
Satu bulan kemudian. Senyum mengembang di bibirku kala menghitung jumlah penghasilan atas jerih payahku yang mendatangkan keuntungan lumayan cukup besar bagiku. Dalam tempo satu bulan aku mendapatkan keuntungan dengan total tujuh juta tujuh ratus ribu dari hasil penjualan kerupuk yang bermodal tiga juta lima ratus.
Jika bertanya darimana modal kerupuk yang berjumlah tiga juta lima ratus itu? darimana lagi kalau bukan sisa uang pemberian Raihan yang aku simpan dalam rekening. Aku terpaksa memakainya karena aku tidak memiliki uang lagi selain uang pemberian Raihan. Aku sendiri menganggapnya meminjam dan sewaktu waktu akan aku kembalikan setelah aku memiliki banyak tabungan.
Keuntungan hasil menjual kerupuk satu bulan ini sedikit lagi akan menyetarakan gaji suamiku yang berjumlah delapan juta lima ratus. Jika usaha lancar dan aku menambah quantity serta pemasarannya, aku yakin keuntunganku akan menghasilkan lebih banyak dari hasil perdana saat ini. Namun, aku berpikir kembali jika aku membuatnya dalam jumlah yang banyak aku tidak mungkin sanggup membuatnya sendiri. Sempat terpikir olehku mencari orang untuk membantu usahaku namun aku kebingungan mencari orang itu karena tetangga ku sendiri rata rata orang berada dan memiliki penghasilan sendiri. Jika aku mencari orang di luar kampung sudah pasti aku harus mengupahnya dengan jumlah yang tak sedikit sementara keuntungan yang ku dapat belum seberapa jika harus mengupah orang lain.
Ku pandangi anak ku Zain yang sudah tertidur lelap. Sambil menciumi nya aku berkata," doain mama dan usaha mama ya nak, semoga mama selalu tetap sehat dan usaha mama lancar, supaya mama selalu bisa memenuhi kebutuhan Zain hingga Zain tumbuh dewasa nanti. Kita buktikan pada papa bahwa kita bisa hidup tanpa uangnya.
Aku merebahkan tubuhku di samping Zain. Pandanganku menatap langit langit dan pikiranku menerawang memikirkan tentang usahaku, hubunganku dan mas Surya serta Raihan. Sudah satu bulan ini aku tidak lagi melihat serta bertemu dengan Raihan. Aku pun tak tau bagaimana kabarnya dan keberadaanya. Apakah dia benar benar sudah bertunangan dengan Risa? namun aku tak pernah lagi mendengar gosip tentang hubungan mereka akhir akhir ini. Rumah nya pun selalu terlihat sepi jika aku melewatinya. Apakah Raihan belum kembali ke rumahnya sejak Bu haji mengatakan Raihan pergi dari rumah? Bayang bayang tentang Raihan berputar putar lagi di otak ku. Padahal selama satu bulan ini aku berusaha untuk melupakan dia dengan cara menyibukkan diri tapi kenapa malam ini aku teringat lagi padanya.
Malam menjelang subuh, Seperti biasa setelah melaksanakan ibadah subuh aku iseng iseng membuka sosial media ku kembali yang sudah sebulan ini aku diamkan karena perdebatan antara aku dengan mantan istri suamiku waktu itu. Foto yang pertama muncul di berandaku adalah foto Andre sedang berada di Australia berfoto dengan dua ekor kanguru dan iseng aku memberikan like serta komentar pada fotonya.
"Wih, keren bisa bertemu dengan kanguru."
Tak selang lama sebuah pesan dari Andre masuk, kemudian aku membacanya.
__ADS_1
"Apa kamu mau bertemu dengan kanguru juga Nuri?"
Aku membalasnya."mau banget!"
"Sungguh? bagaimana kalau aku menyusul mu sekarang lalu membawamu ke Australia untuk bertemu dengan kanguru?"
"Serius?"
"Serius dong....tapi kalau aku membawa mu apa suamimu tidak akan mengejar ku karena telah membawa kabur istrinya? ha ha ha.
