
Aku memperhatikan Raihan yang sedang merapikan pakaiannya di depan cermin lemari pakaian kamarku. Memakai kemeja lengan panjang dan celana bahan hitam. Dia terlihat tampan dan lebih dewasa dari usianya.
Raihan melirik ke arahku melalui kaca lalu tersenyum."Kenapa menatap ku seperti itu mba? terpesona ya? aku tau aku ini memang tampan sejak dari lahir." Dengan percaya diri dia berkata demikian.
Aku yang sedang berdiri di ambang pintu salah tingkah telah kepergok tengah memperhatikannya. Kemudian buru buru pergi dan menemani Zain bermain puzzle di ruang TV.
Raihan keluar kamar dalam keadaan yang sudah rapih dan sangat tampan. Dia berjalan mendekati kami lalu menggendong Zain secara tiba tiba.
"Uncle pergi dulu ya sayang, titip mama okey," ucap Raihan, kemudian mencium gemas seluruh wajah Zain membuat balita itu tertawa kegelian.
Aku yang masih duduk mendongak tinggi melihat pada mereka. Raihan menunduk kemudian tangannya terulur, aku yang mengerti maksudnya langsung meraih tangannya lalu bangun dan berdiri di sampingnya.
Raihan memelukku, menciumi Zain kemudian berpindah mencium pipiku dan aku membiarkannya saja. Aku merasa seperti seorang istri yang akan melepaskan suamiku pergi untuk mencari nafkah. Apa aku akan ikhlas jika aku melepas Raihan untuk Nura? sementara hatiku senyaman ini bersamanya? bathin ku berperang antara perasaanku yang tidak ingin melepaskan Raihan dengan perasaan ku yang tidak ingin menyakiti perasaan Nura.
"Aku pergi dulu ya mba?"pamit Raihan ketika kami sudah berada di teras rumah.
Aku mengangguk."Hati hati Rai."
"Iya sayang."Kemudian mengelus pucuk kepalaku dan mengecup keningku. Setelah itu, dia berjalan ke arah motor sport yang sedang mejeng tampan di depan rumah sama tampannya seperti pemiliknya.
Aku menghela nafas berat, berat di tinggal oleh Raihan. Kemudian kembali masuk ke dalam rumahku. Ketika aku sedang menemani Zain main, tiba tiba aku teringat rencana ku yang akan menjenguk bang Supri yang kata mba Yati sedang sakit hari ini, kemudian aku bergegas siap siap.
Ku pandangi honda vario berwarna putih pemberian Raihan yang harganya di atas tiga puluh juta. Dalam hati aku bersyukur memilikinya meskipun bukan hasil dari jerih payahku sendiri. Mungkin ini berkah dari Tuhan mengingat kemarin aku memberikan uangku pada tiga orang dan tuhan telah menggantinya dengan berlipat ganda melalui tangan Raihan. Sambil menggendong Zain menggunakan gendongan depan aku menaiki dan melajukan motornya untuk pertama kalinya. Senyum mengembang di bibirku, aku senang karena aku tidak harus lagi berjalan kaki ketika hendak pergi ke sana kemari.
"Terima kasih Raihan," ucap ku sambil mengendarai motor.
Aku melajukan motorku memasuki sebuah kampung namun tidak terlalu kampung dimana bang Supri serta istrinya tinggal. Bang Supri sendiri masih menumpang di rumah mertuanya.
Ini merupakan untuk pertama kalinya aku mau ke rumah bang Supri karena sebelumnya aku tidak pernah ke sana. Karena aku belum pernah mengunjungi rumahnya maka aku kesulitan mencari dimana letak rumahnya. Bang Supri serta mba Yati pernah bilang kalau orang tuanya mempunyai toko kelontong. Aku pun tidak tau nama orang tua mba Yati.
