buruk.


"Rai.."Ucap ku dengan bibir gemetar. Kemudian memeluknya dan menumpahkan air mata kembali.


Sembari mengelus punggungku Raihan bertanya."Ada apa mba? kenapa menangis?"


"Zain Rai, aku mimpi buruk tentang Zain. Aku takut sekali Rai."Jawabku di sela sela isakan tangis.


"Hanya mimpi mba, percayalah Zain pasti baik baik saja." Raihan menenangkan ku dari dari tangisan.


Di tengah berpelukan, tiba tiba ponsel Raihan berbunyi. Kemudian Raihan melepaskan pelukannya dan mengangkat telpon dari entah siapa.


"Jadi kalian berhasil menangkap penculik itu? terus bagaimana dengan anak ku?" Nampak senyum tipis tersungging di bibirnya.


"Apa? "Seketika raut wajahnya berubah menjadi terkejut. Aku yang melihat perubahan raut wajahnya menjadi cemas. Aku takut terjadi hal buruk menimpa anak ku.


"Tahan mereka jangan sampai lepas dan tunggu aku datang." Setelah itu Raihan mematikan ponselnya.


Aku langsung menyeka kasar air mataku." Rai, bagaimana dengan Zain, apa sudah ada kabar baik?" tanya ku dengan perasaan harap harap cemas.


"Orang suruhan ku sudah berhasil menangkap penculik Zain tapi.."


"Tapi apa Rai?" tanya ku dengan rasa tidak sabar dan detak jantung yang berdebar kencang.


"Zain, Zain tidak ada bersama penculik itu mba."


"Apa?" Mata ku membulat sempurna saking terkejutnya. Bagaimana bisa anak ku di culik oleh si penculik tapi dia tidak ada bersama si penculik itu. Lantas dimana anak ku sekarang? Air mataku lolos kembali. Dadaku seketika menjadi amat sangat sesak mendengar Zain tak ada bersama si penculik. Aku benci pada diriku sendiri, sebagai seorang ibu aku merasa telah gagal melindungi anak ku sendiri. Aku pun tidak bisa berbuat apa apa dan yang bisa aku lakukan hanya menangisinya. Aku sangat menyesal, menyesal sekali kenapa pada waktu itu aku meninggalkan Zain bersama bang Supri andai saja tidak meninggalkan nya mungkin ceritanya tidak akan seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2