Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Kebersamaan Raihan dan Nuri


__ADS_3

Tiba di rumah, aku langsung menurunkan Zain dan meletak kan barang belanjaan karena tanganku sudah tidak kuat lagi menahan beban. Kemudian aku menuangkan air minum lalu meneguknya hingga tandas. Sambil memegang gelas aku tersenyum puas mengingat bagaimana tadi aku membalas rasa sakit hatiku pada Bu Rida karena telah menyebarkan tentang isu selingkuh pada orang kampung dan membuat citra ku menjadi buruk di mata orang lalu berdampak pada orang orang yang tidak ingin membeli dagangan ku.


Setelah menjadi perbincangan warga kampung, aku tidak tinggal diam. Ku telusuri dan ku cari siapa dalang penyebar fitnah? dari satu orang ke orang lainnya dan akhirnya aku menemukannya dan ternyata orang itu adalah Bu Rida. Awalnya aku akan menghampiri ke rumahnya saja namun kebetulan bertemu di warung dan dia menyindir ku dengan sindiran pedas maka sekalian saja aku ungkapkan kebenarannya agar Bu Rida merasa malu. meskipun hanya berupa sindiran tapi aku yakin ketiga orang ibu tadi paham siapa yang aku maksud.


Pagi ini aku akan membuat kerupuk dan semoga hari ini panas supaya kerupuk yang aku buat bisa langsung terjemur dan kering. Aku mulai bereksperimen membuat kerupuk hasil ide ku sendiri bukan membuat kerupuk seperti biasa resep dari ibuku agar ketika dia kembali ke rumah tidak bisa mengklaim kerupuk itu miliknya dan meminta uang hasil penjualannya.


Sudah berapa kali hasil eksperimen kerupuk ku gagal namun aku mencobanya lagi dan lagi tanpa menyerah hingga eksperimen yang ke lima kalinya berhasil sempurna. Bentuk, tekstur serta rasanya jauh berbeda dengan kerupuk biasa yang sering aku buat dan di jual.


Seulas senyum mengembang di bibirku melihat kerupuk hasil eksperimen ku dalam sebuah nampan.


"Semoga orang orang menyukai kerupuk buatan ku ini dan laku keras di warung...amin!" gumam ku lirih.


Ketika aku sedang sibuk membuat kerupuk, sebuah tangan mendarat di pundak ku. Aku tersentak kaget lalu memiringkan kepalaku menoleh ke belakang. Terlihat wajah tampan Raihan sedang tersenyum manis padaku.


"Raihan...kamu ihh..!"ku cubit perutnya karena dia sudah membuatku terkejut.


"Aduh mba, sakit tau!"keluh nya sambil memegang perut yang sudah ku cubit.


"Habisnya kamu jail sih!"Aku memajukan bibirku dan Raihan tersenyum melihat ekspresi ku lalu menjewel hidungku.


"Aku rindu melihat wajah menggemaskan mba!"goda Raihan dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


"Siapa suruh menjauh!"ucapku lirih dengan pandangan ku alihkan ke sebuah wadah berisi tepung serta tanganku memegang wadah itu.


Ucapan lirihku masih terdengar di kedua telinga Raihan lalu dia tersenyum dan tanpa ku duga dua tangannya melingkar di pinggangku serta menumpukan dagunya di bahuku. Bukan hal yang baru bagi Raihan memeluk ku dari belakang tapi tetap saja aku terkejut dan gugup di buatnya.


"Bukanya mba sendiri yang menyuruh aku menjauhi mba? lupa ya?" bisik nya di telingaku.


Aku bungkam. Raihan benar, aku yang memintanya untuk menjauh ketika Bu haji memintaku untuk menjauhi dirinya namun aku pura pura lupa saja.


"Aku mencoba dan berusaha untuk menjauhi mba serta melupakan mba, tapi nyatanya aku tidak bisa mba, aku tidak bisa melupakan mba, karena mba adalah separuh jiwaku."


Aku mencebik kan bibirku sedikit mengejek ucapan Raihan." Masa sih aku separuh jiwamu? ku lihat kamu baik baik saja tanpa aku, bahkan aku sering melihatmu berboncengan dengan gadis cantik, masih perawan, berpendidikan tinggi dan anak ustad pula." Entah mengapa tiba tiba aku teringat ucapan Bu Rida yang selalu membanggakan Risa di hadapanku dan itu membuat aku menumpahkan kekesalan ku pada Raihan saat ini.