Aku menerka jika orang tuanya memiliki toko kelontong berarti rumahnya terletak di pinggir jalan. Sambil melaju pelan aku menyusuri jalanan yang tidak terlalu lebar dan ekor mataku melirik kiri dan kanan jalanan siapa tau aku menemukan toko kelontong milik orang tua mba Yati namun sudah cukup panjang menelusuri jalanan belum saja menemukannya. Aku berhenti di sebuah warteg kecil di pinggir jalan untuk bertanya. Terlihat cukup banyak orang yang sedang makan di warteg itu dan semuanya laki laki. Kalau di perhatikan sepertinya mereka pekerja proyek yang sedang makan siang di warung tersebut.
Aku mengucapkan salam dan semua pekerja proyek itu menoleh ke arah ku dengan pikiran mereka masing masing termasuk seorang wanita yang sudah terlihat berumur. Sepertinya dia pemilik warung tersebut.
__ADS_1
"Ada apa neng?" tanya wanita itu.
"Maaf ibu, saya mau numpang tanya apa ibu tau rumah nya Supri atau mba Yati, orang tuanya punya usaha toko kelontong."
"Supri..Yati.." ibu itu terlihat sedang berpikir.
"Nama panjang mereka siapa ya neng, terus nama orang tuanya juga siapa?"
"Kalau nama orang tuanya saya tidak tau Bu, saya taunya hanya Supriyadi dan mba Yati.....Yati apa ya saya lupa."Aku berpikir sambil menggaruk kening, aku sendiri kurang hafal sama nama lengkap mba Yati.
"Apa orang yang neng maksud itu Supriyadi yang kerja di pabrik gula dan istrinya bernama Suryati yang selalu berpakaian kurang bahan dan nama bapak nya haji Umar punya toko kelontong?" Tiba tiba salah satu pekerja proyek itu bersuara. Ku alihkan pandangan ku pada seorang pria berkulit hitam yang sedang duduk paling tengah di bangku panjang.
"Oh ya, benar namanya supriyadi kerja di pabrik gula. Apa bapak mengenalnya?"
"Wah, jangan panggil saya bapak dong neng, saya ini masih muda dan belum menikah, he he."
"Oh, maaf mas. Kalau boleh tau mas tau dimana rumahnya?" aku bertanya kembali.
"Maksudnya rumah si Supriyadi?"
Aku mengangguk.
"Saya adiknya mas."
"Hah." Pria itu nampak terkejut mendengar pengakuanku.
"Masa bening kayak artis gini adik nya si Supri dekil itu?" kata pria itu, dia mengejek bang Supri tanpa mengaca padahal sendirinya pun terlihat dekil.
Setelah melalui proses pencarian yang cukup lama akhirnya aku menemukan rumah dimana bang Supri tinggal. Sebuah rumah bercat biru dan di samping rumah itu ada sebuah toko kelontong yang tidak terlalu besar.
Aku memarkirkan motor ku tepat di depan rumah itu. Pintu rumahnya terlihat tertutup namun tokonya terlihat buka bahkan ada dua orang pembeli yang baru saja keluar dari toko tersebut. Aku berjalan ke arah toko itu untuk menemui pemilik rumahnya. Sebelum aku sampai pada toko itu, seorang pria paruh baya dan berpostur tubuh gendut keluar dan melihat ke arah ku. Dari kejauhan dia menatapku tanpa mengalihkan pandangannya hingga aku dekat dan berdiri di depannya. Aku tau dia adalah pak Umar bapaknya mba Yati kalau menurut kata orang yang memberi tahu ciri ciri pak Umar.
Setelah mengucapkan salam dan menyapanya aku menanyakan keberadaan bang Supri. Pria itu tidak langsung menjawab pertanyaan ku melainkan menelisik penampilan ku dari bawah hingga atas.
__ADS_1
"Apa benar neng ini adiknya si Supri? kok cantik bener beda jauh sama si Retno ibu mu, apalagi si Supri," kata pak Umar, dia membandingkan aku dengan ibuku. Aku tidak pernah bertemu dengan keluarga mba Yati sebelumnya jadi wajar saja kalau dia tidak percaya bahwa aku ini anak Bu Retno dan adik bang Supri.