Andre merupakan sosok siswa periang dan lucu saat kami masih sekolah SD. Sering kali dia membuat ku tertawa lepas ketika aku sedang bersedih karena dagangan es lilin ku yang tak laku. Dia juga sering memborong es lilin ku lalu membagi bagi kan nya pada teman teman yang lain. Sering memboncengi ku ketika pulang sekolah dan mengantar ku hingga sampai di rumah. Aku mengaguminya karena kebaikannya padaku karena dia satu satunya siswa yang mau berteman dengan siswi miskin sepertiku. Andre sendiri berasal dari keluarga berada dan berdarah Minang. Aku merasa kehilangan nya saat orang tuanya membawa Andre pindah sekolah serta pindah tempat tinggal ke daerah asalnya yaitu padang. Aku masih saja teringat pertanyaan terakhirnya sebelum dia pergi meninggalkan sekolah ketika dia berpamitan pada para siswa siswi serta para guru.
"Nuri....setelah besar nanti kamu mau tidak menikah denganku?"
Aku mengangguk meskipun aku tidak mengerti apa itu menikah dan apa itu istri karena aku sendiri masih kelas lima SD dan andre kelas enam SD. Aku sering kali tersenyum jika mengingat ucapan terakhirnya itu, wajah tampannya serta tingkahnya yang lucu selalu aku ingat hingga aku tumbuh besar. Dari waktu ke waktu aku menunggunya berharap apa yang dia ucapkan waktu kecil akan menjadi kenyataan. Namun harapan itu pupus setelah sekian lama aku mencarinya dan setelah menemukan sosial medianya aku kecewa melihat foto foto pernikahannya dengan seorang wanita cantik yang telah di langsungkan tiga bulan yang lalu. Setelah itu, aku tidak lagi menggunakan akun facebook ku.
__ADS_1
Kehadiran Raihan sebagai seorang teman mampu membuat ku melupakan sosok seorang Andre yang selama ini aku harapkan kedatangannya untuk menemui serta menikahi ku seperti apa yang dia katakan dulu padaku. Satu tahun menjalin pertemanan dengan Raihan hingga aku terpaksa menikah dengan mas Surya, pria yang baru dua minggu ku kenal karena paksaan ibu serta kakak pertamaku.
Ketika aku masih berbalas pesan dengan Andre, ada sebuah pesan masuk dari adiknya mas Surya, Rista. Dia mengundang Zain ke acara ulang tahun anaknya nanti sore.
"Pokoknya nanti mba sama Zain harus datang ya? kalian kan sudah lama tidak main ke rumah kami. Lagi pula aku kangen sama Zain mba, sudah besar dia sekarang terus ganteng pula." Elis sedikit memaksa setelah aku mengatakan tidak janji bisa apa tidak datang ke rumahnya, tepat nya rumah orang tua mas Surya karena Elis masih tinggal dengan orang tuanya sebagai anak bungsu dari empat bersaudara. Elis satu satunya keluarga mas Surya yang menerima aku menjadi kakak iparnya meskipun usia Elis jauh di atas ku. Sementara orang tua serta sodara sodara nya yang lain tidak menyukaiku karena mereka beranggapan aku wanita matre gara gara saat menikah ibuku meminta mahar serta uang hajat yang cukup besar. Mereka pikir aku yang memintanya padahal semua itu ulah ibuku sendiri. Oleh sebab itu, hingga saat ini keluarga mas Surya tidak menyukaiku terkecuali Elis adiknya.
Karena Elis mengharapkan aku datang ke acara ulang tahun anaknya, mau tak mau aku menyanggupi undangannya.
"Iya, Lis, inshaallah aku datang ya! sekalian mau jengukin kakek nenek Zain."
"Iya mba, aku harap mba datang ya. Oya, tidak usah membawa kado ya? mba serta Zain datang saja aku sudah senang."
Kemudian aku membalasnya dengan emoticon senyum. Selain menghargai ku, Elis juga bersikap sopan padaku Meskipun usianya jauh lebih tua dariku, dia memanggilku seolah olah usiaku lebih tua darinya mungkin karena aku ini istri kakaknya.
Setelah itu, aku menyimpan ponselku di dalam laci karena aku tidak seperti orang orang jika pergi kemana mana selalu membawa ponselnya, tapi aku tidak. Bukan karena ponsel nya yang sudah jelek melainkan memang aku yang tak suka dari semenjak ponsel ku masih baru hingga berubah jelek.
__ADS_1