
Dokter itu mengerutkan keningnya setelah aku memilih untuk bangun sendiri daripada menerima uluran tangannya. Setelah itu, dia menegak kan kembali tubuhnya.
"Mba tidak apa apa? apa ada yang terluka biar saya obati,"tanya dokter itu sembari menelisik penampilanku seperti sedang mencari yang terluka.
Aku menggeleng cepat."Maaf pak dokter saya tidak sengaja dan saya tidak apa apa," ucap ku. Dokter itu tidak membalas ucapan maaf ku melainkan memandang ku saja, entah apa yang dia pikirkan tentangku. Aku melirik ke arah dimana Raihan sudah pergi lebih dulu. Namun dari kejauhan aku melihat dia sedang menatap ke arah ku.
"Maaf pak dokter saya permisi dulu, mari!" aku bergegas pergi meninggalkan dokter tampan yang masih saja memandangku tanpa mengedipkan matanya. Namun baru beberapa langkah aku berjalan dia memanggilku.
"Mba.."
Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arahnya." Iya pak dokter?" sahut ku.
Dokter itu mengacungkan sebuah dompet kecil warna merah." Apa dompet ini milik mba?"
Aku sedikit membesarkan pupil mataku melihatnya. kemudian mengecek tas ku siapa tau dompet itu milik orang lain yang kebetulan sama dengan dompetku. Namun aku tidak menemukanya di dalam dalam tas dan aku berkeyakinan bahwa dompet yang sedang di pegang dokter itu adalah dompetku yang terjatuh karena tadi tas nya dalam keadaan terbuka sebelum aku terjatuh.
"Iya, iya bapak dokter, itu dompet saya."Aku balik lagi padanya.
Dokter itu memberikan dompet itu padaku sambil berkata," Nama saya Bayu dan masih muda belum jadi bapak bapak karena saya belum menikah apalagi memiliki anak. Kalau bapak itu kesan nya saya tua sekali ya mba,"kata dokter itu sembari tersenyum.
"Oh, iya ma..af maaf dokter bayu. kalau begitu saya permisi dulu. Mari..!" kemudian aku bergegas pergi.
Setelah sampai di tempat dimana Raihan sedang berdiri sembari menatap kesal ke arahku, aku protes.
__ADS_1
"Kenapa jalan nya cepat sekali Rai? kamu tau aku sampai menabrak orang sampai jatuh."
Raihan tidak menanggapi ocehan ku melainkan beranjak pergi meneruskan langkah nya yang sempat terhenti. Aku di belakangnya hanya geleng-geleng kepala saja melihat sikap nya yang aneh. Aku bingung kenapa Raihan seperti terlihat marah sekali padaku padahal aku tidak merasa membuat kesalahan apa apa padanya.
Hingga tiba di parkiran, Raihan lebih dulu masuk ke dalam mobil tanpa membukakan pintu untuk ku tidak seperti sebelumnya. Aku semakin kesal saja di buatnya, bukan kesal karena tidak di bukakan pintu mobil melainkan sikapnya yang tiba tiba mendiami ku tanpa sebab.
Aku jalan mengitari mobil itu lalu mengetuk pintu mobil dimana Raihan sedang duduk bersiap untuk melaju. Tak lama pintu kaca mobil terbuka." Ada apa?" tanya nya.
"Aku rasa lebih baik kamu kembali saja ke Jakarta sekarang biar tidak terlalu malam. Kamu tidak perlu mengantar aku lagi aku bisa naik kendaraan umum."
Raihan terdiam, bersamaan dengan itu aku melangkah pergi menjauhi mobilnya. Aku sempat berpikir mungkin Raihan marah padaku karena aku sudah meminta antar malam hari ke rumah sakit. Aku takut hanya karena gara gara itu dia merasa terbebani olehku.
Aku berjalan meninggalkan area parkiran menuju pintu keluar dari area rumah sakit namun ketika aku hendak menyebrang jalan seseorang menarik tanganku. Aku terkejut dan ternyata Raihan sendiri yang telah menarik tanganku hingga menyeret pelan sampai di mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.
Raihan tidak menjawab pertanyaan ku melainkan terus saja menelusuri jalanan yang nampak lengang. Dari kejauhan samar samar terdengar suara deburan ombak dan aku menduga bahwa Raihan membawaku ke sebuah pantai. Aku berpikir kenapa Raihan malah membawaku ke pantai.
Benar saja dugaan ku Raihan membawaku ke pantai. Di depan sana terlihat deburan ombak yang menggulung gulung.
"Kenapa kamu membawaku malam malam ke sini Rai? mau lihat apa? lautnya saja tidak nampak. Aku ingin pulang, aku takut Zain terbangun dan mencari....."
