Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Wanita aneh


__ADS_3

Aku berjalan ke arah bathtub itu lalu menggoyangkan pundak Raihan." Rai, bangun kenapa mandinya tidur? Bangun, bangun."


"Mba.."Ucap nya setelah membuka matanya.


"Kok tidur di sini sih kasihan zain lama lama berendam bisa masuk angin."


"Maaf sayang. Tadi aku elus-elus punggung Zain eh dia malah tidur."


"Terus kenapa kamu ikutan tidur?"


"Habis gimana anget sih di peluk Zain. Apalagi kalau mba ikutan berendam disini."


"Ishh kamu itu ngaur saja." Raihan tertawa renyah. Tiba tiba Zain menggeliat. Obrolan kami ternyata mengusik tidur nya.


"Mama."Ucap Zain.


"Hei, anak ganteng mama. Kok Bobonya di sini sih? kamu bisa masuk angin lho sayang."


"Mba tunggu di kamar saja biar aku yang bersihkan Zain." Aku menyetujui keinginan Raihan untuk memandikan Zain. Sementara aku sendiri menunggunya di kamar.


Sepuluh menit kemudian Raihan keluar kamar mandi dengan penampilan yang terlihat sangat segar. Rambut basah dan tubuhnya di balut oleh handuk kimono. Begitu pula dengan Zain yang berada di gendongannya memakai handuk kimono kecil serta rambut yang basah pula. Mereka tersenyum serempak ke arah ku dan aku pun membalas senyuman mereka. Jika di perhatikan mereka persis seperti seorang papa dan anak karena memiliki garis wajah yang hampir mirip serta senyum yang menawan.


"Kita sarapan di seasonal taste bawah saja ya sayang. Sekalian setelah sarapan kita ke butik." Ucap Raihan ketika aku sedang memakai kan pakaian Zain.


Aku menoleh ke arahnya nampak Raihan sedang memakai celananya dan seketika itu pula aku segera mengalihkan kembali pandanganku pada Zain."Ke butik. Untuk apa?"


"Cari baju pengantin dong sayang."


"Kalau di butik harganya pasti mahal banget, Rai. Cari di toko biasa saja pasti ada."

__ADS_1


"Uang ku tidak akan habis kalau hanya sekedar membeli baju pengantin mba. Lagi pula kalau di butik kita bisa memesan model gaun pengantin yang kita inginkan. Lagi pula baju pengantin ini untuk di pakai sekali seumur hidup kita sayang dan untuk kenang kenangan kita juga."


Aku menghela nafas. Apa yang di katakan Raihan benar. Baju pengantin itu akan kami gunakan untuk sekali seumur hidup kami dan untuk kenang kenangan. Berbicara mengenai baju pengantin aku jadi teringat saat pernikahan pertama ku dengan mas Surya. Boro boro pesta pernikahan yang mewah baju pengantin saja dapat sewa di tetangga.


"Ya sudah Rai, terserah kamu saja."


"Nah gitu dong sayang." Raihan tersenyum lalu berjalan ke arah ku dan Zain." Sini mba, biar aku yang menyelesaikannya mba mandi dulu gih." Dia menawarkan diri untuk mendandani Zain.


"Apa aku tidak merepotkan kamu?"


"Sama sekali tidak." Kemudian dia mengambil celana Zain yang sedang ku pegang." Sudah sana mandi dulu biar aku yang memakaikan celana Zain." Sambungnya.


"Terima kasih, Rai." Ucap ku lalu beranjak ke kamar mandi.


Kami berjalan beriringan menuju sebuah lif yang akan membawa kami ke tempat yang Raihan sebutkan tadi dan terletak di lantai lima puluh satu. Setelah pintu lif terbuka sembari menggendong Zain Raihan memegang tanganku lalu menuntunku ke luar hingga memasuki sebuah seasonal taste atau restauran hotel yang kami singgahi.


Raihan membawaku ke sebuah meja kosong yang terletak paling pojok serta di sampingnya dapat melihat pemandangan di luar.