Raihan membalik kan tubuhku menghadap ke arahnya hingga kami saling bertatapan. Aku merasa semakin gugup saja di tatap demikian olehnya. Sambil memegang daku ku Raihan berbicara.

__ADS_1


"Mba tau kalau mba itu jauh lebih cantik dari Risa, Pendidikan mba memang tidak setinggi Risa tapi mba jauh lebih pintar darinya. Mba memang bukan anak seorang ustad tapi akhlak dan perilaku mba jauh lebih sopan dari Risa. Dan satu hal lagi yang harus mba tau bahwa masih perawan atau pun tidak aku tidak peduli dan aku akan tetap selalu mencintaimu hingga akhir hayat ku mba."


Ucapan Raihan membuatku menitik kan air mata. Aku terharu, di saat orang orang terdekat ku kerap kali menyakitiku namun masih ada Raihan, pria baik dan lembut, bersikap dewasa meskipun masih sangat muda yang akan selalu mencintaiku dan melindungi meskipun aku tau bahwa Raihan bukan siapa siapa aku.


Raihan mengusap air mataku yang mengalir di pipiku. Kemudian dia mendaratkan kecupannya di keningku dengan lembut dan cukup lama sehingga aku terhanyut di buatnya. Setelah melepaskan bibirnya dari keningku dia membawaku ke pelukannya. Aku menangis dan membuat baju Raihan basah oleh air mataku.


"Cepat lah bercerai mba, agar aku bisa menikahi mba dan lebih leluasa menjaga mba serta Zain." Untuk kedua kalinya Raihan menyuruhku untuk bercerai dengan mas Surya dan itu cukup membuatku bingung. Di satu sisi aku memang ingin lepas dari mas Surya karena sikap mas Surya yang tak pernah bisa berubah lebih baik dan lembut padaku. Bukan saja masalah soal nafkah lima ratus ribu, tapi lebih ke sikapnya yang tempramental. Puncak kekesalan serta kebencian ku padanya adalah ketika mas surya menjadikan aku budak nafsunya, melayaninya siang dan malam hingga aku sakit. Bahkan dia membayar ku dengan uang lima ratus ribu dan itu pun terpotong oleh bang Supri tiga ratus ribu. Semurah itu kah harga ku di matanya? hanya lima ratus ribu? pantas saja selama ini dia hanya memberikan ku nafkah uang tak lebih dari lima ratus ribu selama tiga tahun usia pernikahan kami.


Di sisi lain aku memikirkan bagaimana keluarga Raihan? apa kah mereka mau menerimaku? wanita yang jauh lebih tua serta memiliki seorang anak menikah dengan anaknya yang sempurna? melihat sikap dan ucapan Bu haji pada waktu itu saja cukup membuatku merasa aku tak pantas untuk Raihan.


Cukup lama aku berada dalam dekapan Raihan hingga aku tersadar bahwa aku harus segera menyelesaikan membuat kerupuk karena matahari sudah nampak meninggi dan aku butuh sinarnya untuk mengeringkan kerupuk ku. Aku melepaskan tubuhku dari dekapan Raihan lalu mengusap air mataku dengan kasar.


"Aku harus segera menyelesaikan membuat kerupuk ku Rai," ucap ku, kemudian bergegas menghampiri tungku kayu di dapur khusus tungku lalu mengambil adonan yang sudah ku kukus. Setelah itu, aku kembali lagi ke dapur utama. Raihan hanya memperhatikan pergerakan ku saja.


Sambil menunggu adonan menghangat karena masih sangat panas aku melirik Raihan yang masih memperhatikanku lalu tersenyum tipis padanya.


"Kamu datang kesini kok tidak permisi dan salam dulu Rai, main nyelonong saja tidak sopan." Ucapan ku membuyarkan kediaman Raihan.


Kemudian Raihan tersenyum nyengir sambil memegang pelipisnya.


"Hah, seriusan? Tapi, aku tidak dengar suara motor mu?"