Bersamaan dengan celotehan ku, tangan Raihan mendorong tengkuk ku. Kemudian mencium paksa bibirku hingga aku sulit melepaskan diri. Sembari me lu mat bibirku, dia melepaskan jilbabku dengan paksa hingga rambut ku tergerai panjang. Tidak hanya melepas jilbab ku, dia juga me re mas gundukan di dadaku hingga aku merasakan sensasi yang menjalar di tubuhku. Meskipun begitu aku masih waras dan aku tidak ingin aku atau Raihan lepas kontrol lalu melakukan hal yang lebih jauh. Karena aku merasa kesulitan melepaskan diri dari ciuman yang membabi buta, aku menggigit bibir bawahnya dan dia terlihat terkejut lalu melepaskan pagutan, tengkuk serta gundukan di dadaku.
Aku menghirup nafas dalam-dalam setelah terlepas dari ciuman Raihan yang tiada ampun. Setelah nafasku kembali terkumpul, aku melirik kesal ke arahnya. Nampak Raihan terdiam dengan tatapan kosong serta bibir terdapat luka dan darah yang mengalir sedikit akibat gigitan ku. Aku tercengang melihatnya, buru buru aku mengeluarkan tisu di dalam tas ku. Namun ketika aku hendak mengelap darah yang mengalir di bibirnya dia menangkis pelan tangan ku.
__ADS_1
"Biarkan saja mba,"tolak nya.
Aku menurunkan tanganku dan meluruskan kembali duduk ku. Dengan pandangan lurus ke depan aku bertanya," kenapa sikap seperti ini padaku Rai? kenapa kamu mendiami ku lalu marah dan melampiaskan kemarahan mu dengan cara menciumiku tanpa perasaan. Apa menurutmu aku ini wanita rendahan? apa salahku sama kamu Rai?"
"Maaf, mba tidak salah apa apa. Aku saja yang terlalu berperasa dan berharap. Aku pikir apa yang aku lakukan ke mba cukup menjadi bukti bagaimana perasaan aku ke mba selama ini dan meyakinkan mba. Tapi tenyata semua itu tidak cukup untuk mba sehingga mba hanya mau menganggap aku sebagai teman saja.
"Rai..."
"Jangan panggil aku teman mba, apa mba tidak bisa menganggap aku kekasih mba?"
Aku terbengong mendengar keluhan serta pertanyaan Raihan, ternyata dia marah hanya karena aku mengakuinya sebagai teman di depan Sumi. Aku sendiri bingung mau mengakui Raihan itu siapa aku, sebab, kami tidak pernah membicarakan sebuah komitmen meskipun Raihan sendiri sering kali mengatakan bahwa aku ini calon istrinya tapi itu hanya dirinya saja sementara aku, aku belum pernah mengatakan setuju atau tidak menikah dengannya karena aku sendiri pun ragu. Raihan sudah memiliki seorang kekasih, dia juga memiliki seorang ibu yang belum tentu setuju. Selain itu, Raihan juga merupakan saudara sepupu Andre, pria yang juga mengharapkan aku menjadi istrinya. Apa mereka tidak akan bermusuhan jika aku memilih di antara dua saudara sepupu itu.
Aku meliriknya, pandangan Raihan masih mengarah ke depan dengan tatapan kosong.
"Bagaimana aku bisa menganggap mu kekasih Rai, sementara kamu saja memiliki seorang kekasih yang mencintaimu. Selain itu kamu juga memiliki seorang ibu yang belum tentu setuju dengan pernikahan kita." Aku hanya memberikan dua alasan, karena aku belum berani memberi tahu tentang Andre.
Raihan melirik ku."Oh, jadi karena itu? baik, sekarang juga aku akan putuskan Nura di depan mba." Raihan merogoh ponsel yang dia selipkan di kantong celananya namun sebelum dia menelpon Nura aku lebih dulu mengambil ponselnya secara paksa.
"Sini mba..." Raihan berusaha mengambilnya dari tanganku namun aku menghindarinya.
Ku tatap sorot matanya dengan kesal."Apa kamu pikir hati wanita itu benda mati yang tidak akan merasakan apa apa jika di sakiti?"
"Lantas apa yang harus aku lakukan mba? kenapa mba melarang ku untuk memutuskan Nura? padahal mba sendiri ingin kita bersama. Aku tidak memiliki perasaan apa apa sama Nura mba. Lantas sekarang apa yang harus aku lakukan mba?"
__ADS_1
Mataku berkaca kaca aku bingung harus bagaimana, lagi lagi bathin ku berperang.