Aku menoleh ke arah tempat yang di tunjuk oleh Raihan. Nampak di sana banyak bermacam macam hidangan berupa menu sarapan.


"Aku...terserah kamu saja Rai mau sarapan apa." Saking banyak pilihan dan terlihat enak enak aku meminta Raihan untuk memilihkan nya saja untuk ku.


"Ya sudah mba tunggu di sini."


Beberapa menit kemudian. Raihan kembali sembari membawa nampan di tangannya lalu meletak kan nampan itu di atas meja. Nampak dua piring nasi goreng seafood, bubur ayam, dua jus jeruk, tiga air mineral, dua piring potongan buah buahan.


Aku menyuapi Zain terlebih dahulu meskipun Raihan meminta dirinya yang menyuapi Zain aku tidak mau. Rasanya tidak enak saja terus menerus merepotkannya.


Di tengah hendak memasuki bubur ke mulut Zain tiba tiba di belakang kami terdengar suara gelas jatuh sontak saja membuat Zain terkejut dan tanpa sengaja sendok yang berisi bubur tersenggol oleh lengan Zain lalu tumpah mengenai jilbab ku.

__ADS_1


"Maaf mama!"ucap Zain, mata bening nya mulai berkaca kaca mungkin dia takut aku marah padanya.


Aku tersenyum agar Zain tidak merasa takut padaku." Tidak apa apa sayang. Ini bisa mama bersihkan pakai air nanti."


"Rai, toiletnya dimana ya?" Tanya ku pada Raihan yang sedang menenangkan Zain agar tidak menangis.


"Di sebelah sana mba." Tunjuk nya ke suatu arah dan aku pun mengikuti arah telunjuknya.


"Aku titip Zain sebentar ya?" Ucap ku lalu berdiri.


"Iya hati hati mba."


Aku berjalan ke arah toilet yang di tunjuk oleh Raihan lalu masuk ke dalam toilet khusus wanita. Setelah berada di dalam toilet itu nampak sepi namun ada satu toilet yang sepertinya ada penghuninya.


Di depan cermin besar aku membuka hijab ku yang akan aku bersihkan terlebih dahulu dari bubur berwarna kuning yang menempel samping kepalaku karena aku pikir toilet ini merupakan toilet wanita jadi tidak masalah jika aku membuka hijab disini. Setelah hijab ku sudah di bersih kan aku menggerai rambut panjang ku untuk membenarkan gelungan yang sudah sedikit melorot.


Ketika aku sedang menggerai rambut dan menyisir menggunakan tangan tiba tiba toilet yang terisi orang itu terbuka. Aku berbalik ingin melihat siapa orang itu dan ternyata orang itu adalah seorang wanita dewasa bahkan nampak tua namun berpenampilan modern atau seperti bak sosialita. Dia yang sedang membenarkan pakaian nya di ambang pintu toilet menoleh ke arah ku.


Kedua alisku saling bertautan melihat ekspresi wanita itu. Kedua mata nya membelalak sempurna. Mulutnya terbuka cukup lebar melihat ku.


"Ti...tidak, ti...dak, tidak mungkin....ko...kau su..su sudah mati. Kau sudah mati." Ucap wanita itu dengan terbata bata dan bibir bergetar sembari menempelkan tubuhnya di dinding toilet.


Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada wanita itu. Aku pun berjalan mendekatinya namun dia semakin menghindari ku sembari meraba raba dinding toilet dan tubuhnya nampak gemetar. Dia nampak ketakutan sekali melihatku.


"Ti..tidak, ja..jangan."


Brughh


Wanita itu menabrak tong sampah toilet dan tersungkur hingga high heel nya terlepas namun dia segera berdiri lalu berlari terbirit birit ke arah luar toilet tanpa menggunakan high heel.

__ADS_1


"Aneh sekali. Kenapa dengan wanita itu? kenapa dia seperti ketakutan melihatku? apa aku ini seperti hantu karena rambutku tergerai panjang." Aku bicara sendiri sembari menatap sepasang high heel yang teronggok di lantai.


__ADS_2