Setelah aku mengobrol memakan waktu lima menit dengannya akhirnya dia masuk ke dalam dan memanggil bang Supri. Dia juga menyuruh aku masuk kedalam rumahnya tapi aku memilih untuk duduk di kursi teras saja.
Beberapa menit kemudian bang Supri keluar dari rumahnya dengan penampilan yang acak acakan serta kurus kering seperti tidak makan berhari hari. Jalannya pun sempoyongan seperti yang tak memiliki tenaga. Matanya terlihat cekung dan sorot matanya sayu persis seperti mayat hidup. Ternyata benar kata mba Yati kalau bang Supri benar benar sedang sakit.
"Kamu sakit apa bang?"tanyaku, namun dia menggeleng.
"Kamu mau ngapain kesini Nuri? mau mengejek ku?" bang Supri balik bertanya, aku pikir jika tubuhnya lemah suaranya pun akan ikut melemah tapi hal ini tidak berlaku dengan bang Supri. Tubuhnya terlihat lemah tapi suaranya tetap keras seperti biasa.
"Aku kesini untuk menjenguk mu bang. Mba Yati ke rumah, dia bilang Abang lagi sakit, dia minta uang sama aku katanya untuk berobat kamu bang."
"Si Yati minta duit sama kamu?tanya bang Supri, dia terlihat penasaran dan sepertinya istrinya tidak memberi tahu bang Supri.
"Iya, dia minta duit dan aku memberinya satu juta untuk berobat mu. Apa dia sudah bawa kamu berobat bang?"
"Kamu ngasih duit satu juta sama Yati? kenapa dia tidak bilang padaku," kata bang Supri suaranya melemah.
"Apa dia tidak membawamu berobat bang?"
Bang Supri menggeleng.
"Keterlaluan sekali istrimu berarti dia bohong padaku. Dimana dia sekarang?"
"Tidak tau, dia sedang pergi dari tadi pagi."
"Anak mu?"
Bang Supri menggeleng. Aku geram sekali sama mba Yati, suaminya sudah seperti mayat hidup tapi dibiarkan dan tidak di obati. Lebih geramnya lagi, dia berani minta uang padaku dengan alasan akan membawa bang Supri berobat.
Sejak dari kecil bang Supra dan bang Supri selalu menjahati ku, di tambah perlakuan ibu yang tidak pernah adil padaku. Namun bukan berarti aku setega itu membiarkan bang Supri sakit karena seburuk buruknya perlakuan nya padaku dia adalah saudaraku.
Aku mengajak bang Supri berobat ke klinik. Awalnya dia menolak karena gengsinya besar namun aku memaksanya dan akhirnya dia menurut. Setelah diperiksa oleh dokter klinik, pihak klinik membuat surat rujukan untuk membawa bang Supri ke rumah sakit karena di rumah sakit fasilitas pengobatan lebih memadai dan aku pun menyetujuinya.
__ADS_1
Aku bingung harus bagaimana? di satu sisi aku memiliki balita yang harus aku jaga dan di sisi lain aku harus menemani bang Supri di rumah sakit karena mba Yati tidak bisa di hubungi, selain itu aku juga tidak bisa menghubungi ibu karena aku tidak memiliki nomer keluarganya di sana dan ibu sendiri tidak memiliki ponsel karena sudah di jual. Di tengah kebingunganku, Raihan menelpon dan aku segera mengangkatnya. Aku katakan yang sejujurnya pada Raihan apa yang sedang terjadi pada bang Supri karena aku memang merasa nyaman dengannya. Raihan menyuruhku untuk langsung saja ke rumah sakit yang di rujuk di kabupaten dan dia akan segera menyusul ku ke sana. Dalam hati aku bersyukur sekali di tengah aku sedang kesulitan lagi dan lagi ada Raihan yang menolongku seolah olah dia adalah dewa penolong.