"Aku jalan kaki mba, tidak membawa motor."


"Kenapa?"


"Biar tidak ada yang tau keberadaan ku di sini hehe!"


"hmm!"


"Mba sedang apa sih? terlihat sibuk sekali?" Raihan bertanya sambil pandangan nya mengarah pada sebuah wadah berisi adonan yang sudah dikukus.


"Aku sedang membuat kerupuk."


"Kerupuk, untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk di jual Rai, Soal nya aku tidak tau harus mencari uang dengan cara apa lagi?" ucapku lirih serta wajah yang lesu membayangkan hidupku yang harus mencari uang sendiri tanpa nafkah lagi dari suamiku karena mas Surya sepertinya memang tidak ingin memberikan aku uang lagi.


Raihan mengelus punggungku seolah menenangkan ku lalu berkata,"mba tau, mba itu wanita kuat dan hebat yang pernah aku temui. Dan itu yang membuat aku kagum sama mba."


Aku tersenyum dan menjawab pujian Raihan," aku begini karena keadaan dan tuntutan hidupku Rai, kamu tau sejak aku masih SD dan kamu belum lahir....!"


"Mba, kok aku belum lahir sih? perbedaan usia kita kan hanya enam tahun." Raihan memperingatkan ku dengan kesal.


"Oh, iya lupa. maksudku ketika aku SD dan kamu masih bayi, aku sudah berjualan." sambung ku lagi.


"Tidak perlu nyebut aku bayi juga kali mba!" Raihan sewot di sebut bayi. Aku baru ingat kalau Raihan tak suka jika di sebut yang berhubungan dengan kecil. Anak kecil, masih kecil atau masih bayi. Dia ingin nya di sebut orang dewasa atau pria dewasa saja. Kalau di pikir pikir lucu juga sih dia.


Aku memiringkan wajahku melihat wajah Raihan yang di tekuk. Ku raih hidung mancungnya lalu menariknya dengan gemas. Perbuatan ku sontak saja membuatnya tertawa. Aku senang telah berhasil mengubah mood nya dari cemberut menjadi tersenyum.


"Aku bantu bikin kerupuk nya ya mba!"


"Boleh Rai, jika tidak keberatan."


"Aku tidak pernah akan keberatan selagi itu mba sendiri. Apapun yang mba mau pasti aku lakukan."


"Kalau ngegombal terus kapan kelar bikin kerupuknya atuh aa Raihan yang tampannya melebihi dewa yunani!"ejek ku sambil membuka tepung dari dalam plastik dan menuangkan nya ke sebuah wadah.


Raihan tersenyum lalu tangannya meraih pipiku dan mengusapnya. Aku jadi gugup di buatnya. Setelah itu, Raihan mendekatkan mulutnya ke daun telingaku lalu berbisik," Apa tidak ada bedak ya sampai tepung saja mba pakai ke wajah?" ejek Raihan dengan nada becanda. Aku kesal telah di ejeknya lalu mencubiti perut sixpack nya hingga Raihan kegelian dan berlarian kecil namun aku terus mengejarnya karena belum puas hingga Raihan malah berbalik menangkap ku kemudian memeluk ku.


Dalam pelukan Raihan yang cukup lama dan membuatku terhanyut, tiba tiba aku teringat bahwa aku sedang membuat kerupuk dan harus segera menyelesaikannya.


"Rai, lepaskan ini tanganmu! aku mau membuat kerupuk lagi agar cepat selesai dan bisa di jemur secepatnya agar cepat kering."


Raihan mengendorkan pelukannya menuruti perintahku. Setelah itu, aku melanjutkan lagi membuat kerupuk dan Raihan ikut membantu ku. Kali ini kami serius tidak lagi bergurau seperti tadi. Butuh tiga jam untuk kami menyelesaikan semuanya hingga wajah Raihan terlihat penuh dengan keringat. Aku mengambil tisu lalu mengarah kan ke wajah Raihan dan mengelap keringatnya secara perlahan.


"Capek ya?" tanya ku sambil mengelap wajahnya.


"Tidak capek."


Aku tersenyum begitu pula dengan Raihan. Aku merasa kebersamaan ini yang aku ingin kan ketika bersama seorang suami.

__ADS_1


__ADS_2